
Malam mulai beranjak pekat memeluk Kinanti yang sendirian di rumah sederhana itu.
Sesuai rencana, Kinanti melakukan banyak pekerjaan di rumahnya. Mulai dari bersih-bersih, membereskan barang-barang yang tidak rapi penempatannya dan pekerjaan apa saja yang bisa ia lakukan untuk mengisi waktu senggangnya.
Penataan ruanganpun sedikit berubah setelah Kinanti memindahkan beberapa barang ke tempat yang baru.
Di tengah kesibukannya, suara notifikasi pesan masuk terdengar dari ponsel Kinanti. Ia segera mengeceknya dan ternyata pesan itu dari Lukman.
“Tumben ayah kirim voice note?” gumam Kinanti. Ia segera mengecilkan volume televisi yang menemaninya lalu memperdengarkan suara Lukman.
“Kinan lagi apa? Gimana kabarnya hari ini?” suara Lukman yang sangat Kinanti rindukanpun terngiang di telinga Kinanti.
Kinanti tersenyum senang, karena ia bisa mendengar kembali suara pria yang sangat ia rindukan.
“Hay ayah, Kinan lagi beres-beres, hehehe…”
“Ayah lagi apa? Gimana kabar ayah?”
“Emmm, kabar Kinan baik. Sekolah Kinan juga lancar. Terus, Kinan juga di tawari untuk mengajukan beasiswa yah. Tapi harus ujian dulu untuk memvalidasi nilai Kinan di sekolah lama.”
“Pekerjaan ayah gimana? Apa semuanya berjalan lancar?”
“Eh iya, kok tumben ayah pake voice note?”
Lukman mendengarkan setiap suara yang dikirimkan Kinanti. Ia tersenyum bahagia hingga menitikkan air mata saat mendengar kalau Kinanti yang ceria.
“Pekerjaan aya juga lancar. Ayah banyak di bantu sama om Seno.” Lukman menoleh sahabatnya yang duduk di kursi samping tempat tidurnya.
“Ayah seneng denger Kinan mau ngajuin beasiswa. Apa test-nya sulit Nak?” kali ini suara Lukman terdengar sedikit terengah. Mungkin karena ia masih merasakan sesak. Selang oksigen bahkan masih menutupi lubang hidungnya dengan hembusan udara yang pelan.
Seno mengusap-usap tangan Lukman untuk menenangkan sahabatnya. Ia berusaha menguatkan Lukman agar tidak terdengar sedih saat berbicara.
“Ayah pake voice note karena ayah baru tau kalau ini menyenangkan. Ayah jadi bisa memutar ulang suara Kinan kalau ayah kangen.” Ucapan Lukman memang benar walau akan lebih lengkap kalau ia mengatakan, ia sulit mengetik karena tangan kanannya bengkak akibat infusan yang sering kali macet. Seno lah yang menyarankan ini.
“Ayah bener, Kinan kok baru kepikiran kalau sangat menyenangkan ngirim pesan pake voice note gini. Kinan juga bisa mendengarkan suara ayah berulang kali.” Kinanti menimpali.
“Ayah, gimana kalau kita saling menyemangati satu sama lain lewat voice note? Biar kita makin semangat.” Tiba-tiba saja ide itu melintas di pikiran Kinanti.
“Boleh. Tapi ayah mau denger kalimat penyemangat Kinan dulu.” Terlihat senyum terkembang di bibir Lukman.
“Okey, ayah dengerin yaaa…” Kinanti berusaha menenangkan dirinya sendiri sebelum berbicara melalui voice note.
“Ayah yang semangat ya kerjanya. Jangan lama-lama di luar kota, soalnya Kinan kangen sama ayah. Kinan akan menjaga diri Kinan dengan baik jadi ayah gak usah khawatir. Okey ayah?” suara ceria itu yang kemudian di dengar Lukman dan membuatnya menangis hingga terisak-isak.
Ia tidak sanggup untuk berbicara dan ponselnya ia taruh begitu saja.
“Sabar Kang, sabar yaa… ini ujian, Akang harus kuat. Akang denger sendiri kan, anak Akang bilang Akang harus semangat?” Seno berusaha menghibur Lukman.
Lukman mengangguk-angguk walau ia belum bisa menghentikan tangis kesedihannya.
__ADS_1
“Ayah kok balesnya lama ya? Pasti lagi merangkai kata-kata yang manis, hahaha… jadi gak sabar.” Kinanti bergumam seorang diri. Ia menunggu benar pesan balasan dari Lukman.
Di sela menunggu pesan balasan dari Lukman, terdengar suara sepeda motor yang berhenti di depan rumahnya. Kinanti segera memeriksanya lewat jendela.
“Kala?” matanya membulat sempurna.
Ia segera membuka pintu untuk remaja yang melambaikan tangannya pada Kinanti.
“Kala? Ada apa malem-malem ke sini?” Kinanti bertanya pada remaja yang tengah berjalan mendekat sambil melepas helm-nya.
“Kamu udah makan?” Kala menunjukkan sebuah keresek berisi nasi goreng yang ia bawa dari café.
“Belum, hehehe…” Kinanti tersenyum ceria.
Ia mengambil keresek itu dari tangan Kala lalu menghirup wangi nasi goreng mahal khas café.
“Waahhh, makasih Kal. Kamu sengaja dateng ke sini buat nganterin nasi goreng?” Kinanti menatap Kala tidak percaya.
