
Dua kata “Tolong aku,” berhasil membuat langkah Kinanti terhenti. Siapa lagi yang mengatakannya kalau bukan seorang Kalantara Aska Yudhistira.
Seumur hidupnya, Kala tidak pernah mengucapkan kata tolong, tapi seorang Kinanti berhasil membuat Kala mengatakan kata tersebut.
Di rooftop sekolah saat ini mereka berada. Kinanti baru tahu kalau Kala berniat mengajaknya bicara empat mata di tempat ini. Cerahnya cahaya matahari pagi, membuat Kinanti sedikit memincingkan matanya. Ia mendekat ke tepian rooftop yang dibatasi tembok tinggi, kurang lebih setinggi dada Kinanti.
Kala mengikutinya dari belakang dan berdiri bersisian dengan Kinanti. Udara yang berhembus segar membuat Kinanti dan Kala sama-sama bisa berpikir jernih. Kinanti baru tahu kalau ada tempat seperti ini di sekolah elite.
Tempatnya memang tidak terlalu rapi. Ada beberapa bangku yang rusak dan meja kecil. Beberapa masih utuh penuh coretan dan biasa Kala gunakan saat ia sedang ingin menyendiri di tempat ini. Bahkan ada sebuah payung besar di dekat pintu masuk rooftop.
“Kamu sering ke sini?” Kinanti bertanya dengan penasaran. Pemandangan Jakarta dari atas sini cukup terlihat juga denah sekolah yang rapi tampak jelas di pandangan Kinanti.
“Hem,” sahut Kala pendek.
Ia mengambil bangku, satu untuk Kinanti dan satu untuk dirinya.
“Duduklah, sebelum kamu merasa ingin melompat.” Ucap Kala yang lebih dulu duduk.
Kinanti tidak menimpali. Ia hanya berpikir, kalau Kala sepertinya pernah putus asa dan berniat mengakhiri hidupnya di sini.
“Untuk apa melompat, sia-sia saja.” Decik Kinanti seraya menyilangkan tangannya di depan dada.
“Maksudmu?” Kala balik bertanya.
“Ya, maksudku, kalau seseorang berniat untuk melompat dengan tujuan bunuh diri, itu tidak akan berhasil. Gedung ini hanya tiga lantai. Jarak ke tanah terlalu pendek. Kalau di kalikan gravitasi dan bobot tubuh maksimal tujuh puluh kilo gram, mungkin hanya akan menyebabkan cedera berat. Meninggal tidak, cacat iya. Apa tidak lebih menyedihkan?” Kinanti melirik Kala dengan tatapan yang entah.
“Kamu benar-benar menghitungnya?” Kala sampai tidak habis pikir.
“Ya, karena kita harus menghitung setiap resiko yang akan terjadi saat kita mengambil satu langkah yang menyangkut hidup kita.”
“Kesalahan dalam buku tulis bisa kita hapus dengan penghapus atau tipe eks, tapi kesalahan dalam hidup kita, tidak akan pernah bisa kita hapus.” Urai Kinanti dengan penuh keseriusan. Ia mengatakannya dengan tenang tapi membuat Kala lantas menoleh dan berpikir keras.
“Apa pikiran perempuan selalu serumit itu?” Kala kembali bertanya.
“Entahlah.” Kali ini Kinanti menoleh.
“Aku hanya mengemukakan pendapatku, tidak bisa menggeneralisasi kalau pikiran semua wanita itu sepertiku. Karena aku tidak pernah bertukar pendapat dengan orang lain. Tapi tentang resiko hidup, menurutku tidak hanya wanita, pria pun perlu memikirkannya.” Tegas Kinannti tanpa rasa ragu.
__ADS_1
Kala tersenyum kecil, lantas memalingkan wajahnya dari Kinanti. Ia juga mengusap wajahnya lantas menghembuskan nafasnya kasar. Ia tidak pernah menyangka kalau seorang gadis yang pernah menatapnya dengan tajam, bisa membuat isi kepalanya teduh.
“Jadi kamu mau minta tolong apa?” Kinanti yang tidak sabaran segera bertanya. Ia ingin segera masuk kelas karena sebentar lagi pelajaran akan dimulai.
Kala menoleh Kinanti dan menatapnya dengan serius. “Bantu aku belajar.” Pintanya dengan sungguh.
“Apa?”
