Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Keterikatan tidak terduga


__ADS_3

Perjalanan menuju sekolah yang penuh keceriaan begitu dinikmati oleh Kala dan Kinanti. Mereka berbincang sepanjang jalan, membicarakan hal random apa saja. Mulai dari pelajaran, hingga hal remeh temeh yang membuat mereka tertawa sama-sama. Kala menarik tangan Kinanti, memasukkannya ke dalam saku jaketnya agar tidak kedinginan. Udara Jakarta pagi ini cukup dingin karena angin berhembus cukup kencang.


Di lampu merah saat ini mereka berhenti. Ikut berbaris dengan kendaraan lain yang juga mengantri menunggu lampu hijau menyala. Sambil menunggu, mereka membahas filosopi kenapa mereka berhenti saat lampu merah, bukan hitam?


Perbincangan itu bertahan sampai mereka tiba disekolah dan membuat keduanya tertawa cekikikan pada hal yang sebenarnya sangat receh.


“Okey, nanti aku riset. Mana yang lebih dulu membuat seseorang berhenti berjalan, warna merah atau hitam?” Kinanti masih belum mau kalah.


“Pasti merah, Nan. Karena merah itu terang, warnanya strong. Warna lain yang mungkin bikin aku berhenti adalah warna pink. Tapi berhentinya beda, bukan di lampu lalu lintas."


"Terus dimana?" Kinanti menatap Kala dengan bingung. Otaknya masih berusaha menebak.


"Ya, berhentinya di kamu,” goda Kala sambil mencolek hidung Kinanti yang nongkrong dihadapan Kala.


“Dih, gombal!” Kinanti berdecik sebal, geli sendiri dengan ucapan Kala.


“Hhahaha… cocok gak aku gombal?” Ia menarik tubuh Kinanti untuk mendekat dan membantu kekasihnya melepas helm. Sedikit membungkuk untuk mensejajari tinggi tubuh Kinanti yang terpaut jarak cukup jauh.


“Nggak!” Kinanti pura-pura tidak peduli. Ia sedikit mendongak agar Kala dengan mudah melepas helmnya.


“Oh ya?” isengnya Kala malah menggelitik leher Kinanti saat melepas helm.


“Issh Kala! Geli tau.” Kinanti memukul tangan Kala yang iseng mengganggunya.


Kala malah terkekeh lalu memegangi bahu kiri dan Kinanti agar tidak beranjak. Ia juga menatap wajah kinanti dengan lekat.


“Mulai hari ini dan seterusnya, kamu harus semangat. Lebih semangat dari biasanya. Okey?” Kala menunjukkan kelingkingnya pada Kinanti, mengajak untuk mentautkannya satu sama lain dan membuat janji.


“Pastilah, aku pasti semangat. Apa alasannya coba sampai aku gak semangat. Aku punya kamu,” Kinanti menjeda kalimatnya sambil mengacak rambut Kala. “Dan punya Ayah.” Dilengkapi dengan senyumnya yang menawan. “Dua orang yang sangat berarti dihidup aku. Aku sayang sama kalian berdua,” ucap Kinanti dengan penuh kesungguhan.


Kala tidak menimpali, ia meraih tubuh Kinanti lalu membawanya kedalam pelukannya yang hangat. Kinanti sampai terhenyak, sepertinya baru saja jantungnya meledak. Tidak, bukan meledak tetapi berhenti berdetak tiba-tiba. Bukan hanya jantungnya, tetapi waktu juga berhenti berputar.


Di dunia ini seperti hanya ada ia dan Kala, sementara orang-orang entah berpindah ke planet mana. Mungkin Mars atau Pluto yang terjauh. Eh, Pluto masih planet bukan sih? Ya, pokoknya sangat jauh. Dunia hanya milik mereka berdua. Dunia yang hangat dan penuh kasih.


“Aku juga semangat karena punya kamu, Nan. Aku akan selalu memberikan yang terbaik untuk hubungan kita. Aku selamanya akan selalu ada disamping kamu, dihati kamu dan pikiran kamu. Jadi kamu gak akan merasa sepi apalagi sendirian,” timpal Kala seraya mengecup pucuk kepala Kinanti dengan lembut. Ini pelukan pertama bagi mereka yang sedang dimabuk cinta.


Kinanti tidak bisa mengatakan apapun. Ia hanya mematung seraya memegangi jaket Kala. Kenyamanan yang Kala berikan, membuatnya enggan untuk beranjak. Tapi tunggu, Kinanti masih sadar kalau hal ini tidak pantas dilakukan di sekolah.


“Sayangnya gak usah pake meluk, bisa gak?” Kinanti yang baru sadar segera mendorong tubuh Kala menjauh.


“Eh, hehehe… iya yak. Maaf yaa….” Kala kembali mencondongkan tubuhnya untuk menatap sepasang mata yang menatapnya kesal.


“Jangan lakukan itu lagi Kal, gak baik.” Kinanti memperingatkan. Gak baik untuk jantungnya juga untuk jantung yang baca, eh…

__ADS_1


“Okey, aku janji gak akan aku ulang. Jangan marah ya?” Kala mengangkat satu tangannya ke udara tepat di samping kepalanya, seperti tengah bersumpah.


“Kalau diulangi, aku beneran bakal marah.” Kinanti memukul tangan Kala yang terangkat di udara dan ternyata Kala malah menangkapnya. Ia ingin melepaskannya, tetapi Kala mencengkramnya sangat kuat.


“Jangan marah, nanti aku bisa gila.” Bibir Kala mengerucut gemas. Kinanti tidak bicara saja dunianya sangat sepi. Apalagi kalau Kinanti marah.


“Iya, tapi lepas dulu. Ayo kita ke kelas. Jam pertama pelajaran Mr Jack. Aku gak mau terlambat.” Kinanti berusaha melepaskan tangan Kala dan Kala masih belum ingin melepasnya.


“Jangan sesemangat itu untuk bertemu Jack. Dia bujang karatan, aku gak suka liat kamu deket-deket sama dia.” Kala berbicara dengan serius.


“Hah, iya kah?” Kinanti menatap tidak percaya. Ia jadi ingat kalau Jack pernah memeluknya saat pengumuman pemenang. Apa jadinya kalau Kala tahu?


“Iya, dia itu,”


“Kinan?” panggil seseorang dari kejauhan.


Kala dan Kinanti kompak menoleh. “Mr Jack?” mulut mereka sama-sama bergumam lirih. Yang dibicarakan ternyata ada disekitar mereka.


“Kalian baru tiba?” tanya Jack yang bergantian menatap Kala dan Kinanti.


“I-iya. Ini kami udah mau masuk kelas kok. Iya kan Kal?” begitulah kalau punya salah, pasti gelagapan. Ia masih berpikir apa Jack mendengar perbicangannya dengan Kala atau tidak ya?


“Okey, ayo kita ke kelas,” ajak Jack.


“Iya.” Kinanti segera menarik tangan Kala untuk ikut berjalan.


“Siang ini, pengumuman penerima beasiswa Yayasan akan segera keluar. Kamu bisa mengeceknya langsung ke Yayasan.” Jack menginformasikan hal yang penting dan menarik.


“Benarkah?” Kinanti langsung memiringkan kepalanya, demi melihat Jack.


Tapi tangan Kala menahan kepala itu. “Biasa aja ngobrolnya,” gerutunya tidak suka.


“Ish!” Kinanti berdecik sebal. Kala benar-benar menyebalkan.


Jack tersenyum kecil melihat tingkah Kala dan Kinanti. Sepertinya dugaannya benar kalau Kala dan Kinanti memiliki kedekatan yang lebih dari hanya sekedar teman.


“Iya, datanglah setelah jam pelajaran selesai, sebelum jam empat sore,” pesannya.


“Siap, nanti aku ke sana Mr Jack. Kamu mau nganterin aku kan, Kal?” Kinanti menatap remaja tinggi menjulang itu penuh harap.


“Pastilah!” Kala mengacak rambut Kinanti dengan gemas.


“Ih, Kala. Kebiasaan deh.” Kinanti menggerutu pelan.

__ADS_1


Jack menghentikan langkahnya dan menatap Kala juga Kinanti bergantian. “Ngomong-ngomong, apa kalian pacaran?” ia bertanya dengan penasaran.


