Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Ancaman tidak berarti


__ADS_3

Mencoba game buatan Kala ternyata cukup menyegarkan otak Kinanti. Ia seperti beristirahat sebentar dari realita dan sejenak masuk ke dalam dunia permainan yang bisa ia atur sesuka hati. Apa yang salah bisa diperbaiki, ketika kalah bisa diulangi.


Itulah yang membuat Kinanti keranjingan. Sangat jauh berbeda dengan dunia nyata dimana saat kita melakukan kesalahan maka tidak akan bisa dihapus apalagi diulang dari awal. Semuanya hanya bisa berusaha diperbaiki meski tidak mungkin kembali pada kondisi semula.


“Kasih review buat gamenya. Aku butuh masukkan.” Ucap Kala yang berjalan di samping Kinanti. Mereka baru akan kembali ke kelas setelah menghabiskan waktu istirahat di rooftop.


“Reviewnya, apa ya? Aku sebenernya gak ngerti soal review game tentang visualisasi atau hal lainnya, tapi sebagai orang awam, aku ngerasa kalau game yang kamu bikin itu ya seru. Ngasah analisa sama ngasih hiburan banget karena setiap levelnya bikin ketagihan. Gitu sih.” Kinanti menoleh Kala yang menyimak benar ucapannya.


“Yakin, itu aja? Ada lagi gak?” Kala masih penasaran.


“Emmm, mungkin bagusnya selain game nya bisa melawan system yang udah kamu bikin, ditambahin juga dengan bisa dimainkan sama lebih dari satu orang yang saling bertanding, gitu. Apa ya istilahnya sekarang tuh, eemm mabar. Ya, mabar gitu Kal.” Kinanti memberi masukan.


“Okey, nanti aku pikirin ide kamu. Aku juga udah kepikiran ke situ cuma aku masih harus belajar banyak soal join game gitu. Nanti aku ulik lagi. Ngomong-ngomong, makasih udah mau nyobain karya buatanku.” Kala mengangguk sopan penuh haru pada Kinanti.


“Sama-sama Kal. Seharusnya aku makasih karena udah di kasih kehormatan buat nyobain karya perdana kamu. Aku seneng banget, kamu bener-bener berani mencobanya.” Kinanti menepuk bahu Kala dengan penuh kebanggaan.


Kala tersenyum kecil, sungguh ini sangat berarti untuk Kala. Karena Kinanti menjadi inspirasi dan semangat saat membuat game itu hingga akhirnya game tersebut sudah berjalan sembilan puluh persen. Hanya tinggal mematangkan konsepnya hingga benar-benar siap diikutkan dalam festival gamer.


“Kinanti,” sebuah suara tiba-tiba memanggil Kinanti dari belakang.


“Ya,” gadis itu segera menoleh. Ternyata yang memanggilnya adalah Demian. “Ada apa Demi?” Kinanti menghentikan langkahnya dan membiarkan Demian mendekat. Sementara Kala sudah terlihat malas melihat kedatangan Demian.


“Sorry, ganggu. Mr Jack minta ketemu kita sore ini. Buat bahas keberangkatan olimpiade besok,” ucap Demian dengan sungguh-sungguh.


“Kenapa harus sore dan bukan Mr Jack yang manggil Kinan langsung?” Kala langsung meresepon dengan tidak suka. Ia berdiri menghadang Demian yang semakin mendekat.


“Kal,” Kinanti segera menahan tangan Kala, agar tidak bersitegang dengan Demian.

__ADS_1


“Ya mana gue tau. Lo tanya aja sendiri. Mungkin karena Kinanti pasangan gue di olimpiade.” Demian tersenyum sinis pada Kala.


“Pasangan lo bilang?” Kala semakin tidak terima.


“Kalaa, tolong.” Kinanti semakin memegangi tangan Kala dan menahannya agar tidak semakin maju dan melanjutkan perselisihannya dengan Demian.


Kala hanya mendengkus kasar. Ia tahu benar kalau Demian akan selalu sengaja mengganggu dan memancingnya.


“Jam berapa kita harus menghadap Mr Jack?” Setelah Kala tenang, Kinanti melanjutkan perbincangannya.


“Jam lima belas, setelah jam pelajaran terakhir selesai,” sahut Demian seraya menyodorkan selembar kertas pada Kinanti.


“Apa ini?” Kinanti membaca benar kertas yang ada di tangannya.


“Mr Jack bilang akan ada soal khusus saat olimpiade nanti. Tidak terkait dengan pelajaran sekolah tapi akan menambah point besar untuk peserta yang bisa menjawabnya. Itu beberapa referensi buku yang bisa kita baca untuk menyiapkan sesi tersebut,” urai Demian.


“Kita cari sekarang, supaya saat jam pulang kita  bisa langsung menghadap Mr Jack,” ajak Demian dengan semangat.


