
Dahi para siswa masing-masing mengernyit saat melihat soal ujian yang sedang mereka kerjakan. Emili sambil mengigiti ballpointnya, Kala sambil memutar-mutar ballpointnya dan Riko sambil melototi soal ditangannya yang mulai berbayang dan sesekali berwarna kekuningan. Perutnya juga mual setelah mengerjakan lebih dari 50 soal. Padahal ia sudah sarapan, tetapi karena otaknya di peras maksimal ia sampai keleyengan. Entah ia sanggup atau tidak mengerjakan sisa soalnya.
“Perasaan materi kayak gini belum pernah diajarin. Kenapa tau-tau ada di soal?” Remaja itu bergumam lirih.
Kinanti yang sedang fokuspun melirik Riko yang tampak gelisah. Ya memang seperti itu Riko, apa yang kamu pelajari hari ini tidak menjamin akan itu yang muncul diujian. Soalnya pasti sudah mengalami banyak variasi pengerjaan yang membuat kepala pusing setengah mati.
“Nan, Kinan!” Riko memanggil Kinanti sambil berbisik-bisik. Ia butuh bantuan. Tetapi Kinanti mengabaikannya. Ia sadar pengawas ujian sedang memperhatikannya dan Riko.
“Kinanti, Riko manggil tuh,” ucap Jack yang mendekat pada Kinanti.
"Hahahahaha...." Tawa siswa sekelas terdengar menggema, menertawakan remaja berwajah pucat pasi yang nyaris ketahuan akan mencontek.
“Gak apa-apa Mr Jack. Mungkin Riko cuma butuh penghapus. Nih,” Kinanti menjawab sekenanya. Ia memberikan penghapusnya pada Riko yang memang tidak memilikinya.
“Asem!” decak Riko yang tetap mengambil alih penghapus dari tangan Kinanti. Padahal ia ingin minta jawaban, tetapi karena ketahuan malah dapat penghapus. Untung juga hal itu membuat Jack hanya tersenyum kecil dan percaya pada ucapan Kinanti.
“Okey, yang udah boleh dikumpulin. Waktu kalian cuma lima belas menit lagi.” Jack kembali mengingatkan.
Satu per satu siswa mulai mengumpulkan kertas jawaban dan ini menjadi serangan mental bagi Riko yang belum selesai dengan ujiannya. Banyaknya siswa yang sudah selesai membuat kelas sedikit berisik dan menambah rasa tegang bagi Riko. Terlebih saat melihat Kala, Emili dan Kinanti ikut mengumpulkan lembar jawaban mereka.
“Dasar temen-temen laknat, gak ada kompak-kompaknya. Kepaksa dah gue ngitung kancing!” Riko benar-benar menghitung kancingnya saat memilih jawaban untuk soalnya. Setelah selesai semua ia segera menyusul teman-temannya keluar, entahlah jawabannya benar atau tidak.
“Temen laknat lo emang!” tiba-tiba saja Riko meloncat dan melingkarkan tangannya di leher Kala. Kala yang sedang berbincang dengan Kinanti pun nyaris terjengkang.
“Hhhahaha… rasain. Makanya belajar yang bener, jangan makan mulu!” Kala menyikut sahabatnya.
__ADS_1
“Anjir lo emang. Kalau belajar kan gue suka laper ya, ya wajar gue makan.” Riko beralasan.
“Iya, tapi lanjutin belajarnya, bukan malah molor!” Kala menyahuti dengan sinis.
“Dih si t^i banyak gaya sekarang mentang-mentang otaknya mulai encer lagi.” Riko meninju tangan Kala dan Kala pura-pura kalah.
“Aaahhh….” Ia oleng dan menubruk Kinanti. Pura-pura lemah bersandar di bahu Kinanti yang lebih rendah darinya.
Kinanti hanya terkekeh melihat tingkah dua sahabatnya. Kala dan Riko sampai kaget mendengar suara kekehan Kinanti yang sudah lama tidak mereka dengar.
“Cakep banget sih pacar aku kalo ketawa. Coba ulang, suaranya bikin candu.” Kala merajuk manja.
“Kal, ikhh….” Kinanti mendorong wajah Kala dengan telapak tangan kanannya. Jarak wajah mereka terlalu dekat. Tetapi Kala malah tersenyum, ia rindu pada perubahan ekspresi Kinanti yang menurutnya sangat menarik.
“Hah, pamer terus! Mana sih cewek gue!” Riko jadi gerah sendiri melihat tingkah manis Kala pada gadisnya. Ia mengibas-ngibaskan seragam sekolahnya agar memberi udara pada tubuhnya yang kepanasan.
“Okey, thanks.” Riko lebih memilih menyusul Emili daripada melihat Kinanti dan Kala berpacaran.
“Ke rooftop yuk!” ajak Kala kemudian.
