Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Menghadapi perasaan sama-sama


__ADS_3

Berbicara dengan Lukman, cukup membuka pikiran Kinanti. Setelah mandi, ia duduk di atas kasurnya sambil memeriksa ponselnya. Ternyata ada banyak panggilan dari Kala juga pesan yang belum ia baca.


“Astaga ini anak, banyak banget spam chat ke aku. Apa selama di café dia cuma main hape? Gak marah apa bosnya?” Kinanti bergumam sendiri sambil membaca satu per satu pesan Kala.


Tidak ada chat Kala yang ia timpali. Kinanti hanya mengirim pesan, “Kamu udah pulang?” baginya ini penting, jangan sampai mereka berkirim pesan sementara Kala masih ada di café.


Kala yang sedang berbaring ditempat tidurnya segera membalas pesan Kinanti. “Kinaaaannnn… akhirnya kamu chat aku. Kamu kemana aja?” ia menghembuskan napasnya dengar lega. Semangat yang semula hilang akhirnya kembali lagi.


“Habis makan batagor sama Ayah,” balas Kinanti yang menyertakan foto Lukman yang asyik menikmati batagor yang ia beli.


Kala langsung terrenyuh melihat pesan balasan Kinanti. “Nikmati waktu yang banyak sama Ayah, Kinan. Karena kelak kamu akan merindukan masa-masa itu.” Kala bergumam sendiri sambil memandangi foto yang dikirim Kinanti. Ia tidak bisa membayangkan, kalau suatu hari Lukman pergi, cerita seru apa yang akan Kinanti bagikan padanya. Karena dua puluh persen cerita Kinanti adalah tentang Ayahnya. Harta satu-satunya yang gadis itu miliki.


“Boleh videocall gak?” Kala sangat ingin melihat wajah kinanti yang ia rindukan.


Jantung Kinanti langsung berdebar kencang membaca pesan Kala.


“Videocall gimana, orang rambutku masih pake handuk.” Kinanti mengomel sendiri. Ia segera mencari sisir dan menyisir rambutnya yang basah sambil memandangi layar ponselnya.


“Gak jawab berarti boleh.” Kala mengirim pesan berikutnya.


“Astagaa, Kala nih gak sabaran banget. Aku kan belum pake bedak.” Kinanti benar-benar panik. Padahal biasanya juga ia tidak seperti ini. Terima video call saat baru bangun tidur dengan rambut berantakan dan sambil menguappun sudah sering. Kenapa sekarang ia jadi repot sendiri.


Benar saja, Kala melakukan panggilan video. “Aduh gimana ini? Kala beneran videocall. Apa aku suruh ngobrol sama Ayah aja ya?” Kinanti segera berlari ke pintu.


Kemudian langkahnya terhenti. “Tapi kalau nanti Ayah nanya kenapa gak aku sendiri yang jawab, aku harus bilang apa? Aduuhh, kok pusing gini sih?” Kinanti panik sendiri. Ia tidak sempat menjawab dan panggilan sudah berakhir.


“Nan, kamu masih mau ngehindarin aku?” Kala mengirim lagi pesan.


“Dih, kenapa langsung aku buka sih, chatnya?” Kinanti menepuk jidatnya sendiri. Harusnya tadi tidak buru-buru ia buka, chat dari Kala.


“Kinaaannn….” Kala mengirimkan pesan lagi. Kinanti sampai bisa membayangkan bagaimana nada suara Kala saat memanggil namanya dengan cara itu.


“Iya, aku udah siap,” balas Kinanti pada akhirnya. “Eh tunggu, apanya yang siap?” Kinanti baru sadar kalau pesannya sangat ambigu.


Kala tidak bisa menahan senyumnya. Ia ingin sekali menggoda Kinanti dengan membalas, siap untuk apa? Tapi ia tidak tega. Ia tidak mau Kinanti menghindarinya lagi.


