Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Permakluman


__ADS_3

Kondisi tubuh yang mulai membaik, membuat Lukman memutuskan untuk mulai bekerja lagi hari ini. Suasana kerjanya tampak sedikit berbeda. Beberapa orang menatap sinis pada Lukman. Ada yang memperhatikan kondisi fisik Lukman yang tampak lemah dan pucat, ada juga yang mengintip pekerjaan yang sedang dikerjakan Lukman. Perhatian mereka terlalu berlebih untuk Lukman dan Lukman bisa merasakan itu seolah tidak percaya kalau Lukman sedang bekerja.


“Gara-gara dia tuh manager HRD di pindah. Kerja kok seenak jidatnya. Cuti lebih dari seminggu, ya udah resign aja sekalian,” ucap salah satu karyawan dengan sinis. Lukman masih bisa mendengar itu, begitupun dengan Seno.


“Gak usah didengerin, Kang. Cuekin aja. Yang penting Akang udah dapet izin dari bos besar,” bisik Seno sambil menepuk bahu Lukman untuk memberi semangat.


“Iya, Sen. Makasih.” Lukman hanya bisa berterima kasih pada orang yang selalu mendukungnya. Kalau saja tidak ada Seno di dekatnya, entah siapa yang akan membantunya selama ini. Seno rela bolak-balik rumah sakit dan sesekali ia mengerjakan pekerjaan kantor dari rumah sakit. Sungguh pengorbanan yang besar dari seorang sahabat.


Padahal hanya satu kali Lukman pernah menolong Seno, yaitu saat Seno mengalami masalah keuangan ketika istrinya akan melahirkan dan memerlukan bantuan dana yang besar. Lukman memberikan bantuan yang cukup besar hingga semua proses pengobatan berjalan lancar dan anak seno lahir dengan selamat.


Akan tetapi, hubungan antar teman itu tidak hanya tentang urusan timpal jasa tapi lebih pada perasaan yang dirasakan saat menerima bantuan itu.


“Bah, Bang Lukman sudah masuk lagi rupanya? Kupikir Abang gak kerja lagi di sini. Tak lupa jalan ke kantor kan, Abang?” ucap salah satu rekan kerja Lukman yang tersenyum meledek pada Lukman.


“Iya, saya udah mulai kerja lagi. Perjalanan menuju kantor pun lancar tanpa kendala.” Hanya itu sahutan Lukman.


“Beruntung sekali Abang nih, waktu Abang gak ada, kerjaan kami sangat banyak sampai hampir setiap malam kami lembur. Tapi saat Abang masuk, kerja udah beres semua. Pintar sekali pilih waktu cutinya. Abang senang-senang, kami nyaris mati kelelahan.” Walaupun disampaikan sambil tertawa-tawa dan berniat bercanda, tetapi perasaan Lukman tetap tidak bisa menerima begitu saja ucapan laki-laki muda dihadapannya.


Ada rasa sedih yang ia rasakan saat mendengar kalimat itu. Andai orang ini tahu kalau Lukman bukan pergi jalan-jalan atau liburan dengan keluarganya, melainkan terbujur tidak berdaya di ranjang rumah sakit dan meninggalkan putri yang ia sayang. Hah, hati Lukman mencelos mendengar ucapan pria ini.


“Maaf, karena saya tidak menemani kalian lembur.” Hanya itu yang bisa Lukman katakan.


“Maaf saja di bilang, basi sudah. Hahahahha….” Laki-laki itu menimpali dengan tawa sambil berlalu menuju meja kerjanya. Beberapa orang ikut tertawa. Entah menertawakan Lukman atau ocehan pria berperawakan garang yang tadi menyapanya untuk berbasa basi. Lukman mencoba tidak memperdulikan itu. Saat ini, ia hanya ingin fokus dengan kesehatan, keluarga dan pekerjaannya. Itu saja.


“Pak Lukman, di panggil big boss ke ruangannya.” Seorang lak-laki menghampiri Lukman yang baru bersiap akan melanjutkan pekerjaannya.


“Big boss? Ada apa ya?” Lukman menelan salivanya kasar-kasar. Ia cukup terkejut dengan apa yang didengarnya.


“Ya kurang tau. Coba aja ke sana dulu. Mungkin mau ngasih hadiah buat karyawan kesayangan,” sahut pria tersebut sambil tersenyum meledek.

