Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Permintaan


__ADS_3

Sesuai dengan yang diharapkan, Kinanti datang untuk menjenguk Demian sore itu. Ia membawa makanan kecil yang di pesan Demian dalam perjalanan. Sayangnya Kinanti tidak datang sendirian. Ada Kala yang juga ikut menemani Kinantii walau tidak masuk ke ruang perawatan Demian. Ia memilih untuk duduk-duduk di bangku yang ada di taman rumah sakit sambil memainkan laptopnya.


Sudah sekitar setengah jam Kinanti berada di ruang perawatan dan berbincang banyak hal dengan Demian. Di mulai dari tentang mata pelajaran yang tertinggal oleh Demian, persiapan olimpiade yang semakin dekat dan tentang essay yang harus di buat Kinanti sebagai syarat test untuk mendapatkan beasiswa saat kuliah nanti. Ternyata, banyak juga peer Kinanti saat ini.


“Kimia udah sampai bab berapa? Aku ngelewatin dua pertemuan kan?” tanya Demian sambil mengingat pelajaran terakhir yang di bahas di kelas.


“Iya, tapi kamu cuma ketinggalan satu bab aja, soalnya di pertemuan hari ini kami di suruh belajar mandiri di perpustakaan,” jawab kinanti dengan sesungguhnya.


“Oh ya? Terus kamu mempelajari apa?”


“Em, aku gak mempelajari materi baru. Aku review ulang bab sebelumnya karena masih ada beberapa hal yang gak aku ngerti.”


“Cerita dong, isinya apa aja. Siapa tau aku juga bisa ikut belajar.” Demian bersidekap memandangi Kinanti yang terlihat cantik hari ini. Ralat, setiap hari gadis ini terlihat cantik. Seperti bunga mawar yang baru akan mekar.


“Nanti lah aku ceritanya. Sekarang kamu masih sakit, masa dari tadi kita ngobrolin pelajaran terus.”


“Hehehe, iya juga yaa….” Demian menyandarkan tubuhnya santai sambil memandangi Kinanti.


“Kenapa? Ada sesuatu di wajah aku?” Kinanti mengusap wajahnya dengan ragu. Khawatir ada sesuatu yang tidak nyaman di lihat karena Demian terlalu sering memandanginya.


“Enggak, aku cuma seneng aja liat kamu ada di sini dalam keadaan baik-baik aja.” Demian berujar dengan sesungguhnya. Baru kali ini ia merasa berarti untuk seseorang dan itu Kinanti.


“Ya, ini kan berkat kamu juga. Kalau kamu gak nolongin aku tepat waktu, aku gak tau apa yang mungkin terjadi sama aku. Iya, kan?” Kinanti balas menatap Demian dan tersenyum kecil.


Demian tidak menimpali. Ia lebih suka memandangi Kinanti seperti ini. Ia berharap, selamanya Kianti tidak akan tahu kalau kejadian ini di rancang sendiri oleh ia dan Frea. Ia khawatir kalau kemudian Kinanti tahu dan kecewa dengan tindakan Demian.


“Ngomong-ngomong, gimana kata dokter? Kapan kamu boleh pulang?” Kinanti penasaran ingin bertanya.


“Dokter bilang, kondisiku udah membaik. Tidak ada cedera serius dan organ dalam juga aman. Jadi, kalau malam ini tidak ada keluhan yang berarti, besok pagi aku boleh pulang dan beristirahat di rumah. Kata dokter sih bagusnya istirahat sampai seminggu ke depan tapi aku pikir pasti akan sangat membosankan. Mending juga sekolah, ada kegiatan yang tidak membuatku jenuh berdiam diri seharian di rumah,” urai Demian dengan sesungguhnya.

__ADS_1


“Syukurlah. Tapi menurutku, ada baiknya kamu juga memperhatikan saran dokter. Aku yakin dokter menyarankan hal itu bukan tanpa alasan, tapi ngeliat kondisi kamu juga.” Kinanti memberikan saran.


“Akan aku pertimbangkan tapi aku tidak janji akan menurut.” Demian tersenyum kecil.


“Hem, aku laporin dokternya nih biar kamu diomelin.” Ancaman Kinanti terdengar menggemaskan bagi Demian.


