Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Kunjungan pagi


__ADS_3

Pagi ini, Kala sudah tiba di rumah Kinanti lebih pagi dari biasanya. Tidak hanya itu, remaja ini juga datang dengan menggunakan mobil karena membawa bekal makanan. Kinanti yang membukakan pintu melongo kaget melihat kedatangan Kala sepagi ini. Padahal biasanya ia harus menelpon Kala supaya remaja itu mau bangun. Itupun sangat sulit, harus beberapa kali. Lalu pagi ini, bagaimana bisa Kala semandiri ini?


“Pagi.” Kala menyapa lebih dulu, wajahnya terlihat segar dengan senyum mengembang dan menunjukkan lesung pipinya.


“Pagi,” sahut Kinanti. Gadis belia itu melihat jam di dinding dan baru jam setengah enam pagi. Ia bahkan masih mengenakan piyama dan baru akan menyiapkan sarapan.


“Aku masuk ya. Aku udah bawa sarapan, jadi kamu gak usah masak.” Kala masuk ke dalam rumah dengan semangat. Melewati Kinanti yang masih mematung di depan pintu dan tidak menahannya. Ditangannya Kala membawa satu rantang makanan yang entah apa isinya.


“Kemarilah. Siapkan ini untuk sarapan.” Kala memanggil Kinanti yang masih mematung kaget.


“Kamu bangun jam berapa, Kal?” Kinanti menatap Kala dengan bingung. Ia menghampiri remaja laki-laki yang sibuk berusaha membuka rantang yang dibawanya.


“Jam setengah lima pagi,” sahutnya dengan enteng. “Aku gak tau cara bukanya, Kinan. Tolong bantu aku.” Ia menyerah dan memberikan rantang itu pada Kinanti.


Kinanti tidak menimpali, ia hanya memandangi Kala sementara tangannya berusaha membuka kaitan rantang. Masih tidak mengerti dengan apa yang dilakukan sahabatnya.


“Okey, cukup. Sekarang pergilah Bersiap, biar aku yang nyiapin semua makanan ini.” Kala membalik tubuh Kinanti menghadap tangga lalu mendorongnya agar pergi. Kinanti menoleh remaja itu, “Udah, pergi sana. Nanti kita bisa kesiangan.” Kala mengibas-ibaskan tangannya untuk mengusir Kinanti agar segera meneruskan langkahnya menuju kamar.


Walau ragu, akhirnya Kinanti menurut saja. Ia memang masih harus mandi karena ia baru kembali dari warung sayuran di belakang rumahnya. Di anak tangga pertengahan, Kinanti menghentikan langkahnya. Ia memandangi Kala yang sibuk sendiri di dapur, mengambil beberapa alat makan lalu memakai celemek. Lucu menurutnya.


“Mimpi apa dia semalam?” Kinanti bingung sendiri. Namun ia sadar, bukan Kala namanya kalau tidak membuat Kinanti bingung.


“Wah, wangi apa ini? Kok sedap sekali?” Lukman yang baru keluar kamar, mencium aroma enak dari masakan yang sedang disiapkan Kala.


“Pagi, Om,” sapa remaja itu. Ditangannya ia masih memegangi sendok sayur untuk memindahkan sayur ke tempat yang seharusnya.


“Pagi. Kinanti mana, kok malah ngerepotin nak Kala?” Lukman melihat ke arah tangga, putrinya belum turun sementara Kala terlihat sibuk dengan alat makan di tangannya dan beberapa tetesan air sup yang tumpah.


“Kinan siap-siap dulu Om. Om duduk dulu, bentar lagi kita sarapan.” Satu mangkuk sup ikan diletakkan oleh Kala dihadapan Lukman.


“Wah, siapa ini yang masak, kok wanginya enak sekali?” Lukman membaui makanan yang ada dihadapannya.


“Siapa lagi kalau bukan mba di rumah, Om.” Kala tersenyum senang, karena sepertinya Lukman suka dengan makanan yang ia bawa.


“Waduh, jadi ngerepotin dong.” Lukman dengan perasaannya yang tidak nyaman.


“Nggak dong Om. Kan biasanya Kala yang ikut sarapan sama makan malam di sini, sekali-kali Kala ingin menjamu Om sama Kinanti juga. Lain kali, kita makan langsung di rumah Kala ya, Om.” Remaja itu beralasan. Padahal ia sangat ingin memastikan kalau Lukman makan dengan baik.


