Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Permintaan penting ayah


__ADS_3

Kepulangan Kinanti disambut oleh seorang ayah yang menunggunya di teras rumah. Laki-laki itu tersenyum menyambut Kinanti yang baru turun dari ojeknya.


“Ayah, kok Ayah diluar?” tanya Kinanti yang segera menghampiri Lukman. Ia salim pada sang ayah dan memeluknya beberapa saat.


"Makasih udah jagain ayah saya, Sus." Tidak lupa ia berterima kasih pada perawat yang seharian ini menjaga ayahnya.


"Sama-sama." Perawat itu tersenyum penuh arti.


“Ada kiriman surat buat Kinan.” Lukman memberikan beberapa buah amplop pada Kinanti.


“Makasih Ayah, yuk kita masuk. Bacanya didalam aja.” Setelah menerima surat itu, Kinanti mendorong kursi roda Lukman dan membawanya masuk. Udara yang kotor tidak terlalu baik untuk sang ayah.


Mereka duduk santai di ruang keluarga. “Kinan ketemu sama HRD?” Lukman segera bertanya karena penasaran.


“Kinan ketemu sama seorang wanita namanya Bu Bertha, Ayah. Kinan pamitin Ayah langsung ke beliau. Beliau juga titip salam buat Ayah, katanya terima kasih banyak dan semoga Ayah segera sehat.” Kinanti menyampaikan kalimat pesan Bertha seluruhnya.


Lukman mengangguk paham. Walau wajahnya terlihat sedih ia tetap berusaha tersenyum pada Kinanti. Kinanti duduk mendekat disamping Lukman. Ia memeluk sang ayah dengan hangat.


“Sepertinya Ayah adalah salah satu karyawan terbaik di perusahaan itu karena Kinan liat bu Bertha sangat sedih kehilangan sosok karyawan seperti Ayah.” Ujar gadis itu seraya mengusap-usap punggung Lukman yang membungkuk.


Lukman hanya mengangguk-angguk saja. Ia balas mengusap kepala Kinanti dengan sayang lalu mengecupnya. “Buka suratnya Nak, Ayah penasaran sama isinya.” Lukman memilih mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


“Iya Ayah.” Kinanti mengambil satu amplop dihadapan mereka dan membacanya bersama-sama.


Mereka kompak tersenyum saat ternyata isinya adalah surat undangan dari salah satu Universitas negeri bergengsi. Undangan itu berisi ajakan Kinanti untuk berkuliah disana. Ada beberapa persyaratan yang diminta dan semuanya berisi riwayat akademis Kinanti dari kelas satu SMA hingga saat ini.


“Mau Kinan ambil?” Lukman penasaran untuk bertanya.


“Akan Kinan pertimbangkan dulu Ayah.” Gadis itu memilih tetap bersandar manja pada sang ayah.


Lukman mengambil buku miliknya juga ballpoint, lantas menulis beberapa hal disana lalu menyerahkannya pada Kinanti.


“Seperti apa rencana Kinan selanjutnya? Mau kuliah dijurusan apa? Apa sudah yakin dengan jurusan kedokteran?” Tiga kalimat itu yang ditulis Lukman.


Kinanti mengambil alih buku ditangan Lukman dan ia menjawab pertanyaan sang ayah dengan tulisan juga.


Ternyata menyenangkan saling menulis pesan seperti ini. Kelak Kinanti bisa menyimpan tulisan ini sebagai penyemangat.


“Pilihlah kampus yang terbaik. Yang mencetak dokter-dokter berkualitas dan handal. Kinan udah dapet beasiswa dan tabungan Ayah sudah sangat cukup untuk membiayai hal lainnya diluar biaya pendidikan. Jangan ragu Nak, pilih sesuatu yang paling baik untuk masa depan Kinan. Ayah akan sangat mendukung pilihan Kinan.” Begitu isi tulisan Lukman berikutnya.


Kinanti sampai tidak bisa berkata-kata atas kalimat motivasi yang ditulis Lukman untuknya.


“Terima kasih Ayah, terima kasih banyak. Kinan janji, Kinan gak akan menyia-nyiakan kepercayaan Ayah.” Hanya kalimat itu yang akhirnya diungkapkan Kinanti seraya memeluk Lukman dengan erat.

__ADS_1


Lukman mengangguk mengiyakan. Diusapnya kepala Kinanti dengan sayang lalu ia kecupi beberapa kali hingga gadis itu terkekeh gemas.


“Nan, Kinan lupa gak sama janji Kinan sama Ayah?” Suara serak Lukman tiba-tiba bersuara mengagetkan Kinanti. Bukan karena suaranya tetapi karena isi pertanyaannya.


“Janji apa Ayah?” Kinanti segera menegakkan tubuhnya dengan tatapan panik dan penuh rasa bersalah.


Lukman tersenyum kecil, ditangkupnya wajah Kinanti dan ia usap perlahan. “Kinan udah janji mau ngajak Ayah liburan. Apa nggak jadi? Besok kan hari libur.” Pertanyaan itu yang Lukman lontarkan.


“Oh ya ampun, iya Ayah. Maaf Ayah, Kinan sampe lupa sama janji itu.” Kinanti berujar dengan penuh sesal. Padahal ia sudah membayar biaya booking awal, tetapi terpaksa harus hangus. Untung saja jumlahnya tidak terlalu besar.


“Gimana kalau kita liburan besok. Ayah juga pengen ketemu sama udara segar. Boleh kan?” Lukman bertanya dengan sungguuh. Seperti ia sangat ingin bepergian bersama putrinya.


“Ayah, Kinan nanya dokter dulu yaa….” Kinanti meraih tangan Lukman lalu menggenggamnya dengan erat. “Kinan harus tau dulu cara merawat Ayah saat berada diluar. Nanti kita diskusi juga sama suster, kita tanya baiknya kayak gimana, ya Ayah. Sambil Kinan juga mau nanya ke kak Leon.”


Lukman memandangi Kinanti beberapa saat lantas ia mengangguk pelan. Meski demikian tidak ia pungkiri kalau ia merasa kecewa karena keinginannya menghabiskan waktunya lebih lama dengan bersenang-senang bersama anak kesayangannya mungkin akan sulit terwujud.


“Kala kapan pulang? Kenapa lama sekali?” Tiba-tiba Lukman menanyakan Kala.


“Hehehehe… Ayah kangen ya sama Kala? Kala pulang kok nanti malem. Katanya dia dapet penerbangan terakhir. Sekarang dia lagi nunggu pengumuman akhir, mungkin akan disampaikan beberapa jam lagi.” Kinanti melihat jam ditangannya. Kala memang belum menghubunginya karena sepertinya masih sangat sibuk.


Lukman mengangguk saja, entah mengapa ia merasa kalau ia perlu bantuan Kala untuk mewujudkan keinginannya.

__ADS_1


Ada yang rindu juga sama Kala?


****


__ADS_2