
Tempat pertama yang Kala tuju untuk pulang adalah rumah Kinanti. Di dalam taksi ia masih berbincang dengan sang ibu yang baru ia kabari atas kemenangannya.
“Kenapa gak langsung pulang ke rumah, Mamah kan pengen meluk anak Mamah yang ganteng dan hebat ini.” Pertanyaan Bertha bercampur dengan rasa rindu dan bangga.
“Hehehehe… bentar ya Mah. Kala ke rumah neng pacar dulu. Soalnya Kala naro motor di sana.” Kala beralasan.
“Ah ada aja alasannya. Bilang aja kalau pacar anak Mamah itu sekarang udah jadi saingan Mamah. Sedih rasanya hati Mamah.” Bertha mulai merengek manja walau hanya sekedar untuk menggoda Kala.
“Jangan sedih dong, walaupun sekarang Kala punya pacar, tapi kan Mamah tetep cinta pertamanya Kala. Katanya kemaren Mamah bilang kalau Mamah bakalan sayang sama dia. Kok sekarang marah?” Kala balas menggoda sang ibu. Sudah lama ia tidak melakukannya.
“Iyaa, makanya bawa ke rumah itu neng pacar. Biar Mamah bisa berkenalan dan Mamah jadi punya temen.” Bertha berpura-pura. Padahal baru siang tadi ia berbincang mendalam dengan Kinanti.
“Iya, nanti Kala ajak ke rumah. Tapi jangan ditanya yang macem-macem yaa.” Belum apa-apa Kala sudah memberi peringatan.
“Takut banget Mamah tanya macem-macem,” mulai menyenangkan mengoda Kala seperti ini.
“Soalnya Mamah suka iseng nanyanya. Pokoknya kalau nanti Kala ngajak dia ke rumah, jangan nanya yang aneh-aneh. Jangan kayak wawancara kerja. Ini calon mantu Mamah, bukan calon karyawan.” Lagi Kala mengingatkan.
“Hahhahaha… iyaa… pokoknya cepetan bawa dia ke sini. Mamah mau kenalan.” Bertha bersikukuh dengan keinginannya.
“Iya, sabar ya. Kala udah mau nyampe rumah dia. Udah dulu ya Mah, nanti kita ngobrol lagi di rumah,” pamit Kala.
“Iya sayang, Mamah tunggu di rumah,” timpal Bertha sebelum panggilan berakhir.
Kala tersenyum lega saat ini. Sungguh ia sangat bahagia denga napa yang ia miliki saat ini. Benar adanya bahwa hari tidak selamanya malam, bumi berputar dan mataharipun akan terbit. Tidak menunggu lama sampai kemudian Kala tiba di rumah kinanti. Dua orang itu sudah menunggu Kala dengan tidak sabar.
“Selamaaattt!!!!” seru Kinanti saat pintu rumahnya terbuka. Gadis itu bahkan memegangi sebuah cake ditangannya lengkap dengan sebuah lilin.
“Astaga, kejutan apa ini? Aku kan gak ulang tahun.” Kala tersenyum girang. Ia memeluk Lukman dengan erat, lalu mengecup kepala Kinanti dengan sayang. Lihat, Lukman sampai melotot.
“Eh, maaf Ayah, refleks.” Remaja itu langsung tersadar saat melihat sepasang mata Kinanti yang membola tajam padanya.
“Hahaha udah, ditiup dulu aja lilinnya.” Lukman dengan suaranya yang serak.
“Kala gak ulang tahun, tapi lucu kejutannya tiup lilin.” Kala mengusap kepala Kinanti lalu meniup lilin itu dengan semangat.
“Anggap aja ini sebagai kesuksesan pertama kamu. Akan ada tiup lilin berikutnya setiap kali kamu berhasil meraih sesuatu yang membanggakan. Iya kan Ayah?” Kinanti berujar lalu menoleh Lukman.
__ADS_1
Laki-laki itu mengangguk dengan sungguh, setuju dengan ucapan putrinya.