“Pura-pura begok aja lah,” gumam Kala sambil melakukan panggilan video. Ia juga merapikan rambutnya yang semula berantakan karena ia guyar dengan kasar.

__ADS_1


Tidak lama berselang, wajah Kinanti tampil di layar ponsel Kala. Ia terlihat sangat segar dan cantik. Kala sampai ternganga melihat Kinanti yang begitu cantik malam ini.


“Kamu mau kemana?” Kala penasaran kalau tidak bertanya.


“Kemana apanya? Ya nggak kemana-mana, lah!” sahutan Kinanti terdengar sedikit sinis.


“Kirain kamu mau pergi-pergian. Ini kan udah malem. Kalau mau pergi-pergian biar aku anter.” Kala membaringkan kembali tubuhnya, begitupun dengan Kinanti. Wajah orang yang mereka sayangi berada di atas wajahnya masing-masing. Menyenangkan bisa saling berpandangan sedekat ini.


“Udah malem ini Kal, mana ada aku keluar malem-malem.” Kinanti beralasan.


"Hehehe, iya juga ya." Kala terkekeh. Kalau boleh geer, berarti Kinanti dandan untuk Kala. Mereka saling terdiam beberapa saat, asyik memandangi wajah satu sama lain.


“Kamu kemana aja setengah hari ini?” Kala bertanya dengan cemas.


“Setengah hari apanya? Orang tadi kita sama-sama dikelas. Cuma pisah pas pulang masing-masing aja. Itu berarti cuma empat jam. Jangan lebay!” Kinanti memang perhitungan.


“Iya sih, tapi selama lima jam kamu gak ngomong sama aku. Kamu juga terus ngehindar. Jadi berasa gak ada walaupun kita di kelas yang sama. Aku gak denger yang bawel.” Kala kelepasan mengoda Kinanti, membuat wajah gadis itu merona merah.


“Aku minta maaf ya, atas kejadian tadi siang, kalau itu bikin kamu gak nyaman,” imbuh Kala dengan penuh sesal.


“Aku gak akan bilang itu gak sengaja, karena itu perasaan aku yang sesungguhnya. Cuma caranya aja yang gak tepat.” Kala masih melanjutkan kalimatnya.


“Kal, bisa gak kita gak usah bahas itu lagi?” Kinanti mulai kesal. Setiap kalimat yang Kala ucapkan, membuat perasaannya semakin tidak menentu.


“Ya harus dibahas, Nan. Aku gak mau kamu merasa dilecehkan atau merasa mendapat perlakuan yang gak sopan dari aku. Aku juga gak mau bilang itu sebuah kesalahan karena perasaan aku gak salah soal kamu.” Kala berbicara dengan lugas membuat Kianti tidak bisa berkata-kata. Sejelas ini Kala mengakui perasaannya.


“Kal, kita masih kecil….” Kinanti gemas sendiri mendengar ucapan Kala. Kalau saja Kala ada dihadapannya mungkin ia akan membekap mulut Kala dan tidak mengizinkannya untuk berbicara lagi.


“Ya aku tau, kita masih pelajar dan tugas kita belajar. Aku menghormati itu termasuk pilihan kamu untuk gak mikirin pacaran selama kita masih sama-sama menuntut ilmu. Cuma maksud aku, aku gak bisa bohong dan pura-pura gak ngerasain apa-apa sama kamu. Aku sayang sama kamu, Nan. Aku juga berharap kamu mengizinkan aku mengakui itu tanpa menghindariku seperti beberapa jam ini. Aku masih ingin berteman sama kamu. Menjadi tempat berbagi kamu dan menikmati masa muda kita sama-sama.”


“Aku gak mau kamu ngerasa terikat, aku akan mengikat kamu saat kamu merasa sudah siap untuk sebuah hubungan yang lebih serius. Aku berharap orang yang kelak menjadi pasanganku, adalah orang yang bisa berteman denganku. Aku butuh sosok yang seperti kamu, Nan,” urai Kala dengan penuh ketegasan.


Kinanti tidak menimpali. Ia masih kesulitan mengatur napas dan ritme jantungnya yang berdebaran tidak karuan. Alih-alih menjawab, Kinanti malah membalik kamera ponselnya menghadap ke langit-langit kamar. Sementara ia memandangi wajah Kala yang membuatnya gemas sendiri.


Sejujurnya, Kala pun merasakan apa yang Kinanti rasakan. Rasa gugup yang tidak bisa ia ungkapkan. Hanya saja, nyalinya sebagai laki-laki lebih besar dibanding Kinanti.


“Nan, kamu masih di situ kan? Kok gak ngomong?” Kala dengan suaranya yang merajuk. Ia tidak tahu kalau Kinanti sedang mengigiti ujung bantalnya karena gugup sendiri.

__ADS_1


“Kinan… apa kita masih bisa bicara? Bisakah kita sama-sama menghadapi situasi ini?” Kala tidak menyerah memanggil Kinanti.


Dalam beberapa detik, Kinanti menampakkan kembali wajahnya dilayar ponsel Kala, membuat remaja itu tersenyum senang.


“Hey, you okey?” Kala bertanya dengan mendalam.


Kinanti mengangguk malu sambil memeluk boneka tedy bears kesayangannya. Hanya setengah wajahnya saja yang Kinanti tampakkan.


“Aku mau denger sesuatu dari kamu. Apapun itu,” Kala menatap Kinanti penuh harap. Ia tidak terbiasa berhadapan dengan Kinanti yang banyak diam seperti ini.


“Ya, aku gak akan ngehindari kamu lagi. Kita hadapi kondisi ini sama-sama.” Kinanti berujar dengan penuh kesungguhan.


“Serius?” Mata Kala membulat tidak percaya.


“Ya, aku mau hadapin masa ini karena, ku juga sayang sama kamu dan sama hubungan kita selama ini.” Kinanti menutup wajahnya setelah mengatakan kalimat panjang itu.


Senyum Kala langsung terbit. Ia berguling-guling di kassurnya sambil mengigit bantalnya sendiri. Hilanglah sosok Kala yang badboy dan berubah menjadi Kala yang softboy dan tidak bisa menyembunyikan perasaannya yang menggebu.


“Aku sayang kamu Kinan, aku sayang kamu!” tegas Kala seraya menunjuk Kinanti.


Gadis itu hanya tersenyum dan menyembunyikan wajahnya dibalik boneka tedy bear. Mereka sama-sama terdiam beberapa saat, menatap wajah yang tidak asing untuk satu sama lain karena sudah berada di hati masing-masing.


“Kinan, makasih karena kamu udah mau jujur sama aku. Terima kasih banyak,” ungkap Kala.


Kinanti mengangguk mengiyakan, bibirnya masih terlalu kelu untuk berkata-kata. Entah kegilaan apa yang merasukinya hingga ia pun berani mengakui perasaannya pada Kala.


“Aku mau tidur dulu ya, ini udah malem.” Kinanti beralasan. Padahal ia sedang perlu waktu dengan dirinya sendiri. Waktu untuk menikmati letupan kecil di rongga dadanya yang bergemuruh.


“Ya, tidurlah. Besok aku jemput ya.” Kala menimpali sambil tersenyum.


“Iya, malem Kal.”


“Malem Kinan, tidur yang nyenyak.”


Tidak ada percakapan lain yang terjadi karena Kinanti memilih mengakhiri panggilannya. Namun setelah itu, dua remaja itu tidak sama-sama tidur. Mereka masih menikmati sensasi yang baru mereka rasakan dari sebuah rasa yang dinamakan jatuh cinta. Keduanya sama-sama tersenyum pada langit-langit kamar yang menampilkan wajah masing-masing. Entalah, apa mereka akan tidur atau tidak malam ini.


*****

__ADS_1


__ADS_2