Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Hambatan untuk pulang


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang, kedua remaja itu tidak berbicara satu sama lain. Mereka lebih memilih menikmati perjalanan dengan cara masing-masing.


Kala fokus dengan laju kendaraannya sementara Kinanti masih menikmati suasana berbeda yang menemaninya melewati perjalanan yang cukup panjang ini.


Hembusan angin malam tidak selembut biasanya membuat bulu kuduk Kinanti meremang. Langit malam yang diterangi bintang-bintang memayungi sepasang remaja ini ditemani deretan lampu jalanan yang menyala terang di beberapa titik.


Kala menarik tangan Kinanti untuk ia masukkan ke dalam saku jaketnya agar tidak kedinginan, lantas menepuk tangan itu dengan lembut. Ia menatap wajah Kinanti dari spion kirinya, gadis itu tampak tersenyum dan balas menatapnya. Binar matanya seperti bintang terbit yang membuat hati Kala membuncah dan bergetar. Desirannya sangat hangat dan membuat wajah Kala ikut memerah.


Moment berdua di atas kuda besi ini selalu menjadi moment yang menyenangkan untuk keduanya.


Melewati jalanan yang mulai sepi, dari kejauhan Kala melihat beberapa orang berjaket kulit dengan motor besar tunggangan mereka, melakukan atraksi di jalanan. Saling tantang rpm, siapa yang melaju paling cepat dan sampai ke garis finish, maka dialah pemenangnya. Mereka sengaja memasang beberapa cone dan pembatas jalan plastik untuk menutup jalanan padahal itu jalanan umum. Tapi demi kesenangan mereka, mereka tidak memperdulikan pengguna jalanan lain yang melintas.


“WOY, ITU KALA!!!” seru salah satu di antara mereka.


“Akh, sial!” Kala yang mengenal suara itu tentu saja mulai waspada.


Ia masih ingat bagaimana beberapa waktu lalu ia dipukuli hingga babak belur dan nyaris tidak berbentuk. Beruntung Lukman menolongnya.


“Berhentiin dia!!!” seru ketua genk motor yang mengerahkan semua anak buahnya.


“Kal-” Kinanti yang mendengar seruan mereka pun mulai panik.


“Tenang, kita akan baik-baik aja.” Kala mencoba menenangkan. Sudah bisa ia duga kalau tujuan akhir mereka hanya untuk memalaknya. Jadi selama ia menuruti kemaunan mereka, Kala akan aman.


Benar saja, di depan sana, laju motor Kala di cegat. Beberapa motor sengaja berbaris menghalangi jalanan yang akan dilewati Kala.


Mereka bersorak seolah mereka sedang berburu mangsa.


“Kita akan berhenti?” tanya Kinanti ragu.


“Iya, kita berhenti sebentar. Tapi kamu jangan turun. Tetap pegangan sama aku.” Kala memberi petunjuk.


“Iya.” Kinanti semakin mengeratkan pegangannya pada Kala.


Laju sepeda motor Kala pun terpaksa berhenti. Ia tidak punya pilihan lain selain menuruti orang-orang itu. Kalau tidak, mereka pasti akan terus mengejar. Yang berbahaya adalah kalau sampai mereka mengikuti dan sampai ke rumah Kinanti. Kala takut itu akan mengancam keselamatan kinanti.


“Wah, lama gak ketemu Kal!” seru seorang laki-laki yang berjalan menghampiri Kala. Dia adalah ketua genk motor yang baru.

__ADS_1


“Turun dulu lah, biar kita ngobrol dulu. Lo kenalin cewek cantik yang ada dibelakang lo.” Pria itu mengintip Kinanti yang menyembunyikan wajahnya di belakang bahu Kala.


“Gue gak bisa lama, gue bawa anak orang. Dia gak ada urusannya sama kita jadi, jangan ganggu dia. Mau lo apa?” Kala balas menantang.


“Wuhuuu, rupanya lo udah bisa jagain anak orang. Cewek cantik lagi. Biar lo gak repot, gimana kalau cewek cantiknya buat gue? Biar gue yang ambil alih tanggung jawab lo. Iya gak?” laki-laki itu mendekat pada Kinanti dan hendak menyentuhnya.


“Jangan macem-macem lo! Lo mau duit kan? Gue kasih, tapi jangan ganggu dia. Atau gue bikin putus tuh tangan.” Kala balas mengancam.


“Hahahahaha… ngeri anj^^g, dia sekarang maen ancam!” teriak lelaki itu yang disahuti tawa oleh teman-temannya.


“Sayangnya, gue udah gak tertarik sama duit lo, gue lebih tertarik sama cewek lo. Boleh gak gue pinjem dia semalem?” laki-laki itu menyeringai sinis pada Kala dengan tatapan mengintimidasi.


“Jaga mulut lo anj!” seru Kala.


Tanpa rasa ragu, ia mengajak Kinanti turun dan segera mendorong laki-laki itu menjauh. Ia tidak bisa menahan dirinya ketika mendengar Kinanti dilecehkan dan direndahkan.


“Wowowowo!!! Sabar bos sabar!” seru laki-laki itu saat tangan kokoh Kala tiba-tiba mendorongnya dan mencengkram jaketnya dengan erat. Ia bisa melihat nyala mata Kala yang memerah penuh kemarahan.


