Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Nyaris menyerah


__ADS_3

Di rumahnya, saat ini Lukman tengah terdiam seorang diri di kamar. Sejak memutuskan untuk pulang lebih dulu, ia belum bisa mengatasi rasa mual yang sangat dan rasa sakit yang menjalar disekitar tubuhnya. Ia berbaring di atas tempat tidur, berguling ke sana kemari dan sangat gelisah. Keringat dingin bercucuran di tubuhnya. Sesekali ia mengaduh dan mengerang sendirian  sambil mencengkram permukaan kasurnya kuat-kuat, hingga pembuluh darah ditubuhnya tampak menonjol terlihat dari permukaan kulitnya yang tipis dan pucat. Wajahnya memerah dengan mata yang memejam kuat menaha sakit.


Sulit sekali rasanya menahan rasa sakit ini, tetapi ia tidak bisa melakukan apapun selain menerima rasa sakit yang mendera tubuhnya. Mungkin ini alasan dokter memaksanya untuk rawat inap, karena ia akan sangat tersiksa saat berada di rumah. Namun pilihannya terlalu kukuh untuk tetap berada di rumah bersama sang putri.


Beruntung Kinanti belum pulang sehingga ia bisa bebas mengekspresikan rasa sakitnya. Sesekali ia mencengkram bantal, lalu memeluknya dengan sangat erat dan menunggu rasa sakit itu reda dengan sendirinya.


Setelah sedikit membaik, dengan sisa tenaga yang ada di tubuhnya, Lukman beranjak dari tempat tidur. Ia mengambil obat yang selalu ia simpan dalam tas kerjanya. Tangannya yang gemetar merobek cangkang obat untuk mengeluarkan kapsul itu lalu meminumnya.


Baru beberapa saat obat itu berada di mulutnya, tiba-tiba saja rasa mual menyerang. Lukman berusaha untuk bangkit dan berlari ke kamar mandi yang ada didalam kamarnya.


“Huwek! Huwek!”


Lukman memuntahkan kembali obat yang belum sempat masuk ke dalam lambungnya. Ia sampai terduduk di depan toilet sambil berpegangan pada pinggiran toilet dan berusaha memuntahkan semua isi perutnya yang sebenarnya hanya berisi air. Sepertinya efek chemo belum benar-benar hilang hingga ia meras begitu tersiksa.


Sekitar lima belas menit Lukman terduduk dilantai kamar mandi dan berpegangan pada sisi toilet untuk menopang tubuhnya yang lemah. Setelah tidak ada lagi yang bisa ia muntahkan, tubuhnya terasa sangat lemas. Sedikit demi sedikit ia berusaha untuk bangkit, nyaris merangkak untuk kembali ke atas tempat tidurnya lalu membaringkan tubuhnya terlentang di sana.


Ia memandangi langit-langit kamarnya juga setiap sudut kamar yang ia lihat berbayang.


“Kinan, mungkin ayah akan segera menyusul ibu, nak.” Ucap laki-laki itu bergumam lirih. Sekujur tubuhnya sangat lemah, seperti tumpukan kapuk yang tidak punya kuasa untuk bergerak sedikitpun.

__ADS_1


Ia memandangi foto keluarga yang terpajang di salah satu dinding kamarnya. Wajah Kinanti yang ceria juga wajah mendiang sang istri yang tenang dan damai. Semuanya menjadi kolase indah yang terasa memojokkan hatinya hingga hanya bisa meringis kesakitan menahan semua kesedihan yang menyesakkan rongga dadanya.


“Kalau ayah pergi, apa Kinan akan memaafkan ayah? Berapa lama Kinan akan bersedih? Berapa lama juga Kinan akan menangis dan belajar bisa menerima ayah?” Lukman bertanya pada foto yang Kinanti yang hanya tersenyum, tidak bisa menjawab. Seperti halnya dirinya yang hanya bisa melelehkan air mata di sudut matanya yang mulai keriput.