“Okey. Kal, ke kelas aja duluan ya. Aku masih ada materi yang harus dibaca-baca,” pamit Kinanti pada sahabatnya.


Kala tidak menimpali hanya mengangguk pelan. Tidak lama Kinanti pun pergi bersama Demian menuju perpustakaan. Sesekali Demian menoleh dengan senyuman penuh kemenangan yang ia pamerkan pada Kala. Tidak lupa ia juga mengacungkan jari tengahnya pada Kala di belakang tubuh Kinanti. Licik memang, remaja ini.


“Demian sama Kinanti terlihat cocok ya? Pantes aja mereka didaulat sebagai couple maskot siswa berprestasi di sekolah kita.” Seseorang mengusik lamunan Kala yang masih mematung.


Kala melirik dengan sudut matanya yang tajam, ternyata Frea yang saat ini berdiri disampingnya. Ia memilih tidak menimpali dan berbalik melanjutkan langkahnya menuju kelas.


“Aku denger, Demian udah bilang sama om Yudhistira kalau dia suka sama Kinanti. Om yudhistira awalnya gak setuju tapi sepertinya tante Imelda berhasil meyakinkan om Yudhistira supaya setuju sama pilihan Demian. Hebat ya Demian, bisa dengan mudah membuat om Yudhistira percaya sama dia?” kalimat Frea terdengar seperti ledekan.

__ADS_1


“Apa maksud kamu? Harus ya, bahas kayak gini?” Kala menghentikan langkahnya. Ia mulai jengah dengan ocehan Frea.


“Maksud aku? Tumben kamu pengen tau maksud aku.” Timpalan Frea terdengar seperti ledekan.


Kala hanya menoleh dan menatap frea dengan sinis.


“Okey, okey. Galak banget sih. Aku kan cuma mau ngasih kamu info penting kalau Demian berhasil meyakinkan om Yudhistira untuk mendekati Kinanti. Malahan tante Imelda juga nyuruh Demian ngundang Kinanti ke acara ulang tahun Demian bulan depan. Waah pasti seru.” Frea terlihat sangat bersemangat dan antusias.


“Demian suka banget sama Kinanti. Kamu sebagai sahabat Kinanti harusnya ngedukung dia supaya hubungan mereka berjalan lancar. Mana tau mereka bener-bener berjodoh dan hubungan mereka berjalan dengan baik, kan? Kalau aku sih udah pasti ikut seneng.” Frea tetap dengan celotehnya yang memanasi Kala.


Kala hanya tersenyum kecil. Ketara sekali niatan Frea untuknya. “Denger gue Frea,” Kala langsung menimpali.


“Ya, gue akan denger.” Respon Frea memang selalu cepat kalau tentang Kala. Ia menyelipkan rambutnya dibelakang telinga agar kalimat Kata terdengar jelas.


Kala berusaha menenangkan dirinya sebelum berbicara dengan Frea, gadis ini harus diberi paham, baru diam. “Hubungan itu bisa berjalan dengan baik, kalau dua orang memiliki perasaan yang sama. Bukan cuma salah satunya. Hubungan itu dua arah, kayak gue sama Kinanti.” Kala langsung mengulti Frea.


“Maksud kamu apa Kal? Kamu juga suka sama Kinanti?” Frea mulai meradang.


Kala tersenyum tipis. “Siapa sih yang gak suka sama Kinanti? Dia wanita yang cerdas, mandiri, baik, beretika dan sopan. Gue seneng punya banyak saingan karena itu berarti Kinanti layak diperjuangkan. Mau siapapun yang suka sama Kinanti, gue gak peduli. Yang jelas, gue sama Kinanti tau perasaan masing-masing dan gue tau siapa yang Kinanti suka.” Kala berujar dengan tegas.


“Satu hal lagi,” Kala menambahkan sebelum Frea merengek dan menimpali ucapannya. Mulutnya sudah terbuka dan Kala harus segera membungkamnya.


“Yang lo tuduhin sama Kinanti soal dia nyerang lo itu bohong. Gue udah liat sendiri rekaman CCTV nya juga gue tanya langsung sama securitynya. Duit sogokan lo gak berarti Frea di banding ancaman gue sebagai anak pemilik sekolah. Jadi, gue harap lo berhenti. Jangan bikin gue melewati batas karena lo selalu ganggu Kinanti,” imbuh Kala dengan penuh ketegasan.


Puas dengan ucapannya, Kala tersenyum lebar pada Frea. Ia berjalan mundur meninggalkan gadis muda yang mematung tidak percaya dengan wajahnya yang shock. Jelas sekali Kala mengatakan semuanya hingga Frea tidak bisa menimpali sedikitpun.


“Kala! Brengsek kamu!” teriak Frea yang malah dibalas tawa sinis oleh Kala yang masih mendengar ocehan gadis itu. Sungguh ia tidak peduli, sekalipun Frea menangis darah.

__ADS_1


****


__ADS_2