Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Seseorang yang mendekat


__ADS_3

Sekitar jam delapan malam, Lukman dan Kala baru tiba di rumah. Lukman sudah terlihat segar dan siap bertemu dengan putrinya. Di depan pagar rumah Lukman ada sebuah mobil yang terparkir dan rasanya tidak asing untuk Kala. Sebuah mobil sedan mewah yang dibelikan Yudhistira untuk putra sambung kebanggannya.


“Apa ada tamu ke rumah Om?” tanya Lukman yang ikut memandangi mobil sedan mewah di depannya. Belum sekalipun mobil itu mampir dimuka rumahnya.


“Sepertinya temen Kinan, Om,” sahut Kala. Ia menghentikan laju mobilnya di belakang mobil tersebut lalu membantu lukman untuk turun.


“Om bisa turun sendiri, Kal. Jangan sampai Kinan melihat Om lemah.” Lukman segera mengangkat tangannya saat Kala hendak meraih lengannya dan membantunya turun.


“O iya, Om.” Kala terpaksa menurut. Ia membiarkan Lukman turun dan berjalan sendiri menuju rumah.


Di teras rumah sudah menunggu seorang gadis cantik dengan wajahnya yang diliputi kecemasan. Ia berdiri berdamingan dengan seorang remaja tampan. Siapa lagi kalau bukan Kinanti dan Demian.


“Ayaah, kok malem banget pulangnya?” sambut Kinanti seraya menghampiri Lukman dan meraih lengan sang ayah. Ia bergelayut manja pada sang ayah.


“Iyaa, kerjaan Ayah baru selesai. Maklum, Ayah lama gak ngantor.” Lukman beralasan. Ia menoleh Kala dan Kala hanya mengangguk paham. Drama mereka memang harus dimulai dan entah kapan akan diakhiri.


“Tapi kok bisa bareng Kala pulangnya?” Kinanti menoleh Kala yang berjalan dibelakang Lukman. Remaja itu hanya tersenyum kelu.


“Kebetulan ketemu aja.” Lukman kembali beralasan. Ia mengusap kepala Kinanti dengan sayang lalu mengecupnya. Dalam hati ia mengucap kata maaf karena telah berbohong pada putri semata wayangnya.


“Ada siapa ini, temen Kinan?” Waktu yang tepat untuk Lukman mengalihkan pembicaraan, saat melihat seorang remaja pria menjeda langkahnya untuk bersalaman dengannya.


“Iya Ayah. Kenalin, ini Demian. Dia temen sekelas Kinan. Dia ikutan olimpiade juga bareng Kinan dan sengaja ke sini karena nganter Kinan pulang. Dia nemenin Kinan sambil nunggu Ayah pulang,” urai Kinanti dengan lengkap.

__ADS_1


“Selamat malam, Om. Saya Demian.” Demian mengangguk sopan.


“Ohhh, selamat malam. Wah, makasih yaa udah nemenin Kinan. Maaf jadi ngerepotin, harus jaga Kinan sampe Om pulang.” Lukman berujar penuh sesal.


“Nggak apa-apa Om, santai aja. Nggak ngerepotin sama sekali kok.” Demian terlihat begitu santun.


“Ya udah, ayo kita masuk. Kal, ayo kita masuk dulu,” ajak Lukman pada Kala yang masih berada dibelakangnya.


“Iya, Om.” Kala hanya tersenyum tipis lalu menatap Demian yang tersenyum tengil padanya. Berani sekali rivalnya ini mengantar Kinanti pulang, bahkan sampai menemaninya di rumah.


Membiarkan Kinanti dan Lukman masuk, sementara Kala dan Demian memilih berdiam diri di teras. Mereka berdiri bersisian menatap jalanan yang mulai sepi.


“Buat apa lo ke sini?” Kala mulai waspada. Ia tahu persis kalau Demian seorang yang memiliki banyak trick.


“Nemenin Kinanti lah. Memangnya menurut lo apa?” Demian menjawab dengan santai seraya tersenyum sarkas pada mantan sahabatnya.


“Waahh, Kinanti tau gak ya kalau pikiran lo sejahat ini sama gue? Padahal gue kan cuma mau nemenin dia. Buat Kinanti gue bukan orang jahat, tapi penyelamat dia.” Demian berujar sambil berbisik di telinga Kala, penuh rasa bangga.


