Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Semangat dari ayah


__ADS_3

Kala memilih pulang lebih dulu. Setelah berpamitan pada Atla, ia segera meninggalkan orang-orang yang menatapnya dengan isi pikiran masing-masing. Ia sudah tidak mau terlibat lebih jauh dengan keluarga Frea dan keluarga Yudhistira yang baru. Apapun yang akan mereka bicarakan kemudian, Kala tidak akan memikirkannya lagi. Yang ingin ia lakukan saat ini hanya satu, menemui Bertha yang menunggunya di rumah.


Pulang ke rumah, ternyata suasana sudah mulai sepi. Ralat, suasana rumahnya memang selalu sepi. Rumah ini terlalu besar untuk Kala dan Bertha yang hanya tinggal berdua saja. Jarang sekali ada obrolan hangat dan suara canda tawa yang dulu sering mereka dengar. Sekarang semuanya sudah pergi dan menempati posisinya yang baru.


Langkah panjang Kala membawa remaja itu menuju kamar Bertha. Ia ingin mengecek kondisi ibunya sebelum tidur. Hal ini sudah menjadi kebiasaan Kala, yaitu memastikan Bertha baik-baik saja sebelum wanita itu tidur. Mungkin saja Bertha memerlukan teman untuk bicara.


“Mah,” panggil Kala di mulut pintu. Tidak ada jawaban, hingga Kala memutuskan untuk membuka pintu itu.


Bertha tidak ada di kamarnya, sejauh lapang pandangnya melihat, tidak ada tanda-tanda kalau Bertha berada di kamarnya. Satu tempat yang mungkin didatangi Bertha saat ini yaitu ruang kerjanya. Kala segera menuju ke sana dan benar saja, Bertha sedang bertelepon di balkon.


Kala masuk dengan mengendap-endap tanpa suara. Ia tidak mau mengganggu pembicaraan Bertha dengan seseorang di sebrang sana. Sesekali Kala mendengar Bertha tertawa kecil dan lalu bercerita kembali tentang bisnisnya. Sepertinya, Bertha sedang berbicara dengan calon pembeli perusahaannya.


Iseng menunggu Bertha, Kala duduk di kursi kebesaran sang ibu. Ia memutar-mutar tubuhnya beberapa kali sampai kemudian berhenti karena sedikit pusing. Iseng juga ia melihat dokumen yang ada di meja kerja Bertha dan tulisan halaman pertama membuat Kala penasaran.


“Rekam medis?” Kala bergumam sendiri. Ia berpikir cepat, Bertha sakit apa sampai punya rekam medis sendiri?


Karena cemas, Kala segera membuka buku rekam medis itu. Isinya memang tidak lengkap tapi nama pemiliknya sangat jelas, Lukman.


Kala mendadak mematung, tidak bisa berpikir jernih. Pikirnya, untuk apa rekam medis Lukman ada di tangan  Bertha? Karena Lukman karyawannya kah? Tapi apa hanya Lukman yang sakit diperusahaan Bertha, hingga ibunya begitu perhatian? Tidak Kala pungkiri kalau ia semakin penasaran.


Ia membuka satu per satu halaman rekam medis dan membacanya. Iseng juga ia memotret rekam medis Lukman dan hendak ia kirimkan pada Kinanti. Tapi ponselnya mendadak jatuh karena kaget saat sebuah simpulan diagnose dibaca oleh Kala. 'Kanker Nasofaring stadium IV,' tulisan itu yag tercantum di buku rekam medis milik Lukman.


Seketika, pikiran Kala benar-benar kosong. Bayangan wajah Kinanti yang lebih dulu muncul di benak Kala disusul oleh senyum ramah Lukman yang ia lihat selalu berseri. Kala benar-benar tidak percaya kalau Laki-laki kesayangan Kinanti itu sedang sakit. Parah, ya sangat parah. Sampai Kala tidak bisa membayangkan seperti apa sakitnya menderita penyakit mematikan ini.


“Kal,” suara bertha membuat Kala terhenyak dan segera menutup rekam medis itu, lalu mengusap wajah serta kepalanya dengan kasar. Rasa sedih berkumpul dihatinya, ia merasa seperti akan kehilangan orang tuanya sendiri.


