Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Makan malam


__ADS_3

Sore itu, Kala benar-benar mengajak Kinanti ke rumahnya, untuk pertama kali. Rumah yang sangat besar dengan halaman yang luas. Ukiran berwarna gold di kedua tiang teras rumah, seolah menegaskan megahnya rumah yang Kala huni berdua dengan ibunya dan beserta para pelayan. Halaman depannya juga sangat luas dengan suasana yang rindang dan sejuk, membuat Kinanti bisa menghirup udara segar secara cuma-cuma.


"Masuklah," ajak Kala yang memegangi tangan Kinanti.


"Iya," Kinanti mengikuti langkah Kala, menaiki undakan anak tangga menuju teras rumah Kala.


Pintu rumah perlahan terbuka dan seseorang muncul dari balik pintu besar itu. Adalah Bertha yang begitu semangat menyambut Kinanti setelah pelayan memberitahunya ada seorang gadis cantik yang di bawa pulang oleh Kala.


“Kinan! Aduuuhh tante seneng banget Kinan akhirnya main ke sini." Bertha langsung memeluk gadis itu dengan erat. Wajahnya yang semalaman sendu sekarang tertlihat sangat bahagia.


"Tante katanya sakit? Gimana sekarang kabarnya?" Kinanti ikut senang melihat sambutan Bertha terhadapnya.


Bertha melepaskan pelukannya dan memegang tangan Kinanti dengan erat. "Seperti yang Kinan lihat, tante udah baikan. Kinan gimana kabarnya?" Wanita itu memandangi Kinanti dengan sayang.


"Kinan juga baik, Tan." Lihat senyum Kinanti yang begitu manis.


"Syukurlah." Diusapnya bahu Kinanti dengan lembut. "Ya udah, ayo kita masuk." Wanita itu langsung mengajak Kinanti masuk.


“Astaga, Mamah sampai lupa kalau yang anaknnya itu adalah aku.” Kala menggelengkan kepalanya tidak mengerti. Hanya Kinanti yang disambut dan dipeluk oleh ibunya sementara Kala diacuhkan begitu saja.


Melewati beberapa ruangan yang luas dan mata Kinanti di buat terpukau oleh seisi rumah Kala yang sangat luas lagi tertata ini. Set sofa yang nyaman, lampu mewah yang menggantung di langit-langit ruangan, lemari-llemari kristal yang berjejer rapi, juga foto keluarga yang menempel di dinding, begitu menarik untuk diperhatikan. Bertha mengajak Kinanti ke taman belakang, tempat biasa ia menghabiskan waktu. Kinanti diajaknya duduk diayunan kesayangannya. Ia menggenggam tangan Kinanti dan sesekali memeluknya lagi. girang sekali rupanya.


“Ya ampun, tante seneng banget Kinan main ke sini. Kirain tante Kala boong waktu bilang Kinan bisa main ke sini setelah ujian selesai.” Lihat, pelukan wanita itu sangat erat pada Kinanti.


“Iya tante, maaf karena Kinan baru main ke sini. Ujiannya baru selesai hari ini, jadi baru sekarang deh Kinan nemuin tante.” Kinanti memang sangat manis, membuat Kala tersenyum gemas memperhatikan interaksi gadis itu dengan ibunya.


"Iyaa, gak apa-apa. Yang penting Kinan sehat. Itu yang terpenting." Bertha mengusap kepala Kinanti dengan sayang.


"Mamah gak lupa kan sama yang ngajaknya?" Kala ikut berbicara membuat sang ibu menolehnya.


"Nggak lah. Kala tetep kesayangan Mamah. Tapi Mamah mau ngobrol dulu sama Kinan, boleh kan?" Wanita itu mengusap pipi Kala dengan sayang.

__ADS_1


"Yaa, silakan dilanjutkan." Kala tersenyum masam. Ia duduk di salah satu bangku dan memandangi dua wanita yang terlihat kompak itu. Ternyata Bertha memenuhi janjinya kalau ia akan menyayangi kekasihnya. Sikapnya pada Kinanti pun selalu sangat manis. Hal itu membuat Kala lega.


"Tante sakit apa? Kata Kala demam tante tinggi, sampe empat puluh derajat." Kinanti menunjukkan kepedulian yang sama pada wanita dihadapannya.


“Iyaa, tapi sekarang udah baikan. Ini sih cuma masuk angin doang sama kecapean, gara-gara beberapa hari lalu tante maksain pulang malem dari luar kota. Tante lupa kalau tante udah mulai tua.” Semangat sekali Bertha berbicara dengan Kinanti, seperti demamnya semalam sudah benar-benar reda.


“Syukurlah kalau tante sudah membaik. Kalau tante masuk angin, tante bisa minum rebusan jahe. Terus rendem kaki pake air hangat. Pasti enakan.” Kinanti memberi saran.


“Oh ya?” Wanita itu menatap Kinanti dengan penasaran.


“Iya, tan. Kinanti pernah pulang camping masuk angin. Sama ayah dibikinin air rebusan jahe, terus kakinya direndem pake air hangat. Enak banget. Badan keringetan tapi terus segeran, gak greges lagi. Tante mau Kinan bikinin air jahenya?” tawar Kinanti kemudian.


“Mau dong… tapi gak ngerepotin kan?” Hanya dengan Kinanti Bertha bisa merajuk, Kala sampai menahan senyumnya melihat tingkah sang ibu.


“Nggak dong, nggak ngerepotin sama sekali.”


“Okey, kalau gak ngerepotin, ayo kita ke dapur. Ajarin tante cara bikinnya, biar kalau tante gak enak badan gak harus minum obat-obatan terus.” Semangat sekali Mama Bertha ini.


“Iya tan,”


“Kinan nginep kan di sini? Tante gak ada temen soalnya.” Bertha kembali merajuk membuat Kala tertawa geli. Bertha segera memukul lengan putranya agar tidak menertawakannya.


“Em, Kinan belum persiapan apa-apa tante. Gak sekarang dulu nginepnya, gak apa-apa kan?” Kinanti berusaha menolak dengan halus.


“Persiapan apa? Kalau masalah baju ganti, tante ada kok baju ganti buat Kinan. Udah nginep aja, kita ngobrol-ngobrol antar cewek. Selama ini tante gak ada temen ngobrol, soalnya ngobrol sama Kala gak asyik.” Bertha mendelik iseng pada putranya yang jarang berada di rumah.


“Sekarang aja bilang gak asyik mentang-mentang ada Kinan. Kemaren-kemaren yang menemin mamah curhat siapa kalau bukan Kala?” Remaja tampan itu mulai protes.


“Ssttt, Kal! Biar Kinan-nya mau nginep. