Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Dorongan untuk mendekat


__ADS_3

Sekolah menyambut baik keberhasilan Kinanti sebagai juara satu olimpiade dan mengharumkan nama sekolahnya. Ia tidak pernah menduga kalau sekolah mengadakan acara sebesar ini untuk merayakan kemenangannya.


Di tengah kabar buruk yang menimpa Demian, Yudhistira sang pemilik sekolahpun hadir dan memberikan ucapan selamat. Pria gagah itu berdiri dipodium dan menyampaikan beberapa kalimat sambutan dan ucapan terima kasih pada seluruh siswa dan guru-guru yang tetap berusaha menunjukkan prestasi gemilang di sekolah ini.


“Sekolah ini telah menyediakan kurikulum yang sangat mendukung pengembangan potensi setiap siswanya. Kami juga menyediakan guru-guru yang memiliki kualitas pengajaran terbaik. Saya berharap, hal ini bisa memotivasi seluruh siswa untuk lebih berprestasi lagi,” ucap Yudhistira dengan begitu menggebu-gebu.


Kinanti yang duduk di samping Kala, menoleh sahabatnya yang tampak menyimak pidato Yudhistira. Entah apa yang ada dipikiran remaja itu, yang jelas Kinanti melihat kalau sosok Kala sangat mirip dengan yudhistira yang berdiri dipodium. Banyak kesamaan diantara mereka meski Kala berusaha mengingkarinya. Benar adanya kalau darah memang selalu lebih kental dari air.


Pidato singkat Yudhistira mengunang banyak suara tepukan tangan yang bergemuruh. Terlebih saat pria itu mengatakan kalau ia membuka pintu selebar-lebarnya untuk calon siswa berprestasi yang akan bersekolah disekolah ini tanpa memandang latar belakang sosial dan status ekonominya. Ia meyakinkan kalau ia bersedia mendukung penuh prestasi siswanya dengan banyak program beasiswa.


Kinanti ikut bertepuk tangan menyambut rencana baik Yudhistira. Sementara Kala hanya menunduk lesu tanpa perubahan ekspresi berarti. Dulu ia sangat membanggakan pria itu, tetapi saat ini terlalu banyak kesalahan yang dilakukan Yudhistira dan membuat Kala tidak lagi melihat sosok Yudhistira yang membanggakan dan menjadi panutan untuknya.


“Sebagai apresiasi dari owner sekolah ini pada pemenang olimpiade sciene, kamu persilakan siswi atas nama Kinanti Amelia untuk naik ke atas panggung dan menerima ucapan selamat secara langsung.” Tidak diduga, nama Kinanti dipanggil untuk naik ke atas panggung dan menerima ucapan selamat.


“Kal,” Kinanti langsung menoleh Kala dengan mata membulat penuh keterkejutan. Lihat wajahnya yang bercahaya dan merona diwaktu yang bersamaan, membuat Kala seperti ikut merasakan kebanggan dan kebahagiaan yang saat ini dirasakan Kinanti.


“Pergilah,” ucap Kala.


“Hem.” Kinanti menyahuti dengan semangat. Ia berjalan diantara deretan kursi dengan disambut suara tepukan tangan yang gemuruh.


“Sok cakep banget itu si cupu, pake senyum-senyum segala. Mau tebar pesona dia?” Emili, sahabat Frea yang berkomentar.


“Biarin aja dia senyum sekarang, nanti kita bikin dia nangis darah dipojokan,” ucap Frea yang tersenyum sinis pada gadis yang saat ini berjabatan tangan dengan Yudhistira dan menerima sejumlah hadiah.


“Go Kinanti go! Kamu keren Kinan!! Udah cantik, pinter, baik. Calon mantu idaman om!” seru Riko yang bersorak dari bangku penonton.


“Hahahha….” Suara tawa bercampur dengan suara tepukan semakin keras bergemuruh terlebih dari para remaja pria. Mereka berbisik-bisik mengomentari sosok cantik yang berdiri dengan anggun dan mempesona. Kinnati sudah menjadi bintang dimata para guru dan siswa yang mengidolaknnya.