__ADS_1


“Iya, terima kasih ya.” Lukman menurut saja.


“Paling dapet SP3, diberhentiin secara gak hormat,” komentar seseorang yang masih bisa Lukman dengar.


Lukman hanya tersenyum, benar, ia harus bersiap untuk kemungkinan terburuk itu.


“Yang tenang, Kang. Yakin aja kalau gak akan ada apa-apa.” Hanya Seno yang masih menyemangati.


Lukman terangguk pelan, ia berusaha untuk tenang dan tidak berpikir macam-macam. Katanya, apa yang terjadi itu bisa karena pikiran kita sendiri. Maka Lukman memilih untuk tidak berpikir hal-hal buruk. Terima saja apa yang akan terjadi kemudian.


Langkah Lukman yang tidak terlalu cepat itu, membawanya ke ruangan milik direktur utama perusahaan ini. Ia mengetuk pintu dan asisten Bertha mempersilakannya masuk.


“Pak Lukman, silakan masuk, Pak.” Bertha pun menyapa Lukman dengan hangat.


Lukman mengangguk sopan. Selama bekerja di kantor ini, baru sekarang ia punya kesempatan masuk ke ruangan direktur yang selalu memberlakukan pembatasan siapa saja yang boleh masuk.


“Duduklah.” Bertha mempersilakan Lukman duduk. Ia menghampiri Lukman dan sama-sama terduduk di sofa. Senyumnya terlihat bersahabat dan penuh simpati.


“Kabar saya baik, Bu. Terima kasih.” Lukman berusaha bersikap tenang dihadapan direktur utama perusahaan ini.


“Syukurlah. Gimana cutinya?”


Entah apa maksud pertanyaan ini yang jelas jantung Lukman tiba-tiba berdebar sangat kencang. Sepertinya ada hal yang tidak biasa yang dimaksud oleh Bertha.


“Waktu cuti saya, saya pergunakan dengan baik. Terima kasih Ibu sudah mengizinkan saya untuk cuti, sehingga saya bisa kembali bekerja dalam kondisi yang lebih baik lagi.” Lukman menjawab dengan diplomatis.


Bertha menggangguk paham. Ia menatap Lukman cukup lekat, lantas kemudian tersenyum.


“Dua hari ke belakang, saya mendapat laporan kalau putri Bapak datang ke kantor untuk menanyakan perihal keberadaan Bapak. Apa dia tidak tahu kalau bapak sedang cuti?” pertanyaan Bertha benar-benar mengejutkan.

__ADS_1


Lukman langsung terdiam, bingung mau menjawab seperti apa.


“Saya menghormati hal yang bersifat pribadi dan menjadi pilihan Bapak, tapi mohon maaf saya harus menanyakan hal ini. Putri Bapak mengira kalau Bapak sedang perjalanan dinas ke luar kota. Saya merasa, itu tidak terlalu pas untuk dijadikan alasan.” Bertha menatap Lukman dengan lekat dan membuat pria paruh baya itu semakin sulit untuk berbicara. Ia sadar, harusnya ia tidak menjadikan masalah pekerjaan sebagai alasan untuk ia berbohong pada Kinanti. Karena hal itu bisa saja membuat citra buruk perusahaan di mata keluarganya.


“Saya mohon maaf atas kekeliruan saya, Bu. Memang tidak seharusnya saya mengatakan pekerjaan sebagai alasan saya keluarga rumah. Saya telah berbohong baik pada perusahaan ataupun pada putri saya. Tapi sungguh, saya sangat terdesak saat itu.” Lukman berbicara tanpa berani menatap wajah Bertha. Ia menyadari benar kekeliruannya.


“Saya maafkan tapi saya ingin tahu lebih jelas alasan Bapak yang sebenarnya.” Pertanyaan Bertha membuat Lukman tidak berkutik. Pria paruh baya ini tertunduk lesu dengan banyak pikiran yang ada dikepalanya. Entah apa yang harus ia katakan saat ini. Jujur saja kah?


“Saya menjalani prosedur pengobatan di salah satu rumah sakit, Bu. Saya terpaksa berbohong pada perusahaan juga putri saya karena saya belum bisa mengatakan yang sebenarnya. Tolong maafkan saya.” Suara Lukman terdengar pelan dan penuh ketakutan. Sepertinya ia tidak bisa berbohong lagi. Ia tidak bisa memikul beban rasa bersalah ini lebih lama.