“Maafkan ayah, bu. Sepertinya ayah gagal memenuhi janji ayah untuk menemani Kinan sampai dia dewasa dan memiliki keluarga sendiri. Tubuh ayah sudah terlalu lelah dan sakit. Ayah tidak bisa melakukan apapun selain berpasrah seperti ini. Ayah harap, ibu tidak membenci ayah.” Laki-laki itu melanjutkan kalimatnya dengan tersengau-sengau didalam hatinya. Bibirnya terlalu lemah untuk berujar dan mengungkapkan seluruh perasaan yang mengisi dadanya.


Tidak lama berselang, terdengar suara mesin motor yang masuk ke halaman rumahnya. Ia mengenal benar suara mesin itu. Suara mesin milik Kala yang baru tiba.


Kinanti yang berada di atas boncengan, segera turun dan masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaan Lukman.


“Ayah, Ayah dimana?” panggil Kinanti. Ia mencari ke sekeliling rumah, tidak ada bayangan Lukman di sana. Ia mengecek meja makan, ada makanan yang dibeli lukman dan masih berada dalam plastik, belum di tempatkan di wadah makanan.


“Apa Ayah belum makan?” Kinanti bertanya pada dirinya sendiri. Ia melihat wastafel, tidak ada piring kotor yang berarti Lukman pun belum makan.


“Nggak tau, kayaknya di kamar deh.” Kinanti menghampiri pintu kamar Lukman dan menempelkan telinganya di daun pintu untuk mengecek suara di dalam sana.


“Ayah, Ayah udah tidur?” pelan-pelan Kinanti mengetuk pintu kamar Lukman.


Lukman yang mendengar suara kinanti pun membuka matanya yang semula terpejam. Ia ingin beranjak tapi rasanya sangat lemas.

__ADS_1


“Ayaaah….” Lagi suara Kinanti terdengar begitu lembut, membuat hati Lukman meringis sakit. Ia hanya bisa menitikkan air matanya dan menahan sesak di dada.


“Ayah mau istirahat ya nak. Capek banget.” Suara itu kemudian terdengar dari balik pintu. Susah payah Lukman bersuara dan menahan semua rasa sakitnya di waktu yang bersamaan.


“Ayah nggak makan dulu? Kinan liat makanannya masih utuh.” Kinanti dengan segala kecemasannya.


“Kinan makanlah sama nak Kala. Ayah gak laper, cuma pengan istirahat aja.” Lukman kukuh dengan pilihannya. Ia tidak ingin Kinanti melihat kondisi tubuhnya saat ini dan membuat sang putri sedih. Padahal baru beberapa saat lalu Kinanti tertawa bahagia dihadapannya. Berdo’a saja semoga kondisinya segera pulih.


“Udah, Kinan. Biarin ayah istirahat dulu.” Kala berusaha mengingatkan. Ia memahami benar kondisi Lukman saat ini. Laki-laki itu pasti sedang berusaha menyembunyikan kondisinya dari Kinanti.


Kinanti mengangguk paham. “Ya udah, Ayah istirahat ya. Kinan sama Kala makan dulu. Kalau Ayah laper, jangan lupa makan juga.” Kinanti berpesan dengan sepenuh hati.


Tidak ada jawaban dari Lukman. Bibirnya terlalu kelu untuk sekedar mengatakan ya.


“Selamat malam Ayah. Mimpi yang indah. Kinan sayang Ayah,” pesan romantis gadis itu seraya mengusap pintu kamar Lukman. Tidak ada sahutan yang terdengar dan Kinanti beranggapan mungkin Lukman benar-benar terlelap karena kelelahan.


“Ayah capek banget kayaknya. Kasian….” Kinanti memilih beranjak dari tempatnya dan tidak mengganggu Lukman lagi.


“Kita makan, Kal,” ajak gadis itu. Kala tidak lantas menimpali, ia hanya memandangi Kinanti yang tampak gelisah walau berusaha tenang. Beberapa kali ia menghembuskan napasnya dengan kasar. Benar adanya, kalau kedekatan Ayah dan anak itu, tidak pernah bisa dihalangi apapun. Saat ini Kinanti merasa tidak tenang, entah untuk alasan apa. Padahal ia tahu, Lukman ada di rumah.

__ADS_1


Ia duduk di kursi meja makan dan memandangi pintu kamar Lukman dengan perasaan yang entah.


****


__ADS_2