Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Mencari ayah


__ADS_3

Sudah satu jam pelajaran materi Bahasa inggris ini diikuti Kinanti. Guru mereka masih membacakan tugas yang harus dikumpulkan para siswa minggu depan. Beberapa siswa tampak bersorak kesal, karena tugas yang diberikan tidaklah sedikit.


Kinanti menandai bukunya dan menuliskan tugasnya dengan cepat-cepat. Ia sudah inginmengakhiri jam pelajaran ini karena ia harus segera pergi ke suatu tempat.


“Kinan,” Kala mencolek punggung Kinanti dengan ballpoint di tangannya.


“Apa?” Kinanti menyandarkan tubuhnya, agar bisa mendengar ujaran Kala.


“Mau pergi jam berapa ke tempat kerja ayahmu?”


“Setelah selesai pelajaran ini. Aku cemas sama ayah, gak mau nunda-nunda lagi.”


“Okey.” Kala menyahuti dengan semangat. Sejak tadi Kinanti memang terlihat gelisah. Ia terus menerus memperhatikan jam tangannya dan kakinya yang bergerak-gerak tidak tenang.


“Okey class, we'll meet on next class, see you….” Pamit guru Bahasa Inggris.


“See you miss….” Sahut mereka bersamaan.


Tidak lama, bell tanda akhir pelajaran pun berbunyi dan suara riuh para siswa pun mengisi ruangan kelas. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing, termasuk Kinanti yang segera membereskan bukunya dan memasukkan semua buku ke dalam tas lalu berjalan ke luar kelas dengan tergesa-gesa. Ia bahkan mengabaikan Demian yang menghampirinya dan ingin berbicara dengannya.


Sesuai janji, Kala akan mengantar Kinanti ke tempat kerja ayahnya. Mereka berjalan dengan cepat ke tempat parkir dan Kinanti terlihat semakin tidak tenang karena Lukman masih belum bisa dihubungi.


“Mana alamat kantornya?” Kala bertanya sambil memakaikan helm Kinanti.


Kinanti segera mengeluarkan ponselnya dan mengetik nama perusahaan tempat Lukman bekerja.


“Ini. Perjalanannya sekitar lima puluh delapan menit.” Kinanti menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan peta perjalanan menuju kantor Lukman.


“Ayahmu benar kerja di sini?” tanya Kala. Ia bertanya bukan karena jaraknya yang jauh tapi karena nama perusahaannya yang jelas sangat familiar.


“Iya. Kenapa? Kejauhan ya? Kalau kejauhan, aku naik bis aja. Kasian kamu nganternya.” Kinanti langsung mengambil alih ponselnya.


“Bukan, bukan itu. Udahlah, ayo aku anter.” Kala dengan wajah kaget dan akhirnya tidak menjelaskan apa pun selain mengiyakan ajakan Kinanti. Menurutnya ini bukan waktu yang tepat.


“Beneran, kamu mau nganter?” Kinanti kembali bertanya. Ia melihat wajah Kala yang ragu.


“Iya lah. Masa gak aku anter. Ayo naik!” sahut Kala dengan yakin. Dalam hatinya ia tersenyum, bagaimana bisa tempat kerja ayah Kinanti pun begitu berjodoh dengan keluarganya?


Walau ragu, Kinanti akhirnya naik. Sejujurnya ia masih penasaran dengan arti ekspresi Kala di awal tadi.


Perjalanan menuju kantor Bertha pun di mulai. Kala tidak menggunakan jalan yang seharusnya melainkan masuk ke gang-gang kecil untuk meringkas perjalanan mereka.


Kinanti di buat takjub karena Kala begitu mengetahui jalanan di Jakarta hingga menemukan jalan-jalan tikus yang dapat mempercepat perjalanan mereka.


“Kinan,” Kala memanggil Kinanti yang berpegangan padanya.


“Iya?” Kinanti mencondongkan tubuhnya pada Kala, berusaha mendekat.


“Ayahmu udah lama kerja di perusahaan itu?” Kala benar-benar penasaran.


“Udah lama banget. Dari ayah masih bujang. Setelah beberapa tahun kerja di sana, baru ayah berani melamar ibuku. Katanya baru yakin karena pekerjaan ayah yang pindah-pindah.” Kinanti menceritakan sesuai yang ia dengar dari ayahnya.


“Udah berapa kali ayahmu pindah tempat kerja?”

__ADS_1


“Emmm, banyak. Yang aku ingat aja udah lima kali pindah provinsi.”


Kala mengangguk paham. “Gimana perasaan kamu ngeliat ayahmu kerja di sana?”