“Ngg-“


“Iya! Kami pacaran. Kenapa?” Kala menjawab lebih cepat dari Kinanti, ia bahkan mengalungkan tangannya di bahu Kinanti. Sekarang Kala memang jadi Kalantara si tukang pamer.


“Okey. Tetap kendalikan diri kalian, jangan berlebihan, jangan membuat orang tua kalian kecewa. Perjalanan kalian masih sangat panjang.” Jack berusaha mengingatkan. Sepertinya peernya bertambah dengan harus mengatakan ini pada Yudistira kalau putra kandungnyalah yang menjadi kekasih Kinanti.


“Iya, pasti. Aku akan menjaga Kinanti lebih baik dari aku menjaga diriku sendiri.” Kala berujar dengan penuh percaya diri.


“Hem okey. Turunkan tanganmu, itu juga bagian dari pengendalian diri.” Jack menepuk tangan Kala yang ada dibahu Kinanti.


“Ya, ya, katakan saja kalau kamu iri.” Kala berbicara sambil melihat ke sembarang arah.


“Kala!” Kinanti menyikut Kala dengan sengaja. Pacarnya ini kadang memang ada-ada saja.


Namun Jack tidak ambil pusing dengan ucapan Kala. Ia berjalan lebih dulu meninggalkan Kala yang masih berdua dengan Kinanti.


“Kal, kamu kok kayak gitu ngomong sama Mr Jack? Itu kan guru kita. Pake ngeledekin lagi.” Kinanti menatap Kala dengan tidak suka.


“Ya dia memang guru kita. Tapi dia juga keponakan dari suaminya mamahku. Artinya dia kakak sepupuku. Dia udah kenal aku dari aku lahir dan aku kenal dia dari dia masih jaman potongan rambut poni lempar. Jadi santai aja.” Kala mengendikkan bahunya dengan santai.


“Hah, iya kah?” Berganti Kinanti yang dibuat kaget.


“Iya. Kamu gak percaya? Mau tanya langsung?” tantang Kala.


“Ya udah aku percaya. Tapi maksudku ini lingkungan sekolah, kamu tetep harus menghormati dia. Dia kan yang ngajarin kita ilmu yang berguna. Dia harus kita hormati.” Kinanti tetap memberikan wejangannya.


“Iyaa, aku tau. Aku gak akan bersikap kurang ajar lagi, aku janji. Ya, tadi itu aku hanya gak bisa mengendalikan diri aja.” Kala berujar dengan santai.


“Emang dulu kalian deket banget ya?” Kinanti malah penasaran.


Kala tidak langsung menjawab. Ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto dirinya dengan Jack.


“Dulu kami sedekat ini sebelum dia bingung harus belain aku atau Demian didepan suami mamahku,” Kala tersenyum jenaka. Pemilihan katanyapun sedikit lucu. Namun, makna yang terkandung di dalamnya cukup menyedihkan.


“Ya, aku hanya bisa menghormati pilihan Jack. Aku tau dia berusaha professional. Untuk sekarang, kami tidak terlalu dekat ataupun terlalu jauh,” urai Kala yang berjalan sendirian menuju kelas. Sementara Kinanti menghentikan langkahnya dan memandangi bahu Kala yang tegap dan menyimpan banyak beban itu.


Kala ikut menghentikan langkahnya. Ia menoleh pada Kinanti. “Ayolah kita ke kelas. Jangan semurung itu, aku sudah terbiasa dengan semuanya.” Kala berujar dengan ringan walau sebenarnya perasaannya tidak seringan itu.


Kinanti tidak menimpali. Ia melanjutkan langkahnya dan berdiri disamping Kala. Ia meraih tangan Kala, mencengkramnya beberapa saat. “Aku juga akan selalu nemenin kamu Kal. Kamu gak akan pernah merasa kehilangan aku.” Itu janji yang Kinanti katakan.


Kala tersenyum ringan. Ia menandukkan dahinya ke dahi Kinanti  lalu mengusap-usapnya dengan sayang.

__ADS_1


“Aku akan selalu mengingat janji itu,” tegas Kala seraya tersenyum kecil pada sepasang mata yang membola kaget melihat tingkah impulsifnya.


*****


__ADS_2