Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Kinanti


__ADS_3

Langit sudah tidak lagi sama bagi Kinanti. Warna mejikihibiniu itu sudah berubah menjadi kelam dengan sisa warna gelap yang masih melukai hatinya. Senja yang berwarna jingga, hanya tumpukan awan pekat yang sesekali memperlihatkan pantulan petir yang menyambar pelan dan meneteskan bulir hujan kesedihan.


Kinanti sudah sadarkan diri meski ia belum sanggup membuka matanya. Kepalanya masih terasa berat, tetapi tubuhnya masih sangat ringan seperti tidak ada tenaga. Di kamarnya, ia ditemani oleh Bertha dan tantenya. Mereka berbincang pelan, membicarakan Lukman dan Kinanti. Kalimat yang sayup-sayup Kinanti dengar saat ia membuka matanya adalah,


“Padahal katanya baru besok rencana chemonya. Tapi ternyata Lukman sudah pergi duluan. Permintaannya untuk liburan sama neng Kinan ternyata permintaan yang terakhir. Duh gusti, Lukman benar-benar sudah pergi dan meninggalkan seorang anak yang masih membutuhkan kasih sayang.”


Suara Neneng terdengar disertai isakan mendalam atas kesedihan ditinggalkan Lukman. Selama ini ia tidak pernah tahu kalau Lukman sakit. Ia hanya pernah menerima telepon dari Lukman beberapa hari lalu, yang mana laki-laki itu hanya bertanya kabar keluarga Neneng di Bandung lalu berpesan agar keluarga menjaga Kinanti dan tetap menyayanginya. Ia baru sadar kalau ternyata itu adalah pesan terakhir Lukman untuk keluarganya.


Bertha memandangi Neneng dengan penuh empati. Dengan setia ia mengusapi punggung Neneng dan memberi wanita itu dukungan semangat. Ia tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang sangat kita sayangi dan itu sangat menyakitkan.


“Kayaknya, saya gak mungkin ninggalin neng Kinan sendirian di Jakarta. Siapa yang akan menjaganya sekarang? Mungkin sebaiknya saya akan bawa dia ke Bandung.” Rencana itu yang Neneng ungkapkan sambil menyusut air matanya.


Bertha terangguk kecil, “Saya paham kesedihan dan rasa kehilangan Bu Neneng. Tapi saran saya, sebaiknya tanya dulu Kinantinya. Dia pasti punya keinginan sendiri yang sebaiknya tidak kita larang. Dia masih berduka, kewajiban kita untuk memahaminya.” Bertha berusaha mengingatkan dan dada Kinanti terasa hangat mendengar kalimat itu. Seperti halnya Kala, wanita itupun sangat penuh pengertian.


“Iyaa, saya mengerti. Saya juga gak akan maksa. Cuma kan namanya orang tua, pasti was-was ninggalin anak gadis sendirian di kota besar seperti ini.” Neneng mengusap tangan Kinanti yang lemah.

__ADS_1


Kinanti tahu Neneng sangat mengkhawatirkannya. Tetapi ia sudah berjanji pada dirinya sendiri kalau ia tidak akan meninggalkan rumah ini. Rumah ini menjadi rumah pertama yang ia dan Lukman miliki. Ia berjanji akan merawat rumah ini dengan baik dan tidak akan meninggalkannya.


Langit kelabu milik Kinanti itu berlangsung cukup lama. Kinanti yang sekarang tidak seceria dulu. Walau ia sudah bisa menerima kepergian lukman tetapi ruang kosong dalam hatinya tidak mudah untuk terisi.


Selama empat puluh hari, Kinanti ditemani keluarganya di rumah ini. Mereka menggelar banyak acara pengajian untuk Lukman yang telah tiada. Baru setelah itu Neneng dan keluarga yang lainnya memutuskan untuk pulang ke Bandung.