“Iya. Aduh, aku capek banget. Boleh minta minum?” Kala mendudukan tubuhnya di kursi yang ada di teras. Ia terlihat benar-benar kelelahan.
“Okey, tunggu sebentar.” Kinanti segera masuk ke dalam rumah. Mengambilkan air untuk Kala juga piring dan sendok untuk nasi gorengnya. Ia berniat menikmati makanan itu di teras bersama Kala.
“Nih, minumlah.” Kinanti menyodorkan segelas air mineral pada Kala.
Kala dengan senang hati menerimanya lantas meneguk air itu hingga tandas.
“Kamu udah makan belum?”
“Belum,” Kala menggeleng.
“Okey, kalau gitu kita makan bareng ya.” Kinanti memberikan satu sendok untuk Kala dan satu sendok untuk dirinya. Mereka makan di piring yang sama.
“Eeemmm, enak banget, Kal!” seru kinanti dengan mulut berisi makanan.
Kala hanya tersenyum kecil, menikmati makanannya yang terasa lebih enak saat di makan bersama Kinanti. Mereka makan dengan tenang hingga satu porsi nasi goreng itu habis oleh berdua.
“Aku kenyang banget. Makasih ya, Kal.” Kinanti mengusap perutnya yang terisi penuh.
“Iya. Ayah kamu kapan pulang?” tanya Kala penasaran.
“Mungkin beberapa hari lagi. Katanya kerjaannya banyak makanya dia baru bisa ngehubungin aku di jam senggang kayak sekarang. Ini aja belum bales voice note aku. Mungkin ada kerjaan lain yang belum selesai.”
“Heemh, aku kasian sama ayah. Dia pasti capek banget.” Kinanti menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi seraya memandangi lampu malam yang berada di sekitar rumahnya. Wajahnya terlihat sendu dan mencemaskan Lukman.
“Do’ain aja, supaya kerjaan ayah kamu lancar dan cepet pulang,” hibur Kala.
“Amminn…” Kinanti meyahuti seraya tersenyum. Tentu saja, do’a itu pun ia ucap di dalam hatinya.
“Ya udah, kamu masuk gih, aku mau pulang dulu.” Kala beranjak dari tempatnya.
__ADS_1
“Iyaaa, ini udah malem. Kamu harus bersihin badan kamu, bau matahari tau gak,” ledek Kinanti sambil menguncupkan hidupnya.
“Enak aja!” Kala menyentil hidung Kinanti yang menggemaskan.
“Isshh, aduuhh, kamu kebiasaan. Kalau gak nyentil pasti ngacak-ngacak rambut aku,” protes Kinanti seraya memukul tangan Kala.
Kala hanya terkekeh melihat tingkah Kinanti. Tidak lama, ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, lalu ia lingkarkan di leher Kinanti.
“Apa ini, Kal?” Kinanti memperhatikan syal yang tiba-tiba dipakaikan oleh Kala.
“Ini syal,” jawab Kala.
“Iya aku tau, tapi maksud aku kenapa kamu ngasih ini ke aku? Aku kan gak lagi ulang tahun.” Kinanti mengusap-usap permukaan syal berwarna biru yang lembut.
“Em, anggap aja ini traktiran gajian pertamaku.” Kala tersenyum kecil.
“Oh ya? Emang kamu udah gajian?” Mata Kinanti membelalak senang.
“Iya, aku gajiannya dua minggu sekali. Makanya udah bisa beliin kamu hadiah.” Kala memgusap kepala Kinanti dengan gemas. Ia menyadari benar kalau Kinanti lah semangat terbesarnya hingga membuat ia berani melakukan banyak hal.
“Eemm, makasih. Tapi uang kamu gak langsung abis kan gara-gara beliin aku hadiah? Soalnya, ini kayaknya mahal deh,” terka Kinanti dengan rasa bersalahnya.
“Enggak lah. Kamu pake ini kalau pergi-pergian, biar gak kedinginan.” Kala menatap Kinanti dengan hangat. Syal itu tampak cocok melingkar di leher Kinanti.
“Iya lah, pasti aku pake. Makasih ya.”
“Hem, sama-sama.”
“Ya udah, pulang gih. Udah malem ini,” Kinanti mengibas-ibaskan tangannya agar Kala segera pulang.
“Okey, sampe ketemu besok.” Kala berjalan mundur menjauh dari Kinanti. Rasanya ia belum mau pulang.
“Okeey, byee!!!” seru Kinanti seraya melambaikan tangannya.
Kala membalas lambaian tangan Kinanti. Ia duduk di atas kuda besinya lalu memakai helm kebanggaannya. Hanya sepasang mata dan alis tebalnya saja yang masih terlihat oleh Kinanti.
“Hati-hati di jalan!!” seru Kinanti.
Kala membalasnya dengan bunyi Klakson sebelum kemudian ia pergi dengan perasaan yang membuncah.
“Dasar bad boy aneh.” Kinanti masih memandangi arah berlalunya Kala sambil mengusap-usap syal di lehernya. Ia tersenyum haru melihat pencapaian Kala saat ini.
Pria yang sangat ia hindari ternyata malah masuk ke hidupnya dan sepertinya akan menetap untuk waktu yang lama.
Tapi, apa akan selamanya?
****
__ADS_1