
Merasa begitu malu karena menjadi pusat perhatian dan bahan cibiran, Kinanti memutuskan untuk pergi dari Kantin. Ia berjalan cepat menuju rooftop dan meninggalkan Kala, yang tertinggal jauh dibelakang. Ia malas mendengar cibiran dan sindiran dari Frea dan teman-temannya yang hanya membuat perasaannya tidak nyaman.
“Nan, Kinan. Tunggu dong. Kok jalannya cepet banget.” Kala memperlebar langkahnya demi menyusul Kinanti yang sudah sampai tangga menuju rooftop. Kinanti enggan untuk berhenti, ia masih malu dengan tatapan dan cibiran teman-temannya. Ia ingin segera bersembunyi.
“Kinaaann, kok aku dicuekin sih.” Kala melangkahi dua anak tangga sekaligus demi bisa menyusul Kinanti lalu berdiri mematung dihadapan Kinanti. Gadis itu memang berhenti, tetapi tidak menimpali apalagi menatap Kala. Ia tetap berusaha melewati Kala. Saat Kinanti ingin lewat sebelah kiri, Kala bergerak ke kiri, saat Kinanti ingin melewati sebelah kanan, Kala bergerak ke kanan.
“Kal, permisi dong, aku mau lewat.” Kinanti mengeram kesal. Kala melihat jelas kalau Kinanti sedang marah.
“Boleh, tapi jangan marah dong.” Kala akhirnya memberi jalan pada Kinanti.
Gadis itu tidak menyahuti dan tetap melanjutkan langkahnya hingga sampai ke rooftop. Ia butuh udara segar.
“Kinan, kamu serius marah?” Kala segera menahan tangan Kinanti, tetapi Kinanti mengibaskannya dan memilih bersidekap.
“Iyaa! Kamu kenapa sih ngomong kayak gitu didepan temen-temen?” Kinanti menyalak tidak terima.
“Ya, emang kenapa? Kita kan emang pacaran. Kita udah ungkapin perasaan masing-masing dan sepakat buat sama-sama. Bukanya itu namanya ikrar pacaran ya?” Kala dengan wajahnya yang polos.
“Iyaa, tapi gak perlu sampe pengumuman di kantin juga kali, Kal. Itu privasi kita, kenapa sih harus diumbar?” Kinanti menatap Kala tidak mengerti.
"Tapi cewek lain pengen banget loh di spill sama cowoknya, apalagi kalau cowoknya sekeren aku." Kala menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia memang terlalu exciting dengan perasaannya sampai ingin memamerkannya pada semua orang. Kalau perlu seluruh dunia tahu bahwa Kinanti adalah kekasihnya, miliknya.
“Lagian, biar mereka juga berhenti.” Kala menambahkan alasan lain.
“Berhenti apanya?” Kinanti semakin tidak mengerti.
“Berhenti ngirimin kamu surat cinta.” Suara Kala terdengar pelan.
__ADS_1
“Ngirimin surat cinta? Siapa? Aku gak pernah nerima surat cinta.” Kinanti sampai tidak habis pikir. Ada-ada saja alasan Kala.
Kala tidak menyahuti. Ia mengambil sebuah kotak yang ia taruh di belakang tenda lalu menunjukkannya pada Kinanti. "Nih,"
“Ini apa, Kal?” Kinanti menatap tidak mengerti.
“Kamu buka aja sendiri.” Kala memberikan kotak itu pada Kinanti. Kinanti segera menerimanya dan membawa kotak itu duduk diatas karpet. Saat dibuka, benar saja isinya adalah surat cinta dengan berbagai warna kertas dan beragam tulisan.
“Hah, ini buat aku?” Mata kinanti membola kaget. Ia tidak menyangka ada surat cinta sebanyak ini untuknya. Farid, Michael, Ray, Rio, Fauzan dan entah siapa lagi pengirimnya.
“Iyaaa, fans kamu banyak banget. Adek kelas yang bau kencur aja sampe berani ngirimin kamu surat cinta.” Wajah Kala berkerut tidak suka, ternyata remaja garang ini bisa merengek manja juga.
“Kal, asli, aku gak tau kalau surat ini ada. Kamu dapet dari mana?” Antara ingin tertawa melihat bibir Kala yang mengerucut dan kaget karena tidak pernah menyangka hal ini.
Kala tidak menjawab, ia hanya memandangi wajah Kinanti dengan sedih. “Kal, cerita dong! Kok malah diem. Aku kan kepo?” Kinanti mengguncang tubuh Kala agar mau bercerita.
“Aku gak suka liat kamu kesenengan gitu,” imbuh remaja itu dengan tatapan sendu.
“Astaga, siapa yang kesenengan?” Kinanti melengos, membuang mukanya dari Kala. Ia berusaha menyembunyikan senyumnya dan menahan rasa gemas melihat ekspresi Kala. Bukan karena mendapat banyak surat cinta.
“Tapi aku penasaran, Kal. Karena aku gak pernah nerima satupun surat cinta itu.” Kinanti benar-benar penasaran. Terpaksa ia menatap lagi wajah Kala yang berada dibawah wajahnya.
