
Lukman sudah tersenyum lebar saat ia diperbolehkan pulang pagi ini. Semalam ia memang diharuskan untuk menginap semalam lagi di rumah sakit untuk memulihkan kondisinya pasca chemo. Dan pagi ini, ia sudah benar-benar diizinkan pulang.
Jam sepuluh pagi, kursi roda Lukman menyentuh teras depan rumahnya. Ada rasa berdebar yang tidak biasa saat menginjakkan kembali kakinya di rumah yang menjadi rumah pertama bagi ia dan Kinanti. Jantungnya berdetak sangat kuat melihat bangunan sederhana yang tetap terlihat rapi meski ia tinggalkan lebih dari seminggu lamanya.
Tiba di depan pintu, tangannya sudah berulur hendak memutar handle. Dan saat didorong,
“Surprise….” Seru tiga orang yang menyambut Lukman, Kala dan Kinanti didalam rumah. Ada Demian, Riko dan satu lagi adalah Emili. Kekasih Riko yang berdiri dengan canggung melihat kepulangan Kinanti dan ayahnya.
“Waaahhh ada apa ini?” Mata Lukman langsung membulat ikut kaget. Ada banyak balon di rumah ini dan hiasan-hiasa menarik yang menyambut kedatangan Kinanti dan ayahnya.
“Ini namanya welcome party. Selamat datang kembali di rumah, Om.” Ujar Demian seraya menghampiri Lukman untuk bersalaman.
Lukman tersenyum senang. Lihat matanya yang berbinar melihat penyambutan dari tiga remaja yang belum ia kenal sebaik Kala.
“Ini temen Kinan, Ayah. Ini Demian yang waktu itu ayah pernah ketemu, ini Riko dan ini Emili.” Kinanti sedikit asing dengan gadis ini, karena tidak disangka akan ikut datang ke rumahnya.
Lukman mengangguk ramah juga tersenyum. “Haloo,” hanya itu kata yang keluar dari mulutnya dan sangat serak nyaris tidak terdengar.
“Haloo Om.”Trio party itu mengangguk sopan.
Kinanti tersenyum senang melihat kedatangan Emili ke rumahnya sementara gadis itu tersenyum canggung. Ia ingat bagaimana saat dulu ia membully Kinanti dan membenturkan kepala Kinanti ke dinding toilet sekolah. Kalau mengingat hal itu ia jadi sadar kalau saat itu ia sangat jahat.
“Selamat datang di rumah Ayah. Rumah tercinta kita yang sangat kita rindukan.” Kinanti sedikit membungkuk untuk mengimbangi tinggi Lukman yang duduk dikursi rodanya.
Lukman mengangguk senang dengan mata yang berkaca-kaca. Matanya yang masih sayu, melihat ke sekeliling rumahnya yang begitu ia rindukan. Helaan napasnya terdengar lega. Diusapnya pipi Kinanti sebagai bentuk terima kasih karena gadis itu mau menuruti keinginannya untuk pulang.
“Ayah istirahat dulu yaa, nanti baru kita ngobrol,” bujuk Kinanti.
“Iyaa….” Suara serak Lukman kembali terdengar. Kala mendorong kursi roda menuju kamar Lukman diikuti oleh Kinanti dan seorang perawat yang mereka pekerjakan untuk membantu mengurus Lukman. Terutama memonitor tanda-tanda vital Lukman yang masih perlu pemantauan.
Lukman diantar ke kamarnya, ia melambaikan tangan pada teman-teman Kinanti.
“Selamat beristirahat, Om.” Teman-teman Kinanti kompak berbicara.
__ADS_1
Lukman hanya terangguk sebelum kemudian masuk ke kamarnya untuk beristirahat. Dibantu oleh perawat, Kala dan Kinanti membantu sang ayah untuk berbaring di atas tempat tidurnya. Kala juga menempatkan bell didekat Lukman, sebagai media komunikasi kalau Lukman memerlukan sesuatu.
“Ayah, Kinan sama Kala nunggu di depan ya. Ayah istirahat dulu. Ada suster yang akan nemenin Ayah di sini. Atau kalau Ayah mau manggil Kinan, segera tekan bell ini. Kinan mau nyiapin dulu makanan.” Kinanti mendekatkan bell itu pada tangan Lukman.
Lukman mengangguk mengiyakan. Senyumnya tidak henti terbit merasakan kebahagiaan karena kembali ke rumah. Tangannya bahkan masih mengusap-usap permukaan sprei usang yang sangat lembut dan ia rindukan. Setelah memastikan semuanya nyaman untuk Lukman, dua remaja itupun keluar dari kamar Lukman. Membiarkan pria paruh baya itu beristirahat dibawah pengawasan perawat.
“Ayah keliatannya seneng banget bisa pulang. Iya kan, Kal?” Kinanti bertanya pada remaja disampingnya.
“Iyaa, dari sejak dia turun dari bed RS, mukanya ceria banget. Aku seneng liatnya.” Timpal Kala seraya mengusap punggung Kinanti dan mendaratkan sebuah kecupan dikepala Kinanti.