“Makasih ya, Kinan, Ayah.” Sungguh Kala sangat terharu. Lagi ia mengusap kepala Kinanti dengan sayang, juga menggenggam tangan Lukman dengan erat.
“Duduklah, kita ngobrol-ngobrol dulu sambil nunggu Kinan nyiapin makan malam. Kalian belum makan kan?” Lukman bertanya pada Kala dan sahabatnya yang menjadi tukang foto dadakan. Sejak tadi entah berapa foto yang diambil Riko dengan anteng.
“Hehehehe… iya Om, laper banget. Tadi Kala gak mau diajak makan, katanya mau makan di rumah aja.” Riko mengusap perutnya berulang.
“Ngarang lo!” Kala langsung menyikut Riko. Kinanti yang ada di meja makan, hanya tersenyum mendengar perbincangan tiga laki-laki itu. Sambil menyiapkan makan malam, sesekali Kinanti memandangi Kala dengan penuh rasa bangga. Laki-laki itu telah berusaha dengan keras dan bisa membuktikan pencapaiannya yang gemilang. Benar adanya kalau usaha tidak pernah mengkhianati hasil.
“Makanannya udah siap. Maka dulu, yuk!” ajak Kinanti. Ia menghampiri Lukman dan mengajak pria itu mendekat ke meja makan.
“Waahhh ada wangi ikan goreng.” Riko dengan semangat mengampiri.
“Sambal kecapnya enak, lo wajib coba.” Kala niat sekali mempromosikan.
“Wiihh, siap lah. Gue coba semuanya. Boleh ya Om.” Riko meminta izin pada Lukman. Laki-laki paruh baya itu tersenyum dan mengangguk.
Mereka mulai menikmati makan malam. Rasa lapar membuat mereka tidak banyak berbincang. Mereka fokus dengan isi piring masing-masing.
****
“Seperti apa tadi lombanya? Ayah pengen denger ceritanya.” Lukman memulai pertanyaannya.
“Em tadi itu, diawali dengan presentasi materi Yah, sampe siang. Terus diumumin dulu siapa aja yang lolos sesi presentasi. Udah gitu, yang lolos presentasi itu mempraktekan langsung games yang di buat di hadapan para juri. Setelah itu, baru diumumin tiga orang terbaik dalam festival itu.” Kala menceritakan ringkasnya saja.
Lukman mengangguk paham, ia bisa membayangkan bagaimana suasana di tempat itu. Sudah pasti sangat menegangkan.
“Ayah bangga sama Kala, sekali lagi selamat ya!” Lukman menepuk bahu Kala dengan lembut.
“Terima kasih, Ayah.” Kala menganggukinya dengan sungguh. Ia melirik Kinanti yang tersenyum kecil menatapnya. Tatapannya sedikit lekat karena remaja ini begitu mengagumi dan merindukan laki-laki yang seharian ini jarang menghubunginya. Tetapi sungguh, ia ikut bangga atas pencapaian yang didapatkan oleh Kala.
“Sebagai perayaan, tadi Ayah udah bilang sama Kinan, kalau ayah pengen bepergian sama kalian. Jalan-jalan nyari udara segar, tapi Kinan bilang mau nanya dokter dulu.” Lukman masih tetap dengan keinginannya. Entah mengapa pria ini begitu bersikukuh ingin bepergian bersama Kala dan Kinanti.
“Memang rencananya kapan Ayah?” Kala melirik Kinanti sebelum kemudian fokus pada Lukman.
“Besok kan libur, kita gunain aja waktu itu.” Lukman tetap pada rencananya semula.
__ADS_1
“Betul, besok akhir pekan. Tapi Yah, senin kan Ayah rencana chemo, apa gak sebaiknya kita pergi beberapa hari setelah chemo? Besok Ayah istirahat dulu, kalau bepergian, takutnya Ayah kecapean. Setelah Ayah chemo, kita susun lagi jadwal liburannya sambil kita tanya ke dokter gimana baiknya kalau mau bepergian.” Kala mencoba menawarkan solusi.