“Okey, aku cerita. Tapi kamu janji, jangan nyari tau yang mana aja cowok yang ngirimin kamu surat cinta.” Kala menawarkan sebuah kesepakatan.
“Iyaa, aku gak akan kepo nyari tau yang mana orangnya. Aku cuma pengen tau gimana caranya surat-surat itu bisa sampe ke kamu.” Kinanti menyetujuinya. Ia juga menaruh tangannya diatas kepala Kala lalu mengusap rambut Kala dengan lembut agar remaja itu tidak gelisah.
Kala menarik napasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya kasar. Berat sekali sepertinya beban cemburu yang ia pikul. Kinanti sampai mencubit pipi Kala yang menurutnya menggemaskan. Banyak memang persiapannya sampai harus mengatur napas begitu, hanya untuk menceritakan tentang surat cinta.
__ADS_1
“Surat cinta pertama, aku temuin diatas kursi kamu. Itu dua hari setelah kamu pindah ke sekolah ini. Awalnya aku risih aja ada yang begitun di kelas, terus aku ambil dan aku masukin ke dalam kotak ini. Aku gak mau liat kamu mesem-mesem kesenengan dapet surat cinta.” Kala memulai ceritanya.
“Jahat kamu, Kal!” Kinanti mencubit lagi pipi Kala sambil terkekeh. Kala ikut terkekeh dan meraih tangan Kinanti lalu menaruhnya diatas dadanya. Kinanti bisa merasakan debaran jantung Kala yang berdegub kuat.
“Aku pikir cuma satu surat itu yang bakalan datang, tetapi ternyata setiap harinya ada aja yang bernyali ngirim surat cinta sama kamu. Akhirnya, aku putusin nyuruh petugas kebersihan buat ngambilin surat cinta itu dan dikasihin ke aku. Enggak tau udah berapa surat cinta yang kamu terima dan aku taruh di situ.” Kala melirik kotak menyebalkan yang menjadi saingannya.
“Aku rasa, aku suka sama kamu sejak kita pertama ketemu. Jadi, setelah hari ini, aku mau mereka berhenti melakukan hal gila dengan memuja kamu diam-diam. Aku mau, kamu cuma jadi milik aku, sampai kapanpun dan selamanya,” tutur Kala dengan penuh kesungguhan. Ia menengadahkan wajahnya demi melihat wajah Kinanti yang bersemu merah di atas kepalanya.
“Kamu harus tau kalau aku melakukan ini buat kamu loh, biar mereka gak ganggu waktu belajar kamu. Langkah aku udah bener kan, Kinan?” Kala menatap Kinanti dengan lekat. Kinanti tidak menjawab, ia hanya tersenyum dan mengangguk, mengiyakan ucapan Kala.
Sekali waktu, Kala mengangkat kepalanya lalu mengecup dahi Kinanti dari bawah. Tidak hanya sekali melainkan dua dan tiga kali. Kinanti sampai melongo karena kaget dengan tingkah Kala. Tingkah impulsive Kala selalu berhasil membuat jantungnya berdebar kencang tidak karuan.
“Aku sayang kamu, aku gak pernah mau membiarkan kamu membagi perhatian dengan laki-laki lain, kecuali ayah.” Kala berusar dengan penuh ketegasan. Lihat tatapannya yang lekat dan mendalam.
"Ya, cuma kamu sama ayah aja." Lagi Kinanti mengangguk dan tersenyum. Ia mengusap kepala Kala dengan sayang, lalu mengecupnya. Kala tersenyum bangga, karena saat ini Kinanti hanya miliknya seorang.
“I love you,” bisik Kala dengan penuh kesungguhan. Ia menatap Kinanti beberapa saat sampai kemudian ia memejamkan mata dan menikmati desiran perasaan yang menjalar disekujur tubuhnya.
Kinanti hanya terpaku. Kalimat Kala terlalu dalam dan menyentuh hingga ia tidak bisa berkata-kata. Kala membuka lagi matanya, lalu bangkit dari tempatnya. Ia menangkup satu sisi wajah Kinanti dan menatap sepasang mata yang berkaca-kaca itu dengan hangat.
“Untuk kalimat yang satu itu, kamu boleh menjawabnya saat kita dewasa nanti. Aku akan menunggunya, Kinan.” Suara Kala terdengar pelan, tetapi penuh ketegasan dan ketenangan diwaktu yang bersamaan. Ini yang ia rasakan saat ini dan ia berjanji akan memupuk perasaan ini setiap harinya sampai kelak mereka sama-sama dewasa.
“Mau menjadikan ini rahasia berdua denganku?” Kala mengacungkan jari kelingkingnya pada Kinanti.
“Ya,” Kinanti membalasnya dengan penuh keyakinan. Ia mentautkan jari kelingkingnya dengan Kala, lalu Kala mengecup pertautan dua jari kelingking itu dengan lembut dan mengakhirinya dengan senyum terkembang.
Ini rahasia berdua, kedua yang Kinanti buat dengan Kala.
__ADS_1
****