
Ruang perawatan Demian tidak lagi sepi. Ruang VIP itu tidak lagi exclusive. Sejak jam istirahat, entah sudah berapa orang yang berramai-ramai datang untuk menjenguknya.
Demian yang berstatus sebagai putra sambung Yudhistira, sang pemilik sekolah, membuat remaja itu didatangi banyak tamu yang penasaran dengan keadaannya.
Entah memang peduli pada Demian atau hanya ingin menunjukkan kepeduliannya di mata Yudhistira, para guru pun ikut datang untuk menjenguk. Padahal biasanya saat ada siswa yang sakit, cukup perwakilan guru dan teman sekelasnya saja yang datang. Tapi kali ini hampir semua guru datang untuk menjenguk.
“Kamu merasa terganggu, Nak?” tanya Imelda yang melihat ketidaknyamanan putranya. Sejak jam istirahat tadi, Demian belum bisa beristirahat. Makan pun hanya sedikit karena tidak enak ada tamu yang bergantian menemuinya.
“Aku bosen Mah. Boleh turun gak? Pegel tiduran terus.” Demian terlihat jenuh dengan kondisinya yang diharuskan bedrest. Keluhan pusing di kepalanya membuat dokter khawatir akan cedera kepala ringan yang di derita Demian karena tendangan salah satu pelaku di kepalanya.
“Emang udah gak pusing?” Imelda memandangi putranya dengan khawatir.
“Udah membaik. Aku pengen duduk, bosen baringan terus.”
“Ya udah, Mamah minta bantuan perawat dulu ya.”
“Iya Mah.”
Imelda menekan tombol merah yang ada di samping tempat tidur Demian dan tidak lama seorang perawat datang menghampiri.
“Ada yang bisa di bantu, Bu?” tanya perawat dengan ramah.
“Ini sus, anak saya pengen duduk katanya. Apa udah boleh?”
“Oh, sudah boleh Bu. Pasti pegal ya badannya? Udah gak pusing kan?”
Perawat itu mendekat dan mengatur remote control yang ada di ujung kaki Demian.
“Nggak. Badan saya pegal, kalau boleh, saya mau turun dan sedikit berjalan-jalan,” pinta Demian.
“Kalau duduk boleh, tapi untuk turun, saya konsultasikan dulu ke dokter yaaa….”
Perawat itu menekan tombol di remote dan tidak lama bagian tubuh atas Demian pun terangkat.
“Apa sudah cukup nyaman?”
“Ya, sudah cukup.” Demian mengangkat tangannya sebagai isyarat cukup.
“Baik, tunggu sebentar yaa, saya konsul dokter dulu. Hasilnya, akan saya informasikan kemudian."
“Iya, sus, terima kasih.” Imelda menyahuti.
Perawat itu pun pergi, meninggalkan Demian berdua saja dengan ibunya.
“Gimana, apa cukup nyaman?” Imelda duduk di tepian ranjang Demian. Ia menggenggam tangan sang putra lalu mengusapnya dengan lembut.
“Iya, udah mendingan Mah.”
__ADS_1
“Syukurlah,” Imelda mengusap kepala Demian dengan sayang.
Demian terdiam beberapa saat, berulang kali ia melihat jam di dinding lalu menghembuskan nafasnya kasar.
“Kenapa, ada yang kamu tunggu?” Imelda bisa melihat air muka Demian yang gelisah.
“Nggak Mah, gak ada kok.” Demian tersipu malu, sepertinya kaget sang ibu bisa membaca kegelisahannya.
“Kinanti, apa kamu nunggu dia datang ke sini?” Imelda tidak berhenti menyelidiki.
Demian kembali tersenyum lalu memalingkan wajahnya seraya menghembuskan nafasnya kasar. Imelda mengerti benar kegundahan Demian yang menunggu satu-satunya orang yang belum datang.
“Cerita sama Mamah, Kinanti itu orangnya seperti apa?” Imelda semakin penasaran.
“Mah, udah akh. Kok jadi nanya-nanya tentang Kinanti sih?” Demian tersipu malu, kulit wajahnya yang putih tampak memerah.
“Loh, emang gak boleh? Mamah juga dulu kelas satu SMA udah punya pacar. Dia ketua osis di sekolah Mamah. Anaknya pinter dan sopan banget. Kacamatanya tebel karena rajin belajar. Setiap hari, Mamah gelisah kalau gak liat dia di sekolah.”
Imelda tersenyum kecil mengulang memori zaman putih abu. Sekalian memancing putranya untuk bercerita.
“Punya temen deket di masa SMA itu boleh kok. Baik Mamah ataupun Papah gak akan ngelarang. Asal kamu tau Batasan. Ingat, bagaimanapun dia seorang putri yang berharga untuk orang tuanya. Orang tuanya tidak akan rela kalau kamu menyakiti dia baik secara fisik, mental ataupun psikologis. Masa depan kalian juga masih sangat panjang.”
“Kalau kamu bisa menjaga itu, Mamah gak masalah kamu ngenalin seorang anak gadis sama Mamah. Siapa tau bisa jadi temen sama Mamah.” Imelda berujar dengan penuh kesungguhan. Ia juga tidak mau kalau Demian hanya memikirkan pelajaran saja.
“Iya Mah, kalau nanti aku udah yakin, aku kenalin langsung sama Mamah.”
“Okey. Jadi, Kinanti atau bukan nih?” Imelda kembali menggoda putranya.
Tok tok tok!