“Kal,” sementara Kinanti gemetaran seorang diri. Ia melihat anggota genk motor itu memperhatikannya, seperti singa lapar yang siap menerkamnya. Sebisa mungkin ia minta otaknya utnuk berpikir, mencari cara untuk menyelamatkan ia dan Kala.


“Jangan macem-macem, karena gue udah gak akan ngalah lagi.” Kala memberi ancaman pada pria itu.


“Kenapa nggak? Serratus orang kayak lo juga bisa gue habisin.” Kala tidak kalah takut. Lewat tatapannya yang tajam, seperti ia tengah menyampaikan pesan kematian untuk preman ini.


Laki-laki itu tersenyum, tersenyum sinis lantas tertawa.


“Hahhahahaha….” Ia tertawa dengan sangat keras.


“HHahahaha, lo udah tumbuh gede. Lo udah gak takut lagi nyawa lain gugur gara-gara lo. Lo udah berubah Kala. Jadi apa nih? Kala the adventure? Hahahaha….” Laki-laki itu tertawa makin keras tapi sungguh hatinya ketar-ketir karena Kala sepertinya tidak bercanda.


Laki-laki itu menepuk bahu Kala dan bebisik lirih. “Gimana kalau kita taruhan? Kita balapan di tempat biasa. Kalau lo memang, lo selamat, tapi kalau lo kalah, cewek itu buat gue,“ tawar laki-laki tersebut.


“Anj^^ng lo!” Kala tidak terima.


“Kenapa, lo takut? Lo gak yakin bisa menang? Padahal gue nawarin kebebasan buat lo. Masa sih cewek begitu doang bisa ngalahin harga diri lo? Lo mau jadi banci?” ledek laki-laki itu.


“BUG!” tiba-tiba saja Kala melayangkan bogem mentahnya ke wajah laki-laki itu.

__ADS_1


“Akh, sial!” laki-laki itu mendengus kesakitan. Ia sampai terjengkang dengan sudut bibirnya yang berdarah. Teman-temannya sudah mendekat dan bersiap hendak menyerang Kala saat melihat bos mereka susah payah untuk bangkit. Pukulan Kala semakin keras saja. Sepertinya remaja ini memang bertambah kuat.


Kinanti yang melihat pun mulai ketar-ketir.


“Berhenti! Aku susah menghubungi polisi dan mereka akan datang!” seru Kinanti, menunjukkan layar ponselnya yang sedang melakukan panggilan.


“Sial!” laki-laki itu kembali mendengus. Ia menatap Kinanti dengan kesal.


“Mereka sudah mendengar ancaman kalian pada Kala dan sudah dalam perjalanan menuju ke sini.” Kinanti menambahkan ancamannya. Walau tangan dan suaranya gemetaran tapi ia mencoba bertahan.


Kalah otak di banding otot, laki-laki itupun percaya pada ancaman Kinanti. Ia menunjuk Kala dan Kinanti bergantian, lalu berjalan mundur.


“CABUT!!” serunya dengan kesal.


Satu per satu anggota genk motor itu naik ke atas motor mereka begitupun dengan ketua genk motor. Dia masih menatap Kinanti dan Kala dengan tatapan tajam, tapi kemudian, ia bergegas pergi saat mendengar suara sirine yang membuat ia dan teman-temannya hanya bisa mengacungkan jari tengahnya pada Kala lalu pergi begitu saja dari hadapan Kala.


“Hah!” Kinanti menghembuskan nafasnya lega. Ia membungkukkan tubuhnya setelah membuang nafas berat itu. Kala segera menghampiri Kinanti.


“Kamu gak apa-apa?” Kala menatap kinanti dengan cemas.


Kinanti segera mengangkat wajahnya lalu menggeleng pada Kala.


“Nggak, aku baik-baik aja,” akunya seraya tersenyum.


“Syukurlah.” Kala menatap Kinanti dengan penuh rasa syukur.


“Gimana bisa tadi kamu menghubungi polisi? Mereka bisa aja nyerang kita. Tapi, ngomong-ngomong, mana polisinya, kok mereka gak jadi dating?” Kala bingung sendiri.


“Aku gak bener-bener nelpon polisi. Aku cuma ngehubungi call centre providerku, udah gitu aku bunyiin suara sirine di yutub.” Kinanti tersenyum penuh siasat.


“Astaga, aku pikir kamu bener-bener ngehubungin polisi.” Kala tersenyum takjub melihat usaha Kinanti. Gadis ini ternyata sangat cerdas.


“Aku sempet deg-degan tadi, takut yang muncul malah suara iklan toko orange. Untungnya nggak.” Kinanti berceloteh, yang membuat Kala tertawa lantas menarik tangan Kinanti untuk masuk ke dalam pelukannya. Tanpa sadar, ia memeluk Kinanti dengan erat. Sangat erat.


Keduanya terdiam beberapa saat, saling merasakan rasa berdebar yang tidak biasa namun menenangkan diwaktu yang bersamaan.


Kinanti hanya berdiri tegang, tanpa membalas pelukan Kala. Ini tertalu tiba-tiba dan sangat mendebarkan. Ia hanya bisa terdiam di bawah cahaya lampu jalan yang benderang, menikmati desiran halus yang mengisi rongga dadanya.

__ADS_1


Untuk beberapa saat, mereka tidak peduli pada tatapan beberapa pengguna jalan yang masih melintas di sekitar mereka.


****


__ADS_2