“Kamu meminta bantuanku untuk belajar? Apa kamu serius?” Kinanti bertanya dengan senyum tertahan.
“Memangnya kenapa?” Kala balas bertanya.
“Gak apa-apa, hanya aneh aja.” Kinanti masih terkekeh di tempatnya. Menyembunyikan senyumnya di balik tangannya.
Ia masih mengingat ucapan Riko beberapa waktu lalu,
“Kala pernah bilang, dia gak peduli dengan belajar. Dia gak perlu belajar. Dia tidak luluspun dia tetap bisa hidup nyaman dengan harta orang tuanya yang melimpah.”
Kalimat ini lah yang membuat Kinanti kemudian ingin tertawa karena Kala seperti menjilat air ludahnya sendiri.
“Hey, katakan! Kenapa kamu ketawa?!” Kala yang arogan segera menarik tangan Kinanti dan memegangnya dengan erat.
“Aku gak akan lepasin kamu sebelum mengiyakan permintaanku dan mengatakan alasan kamu ketawa.” Ancam Kala.
“Silakan aja. Aku bisa telepon guru dan meminta mereka menjemputku di sini. Aku akan bilang kalau kamu menyekapku.” Kinanti balas mengancam.
Dua mata saling mengancam itu berpandangan dengan lekat. Menguji kekuatan satu sama lain.
“Oh ya?” tantang Kala.
“Ya. Aku akan menelpon guru.” Kinanti mengeluarkan ponselnya dan menunjukkannya pada Kala.
Kala tersenyum kecil, ternyata gadis dihadapannya ini memang bernyali.
“Okey, kalau kamu bersikeras gak mau bilang alasan kamu ketawa. Tapi bagaimana kalau aku bilang sama orang tuamu kalau kamu dibully di sekolahan ini. Kamu mau pindah lagi?” ancam Kala dengan senyum tersungging. Ia juga melepaskan tangan Kinanti dan memilih berlalu pergi.
“Apa?!” Mata Kinanti langsung membulat ia juga berdiri tegak. Ia berpikir beberapa saat, bagaimana Kala tahu cara mengancamnya?
__ADS_1
Tidak, ini tidak bisa dibiarkan. Bagaimana kalau Kala benar-benar menceritakan pembulyan itu pada orangtuanya?
“KALA! TUNGGU!” seru Kinanti yang akhirnya panik.
“Aku gak ada waktu. Aku mau menghubungi orang tuamu.” Goda Kala yang tetap melanjutkan langkahnya.
“Aku bilang tunggu!” Kinanti segera berlari mengejar Kala.
Kala yang melihat reaksi Kinanti hanya tersenyum kecil. Sepertinya ia akan mendapatkan apa yang ia mau.
“Kala!” benar saja, Kinanti langsung menahan tangan Kala.
“Binggo!” Kala tersenyum lebar di belakang Kinanti.
“Hey, liat aku dulu.” Kinanti memutar tubuh Kala agar menghadapnya.
Kala mengikut saja dengan pura-pura malas. “Apa lagi? Kalau kamu gak mau ya udah.” Kala pura-pura menyerah.
“Mau, aku mau.” Sahut Kinanti dengan cepat.
“Apa?” Kala mencondongkan tubuhnya pada Kinanti, pura-pura tidak mendengar.
“Aku bilang aku mau!” teriaknya di telinga Kala yang condong ke arahnya.
“Baiklah kalau kamu memaksa.” Timpal Kala dengan enteng.
“Siapa yang memaksa? Kamu yang mengancamku!” bibir Kinanti mengerucut kesal.
Kala tidak menimpali. Ia berbalik meninggalkan Kinanti sambil tersenyum penuh kemenangan tanpa pernah diketahui Kinanti.
“Kamu mau kemana?” cepat-cepat Kinanti menahan tangannya.
“Mau ke kelas lah! Aku mau belajar dengan giat.” Ucapnya dengan penuh percaya diri.
“Astaga, kamu sungguh menyebalkan.” Dengus Kinanti yang akhirnya berjalan lebih dulu menuruni tangga, mendahului Kala yang berjalan santai. Sungguh ia benar-benar kesal.
Sementara itu, Kala hanya tertawa dalam hati karena ia berhasil mengerjai Kinanti yang polos. Menyenangkan juga, pikirnya.
__ADS_1
****