“Dih, apaan sih?!” Emili berdecik sebal melihat respon para remaja pria yang menurutnya berlebihan. Yang sirik itu memang selalu ada.


“Lebay!” timpal genk Frea lengkap dengan ekspresi meledek.


Kala yang mendengar sorakan teman-temannya, hanya tersenyum kecil. Sahabatnya itu memang bisa saja menghidupkan suasana. Tidak lupa ia mengambil beberapa foto yang kemudian ia kirimakan pada Lukman. Pria paruh baya itu tersenyum haru melihat foto yang ia terima dari Kala.

__ADS_1


“Liat Bu, anak kita hebat dan membanggakan,” gumam Lukman seraya mengusap wajah Kinanti yang begitu cantik saat tersenyum.


****


Keluar dari aula, suasana hati Kinanti masih berbunga-bunga. Kala mengajak Kinanti mengambil beberapa foto sambil memegangi medali yang ada dilehernya. Mereka berfoto di salah satu sudut sekolah dengan dinding berwarna warni hasil kreasi para siswa.


“Kal, foto berdua dong.” Kinanti menarik tangan Kala agar mendekat padanya. Tanpa penolakan, remaja itupun segera mendekat pada Kinanti. Mereka mengambil foto berdua dengan berbagai ekspresi yang menggemaskan.


Sekali waktu Kala mengangkat tubuh Kinanti dengan satu tangannya, satu tangan lainnya mengontrol kamera untuk mengabadikan moment indah itu.


“Ahahahahaha….” Mereka tertawa bersamaan dengan tingkah random mereka sendiri.


“Aku berat gak sih Kal?” tanya Kinanti dengan penasaran. Urusan bobot badan memang selalu sensitif bai kaum hawa.


“Enggak.” Kala menjawab dengan cepat.


“Beneran?” Kinanti menatap Kala dengan tidak percaya. Ya memang begitu, dijawab jujur salah, apalagi kalau berbohong.


“Kalau gak bohong, liatnya ke aku dong, jangan ke hape mulu!” protes Kinanti sambil menutup layar ponsel Kala.


“Iyaaa,” Kala segera menoleh Kinanti dan menatap lekat wajah cantik itu. “Kamu gak berat kok.” Ia mengulang kalimatnya dengan penuh kesungguhan.


"Awas kalo bohong." Kinanti muncubit gemas hidung Kala yang bangir, membuat remaja itu tersenyum tipis.


Entah mengapa, tiba-tiba saja keduanya terdiam. Mereka saling bertatapan dengan perasaan yang entah. Kinanti menantang Kala untuk menatapnya agar terlihat apa Kala benar-benar berkata jujur atau hanya ingin membuatnya senang. Tapi nyatanya, saat Kala benar-benar menatapnya, perasaannya malah jadi tidak menentu. Wajahnya sampai bersemu kemerahan.


“Gimana, apa udah percaya?” Kala semakin mendekatkan wajahnya pada Kinanti dan mata gadis itupun membola kaget.


“I-iya, aku percaya.” Kinanti segera membuang mukanya.


“Sekarang kamu yang bohong, kamu gak berani natap aku.” Kala menantang balik.


“Aku gak bohong!” Kinanti segera menoleh pada Kala yang tengah memandanginya. Kibasan rambutnya yang tiba-tiba membuat sebagian wajah kinanti tertutupi oleh helaian rambutnya sendiri.

__ADS_1


“Oh ya?” Kala iseng menggodanya. Ia menyentuh rambut Kinanti dan menyibak helaian rambut yang menutupi sebagain wajah Kinanti lalu menyelipkannya disela telinga Kinanti. Harusnya setelah itu tangan Kala segera turun. Namun, tatapan Kinanti terasa seperti memiliki muatan sihir yang menariknya dan membuat Kala enggan memalingkan lagi wajahnya.


“Selamat, kamu yang terbaik,” ucap Kala dengan lirih.


