
“Kinan,” Kala memanggil Kinanti yang berjalan keluar ruangan dokter dengan tertatih-tatih. Tubuhnya rasanya sangat lemah dan rasanya nyaris ambruk. Ia mengabaikan panggilan Kala yang tidak dianggapnya.
“Kinant, tunggu.” Kala segera mengejar Kinanti dan berusaha memegang tangan gadis itu, tetapi dengan tegas Kinanti mengibaskannya.
“Kinan, tolong. Aku tau kamu marah, tapi….”
“Diam!” seru Kinanti, pelan tetapi penuh ketegasan. Kinanti menutup telinganya dengan dua tangan yang gemetaran, ia tidak mau mendengar apapun yang dikatakan Kala.
Ia duduk dibangku dengan tubuhnya yang gemetaran. Sudah tidak ada air mata yang menetes hanya wajahnya saja yang bingung dan pucat.
“Kinan, aku mohon.” Kala bersimpuh dihadapan Kinanti. Ia tahu ia telah melakukan kesalahan besar karena menyembunyikan hal penting dari Kinanti.
Kinanti tidak menimpali, ia memilih memalingkan wajahnya dan menyampingkan tubuhnya, menghindari tatapan Kala yang terasa mengiris hatinya.
“Kinan, aku minta maaf. Aku tau aku,”
“Apa? Apa lagi yang kamu tau dan aku gak tau? Apa? Kamu mau mengejakku?” Kinanti tersenyum sinis pada Kala dengan bibirnya yang gemetar menahan sejuta kata makian dan kekecewaan yang ingin ia gunakan untuk memaki Kala.
“Kinan,” Kala menghembuskan napasnya kasar. Ia kehabisan kata-kata melihat tatapan Kinanti yang sangat kecewa terhadapnya.
__ADS_1
“Pergi,” suara Kinanti pelan namun penuh penekanan. Ia sudah tidak ingin melihat Kala yang membohonginya.
“Kinan, aku mohon. Aku gak ada maksud untuk membodohi kamu. Ayah….”
“PERGI!!” seru Kinanti tanpa bisa ia tahan. Ia bahkan berdiri tiba-tiba dari duduknya sambil menunjuk lorong sepi menuju jalan keluar, dengan telunjuknya yang gemetar.
Sadar akan suaranya yang lepas dan menggaung ditempat yang tidak seharusnya, membuat Kinanti menggigit punggung tangannya sendiri untuk mengalihkan perasaan marahnya.
Kala menatap Kinanti dengan penuh rasa bersalah. Matanya ikut merah dan berkaca-kaca. Ia menekan sudut matanya yang terasa perih dan menyimpan banyak air mata.
“Pergi, selagi aku meminta kamu baik-baik.” Kinanti mengulang perintahnya dengan pelan namun penuh penekanan. Lihat giginya yang rapi dan menggertak karena menahan kesal pada Kala, juga matanya yang membola tajam, seperti sinar laser yang menyayat hati Kala.
“Gak bisa ninggalin aku? Kamu yakin dengan kata-kata itu? Kamu yakin? Wah, aku sangat terrenyuh.” Ujung kalimatnya terdengar manis, tetapi mata Kinanti yang merah dan basah, jelas menatap wajah Kala yang dipenuhi sesal.
“Kamu sadar gak, kalau kamu udah mendorong aku untuk terpuruk sejak kamu tahu masalah ini tapi kamu gak bilang apapun sama aku? KAMU TAU GAK ITU?!” suara Kinanti kembali meninggi. Ia benar-benar tidak sadar sampai membekap mulutnya sendiri yang terisak, agar tidak terdengar oleh petugas kesehatan.
“Kamu jahat Kala. Lebih jahat dari seorang pembohong yang menipuku.” Kinanti menunjuk dada Kala lalu mendorong Kala dengan kuat hingga angkah Kala terpaksa surut selangkah ke belakang.