“Yaa, ada senengnya, ada sedihnya juga. Ayah sering banget lembur, itu sedihnya. Sering keluar kota juga. Tapi senengnya karena perusahaan itu memberi kami rejeki yang cukup sampe sekarang kami bisa punya tempat tinggal sendiri dan kehidupan yang cukup.” Kinanti menghela napasnya lega. Tidak ia pungkiri kalau pekerjaan Lukman memberi penghidupan yang cukup untuk keluarganya.


Kala tersenyum kecil melihat wajah Kinanti yang penuh syukur terlihat jelas di spion motornya.


“Tapi aku dengar, pemilik perusahaannya akan menjual perusahaan itu. Katanya mereka berniat pindah ke luar negeri. Hem, sayang banget. Pasti banyak hal yang berubah dari perusahaan itu, kalau semisal berindah pemilik.” Wajah Kinanti terlihat khawatir.


Kala tidak menimpali, karena hal itu memang benar adanya. Bertha bahkan sudah menawarkan perusahaan itu pada sebuah perusahaan asing besar yang sangat tertarik dengan perusahaan ibunya. Entah bagaimana keputusan finalnya, karena sepertinya Bertha sudah bertekad untuk melepas perusahaan itu dan berhenti dari posisinya sebagai CEO perusahaan itu.


Mengingat hal itu, perasaan Kala kembali sedih. Bertha terpaksa menjual perusahaan itu bukan karena ia tidak sanggup mengelolanya tapi karena ia ingin tinggal di luar negeri dan tidak melihat lagi mantan suaminya. Katanya, ia ingin menikmati hidupnya sebagai orang normal yang bisa sesekali egois hanya memikirkan dirinya sendiri.


Kala setuju dengan pilihan Bertha. Baginya, apapun yang membuat Bertha senang, maka ia pun akan mendukungnya. Termasuk pindah ke luar negeri?


Tiba di perusahaan itu, Kala sengaja memarkir motornya di depan. Tempat yang biasa ia tempati. Kinanti tidak terlalu sadar kalau itu parkiran VIP. Sejak masuk ke loby perusahaan, orang-orang mengangguk sopan pada Kala yang mengenal remaja itu sebagai putra pemilik perusahaan. Namun Kala pura-pura saja tidak kenal dengan mereka. Ia memberi isyarat dengan tangannya agar mereka tidak melakukan hal yang berlebihan. Ia belum menemukan cara yang tepat untuk memberitahu Kinanti kalau ia anak pemilik perusahaan ini.


“Selamat siang,” seorang resepsionist menyapa ramah Kinanti dan Kala.


“Siang mba. Mba, saya mau ketemu dengan kepada divisi pengembangan. Apa bisa?” Kinanti bertanya langsung pada tujuannya. Ia memang harus menemui bos ayahnya untuk bertanya tentang keberadaan ayahnya yang sampai saat ini masih belum bisa dihubungi.


“Maaf dengan adek siapa? Apa sudah ada janji?” tanya resepsionist tersebut.


Takut-takut Ia melirik Kala yang berdiri di belakang Kinanti. Remaja itu menggeleng, memberi isyarat agar tidak mempersulit Kinanti.


“Belum sih mba. Tapi,”


“Oh boleh kok boleh. Mari saya antar.” Resepsionist itu segera mengerti dengan maksud Kala.


Mereka masuk ke dalam lift dan terlihat lantai delapan yang mereka tuju. Ressepsionist itu berdiri di depan sementara Kala dan Kinanti di belakangnya. Ia hanya bisa menunduk, takut pada tuan mudanya. Takut melakukan kesalahan.


Kinanti begitu tegang, banyak hal yang berputar di kepalanya, sementara Kala berdiri santai sambil bersandar pada dinding lift.


“Kal, nanti aku nanya apa ya?  Sopan gak kalau aku langsung nanya ayahku posisinya dimana saat ini?” Kinanti menoleh Kala yang ada di sampingnya.


“Tanya aja sesuai yang mau kamu tau. Bertanya hal seperti tu sopan-sopan aja kok.” Kala menyahuti dengan santai.


“Okey.” Kinanti tersenyum lega setelah mendengar jawaban Kala.


“Bertanyalah apapun yang mau kamu tau Kinan, karena tidak akan ada orang yang berani mengabaikan pertanyaanmu,” batin Kala yang tersenyum kecil menatap Kinanti.


*****


Kinanti di antar sampai ke depan ruangan kepala Divisi pengembangan. Mereka di persilakan masuk oleh sekretarisnya. Mereka juga di sambut baik oleh kepala Divisi tersebut dan di ajak berbincang santai di sofa.


“Jadi, adek ini putrinya pak Lukman?” tanya kepala Divisi tersebut.