“Kamu membacanya, Nak?” Bertha bertanya dengan hati-hati. Kala mengangguk tapi ia hanya bisa menunduk. Tidak berani mengangkat wajahnya untuk menatap Bertha. Niat hati menghibur sang ibu tapi sepertinya, Kala lah yang butuh penghiburan.


Bertha mendekat, lantas ia memeluk Kala dengan erat. Ia cukup tahu kalau Kala dekat dengan Kinanti dan ayahnya.

__ADS_1


“Kenapa Mamah masih tega mempekerjakan seorang karyawan yang sakit? Apa mamah gak memikirkan bagaimana dia setiap harinya?” suara Kala terdengar bergetar. Suara yang tidak pernah Bertha dengar sebelumnya. Sepertinya putranya sangat terkejut dan sedih.


Bertha mengatur nafasnya terlebih dahulu. Ia juga mengusap punggung Kala dengan lembut.


“Kal, mamah tau ini sangat mengejutkan dan menakutkan." Bertha memulai kalimatnya dengan berat.


"Kamu harus tau nak, musibah pak Lukman adalah musibah Mamah juga. Puluhan tahun dia mengabdi untuk perusahaan kita. Dari beliau hanya di gaji harian karena perusahaan kakek adalah perusahaan kecil, hingga perusahaan ini menjadi sangat besar seperti sekarang. Beliau adalah bagian dari tumbuh dan berkembangnya perusahaan ini. Mana mungkin Mamah tega dan sejahat itu sama pak Lukman?” Bertha bersuara dengan lirih. Ia bisa merasakan kesedihan yang dirasakan Kala.


“Terus kenapa Mamah masih mempekerjakan beliau? Mamah udah ketemu beliau kan? Beliau sekarang kurus, pucat dan Kinanti berpikir ayahnya kelelahan bekerja, padahal,” Kala tidak melanjutkan kalimatnya. Ia baru tersadar, kalau sepertinya Kinanti tidak tahu kalau ayahnya sakit.


“Tolong rahasiakan ini dari putrinya, Kal. Itu permintaan pak Lukman.” Bertha seperti paham arah ucapan putranya. Ia melerai pelukannya beberapa saat lalu duduk di samping Kala. Ia mengusap bulir air mata yang menetes dipipi Kala.


“Mamah gak pernah menyuruh pak Lukman tetap bekerja tapi Mamah juga gak bisa mengusir orang yang menemani perusahaan ini dari nol. Mamah juga gak mau dia merasa kalau dia dibuang karena udah gak dibutuhin lagi. Lebih dari itu, Mamah gak mau dia merasa tidak berguna bagi siapapun terutama bagi putrinya, Kinanti."


"Mamah bisa apa Kal, selain membiarkan beliau merasa bahagia karena masih bisa dianggap normal di tengah keadaannya yang sudah begitu sulit?” urai Bertha seraya menatap mata tajam sang putra yang mewarisi mata elang milik suaminya.


Kala tidak bisa menjawab karena ia pun tahu kalau kondisi Bertha sangat sulit.


“Karena itu, beliau berharap, walaupun beliau harus meninggal, beliau ingin meninggal di rumah. Rumah pertama yang beliau belikan untuk putri kesayangannya.” Pada kalimat ini, mata Bertha ikut berkaca-kaca. Ia melihat dengan jelas seberapa banyak persiapan yang dibuat oleh Lukman sebelum pergi meninggalkan orang-orang disekitarnya.


“Tolong bantu Mamah, untuk tetap menyembunyikan ini dari Kinanti, karena Mamah sudah berjanji sama pak Lukman kalau Mamah tidak akan ikut campur masalah keluarganya. Mamah akan memberikan hak pak Lukman sepenuhnya untuk mengatakan sendiri kondisi kesehatannya pada putrinya."


"Selain itu, tolong temani Kinanti. Mamah takut dia merasa sendiri. Karena mamah tau persis bagaimana sakitnya ditinggalkan oleh seseorang yang menjadi pondasi kita. Kamu paham kan, Nak?” tanya Bertha dengan mendalam.


Kala tidak menjawb, ia hanya menegadahkan kepalanya untuk menahan laju air matanya agar tidak lolos menetes. Akan tetapi terlalu sulit, karena dadanya sudah lebih dulu sesak membayangkan bagaimana kondisi Lukman saat ini.