Lukman menggeleng tidak setuju. “Ayah merasa kalau kondisi tubuh Ayah saat ini sedang baik-baik saja. Gak ada rasa sakit, makan juga enak, tidur pun lelap. Kalau Ayah chemo, Ayah merasa sangat tersiksa. Seluruh badan Ayah sakit, napas juga sesak. Jadi, Ayah memutuskan kalau Ayah akan berhenti melakukan chemo.” Sebuah keputusan tiba-tiba saja di ambil Lukman.
“Apa maksud Ayah? Kenapa Ayah memutuskan untuk berhenti chemo? Itu cara terbaik supaya ayah bisa sembuh.” Kinanti langsung merespon. Ia kaget dan sedih di waktu yang bersamaan.
Lukman tersenyum kecil. Ia meraih tangan Kinanti dan menggenggamnya dengan erat. Dikecupnya berulang kali tangan Kinanti dengan sayang. Lalu ia menatap wajah Kinanti yang terkejut dengan matanya yang berkaca-kaca dan sedih.
“Dengar Ayah, Kinan. Ayah tau, chemoterapi satu-satunya pengobatan yang bisa Ayah jalani. Tapi, Ayah merasa sangat tersiksa. Ayah juga tau, kalau tidak ada kemungkinan sembuh meski Ayah menjalani chemo. Seperti yang dokter katakan, kalau ini hanya usaha untuk memperpanjang usia Ayah. Cell kanker itu sudah menyebar hampir ke seluruh tubuh Ayah. Rasa sesak di dada ayah sudah pasti bukan tanpa alasan."
"Karena itu, saat ini, Ayah hanya ingin menikmati sisa waktu yang Ayah punya, tanpa merasakan sakit dan ketakutan lagi. Ayah ingin menghabiskan waktu dengan bahagia bersama kalian tanpa memikirkan kalau hari esok akan sangat mengerikan.”
“Tolong, jangan selalu membawa Ayah ke rumah sakit. Hidup Ayah seperti benar-benar berakhir setiap kali melihat kesibukan para petugas medis yang memeriksa Ayah dengan berbagai cara dan memberi tindakan yang macam-macam. Suara monitor jantung saja rasanya begitu mengintimidasi Ayah.”
“Ayah mohon, Ayah hanya ingin menjalani sisa hidup Ayah tanpa rasa takut dan sakit lagi. Ayah mohon, Nak.” Lukman berujar dengan sungguh-sungguh, ia bahkan tersedu dengan air mata yang menetes di sudut matanya.
Kinanti tidak menimpali. Ia memilih melepaskan genggaman tangan Lukman, lalu beranjak dari tempatnya.
“Kinan lupa belum bikin teh manis buat Ayah karena gulanya habis. Kinan mau ke mini market dulu,” ujar gadis itu tiba-tiba.
“Nan,” Kala langsung menahan. Ia menggeleng pada Kinanti.
“Sebentar saja, boleh kan Ayah?” Susah payah kinanti menahan sesak didadanya. Kalimat Lukman seperti sebuah perpisahan yang direncanakan. Ia paham benar kesakitan Lukman selama ini, tetapi membiarkan pergi begitu saja, apa dia sanggup?
Lukman mengangguk, memperbolehkan Kinanti pergi. Ia tahu, kalau putrinya sedang perlu waktu untuk dirinya sendiri.
“Tapi Nan, ini udah malem. Minimarket mungkin udah tutup dan keluar semalam ini bisa berbahaya.” Kala masih belum bisa terima.
“Biar gue temenin dari belakang. Lo jagain Om Lukman aja.” Riko yang mencoba menetralisir keadaan.
Kala tidak lagi menimpali. Ia hanya memandangi Kinanti yang enggan menatap wajahnya. Lihat air mata yang terkumpul di sudut matanya dan sebentar lagi akan tumpah.
“Pergilah, jangan terlalu lama,” pinta Lukman.
“Iya Ayah,” sahut Kinanti. Ia mengecup kepala Lukman beberapa saat sebelum kemudian memilih pergi untuk menenangkan dirinya.
****
__ADS_1