“Gue tau trick lo!” Kala menarik kerah baju Demian dan mencengkramnya kuat-kuat. Ia berbicara pelan, tetapi penuh penekanan. Lihat saja matanya yang menyalak dan giginya yang menggeretak.


“Jangan sok kenal sama gue! Lo gak tau apa-apa soal gue. Yang lo kenal dulu adalah Demian yang selalu berada dibawah lo, tapi sekarang, kita setara.” Demian mengibaskan cengkraman tangan Kala dengan kasar. Ia juga menyeringai penuh rasa puas.


“Seperti yang lo bilang, gue sangat suka ngerusak apa yang lo punya, maka kali ini pun akan sama. Dan gue rasa, ngerusak yang satu ini akan lebih mudah dan menyenangkan buat gue,” imbuh Demian dengan tatapan mengancam.

__ADS_1


Kala hendak mencengkram kembali kerah baju Demian tapi remaja itu segera menepisnya. “Lo akan kalah lagi, Kal. Bersiaplah!” Demian tersenyum sinis, seraya menepuk bahu Kala dengan penuh intimidasi.


“Kal, Demi. Masuk dulu, kita makan malam dulu.” Suara Kinanti mengusik tatapan Demian yang penuh intimidasi. Dua remaja itu saling memalingkan wajah dengan perasaan kesal masing-masing.


“Siap! Ayok kita makan!” Demian yang berrespon lebih dulu dan segera menghampiri Kinanti. Dibelakang tubuhnya ia mengacungkan jari tengahnya pada Kala dengan arah ke bawah. "F^ck off," batin Demian.


Lagi, Kala hanya bisa mengeram kesal. Tidak mungkin juga ia menghajar Demian dihadapan Kinanti dan Lukman.


“Kal,” panggil Kinanti. Remaja itu masih diam saja, membuat Kinanti kembali memanggilnya.


“Ya, aku nyusul.” Akhirnya Kala pun menoleh dan tersenyum pada Kinanti. Senyuman yang berbalas senyuman kelegaan dari sang gadis. Demian bisa melihat interksi dua orang ini yang terlihat sangat istimewa dan rasanya ia semakin semangat untuk merusak ikatan istimewa ini.


Menikmati makan malam bersama, ternyata terasa lebih menyenangkan. Walau makanannya sederhana, tetapi cukup bisa dinikmati. Mereka pun berbincang dengan akrab, seolah diantara Kala dan Demian tidak ada perselisihan sama sekali.


“Om seneng karena ternyata Kinan temennya gak cuma satu. Apalagi Om denger, Demian ini juga berprestasi. Bagus, kalian bisa saling mendukung sampai dewasa nanti,” ucap Lukman penuh harap. Ia menatap Kinanti dan Demian yang ada dihadapannya, juga Kala yang ada disampingnya.


“Iya, Om. Saya mengenal Kinanti sejak saya ikut olimpiade tahun kemaren. Dia jadi juara pertama dan saya juara kedua. Saya sempat berpikir, wah cerdas sekali seorang Kinanti yang berasal dari sekolah negeri biasa dengan banyak pengetahuan yang dia punya. Dia seolah menunjukkan pada saya, keterbatasan tidak pernah bisa menjadi penghalang bagi seseorang untuk berprestasi.” Demian menatap Lukman dengan penuh keyakinan.


“Tepat sekali. Itu yang selalu Om ajarkan sama Kinan. Jangan jadikan keterbatasan sebagai alasan. Dan nyatanya, sekarang terbukti. Walau Kinan sering pindah-pindah sekolah, berganti-ganti teman, dipaksa untuk beradaptasi dengan cepat, tapi dia tetap bisa mengikuti ritme pelajaran di sekolah manapun. Itu yang bikin Om bangga sama putri Om.” Lukman menatap Kinanti dengan penuh kebanggan.


“Ayah, gak usah berlebihan ah.” Kinanti tersipu malu, pujian Lukman terlalu banyak untuknya.


“Tapi aku setuju Kinan, apa yang ayah kamu katakan itu memang benar. Kamu anak yang hebat dan aku beruntung bisa mengenal dan berteman sama kamu.” Demian dengan semangat menimpali.

__ADS_1


“Lebay!” decik Kinanti sambil menyenggol lengan Demian. Demian hanya terkekeh, begitupun dengan Lukman. Sementara Kala hanya terdiam, ia memperhatikan benar usaha Demian untuk masuk ke keluarga kecil ini.


****


__ADS_2