Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Nasihat Ayah


__ADS_3

Langkah Kinanti terseok-seok menapaki jalanan beraspal dengan kedua kakinya yang terasa lemah lunglai tidak bertulang. Rasanya seperti di sambar petir saat ia mendengar permintaan Lukman beberapa saat lalu.


Menghentikan terapi, benarkah? Lalu bagaimana kondisi Lukman nantinya? Bagaimana kalau kondisinya memburuk? Apa yang harus ia lakukan? Bisakah ia tega melihat Lukman meringis kesakitan di dalam rumah dan hanya jadi tontonan menyedihkan untuknya?


Akh tidak, Kinanti tidak bisa membiarkan itu terjadi. Keinginan untuk bersama Lukman lebih lama lagi masih menjadi harapan dalam hatinya. Ia ingin bersama Lukman hingga ia dewasa, memiliki pekerjaan yang mapan, bisa membelikan Lukman makanan yang enak, memberinya pengobatan terbaik, mengajak Lukman liburan bersama, menjadi wali saat ia menikah, bermain dengan cucunya yang menggemaskan dan banyak lagi mimpi yang Kinanti ingin wujudkan bersama Lukman.


Lalu saat ini Lukman memilih untuk menyerah, yakinkah ia akan membiarkannya?


Kinanti menghentikan langkahnya sesaat. Ia berjongkok di pinggir jalan sambil menangis sesegukan menumpahkan semua emosinya. Emosi yang tidak bisa ia tunjukkan di hadapan Lukman.


Dari kejauhan Riko masih memperhatikan Kinanti. Ia tahu persis kesedihan gadis itu dan ia bisa merasakannya. Riko terbiasa melihat Kinanti yang selalu tenang, nyatanya tangisnya bisa sangat pecah. Ia ingin mendekat, tetapi sepertinya ia tidak membutuhkan tangan siapapun untuk membantunya berdiri. Ia hanya butuh dirinya sendiri, berdamai dengan keadaan yang terasa menyudutkannya.


Air mata yang tumpah membuat penglihatan Kinanti samar. Samar seperti perasaannya saat ini. Ia berusaha kembali berdiri, tidak tegak, bahunyapun melorot. Sulit sekali menerima semuanya, tetapi ia sadar beban rasa sakit yang dipikul Lukman sudah pasti jauh lebih besar. Lukman bukan ingin menyerah, ia hanya ingin menikmati masa-masa bahagianya tanpa rasa sakit.


Lantas mana yang harus Kinanti pilih? Ketenangan Lukman menghadapi akhir hidupnya atau kelegaannya melihat Lukman masih berjuang?


Di ujung jalan, Kinanti mencoba menyebrang. Tetapi baru satu langkah ia pijakkan, sudah ada suara klakson keras yang mengejutkannya. Bukannya berpindah, Kinanti malah mematung disana sambil terisak. Pikirannya kacau, tidak bisa ia urai.


“KINAN!” Riko segera menarik tangan Kinanti untuk kembali ke tepi jalan.

__ADS_1


“Apa yang lo pikirin? Lo tau kan kalau yang lo lakuin barusan berbahaya?!” suara Riko tiba-tiba meninggi tanpa bisa ia kendalikan.


Kinanti tidak menjawab, ia hanya menunduk sambil menangis tersedu-sedu. Menutup kedua telinganya dengan tangan yang gemetaran.


“Akh sial!” Riko kesal sendiri dengan keadaan. Ia tahu, pikiran Kinanti sedang kosong dan hanya diisi dengan kesedihan. Tidak ada gunanya juga ia memarahi Kinanti yang sedang terpuruk seperti ini.


“Lo tunggu di sini, gue yang beli belanjaannya. Lo mau beli apa aja? Gula , kopi, tee, garam, mecin, terus apa lagi?” kalimat Riko pun beraturan. Ada kesedihan yang ikut ia tahan.


Kinanti tidak menjawab, ia malah menagis terisak-isak dengan dada yang terasa sangat berat dan sesak. Ia tidak memperdulikan apapun ttermasuk kecemasan Riko yang memandanginya dengan tidak karuan.


"Astaga...." Riko luluh, ia tahu kalau perasaan Kinanti sedang sangat hancur. Langitnya mungkin runtuh beberapa saat lalu. Tanpa permisi, Riko menarik tubuh Kinanti untuk ia peluk. Ia tidak peduli jika kemudian Kala akan menghajarnya. Ia hanya tahu kalau gadis ini perlu ditenangkan.


“Gue gak akan bilang sabar, karena gue tau ini berat. Gue cuma minta lo berpikir lebih realistis. Bokap lo masih memiliki harapan untuk bahagia di sisa usianya. Mungkin terdengar seperti sebuah keputusasaan, tapi kita juga tau gimana sulitnya bokap lo melewati serangkaian tindakan dan terapi yang tidak tahu kapan berhenti.”


