
Berjalan berdua bersama Kala, kali ini terasa begitu canggung. Mereka berjalan berdua di koridor rumah sakit dan sama-sama menatap keramaian yang ada didepan sana. Entah dari mana mereka harus memulai perbincangan ini. Perbincangan yang terasa canggung untuk dimulai, padahal biasanya dua-duanya begitu kompak memulai percakapan.
Kinanti tim yang berceloteh dan Kala tim yang lebih banyak menyimak sambil memandangi Kinanti dengan penuh kekaguman. Seperti itu cara mereka melengkapi satu sama lain. Tetapi kali ini entah bahan pembicaraan apa yang harus mereka bicarakan. Kala sendiri tidak ingin salah bicara yang nantinya malah akan membuat suasana hati Kinanti buruk.
“Mau makan apa?” tanya Kala mengawali keheningan ini.
“Terserah,” jawaban Kinanti sama dengan jawaban dominan yang mengisi populasi tertinggi di dunia, yaitu kaum wanita.
“Di depan ada beberapa pedagang makanan. Kemarin aku lihat ada soto, nasi padang, lontong kari, bubur sama apalagi ya? Aku foto kok kemarin, bentar.” Kala memang well prepare. Ia belajar hal ini agar Kinanti selalu memiliki pilihan dan tidak ada jawaban yang tidak terduga.
“Nasi padang aja.” Kinanti memberikan jawaban sebelum Kala selesai mengecek ponselnya. Ia masukkan kembali benda pipih itu ke dalam sakunya.
“Mau yang deket banget atau yang jalan dikit? Siapa tau kamu mau ngehirup udara segar gitu?” Lagi Kala memberi pilihan.
“Yang deket aja, takut kita harus cepet-cepet balik lagi,” sahut Kinanti.
Kala mengangguk pelan seraya tersenyum. Tersenyum lebar tanpa ia tutupi.
“Kenapa malah ketawa? Emang ada yang lucu?” Tuh kan, Kala memang hobi membuat Kinanti kesal.
“Eh, bukan ketawa karena ada yang lucu.” Kala refleks memegang tangan Kinanti. “Aku senyum karena seneng denger kamu bilang ‘kita.’” Sahut remaja yang tidak bisa menyembunyikan senyumannya.
“Aku kira apa.” Kinanti berusaha melepaskan tangannya. Tetapi Kala memilih tetap memegangnya.
__ADS_1
“Jangan dilepas ya, aku kangen megang tangan kamu kayak gini,” ekspresi Kala berubah sendu. Mereka menghentikan langkahnya beberapa saat dan saling bertatapan.
“Kal, ini di rumah sakit.” Kinanti tetap berusaha melepaskan tangan Kala yang mengcengkramnya cukup erat.
“Justru karena ini rumah sakit, aku sadar perasaan kita lagi gak baik-baik aja. Karena ini juga rumah sakit jadi kita harus berpegangan tangan untuk menguatkan satu sama lain. Dan karena ini juga rumah sakit, aku mau selalu ada disamping kamu dan jangan disuruh pergi lagi.” Satu paragraph pendek Kala ucapkan dengan penuh kesungguhan. Ia juga menatap Kinanti dengan lekat.
“Aku minta maaf karena aku udah bikin kamu kecewa. Aku minta maaf karena udah bikin kamu merasa dibodohi dengan aku gak bicara apapun sama kamu. Tapi Nan, bukan bermaksud beralasan, ini pun sulit buat aku. Perasaan aku sama hancurnya saat tau ayah sakit dan sedang menyembunyikan semuanya dari kita.”
“Dia berusaha berjalan dengan tegak, padahal beberapa waktu sebelumnya dia terkapar di atas ranjang rumah sakit. Dia bilang hari ini sangat indah dan bertanya kabar kita, padahal harinya sendiri berat dan menakutkan. Aku merasakan semua perasaan yang kamu rasakan. Dan aku tau persis kalau kondisi kamu lebih sulit dibanding aku saat ini. Tapi kita jangan lupa, kondisi ayah juga lebih sulit dari kita.”