“Ayo.” Kinanti mengiyakannya. Sudah lama juga ia tidak main ke rooftop.
Mereka berjalan bersisian, sesekali Kala ingin meraih tangan Kinanti, tetapi gadis itu selalu berhasil menghindarinya. Sekarang malah ia berlari menaiki anak tangga dan Kala segera menyusulnya. Mereka terengah saat tiba di rooftop. Rasa lelah karena berlari seolah terbayar dengan melihat langit siang yang cerah.
“Udah lama ya, kita gak ke sini.” Kala berdiri disamping Kinanti yang sedang memandangi awan yang berarak.
__ADS_1
“Iya. Lama banget.” Gadis itu menyahuti sambil menengadahkan wajahnya melihat awan putih.
Kala melangkahkan kakinya selangkah ke samping untuk mendekat pada Kinanti lalu kembali berdiri tegak. “Aku seneng denger kamu ketawa kayak tadi,” ucap Kala seraya memandang gadis disampingnya.
Kinanti tersenyum kecil, lantas menoleh Kala yang sedang memandanginya. “Teruslah tertawa seperti itu Nan, karena tawa kamu selalu berhasil membuat duniaku berwarna,” ucap Kala dengan sungguh.
Senyum Kinanti kembali terukir. Binar matanya perlahan kembali dan Kala sangat suka melihat binar itu. “Aku gak akan ninggalin kamu, jadi kamu jangan pernah merasa sendiri.” Kala berujar dengan sesungguhnya, membuat Kinanti mengangguk pelan lantas menoleh remaja di sampingnya. Tentu saja ia percaya pada ucapan Kala karena selama ini Kala memang selalu ada didekatnya.
Kala meraih tangan Kinanti, lalu mengecupnya pelan. Remaja itu juga menarik tubuh Kinanti mendekat, lalu ia peluk dengan erat. “Aku sayang sama kamu, sayaaaaang banget.” Ia tambahkan kalimat manis itu tanpa keinginan untuk melepaskan pelukannya dari Kinanti.
“Makasih Kal, aku juga sayang sama kamu.” Kinanti menimpalinya dengan malu-malu.
Kala melerai pelukannya beberapa saat. Ia menatap wajah Kinanti yang sedikit menengadah padanya. Diusapnya pipi Kinanti dengan lembut lantas mereka sama-sama tersenyum. Ada rasa yang membuncah setiap kali mereka berdekatan pada jarak sedekat ini. Kala semakin mendekatkan wajahnya, menatap lekat sepasang mata yang bening dan menghanyutkan itu.
Perlahan hidung keduanya bertemu, membuat mata Kinanti mengerjap kaget. Ia bisa merasakan hembusan napas Kala yang menerpa wajahnya. Semakin lembut dan lembut lagi sampai kemudian napas mereka berbaur saat Kala mengecup bibir Kinanti beberapa saat.
Keduanya terdiam, menikmati desiran halus yang merambat disekujur tubuh keduanya. Tangan Kinanti perlahan mencengkram rok seragamnya dengan gugup saat Kala tidak hanya mengecupnya tetapi memagut bibir tipisnya. Beberapa saat mereka sama-sama terdiam. Kala melepaskan pagutannya dan membiarkan Kinanti bernapas dengan normal. Mata sejoli itu sama-sama terpejam, menelan salivanya kasar-kasar dengan jantung yang berdebar kencang.
Kala membuka matanya dan ia melihat wajah Kinanti yang memerah. Diusapnya kembali pipi Kinanti dan perlahan gadis itu membuka matanya. Wajah Kala berada tepat dihadapannya. Mereka sama-sama melempar senyum sebelum kemudian Kala memeluknya lagi dengan erat. Sungguh, perasaan keduanya membuncah. Sama membuncahnya dengan perasaan Riko yang menguping pembicaraan Emili dengan mantan kekasihnya.
“Pokoknya, mulai hari ini kita putus. Gue gak mau ada urusan lagi sama lo. Titik!” seru Emili dengan tegas.
Riko tersenyum mendengar sepenggal kalimat milik Emili. Ia menyandarkan tubuhnya di dinding dan merasakan debaran jantung yang luar biasa kencang. Sepertinya perasaannya bersambut, Emili benar-benar menyukainya dan hubungan mereka bukan sekedar candaan belaka. Emili sudah mulai menunjukkan komitmennya kalau Riko sekarang yang utama.
“ YES! YES! YES! Akhirnya gue jadi satu-satunya buat Emili.” Riko berloncatan girang. Beberapa siswa yang melintas menatapnya dengan aneh dan menertawakan Riko.
__ADS_1
"Apaan lo!" Riko langsung mengangkat bogemnya saat tatapan para siswa itu terasa seperti meledeknya. Tetapi masa bodoh, yang jelas sekarang Emili hanya menjadi miliknya. Ban serp sekarang jadi ban utama.
****