“Hahahha, cobalah. Aku mau liat cara kamu laporan ke dokter kayak gimana,” tantang Demian.


“Ya diem-diem lah. Kan judulnya juga ngadu. Kalau terang-terangan, itu namanya laporan pemimpin upacara-“


“kepada pembina upacara.” Demian dan Kinanti kompak berbicara.


“Hahahahha… kamu tau aja.” Kinanti tertawa dengan lepas. Begitupun dengan Demian. Remaja itu terlihat ceria walau wajahnya masih dipenuhi memar.


Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat. Kinanti melihat jam di tangannya dan sudah semakin sore.


“Iyaa, udah sore. Aku pulang dulu ya.” Kinanti beranjak dari tempatnya. Memakai kembali tas ranselnya di punggung.


“Iyaa, kamu gak boleh kemaleman di jalan. Takutnya gak aman.” Demian mengingatkan.


“Iyaa. Maksiih udah ngingetin.” Kinanti mengangguk sopan pada Demian dan di balas senyum kecil serta anggukan.


“Aku boleh ngingetin yang lain gak?” tanya Demian tiba-tiba.


“Silakan. Apa?” Kinanti menatap Demian dengan penasaran. Sepertinya Demian akan berbicara serius.


“Em, mungkin yang mau aku omongin sedikit gak nyaman untuk kamu dengar, tapi aku bersungguh-sungguh.” Demian mengawali kalimatnya.


“Ya, silakan lanjutkan, aku nyimak kok.” Kinanti kembali duduk di tempatnya semula.

__ADS_1


Demian menatap Kinanti dengan lekat, walaupun sempat ragu tapi ia rasa ia harus menyampaikannya.


“Aku harap, kamu gak terlalu deket sama Kala apalagi pergi-pergian berdua. Kala itu banyak musuhnya, aku khawatir kamu terancam.” Ucapan Demian terdengar penuh kesungguhan.


Kinanti mengangguk paham. “Ya, okey. Selama ini sih aku aman-aman aja pergi-pergian sama Kala. Tapi, makasih kamu udah ngingetin aku. Aku pasti akan lebih berhati-hati baik saat dengan Kala ataupun saat dengan orang lain terlebih saat sendirian.”


Kinanti menyahuti dengan diplomatis, tidak ada tendensi apapun. Namun, hal itu terasa berbeda oleh Demian. Kinanti seolah berkata agar Demian tidak perlu mengkhawatirkannya karena bersama Kala, ia baik-baik saja.


“Ya, tentu. Dimana pun kamu berada, kamu harus berhati-hati.” Ada sedikit kekecewaan yang dirasakan Demian.


“Ngomong-ngomong, bisa gak nanti malem kita ngobrol lewat chat?” Demian berusaha mencari peluang lain untuk mendekati Kinanti.


“Em, malam ini, aku mau mulai ngerjain essay. Aku udah bawa banyak buku referensi dari perpus. Mungkin sebaiknya lain kali aja karena kamu juga kan harus istirahat supaya cepet pulih dan bisa beraktivitas normal lagi.” Penolakan halus diberikan Kinanti dan Demian bisa memahami itu.


Ia sempat berpikir, apa Kala pun mendapat penolakan yang sama dari gadis ini?


“Ya, okey. Aku rasa itu lebih baik.” Kali ini Demian terpaksa mengalah karena sepertinya ia tidak bisa memaksa Kinanti.


“Ya. Kalau gitu, aku pulang dulu ya. Salam buat om sama tante.”


“Okey, nanti aku sampein.”


“Okey, see you….” Kinanti pun berlalu pergi sambil melambaikan tangannya, meninggalkan Demian yang sendirian di kamar perawatannya. Gadis itu keluar dari area rawat inap dan menghampiri Kala yang sudah menunggunya sejak tadi.


Demian memperhatikan dari kejauhan, Kinanti tampak berbincang dengan Kala dan sesekali mereka tertawa. Entah apa yang dibicarakan dua sejoli itu yang jelas dada Demian terasa sesak saat ini.


Bisakah ia berada di posisi Kala seperti halnya posisi yang selalu berhasil ia rebut dari mantan sahabatnya?


****

__ADS_1


__ADS_2