“Terima kasih yaa, Om suka sekali dengan makanannya,” ungkap Lukman dengan penuh kesungguhan.

__ADS_1


“Sama-sama Om. Silakan Om makan duluan, kayaknya Kinan juga bentar lagi juga turun.” Saking seringnya ia datang ke rumah ini, Kala sampai tahu jadwal harian sahabatnya termasuk jam Kinanti keluar dari kamarnya.


“Okey, ini makanannya wangi banget. Om gak sabar untuk nyoba.” Lukman menyendok makanannya sedikit dan ternyata rasanya memang sangat enak. Lidahnya yang kebas sudah muli membaik dan begitu senang bosa merasakan cita rasa yang lezat ini.


“Nak Kala duduk lah, kita makan bareng-bareng. Kinan biarin aja nyusul.” Lukman menepuk kursi disampingnya, agar Kala duduk.


"Siap, Om." Kala melepas celemeknya dan segera duduk di samping Lukman. Mereka memulai sarapan mereka dengan nikmat.


Tidak lama berselang, Kinanti turun dengan pakaiannya yang sudah rapi. Ia duduk di tempatnya sambil memandangi Kala dan Lukman yang tampak asyik menikmati sarapannya.


“Makanlah, Nak. Supnya sangat enak. Nanti Ayah akan belajar bikin sup ikan kayak gini, rasanya gurih dan gak bau amis sama sekali. Kamu pasti suka.” Lukman segera menyodorkan satu piring untuk Kinanti.


“Iya Ayah.” Dengan senang hati Kinanti menikmati sarapannya sambil memperhatikan Kala dan Lukman. Sesekali dua orang itu tampak berbincang santai dan tertawa untuk hal yang remeh. Kala semakin pandai mencari topik pembicaraan dengan Lukman hingga suasana menjadi sangat hidup. Kinanti hanya bisa tersenyum melihat pemandangan indah pagi ini.


Jam berangkat sekolah, Lukman pamit untuk pergi ke kantor. Ia sudah bersiap duduk di balik kemudi dan tengah memanaskan mesin mobilnya.


“Om, hari ini baiknya om pake taksi online soalnya jalanan menuju kantor Om kayaknya bakal macet. Pegel banget nantinya,” hasut Kala saat menghampiri Lukman dimobilnya.


“Memangnya ada apa? Ada demo lagi ya?” Lukman menatap Kala penasaran karena beberapa hari ini ia tidak berangkat ke kantor sehingga tidak tahu seperti apa kondisi jalanan menuju kantornya.


“Ada penambalan jalan yang berlubang, pasti akan cukup macet.” Kala beralasan. Padahal ia tidak mau Lukman kelelahan karena menyetir seorang diri. Kalau ia tawari untuk di antar dan tujuannya rumah sakit, sudah pasti Lukman akan menolaknya.


“Oh gitu. Ya udah, kalau gitu Om coba naik taksi online aja. Ajarin Om cara pesannya.” Lukman menyodorkan ponselnya pada Kala.


“Reject aja, itu pasti dari orang asing. Biasa, suka nawarin pinjaman uang, kartu kredit, menang kuis atau nipu dengan alasan apapun lah. Udah, jangan diladenin mending reject aja.” Lukman bersikukuh.


Kala pun menurut pada perintah Lukman, tanpa Kala tahu kalau nomor itu adalah nomor perawat yang mengingatkan jadwal terapi untuk Lukman. Aplikasi pesan antar sudah terpasang, Kala segera menunjukkannya.


“Nah ini Om, nanti Om tinggal masukin alamat yang mau Om tuju di sini. Misal, nama sekolah Kinan. Tuh, muncul kan? Udah gitu klik tambahkan, baru muncul estimasi waktu sampai, jarak, besaran ongkos sama kondisi jalanannya macet atau nggak,” terang Kala sambil menunjukkan cara kerja aplikasi tersebut.


“Oh iyaa, Om paham. Sini, biar Om masukkan alamat kantor.” Lukman segera meminta ponselnya. Kala pun memberikannya. Sungguh ia ingin melihat alamat apa yang diketik Lukman tapi laki-laki itu menyembunyikannya.


“Okey, katanya bentar lagi drivernya datang. Simple juga yaa, makasih Kal.” Lukman menepuk bahu Kala dengan penuh rasa syukur.


Kala hanya tersenyum seraya menatap lekat Lukman yang kemudian turun dari mobilnya.