Bertha tidak bisa berkata-kata. Ternyata benar yang dilaporkan oleh asistennya kalau Lukman sedang sakit parah. Bertha memang sengaja meminta asistennya mencari tahu kondisi Lukman karena kedatangan Kinanti kemarin yang sampai ingin bertemu dengan atasan dari ayahnya. Terlebih gadis itu datang bersama putranya. Seorang anak yang tidak pernah peduli pada orang lain. Tapi kali ini Kala sampai rela mengantar Kinanti kemanapun.


“Kalau Bapak sakit, sebenarnya kan Bapak bisa mengajukan cuti sakit. Kami bisa memaklumi itu.” Bertha berusaha bersikap bijak.


Ia melihat Lukman mengangguk. “Tapi, apa kantor masih bisa menerima saya kalau tahu bahwa penyakit saya cukup berat?” Lukman menatap Bertha dengan nanar. Matanya mulai berkaca-kaca dan sepertinya beberapa saat lagi akan meneteskan bulir air matanya.


“Bukankah kalau perusahaan tahu alasan cuti saya, kemungkinan perusahaan akan memberhentikan seorang karyawan yang pesakitan seperti saya? Sementara saya masih membutuhkan pekerjaan ini. Saya masih harus mencukupi kebutuhan anak saya yang masih sekolah. Saya….” Kalimat Lukman terhenti. Ia tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Ia hanya tertunduk lesu, memikirkan kondisi yang membuatnya merasa terhimpit.


“Pak Lukman, beberapa perusahaan mungkin memilih memberhentikan pekerjanya saat dia memang sudah tidak produktif bekerja di perusahaan itu. Tapi, dasar pemikiran kami, bukan hanya karena tidak produktif saja melainkan karena perusahaan pun khawatir, jika karena kesibukan yang ada di perusahaan, karyawan tidak fokus memperhatikan kesehatan yang menjadi modal utama untuk ia melakukan banyak hal,” urai Bertha dengan sesungguhnya.


“Bapak sudah mengabdi di perusahaan ini sangat lama. Kami pun peduli pada kondisi kesehatan Bapak. Terlebih Bapak masih memiliki anak yang memerlukan perlindungan Bapak. Tapi, kalau Bapak menyembunyikan kondisi Bapak yang sebenarnya, mana kami tahu kalau Bapak memerlukan bantuan kami?” Bertha berbicara dengan penuh perhatian membuat Lukman kemudian meneteskan air matanya saat sadar kalau yang dikatakan bos-nya itu memang benar.


“Pak Lukman, saya akan berusaha membantu kalau Bapak terbuka pada saya. Sebagai seorang pemilik perusahaan yang berterima kasih atas dedikasi Bapak selama ini, juga sebagai orang tua yang sama-sama memiliki anak yang membutuhkan perlindungan kita.” Bertha menegaskan kalimatnya pada Lukman.


Laki-laki bertubuh ringkih itu mengangkat wajahnya yang semula hanya tertunduk. Matanya masih terlihat merah dan basah. Sepertinya, ia memang tidak punya pilihan lain selain kemudian ia harus menjelaskan kondisi kesehatannya saat ini.


Pada akhirnya, Lukman menceritakan semua kondisi kesehatannya. Tentang diagnosa dokter dan prosedur pengobatan yang harus ia jalani. Lukman pun berpesan agar Bertha tidak mengatakan hal ini pada siapapun termasuk keluarganya.


Bertha menyanggupinya saat melihat wajah Lukman yang penuh harap. Ia paham benar ketakutan orang tua yang kelak akan membuat anaknya cemas. Satu keputusan yang kemudian diambil Bertha adalah, Lukman dipindahkan kebagian lain dan ia diperbolehkan mengerjakan pekerjaannya dari rumah. Hanya dua kali dalam seminggu ia wajib datang ke kantor untuk memberikan pelaporan atas pekerjaannya.

__ADS_1


Lukman menangis haru atas kebaikan Bertha terhadapnya. Ia sampai tidak bisa berkata-kata untuk mengekspresikan perasaannya.


****


__ADS_2