“Kamu tidak hanya membohongiku. Sok-sokan semangati aku seolah kamu adalah dewa penolong dihidup aku. Tapi nyatanya apa, kamu lebih jahat dari seorang penipu, Kal. Aku nyesel selama ini percaya sama kamu. Aku pikir kamu….” Kinanti menjeda kalimatnya beberapa saat, karena napasnya terasa sesak mengingat apa yang terjadi selama ini dibelakangnya.
__ADS_1
“Tolong pergi, selagi aku meminta baik-baik. Aku gak butuh kamu. Aku benci sama kamu!” Lagi Kinanti mendorong tubuh Kala, tetapi Kala malah menarik tangan Kinanti lalu memeluknya.
“Kinan, aku mohon. Kamu boleh mukul aku, kamu juga boleh maki aku. Tapi aku mohon, jangan suruh aku pergi. Bagaimana bisa kamu nyuruh aku pergi sementara aku sangat mengkhawatirkan kamu dan ayah?.” Kala memeluk Kinanti dengan erat. Sangat erat, seperti ia tidak ingin melepaskannya.
“Lucu,” ucap Kinanti dengan sinis dan tajam. Ia berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Kala dan mendorong remaja itu menjauh darinya.
Ia menatap Kala dengan penuh kemarahan. “Sampai saat ini, kamu bahkan masih egois. Kamu hanya memikirkan perasaan kamu yang katanya khawatir itu. Tapi, Kamu mikirin gak perasaan aku sekarang? Mikirin gak muaknya aku negliat muka kamu yang sok merasa bersalah itu? Kamu mikirin gak rasa gak nyaman aku berdekatan dengan seorang pembohong? Enggak kan? Jadi untuk apa kamu masih di sini? Aku gak butuh kamu. Aku bisa kuat kok ngehadapin semuanya sendiri.” Kinanti menegakkan tubuhnya yang semula membungkuk. Ia mengepalkan tangannya yang semula gemetar, demi terlihat tegar dihadapan kala.
“Sekarang, dengan segala kerendahan hati aku memohon sama kamu untuk pergi dan jangan pernah kembali. Kamu telan bulat-bulat itu rahasia yang kamu simpan dari aku. Aku bisa mencari tau sendiri. Aku bisa bertanya pada orang yang lebih bisa aku percaya. Dan itu bukan kamu,” tegas gadis murka itu.
Kinanti benar-benar marah. Ia melepaskan jaket Kala yang semula ia pakai dan melemparnya begitu saja pada remaja itu. Cukup sudah baginya mengenal Kala, laki-laki yang sangat ia sayangi dan ia kagumi. Juga laki-laki yang menikamkan pisaunya dengan begitu dalam dihati Kinanti.
Kala hanya mematung. Ia paham benar kesedihan Kinanti saat ini. Rasanya tidak ada gunanya membujuk Kinanti sekarang. Semakin ia mendekat, Kinanti akan semakin memberontak dan emosinya semakin tidak stabil. Bukankah lebih baik kalau sementara ini ia memperhatikan Kinanti dari kejauhan saja?
“Sesuai permintaan kamu, aku akan pergi. Tapi kapanpun kamu memerlukanku, aku akan datang Kinan,” ucap Kala dengan sungguh.
Kinanti hanya tersenyum sinis lalu duduk dibangkunya yang semula. Ia memandangi pintu ruang observasi dengan gamang, tetapi ini dirasa lebih baik dibanding melihat wajah Kala yang membuatnya muak.
Berat, tetapi pada akhirnya Kala menjauh. Ia melangkah mundur meninggalkan Kinanti yang duduk sendirian dikursi tunggu. Gadis itu menutup mulutnya rapat-rapat juga mengunci hatinya agar tidak tersentuh oleh tatapan Kala yang sedang mengasihinya. Ia memeluk tubuhnya sendiri, ya sendiri saja. Karena saat ini ia hanya bisa percaya pada dirinya sendiri.
__ADS_1
****