“Kal,…” lagi Kinanti mengingatkan.
“Hehehe… iya lupa.” Mengecup kepala Kinanti sepertinya sudah menjadi kebiasaan yang sulit dihentikan oleh Kala.
“Sekarang, jaga jarak dulu sama aku. Kamu mulai kebiasaan kayak gitu.” Kinanti sedikit menyikut perut Kala dengan kesal.
“Hehehe okey. Maaf yaa, jangan marah dong.” Kala menangkup kedua sisi wajah Kinanti lalu mengumpulkannya ditengah kemudian membuat bibir gadis itu sedikit mengerucut dengan gemas.
“Kaaalll, nambah lagi kebiasaannya.” Protes Kinanti yang terlihat menggemaskan saat berbicara dengan bibir yang mengerucut itu. Ia memukul tangan Kala agar berhenti menggodanya.
“Pacaran mulu!” protes Riko yang melihat dua remaja itu sedang bermesraan.
Kala tidak menyanggah karena memang seperti inilah bentuk kedekatan ia dan Kinanti. Ia hanya tersenyum kecil pada Kinanti sambil mengacak rambut gadis pujaannya.
“Nan, sorry nih aku ngajak Emili ke sini. Sekalian aku kenalin kalau sekarang dia pacar aku. Gak apa-apa kan?” Riko meminta izin.
“Gak apa-apa. Tapi jadinya kalian bolos sekolah gara-gara bantuin aku. Makasih yah atas kejutannya, ayahku seneng banget.” Kinanti merasa bersalah dan bersyukur di waktu yang bersamaan.
“Iya lah, sama-sama. Ini juga yang rencanain fansboy kamu. Kasian dia, sebenernya dia tuh romantis, cuma jomblo aja. Nanti lah aku sama Kala nyariin pacar buat dia.” Riko menepuk-nepuk pundak Demian seperti mengasihani anak kecil yang cemberut.
“Gak perlu dicariin, gue bisa nyari sendiri.” Demian melepaskan tangan Riko yang ada di pundaknya.
“Ya udah gih nyari. Asal jangan Kinanti sama Emili. Dah, itu aja pesen gue.” Riko memberi semangat pada sahabatnya. Demian hanya mendengus melihat tingkah sahabatnya. Sementara Riko malah terkekeh.
__ADS_1
“Kinan, itu bokap lo tenggorokannya dipasangin alat apa sih?” Emili tiba-tiba bertanya. Ia sangat penasaran.
“Ayaaaang… kok nanyanya begitu.” Riko segera menjeda. Takut Kinanti tersinggung.
“Ya maaf, habis penasaran.” Emili memang tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
“Gak apa-apa Ko. Kan ayah memang dipasang alat dilehernya. Buat bantu beliau bernapas. Tapi sekarang ayahku udah bisa bernapas seperti biasa. Alat itu hanya sesekali aja digunakan kalau memang diperlukan.” Kinanti memberi penjelasan.
Emili mengangguk-angguk paham. “Udah keponya?” Riko kembali bertanya.
“Ish, kok ayang gitu sih. Kan aku penasaran. Dari pada nanti gak bisa bobo?” Emili mengerucutkan bibirnya kesal.
“Iya, iya. Kagak usah cengeng. Di circle ini kamu harus strong yang. Gak boleh manya menye. Kalau ada yang manya menye kita diklat sampe jadi strong.” Riko mengepalkan tangannya untuk menyemangati Emili.
“Iyaa-iyaa….” Emili mengiyakan ujaran kekasihnya.
“Ya udah, kalian lanjut ngobrol aja yaa, aku mau bikin makanan dulu.” Kinanti pamit undur dari perbincangan.
“Cewek aku mau bantuin. Sana yang!” Riko memberi perintah pada Emili.
“Gak usah, kalian ngobrol aja.” Kinanti jadi tidak enak.
“Gak apa-apa, sekali-kali gue bantuin lo. Lagian anak cowok punya obrolan sendiri kali.” Emili yang langsung menimpali.
“Oooh ya udah. Makasih ya.”
“Hem, sama-sama.” Sedikit canggung tetapi Emili mulai menikmati kebersamaannya dengan Kinanti. Sedikit demi sedikit ia mulai memahami mengapa Kinanti banyak disukai oleh orang-orang disekitarnya, karena gadis ini memang menarik.
Saat itu anak laki-laki berkumpul diteras belakang sementara Kinanti dan Emili pergi ke dapur.
“Mau masak apa kita?” tanya Emili yang penasaran.
“Em, karena bahannya terbatas, paling bikin sayur sop aja, sama tempe goreng.” Sahut Kinanti seraya melihat isi kulkas. Emili hanya mengangguk sepertinya ia harus menyetujuinya saja. Ia tidak pandai memasak, tahu nama bumbu saja tidak. Jadi semua terserah Kinanti saja.
__ADS_1
****