Ia sempat membujuk Kinanti untuk ikut, tetapi Kinanti menolaknya. Gadis itu bersikukuh untuk tetap tinggal di Jakarta dan meneruskan pendidikannya yang dalam beberapa lama lagi akan segera selesai. Menggantikan Neneng dan keluarganya, Kala, Riko dan Emili sering kali menemani Kinanti di rumah ini. Emili yang paling sering menginap menemani Kinanti. Katanya lebih menyenangkan tinggal di rumah Kinanti karena ada teman untuk berbincang. Sementara di rumahnya, ia hanya sendirian. Kedua orang tuanya sering bepergian karena urusan bisnis dan itu membuat Emili kesepian.


Lambat laun, Kinanti mulai terbiasa dengan ketiadaan Lukman. Ketiga sahabatnya tidak berhenti memberi warna dalam hidup Kinanti yang gelap. Ada cahaya kecil yang mereka bawa dan mulai menerangi hidup Kinanti. Gadis itu beranjak membaik walau masih tetap berusaha menata hidupnya.


“Eemmhh, males banget pulang. Tapi gue gak bawa seragam. Lo mau pulang apa nginep Kal?” Riko menggeliat dengan nikmat lantas bertanya pada Kala yang masih menyelesaikan satu suapan terakhir mie instan miliknya.


“Pulang. Nyokap lagi gak enak badan,” sahut Kala. Ia sedikit melirik Kinanti yang sedang membereskan mangkuk-mangkuk dan membawanya beranjak ke wastafel.


Kala segera menyusulnya dan mengikuti Kinanti ke dapur. “Kalau aku pulang, gak apa-apa kan, Nan?” tanya Kala yang ragu meninggalkan Kinanti.

__ADS_1


“Ya, nggak apa-apa lah. Kasian tante Bertha lagi sakit. Tadi bilang sama aku demamnya tinggi.” Kinanti berujar dengan tenang sambil mencuci mangkuk di tangannya.


Kala tersenyum kecil mendengar jawaban Kinanti. Sejak kepergian Lukman, Bertha memang instens berkomunikasi dengan Kinanti. Dalam satu hari, Bertha lebih sering mengirimi pesan pada kekasihnya dibanding pada anaknya sendiri. Sampai di rumahpun yang akan Bertha bahas adalah Kinanti. Kala melabeli ibunya dengan sebutan, 'Mamah bucinan Kinan.' Bertha hanya tertawa setiap kali mendengar ledekan itu dari putranya. Benar adanya bahwa mengenal Kinanti lebih dekat membuat Bertha sangat menyayangi gadis itu.


“Mau ikut ke rumah gak? Nginep di rumah ku. Mamah pasti seneng kalau kamu mau nginep di sana,” bujuk Kala. Ia mengambil mangkuk dari tangan Kinanti dan mengambil alih pekerjaan mencuci alat makan. Ditatapnya gadis itu dengan penuh harap.


“Lain kali ya Kal. Kita masih ujian, aku mau fokus dulu sama ujian.” Kinanti beralasan dengan tepat.


“Ujiannya kan tinggal sehari besok lagi, udah gitu, sorenya kita pulang ke rumah aku yuk!” Kala tetap berusaha untuk membujuk.  Jujur, perasaannya selalu tidak tenang setiap meninggalkan Kinanti seorang diri.


“Aku pikir-pikir dulu.” Gadis itu masih perlu waktu untuk percaya pada orang yang mendekat padanya. Rasa takut ditinggalkan masih jelas terasa.


“Okey, selalu ada banyak waktu buat kamu. Muach!” Kala sempatkan untuk mengecup dahi Kinanti dengan sayang. Ia menatap Kinanti dengan penuh kecemasan dan gadis itu hanya tersenyum.


Kinanti sangat berterima kasih atas semua perhatian teman-temannya selama ini, terutama Kala. Remaja ini selalu menjadi orang pertama yang memberi perhatian pada Kinanti dan tidak pernah lelah memberinya semangat. Mungkin hal itu juga yang membuat Kinanti lambat laun mulai terbiasa menjalani semuanya dengan lebih baik lagi.

__ADS_1


****


__ADS_2