Tanpa sadar, tangan kanannya menangkup sisi kiri wajah Kinanti yang bersemu kemerahan, lalu mengusapnya lembut dengan ibu jari. Gadis itu tersenyum dengan penuh pesona. Entah dorongan dari mana yang membuat Kala terus mendekatkan wajahnya pada Kinanti. Mungkin karena tatapan mata Kinanti yang bening telah membuatnya merasa tenggelam hingga ia semakin mendekat dan dekat lagi.


Diluar dugaan, Kala tiba-tiba mengecup lembut bibir Kinanti yang tipis dan berwarna merah muda. Mata Kinanti dan Kala sama-sama membola kaget saat sensasi lembut dan hangat itu dirasakan keduanya. Kaget bukan kepalang sampai jantung keduanya berdebar kencang seperti ada jutaan volt listrik yang menyengat jantung mereka.


Hanya beberapa detik saja kecupan itu berlangsung. Mereka segera tersadar atas apa yang baru saja terjadi dan segera menarik tubuhnya menjauh satu sama lain. Suasana berubah kikuk.


“Ki-Kinan, tadi,” Kala berusaha menjelaskan.


“Sst! Diem!” Kinanti tidak ingin membahasnya. Ia masih sangat malu dengan apa yang terjadi diantara mereka. Lihat saja wajahnya yang merah seperti kepiting rebus. Ia ingin segera pergi tapi saat berbalik, yang ia hadapi adalah dinding sekolah.


“Akh sial!” dengkusnya. Rasa gugup membuat ia tidak fokus. Ia terpaksa berbalik menghadap Kala dan tanpa sepatah katapun ia pergi bergitu saja, sambil berlari kecil untuk bersembunyi di balik dinding yang lain agar tidak terlihat oleh Kala.


“Astaga, tadi aku sama Kala ngapain?” Kinanti bergumam sendiri sambil memegangi dadanya yang masih berdebar kencang dan bibirnya yang terasa hangat dan lembut saat bertemu dengan bibir Kala yang mengecupnya.


“Aakkhh, kenapa otak aku isinya muka Kala semua?” Kinanti memejamkan matanya rapat-rapat sambil memukul-mukul kepalanya sendiri. Ia ingin mengusir bayangan wajah Kala yang menatapnya lekat, teramat dalam sebelum kemudian kecupan manis itu ia dapatkan.


“Aakkhh, aku malu.” Kinanti menangkup wajahnya sendiri yang merah. Tangannya sampai dingin karena gugup.


“Aku harus gimana kalau ketemu Kala lagi,” gumam Kinanti seraya menjejak-jejakan kakinya di lantai. Ia tidak bisa membayangkan pertemuan mereka berikutnya akan seperti apa setelah hal itu terjadi.


Ditempatnya, Kala masih tersenyum sendiri saat mengingat kembali apa yang baru saja terjadi antara ia dan Kinanti. Sebuah ciuman pertama antara ia dengan gadis yang sangat ia sayangi. Jantungnya masih berloncatan saat mengingat moment yang terasa sakral untuknya dan Kinanti. Ia bisa mengingat bagaimana kagetnya ia dan Kinanti.


Kala mengatupkan bibirnya sendiri, ia masih merasakan sensasi manis dan hangat dibibirnya. Entah apa yang Kinanti rasakan saat ini yang jelas ia keduanya seperti baru saja mentautkan hati mereka dengan lebih dekat dan dalam.


“Dia marah gak ya? Apa kesel?" Kala bertanya pada dirinya sendiri. Akh, kenapa ia jadi semakin gundah begini?


"Maafkan aku Kinan, karena semuanya terjadi begitu saja, tapi kalau hal itu merugikanmu, maka aku akan bertanggung jawab,” gumam Kala seraya memandangi sosok Kinanti yang bersembunyi dibelakang dinding. Kala masih bisa melihat ujung lengan seragam Kinanti yang tidak tersembunyi seluruhnya. Sepertinya Kinantipun merasakan hal yang sama dengannya, gugup dan berdesir diwaktu yang bersamaan.


****

__ADS_1


__ADS_2