“Tidak ada kemungkinan untuk sembuh, itu udah jadi pukulan besar buat bokap lo Kinan. Apa lo mau memperberat pukulannya dengan lo ninggalin dia sendirian dan merasa bersalah? Tubuh itu milik dia, bokap lo masih berhak memilih untuk kebahagiaannya, meski kali ini mungkin dia terdengar egois. Tapi pikirkan dari sudut pandang dia, pikirin seperti apa perasaan tersiksanya selama ini. Pikirin juga rasa takut kalau dia mungkin gak akan merasakan kebahagiaan lagi. Pikirin itu, Kinan.”


Panjang lebar Riko memberi nasihat dan Kinanti hanya bisa tersedu-sedu. Nalarnya masih berusaha mencerna apa yang ada dipikirannya meski sangat sulit untuk ia mengerti.


Di tempat berbeda, Kala membantu Lukman untuk berbaring di ranjangnya. Laki-laki itu berusaha terlihat kuat walau tubuhnya sudah sangat ringkih. Banyak rasa sakit yang tidak ia ungkapkan hanya karena ingin terlihat kuat dan menguatkan putrinya. Tetapi, ia tidak bisa terlalu lama menahan semua itu, ia tahu waktunya tidak lama lagi dan ingin menghabiskan waktunya lebih lama dengan putrinya dalam perasaan tenang tanpa rasa takut akan rasa sakit.

__ADS_1


“Kinan pasti sangat marah sama Ayah, sampai dia memutuskan untuk pergi.” Satu kalimat itu diucapkan Lukman dengan tatapan kosong ke depan sana.


Kala mendekati Lukman lantas mengusap bahu melengkung milik laki-laki paruh baya itu. “Ayah, tidak Kala pungkiri kalau Kala juga sedih mendengar keputusan Ayah dan Kala yakin, kesedihan Kinan jauh lebih besar. Banyak mimpinya yang pengen dia wujudkan sama Ayah, karena itu dia marah. Bukan marah sama Ayah, tapi sama keadaan yang menyudutkan dia dan sulit untuk ia hadapi.”


“Ayah sangat berarti buat Kinan, mana mungkin dia bisa menerima semuanya begitu aja. Tapi dibalik itu, Kala paham maksud Ayah. Kala menghormati sepenuhnya keputusan Ayah. Ayah yang lebih tau apa yang Ayah rasakan dan inginkan. Maaf, kalau Kala tidak bisa berbuat banyak untuk hal ini.” Kala berujar dengan sungguh. Ia menggenggam tangan Lukman dengan erat. Sangat erat seolah remaja ini tidak ingin berpisah dengan Lukman.


“Terima kasih, terima kasih karena Kala berusaha memahami Ayah. Hal ini juga berat untuk Ayah. Harus Kala tau kalau Ayah gak pernah putus asa. Tapi, Ayah ingin sisa hari Ayah hanya diisi dengan suara tawa kebahagiaan. Bukan suara mesin dan kericuhan di Rumah Sakit. Aya pengen liat  Kinan tersenyum tanpa rasa cemas, mendengarkan dia berceloteh tanpa mengkhawatirkan masa depan. Juga tidak membatasi langkahnya.”


“Kala dan Kinan adalah dua orang yang sangat berarti dalam hidup Ayah. Ayah sangat ingin bersama kalian sampai kalian dewasa, tapi setiap orang ada masanya, begitu pun Ayah.”


“Jalan hidup kalian masih sangat panjang. Entah kelak kalian tetap bersama-sama atau tidak, tolong untuk tetap memastikan kalau diri kalian baik-baik saja. Hidup ini tidak selamanya datar, kadang ada turunan ada juga tanjakan untuk menaikan derajat kalian."


"Jadilah orang-orang besar, yang tidak hanya kaya harta tapi juga kaya hati. Jadilah orang-orang yang tidak hanya berintelektual tinggi, tapi juga memiliki kecerdasan emosi dan spiritual yang baik. Jangan menyakiti orang lain karena setiap orang sudah memiliki kesulitannya masing-masing. Berbahagia dan bersyukurlah dalam kondisi apapun. Do’a Ayah menyertai setiap langkah kalian berdua.”


Kalimat Lukman begitu rapat dan membuat napasnya tersengau-sengau. Akan tetapi ia memutuskan untuk tetap menuntaskannya karena ia tidak tahu, sampai kapan ia masih bisa bernapas dan menyampaikan pesan ini pada Kala. Pesan yang sama yang pernah ia sampaikan pada Kinanti beberapa waktu lalu.


"Ibu, ibu udah datang. Apa ibu mau jemput ayah?" batin Lukman bertanya ada sosok yang samar tersenyum padanya.


****

__ADS_1



__ADS_2