Tangan Kinanti mulai lemah, ia tidak lagi meronta. Ia mengakui benar ucapan Kala dan membuat matanya berkaca-kaca menahan sedih.
“Ini kondisi yang sulit buat kita, lalu apa salahnya kalau kita saling menguatkan. Ayah ada di saat aku nyaris mati karena putus asa, mana mungkin aku tega membiarkan ayah berjuang sendirian.”
“Semuanya berat untuk kita Nan, tapi hal itu akan semakin sulit dan menyakitkan saat kita merasa kalau kita hanya sendirian.”
“Kamu harus ingat, kamu gak pernah sendirian. Kamu punya aku. Kamu bisa membagi apapun sama aku. Dan ayah, ayah punya kita. Kita gak akan ninggalin ayah terpuruk sendirian dan merasa bersalah karena merasa membebani kita dan membuat kita kesulitan. Lalu, apa salahnya kalau kita tetap bersama-sama?”
Mata kala yang tegas dan penuh perhatian, mengunci sepasang mata yang saat ini menatapnya dengan sendu dan dipenuhi bulir air mata yang bisa menetes kapan saja. Gadis itu berusaha menahan tangisnya lantas tersenyum.
“Sejak kapan kamu sebawel dan seromantis ini?” Pertanyaan itu yang Kinanti lontarkan pada Kala. Ia sadar kalau ucapan Kala sepenuhnya benar. Hanya proses ia berdamai dengan keadaan saja yang sulit.
Kala tidak menjawab hanya terkekeh seraya mengusap bulir air mata yang menetes disudut mata Kinanti.
__ADS_1
“Janji kita akan selalu sama-sama?” Kemudian Kala bertanya. Ia mengganggam kedua tangan Kinanti dengan erat.
“Hem, aku gak punya pilihan lain. Karena kamu tempat berbagi yang terbaik. Tetapi kedepannya, tolong jangan merahasiakan apapun dari aku. Aku gak suka berpikiran buruk tentang kamu, itu menyakitkan Kal,” pinta Kinanti dengan sungguh.
“Ya, aku berjanji. Ke depannya aku gak akan menyembunyikan apa-apa lagi dari kamu. Kamu bagian dari aku, Kinan. Selamanya,” ungkap Kala dengan penuh kesungguhan.
Kinanti hanya tersenyum sampai kemudian,
“Tolong beri jalan, pasien sedang kritis!” seru seorang security yang membantu beberapa para medis mendorong sebuah blankar dengan cepat. Kala segera menarik tubuh Kinanti dan memeluknya dengan erat. Mereka bersandar pada dinding yang ada dibelakang Kala.
Dub!
Dub!
Dub!
Kinanti bisa mendengar detak jantung Kala yang kuat dan cepat, sama dengan detak jantungnya. Ia mengangkat wajahnya dan sedikit menengadah menatap Kala yang kaget karena takut Kinanti tersenggol blankar yang melintas. Mereka bertatapan beberapa saat, saling menatap wajah yang mereka rindukan satu sama lain. Kurang dari dua puluh empat jam mereka tidak bersama-sama tetapi seperti menghabiskan waktu satu putaran penuh bumi mereka lalui sendirian.
“Terima kasih!” Seru para medis setelah berhasil melewati beberapa orang yang memberi mereka jalan. Kala pun melepaskan rengkuhannya dipinggang Kinanti dan Kinanti segera menarik tubuhnya menjauh.
“Ayo makan, aku laper!” seru kinanti yang memilih berjalan lebih dulu didepan Kala. Kala tersenyum kecil melihat Kinanti yang salah tingkah sambil mengguyar rambutnya. Sesekali ia menangkup wajahnya yang merah karena malu. Ia sadar, untuk beberapa saat ia dan Kala sama-sama menjadi pusat perhatian orang-orang disekitarnya.
“Rendang, sambal ijo, nasi panas ditambah taburan bawang goreng, selamat makan. Kita butuh tenaga lebih untuk menghadapi hari esok.”
__ADS_1
****