Suara ketukan di pintu mengalihkan pembicaraan ibu dan anak itu. Mereka segera menoleh dan tersenyum pada sosok gadis cantik yang muncul di balik pintu.
“Siang Tante, Demi….” Sapa seorang gadis yang tidak lain adalah Frea.
“Freaa….” Imelda segera menyambutnya.
“Apa kabar Tante? Maaf nih aku baru nengokin Demi.” Ia merangkul Imelda yang ramah menyambutnya.
“Ya gak apa-apa. Kan kamu juga sekolah.” Imelda mengusap punggung Frea dengan lembut lantas melerai pelukannya.
“Ngomong-ngomong tambah cantik aja ini Frea,” puji Imelda seraya mencubit lembut pipi Frea.
“Hehehehe… makasih Tante. Tante bisa aja. Gimana kabar Demi, Tan? Udah membaik kan lo, Dem?” Frea menatap Imelda dan Demian bergantian.
“Udah baikan. Udah duduk dan katanya udah pengen jalan-jalan,” timpal Imelda yang di angguki Demian.
“Syukurlah. Gak ada Demi, aku gak ada tempat nyontek tante. Mana ujian tadi susah banget lagi.” Frea mengerucutkan bibirnya kesal.
__ADS_1
“Makanya belajar! Ngemall mulu!” timpal Demian.
“Dih, kebutuhan kali!” Frea balas menyahuti.
Imelda ikut tersenyum melihat interaksi Demian dan Frea yang terlihat akrab.
“Frea, tante tinggal sebentar ya. Tante mau ke depan dulu, ada yang harus di urus.” Imelda berusaha memberi waktu untuk Demian dan Frea. Mungkin dengan perbicangan ringan tentang sekolah, Demian bisa semangat untuk segera sembuh.
“Oh iya Tante, Demian biar aku temenin.”
“Okey, makasih ya. Dem, Mamah tinggal bentar ya. Baik-baik sama Frea, jangan diledekin,” pesan Imelda sambil mengacungkan telunjuk bernada ancaman pada sang anak.
“Iyaa.” Demian tersenyum kecil melihat tingkah ibunya. Tadi Kinanti yang ia dukung, sekarang Frea. Hah, ibu-ibu memang suka repot sendiri.
Sepeninggal Imelda, Frea menarik kursi untuk duduk di samping Demian, “Gimana cewek kampung itu, udah terpesona sama lo?” tanya Frea yang penasaran.
“Terpesona apanya? Lo gak liat muka gue babak belur gini?” Demian menunjuk wajahnya yang memar-memar dan masih terasa sakit.
Frea terkekeh kecil. “Ya sorry, itu karena preman-preman itu emosi gara-gara gebetan lo nyemprotin merica atau lada gitu ke muka mereka. Otomatis lah mereka kesel dan akibatnya lo ikut di hajar. Mereka minta gue sampein permohonan maaf sama lo.”
Frea berujar dengan penuh sesal. Ia pikir rencananya bersama Demian akan berjalan lancar tapi ternyata malah berakhir di rumah sakit. Padahal ia hanya ingin mengerjai Kinanti dan membuat Demian muncul sebagai ksatria yang menyelamatkannya. Tapi ternyata, usaha mereka gagal.
“Sorry apaan, Kinanti udah laporin preman itu ke polisi semalem.”
“HAH, LAPOR POLISI?!” Frea benar-benar kaget.
“Iya, semalem dia langsung lapor ke polisi, bawa hasil visum segala.”
“TERUS LO BIARIN GITU AJA?! KENAPA GAK LO LARANG?!” suara Frea makin meninggi.
“Mau gue larang gimana, orang dia pergi pas gue tidur. Gue juga baru tau pas dia balik lagi ke sini bareng Kala.”
“Terus lo diem aja? Lo malah gak ngabarin gue. Gimana kalau preman itu ketangkap dan mereka bilang kalau gue yang nyuruh mereka? Lo mikir gak sih Demi?!” Frea berujar dengan kesal.
“Ya sekarang kan gue udah ngabarin lo. Gue juga cedera dan gak bisa ngelakuin apa-apa. Makan aja gue disuapin.” Demian ikut berkeluh kesal.
“Akh, tau akh! Lo emang gak bisa diandelin! Pokoknya kalau preman itu sampe ngomong yang macem-macem dan nama gue terseret, gue juga bakal nyebut nama lo. Enak aja kalau sampe gue doang yang harus tanggung jawab!” gerutu Frea sambil mencari ponselnya di dalam tas.
“Mana lagi nih hape!” dengusnya dengan kesal.
“Cek saku lo.”
Frea pun menurut dan benar saja, ponselnya ada di dalam saku.
“Makanya jangan panikan. Lo suruh aja itu preman kabur ke luar kota buat sementara waktu. Ganti juga plat nomor motornya soalnya Kinanti ngelaporin plat nomor mereka dan nyebutin ciri-ciri preman itu ke polisi sampe di bikin sketsa mukanya,” urai Demian dengan tenang. Ia memang tidak terlalu panik karena ia bisa saja mengaku tidak terlibat dengan Frea dan hanya sebagai korban.
“Brengsek emang tuh anak kampung, nyusahin aja. Lo lagi, suka sama cewek begituan. Nyari yang berkelas dikit napa? Jangan yang dikit-dikit maen lapor polisi, lapor guru. Huh, gak mutu!” cerocos Frea tidak terima.
__ADS_1
Demian hanya terdiam, ia tidak peduli pada ocehan Frea. Ia hanya tahu kalau ia sedang menunggu gadis itu.
****