“Loh, Ayah gak jadi ke kantor?” tanya Kinanti saat melihat Lukman turun lagi dari mobilnya dan menaruh kunci mobil di dalam rumah.


“Ayah mau naik taksi online, kata Kala takut macet diperjalanan.” Lukman terlihat begitu riang.

__ADS_1


“Tumben, biasanya Ayah gak masalah dengan macet.” Kinanti menatap tidak percaya pada sang ayah.


“Macet itu gak cuma bikin capek fisik, tapi juga mental. Kalau naik taksi online, waktu macetnya bisa kita pake untuk menyegarkan tubuh dan beristirahat.” Kala yang memberi alasan.


“Bener! Om sekarang udah tua, pengen yang simple-simple aja.” Lukman ikut menimpali.


“Kompak banget sih jawabannya, saling iya-iya aja. Kayaknya Kala makin ngerti Ayah dan Kinanti jadi ada saingan buat merhatiin Ayah.” Kinanti bersidekap sambil mengerucutkan bibirnya dengan kesal.


“Hahahahha… mana ada. Gak ada istilah saingan. Kalian berdua sama-sama Ayah sayangi dengan porsi masing-masing. Jadi, gak usah cemburu. Okey?” Lukman berusaha menghibur putrinya. Ia mengusap kepala sang anak dengan penuh kasih sayang.


“Denger tuh.” Kala mencolek hidung Kinanti yang bangir.


“Ish Kala! Kebiasaan, nanti aku bersin,” protes Kinanti seraya menepis tangan Kala.


“Nggak lah, orang tangan aku ini bersih. Wangi lagi. Coba aja cium.” Kala menempelkan tangan lebarnya ke hidung Kinanti.


“Iiihhh, Aayaahh. Kala nih!” Kinanti kesal sendiri sementara Lukman dan Kala hanya tertawa. Menjahili Kinanti hingga merengek manja saja bisa membuat mereka tertawa.


Tidak lama, taksi online yang ditunggu pun tiba. “Udah, Ayah berangkat dulu ya. Hati-hati dijalan. Kal, jangan ajak Kinanti kebut-kebutan.” Pesan Lukman sambil menepuk bahu Kinanti.


“Siap Om!” Kala melakukan hormat singkat.


“Ayah berangkat, Nak. Jangan khawatir kalau ayah pulangnya telat, karena mungkin kerjaan Ayah di kantor akan cukup banyak. Kalau Ayah gak jawab telepon, itupun karena Ayah sedang sibuk. Jangan berpikiran yang macam-macam ya.” Lukman menatap putrinya dengan khawatir.


“Iya Ayah. Jangan terlalu capek yaa. Jangan lupa makan siang dan olahraga tipis-tipis, jangan duduk terus di kursi,” pesan Kinanti.


“Pasti. Daah, Ayah berangkat.” Lukman melambaikan tangannya pada Kinanti dan Kala lalu naik mobil itu dengan perasaan tenang. Akhirnya ada solusi agar ia tidak kelelahan dalam perjalanan.


“Kal, belakangan ini, aku kok sering banget khawatir yaa, sama Ayah. Aku ngerasa Ayah gak terlalu sehat. Tatapannya sering kosong dan sering ngelamun sendiri sambil liatin foto ibu.” Sambil melambaikan tangannya pada Lukman, Kinanti mengungkapkan kegelisahannya.


“Ya, mungkin beliau lagi kangen sama Ibu. Gimana kalau kita ajak ayahmu jalan-jalan akhir pekan ini? Gak usah yang jauh-jauh, yang penting bisa quality time dan mencari penyegaran,” saran Kala.


“Wah ide bagus tuh. Aku cari akh referensi tempat wisata yang deket-deket tapi seru.” Kinanti terlonjak girang.


“Boleh, tapi kita sambil jalan ya. Takut kesiangan. Hari ini kamu ada pemantapan buat olmpiade kan?” Kala mencoba mengingatkan.


“Eh iya, untung kamu ingetin. Ya udah, yuk!”


“Kunci dulu pintunya.” Kala menarik tas Kinanti agar tidak beranjak.

__ADS_1


“Hehehe, iya lupa.” Kinanti hanya terkekeh dan dibalas senyuman oleh Kala. Senyuman yang dipenuhi rasa khawatir baik pada Kinanti ataupun Lukman.


****


__ADS_2