Tanpa berkata apapun, Kala pergi ke kamarnya. Ia memilih untuk menghubungi Kinanti.


“Ya, Kal.” Suara ceria itu terdengar nyaring di sebrang sana. Suara ceria yang membuat perasaan Kala seperti terkoyak.

__ADS_1


Beberapa saat Kala tidak menimpali. Ia hanya menarik dan membuang napasnya untuk mengendalikan perasaannya.


“Halo, Kal. Kamu masih di situ?” Kinanti melihat layar ponselnya dan masih tersambung dengan Kala. “Kalaaa….” Lagi Kinanti memanggilnya.


“Ya!” Kala menjawab setelah ia lebih siap. “Kamu belum tidur?” tanya Kala dengan perasaan cemas.


“Belum. Baru juga jam setengah sembilan. Aku lagi baca-baca buku yang tadi siang aku beli. Eh salah, maksudnya yang dibeliin sama kamu. Ngomong-ngomong, gimana makan malamnya, lancar?”


“Hem, lancar.” Sahutan Kala pendek saja, membuat Kinanti merasa kalau sahabatnya tidak baik-baik saja setelah bertemu papahnya. Sayangnya, Kala lebih tidak baik-baik saja setelah mendengar kabar Lukman.


“Ayah lagi ngapain?” tiba-tiba saja remaja cuek itu merasa begitu cemas pada Lukman.


“Em, kayaknya masih nonton tivi. Soalnya suara tivinya masih kedengeran. Biasa, acara lawakan. Sekarang ayah suka banget sama acara begituan. Ketawanya juga kenceng banget. Aku aja di kamar kadang suka ikut ketawa, tapi bukan karena cara tivinya, melainkan karena suara tawa ayah. Hihihi… ayah ada-ada aja,” celoteh Kinanti yang membuat Kala semakin sesak mendengarnya. Cerita kinanti selalu seru kalau membahas tentang ayahnya. Lalu, jika suatu hari Lukman pergi,


Tidak, Kala tidak mau membayangkan itu. Ia terlalu takut dan tidak siap mendengar Lukman pergi.


“Kal, kok diem lagi sih? Cerita aku garing ya?” suara Kinanti kembali menyadarkan Kala.


“Hah, enggak kok.” Kala memilih membaringkan tubuhnya di Kasur dan memandangi lagit-langit kamarnya yang berwarna abu muda. Ada lampu pijar putih di tengah-tengah dan merefleksikan isi pikirannya tentang sosok Lukman.


“Kal, aku liat di salah satu website, ada yang lagi ngadain festival gamers gitu. Jadi, ini semacam kompetisi bagi anggota komunitas gamer. Kompetisinya emang gak di adain di Indonesia, tapi di Singapura. Untuk pesertanya bisa diikuti oleh siapapun dari negara manapun. Kamu tau hadiahnya? Kontrak eksklusive dengan perusahaan games terbesar. Kamu ikutan ya? Gak harus menang, tapi kalau kamu menang, kamu bisa membuktikan pada orang-orang yang mengecilkan kamu, kalau kamu bisa bersinar dengan cara kamu sendiri. Aku juga cerita ini sama ayah dan ayah bilang, semangatin Kala, Kala pasti bisa. Gitu kata ayah,” urai Kinanti dengan penuh semangat.


Kala tidak menimpali, ia hanya ingin mendengar suara Kinanti yang seperti ini sambil merekamnya. Ia tidak ingin kehilangan suara ini dua atau tiga bulan kedepan karena mungkin, jika Lukman benar-benar pergi, ia tidak akan mendengar suara seceria ini lagi.


“Kamu mau ikutan kan, Kal? Ayah juga ngebolehin kok kalau aku mau nganter kamu ke Singapura. Tapi katanya bikin passport dulu. Nanti ayah yang nganter.”


“Iya, aku akan ikut,” ucap Kala pada akhirnya.


“Yeeaaayy!!! Nanti aku bilang ayah, pasti ayah seneng banget. Semangat Kalaaa. Nanti aku kirim link beritanya yaa.”

__ADS_1


“Iya, Makasih, Kinan,” sahut Kala dengan perasaan yang hancur.


****


__ADS_2