
“Mba, Mba… Mba Kinan….” Suara itu terdengar begitu jelas ditelinga Kinanti. Mata Kianti yang terpejam rapat pun segera terbuka. Ia melihat sekitar tempatnya berada dan ternyata ia tertidur di kamarnya.
“Ya ampun aku ketiduran!” Kinanti segera bangun. Kepalanya terasa sangat pusing karena bangun tiba-tiba.
“Mba Kinan….” Suara itu kembali terdengar dan sedikit gemetar
“Iya, Sus.” Kinanti mengenal suara itu sebagai suara suster yang merawat Lukman.
Kinanti segera meloncat dari tempat tidur dan membukakan pintu. Terlihat wajah suster yang pucat. “Ada apa, Sus?” Jantung Kinanti mendadak berdebaran tidak menentu.
“Bapak ngorok Non. Tadi udah saya suction dan bernapas normal. Tapi baru ditinggal setengah jam untuk buat sarapan, pas saya kembali bapak ngorok lagi dan kesadarannya mulai menurun.” Suster itu berbicara dengan tergesa-gesa.
Jantung kinanti langsung terasa seperti copot. Tubuhnya berkeringat dingin dan merasa mual. Tanpa menunggu lama Kinanti segera berlari menuruni anak tangga menuju kamar Lukman. Benar saja, Lukman sedang bernapas dengan terengah-engah meski masih beraturan.
“Ayah!” seru Kinanti yang langsung menghampiri Lukman. Ia mengangkat kepala Lukman perlahan dan menjadikan pahanya sebagai bantalan. Di sentuhnya leher dan dahi Lukman, teraba dingin.
__ADS_1
“Yah, ini Kinan Yaah… apa yang Ayah rasain? Apa ada yang yang sakit? Yah?” Dengan gemetar Kinanti menepuk pelan wajah sang ayah. Air matanya mulai berkumpul di sudut matanya yang membulat dan merah.
“Nan,” suara Lukman masih terdengar samar-samar. Ia berusaha membuka matanya yang terlihat begitu berat.
“Iya Ayah, ini Kinan. Kita ke rumah sakit ya Ayah. Kita perlu bantuan dokter. Sus, tolong siapin semuanya.” Kinanti yang gelagapan segera meminta bantuan.
Tiba-tiba saja Lukman meraih tangan Kinanti dan menggenggamnya dengan erat.
“Jangan, Ayah mau di rumah aja….” Suara Lukman masih terdengar walau begitu samar. Ritme napasnya dangkal dan lebih cepat dari biasanya.
Lukman menggeleng. Matanya yang setengah terbuka berusaha meyakinkan putrinya. “Ayah mohon, cukup temenin Ayah aja….” pinta Lukman dengan sungguh.
Kinanti tidak dapat menahan tangisnya. Ia menangis tersedu-sedu sambil memeluk Lukman dengan tubuh yang gemetar cemas dan takut.
“Ya, begini saja, begini saja, Nak….” Suara Lukman terdengar semakin pelan dan hembusan napasnya semakin lemah ditelinga Kinanti.
__ADS_1
Kinanti mengecupi dahi dan pipi Lukman, bibirnya tidak berhenti mengucapkan do’a-doa di telinga sang ayah. Kinanti melihat Lukman yang terlihat tenang dan perlahan napasnya mulai melambat. Tangannya menggenggam tangan Kinanti sangat erat, erat sekali sampai kemudian tiba-tiba genggaman itu melemah. Tangan kurus pria paruh baya itu terkulai lemah. Hembusan napasnya tidak lagi terdengar.
Gumam Kinanti yang sedang berdo’a pun terhenti. Matanya menyalak kaget bercampur ait mata.
“Ayaah, Ayah….” Gadis itu memanggil Lukman beberapa kali, tetapi Lukman tidak bergeming.
“Ayah, Ayah masih sama Kinan kan?” suara Kinanti parau, nyaris tidak terdengar. Ia mengeratkan genggamannya pada tangan sang Ayah yang lunglai dan pucat, suster pun segera memeriksa denyut nadi Lukman. Ia menggeleng saat sudah tidak terasa lagi hembusan napas dan denyut nadi di tubuh Lukman.
Kinanti memeluk Lukman seeratnya. Ia terisak sambil mengengadahkan wajahnya menghalau air mata yang turun agar tidak membasahi tubuh sang ayah.
"Ayaah, jangan tinggalin Kinan, Ayaaahh...." Memeluk Lukman, hanya itu yang bisa Kinanti lakukan.
Dadanya sangat sesak, sakit dan tubuhnya terasa begitu lemas. Pagi ini langitnya runtuh. Sandarannya roboh dan semua kebahagiaan itu berubah jadi air mata. Tidak ada lagi Lukman, tidak ada lagi sang ayah yang selalu menyayanginya dan sekarang Kinanti sendiri, ya sendiri.
****
__ADS_1