“Iya Pak. Perkenalkan, saya Kinanti dan ini teman saya, namanya Kalantara.” Kinanti bahkan memperkenalkan Kala pada laki-laki paruh baya yang ada dihadapannya.


Laki-laki itu tersenyum kecil, tentu saja ia mengenal remaja yang saat ini menatapnya dengan dingin.


“Baik, senang berkenalan dengan adek ini. Ngomong-ngomong, apa yang bisa saya bantu?” laki-laki itu menaruh perhatian penuh pada Kinanti dan Kala.

__ADS_1


“Begini pak, seminggu lalu ayah saya pamit untuk perjalanan dinas ke luar kota. Semalam harusnya ayah saya pulang. Tapi sampai sekarang, saya tidak menerima kabar sama sekali. Ponselnya juga susah dihubungi. Barangkali bapak bisa bantu saya untuk mengetahuan keberadaan ayah saya? Saya mencemaskannya,” ucap Kinanti dengan sendu.


“Oh, baik. Saya akan coba bantu yaa, lewat staf saya. Adek tunggu dulu sebentar.”


“Iya pak, terima kasih.” Kinanti mengangguk patuh. Ia bisa bernafas lega karena ternyata orang-orang ini bersedia membantunya.


Sekitar sepuluh menit pria itu melakukan komunikasi dengan beberapa orang dan wajahnya terlihat cukup bingung. Ia menerima kabar kalau seminggu ini Lukman mengajukan cuti, bukan sedang perjalanan dinas ke luar kota. Tapi entah harus seperti apa ia menyampaikan kabar ini pada gadis bernama Kinanti tersebut karena ia pun tidak tahu keberadaan Lukman.


“Ya sudah, saya minta kontak rekannya pak Lukman.” Itu putusan akhir yang di ambil kepala divisi tersebut.


Setelah mendapat jawaban dari stafnya, pria itu kembali menghampiri Kinanti. Ia menatap wajah Kinanti dengan tidak karuan.


“Dek, ini nomor kontak temannya pak Lukman. Adek bisa langsung menghubungi beliau. Namanya pak Seno.” Selembar kertas diberikan pria itu pada Kinanti.


“Oh iya, terima kasih pak. Ayah saya, memang bilang kalau beliau pergi dinas ke luar kota bersama om Seno ini.” Kinanti mengambil selembar kertas itu dan memandanginya dengan penuh rasa syukur.


“Saya permisi untuk menghubungi Om Seno sebentar pak.” Kinanti undur diri beberapa saat. Ia ingin memastikannya seorang diri.


“Silakan,” pria itu memberi Kinanti keleluasaan.


Kinanti langsung menghubungi pria bernama Seno itu. Nada tunggupun langsung tersambung dan memberi Kinanti harapan. Dua panggilan dan suara serak seseorang terdengar di sebrang sana.


“Ya, halo,” suara Seno yang terdengar


“Iya halo. Dengan om Seno?” tanya KInanti.


“Iya benar, maaf ini dengan siapa ya?”


“Om maaf mengganggu waktunya sebentar. Saya Kinanti, anaknya pak Lukman.”


“Kinanti?” suara Lukman terdengar kaget.


“Iya Om. Om maaf, om lagi saya ayah saya gak ya?” Kinanti bertanya dengan harap-harap cemas.


“I-iya, saya dengan pak Lukman.” Seno yang baru bangun tidur tidak punya waktu untuk berbohong.


“Oh syukurlah. Om sudah sampai mana? Maaf saya menghubungi Om karena hape ayah saya gak bisa di hubungi.”


“Ohh iyaa, hape pak Lukman rusak. Tapi beliau baik-baik saja.”


“Oh syukurlah. Boleh tau lokasi om dimana?”


“Em ini kita dalam perjalanan pulang kok. Kami di-“ Lukman bingung sendiri untuk menjawab. “Dimana ini ya?” ia bertanya lirih, entah pada siapa.


“Om maaf, boleh tolong share loc aja Om?”


“Oh boleh-boleh. Sebentar saya kirim lokasi saya.” Dengan senang hati Seno mengirimkan lokasinya.


“Astaga! Ini aku kok kirim lokasi ruangan mas Lukman?” Seno baru tersadar. Ia segera menghapus pesannya tapi sayang, ia terlambat. Kinanti sudah lebih dulu membaca peta itu dan tahu Lukman sedang berada di rumah sakit.


Lihat saja wajahnya yang terkejut dan cemas itu.


"Siapa yang sakit? Apa ayah?" Kinanti bertanya pada dirinya sendiri.

__ADS_1


****


__ADS_2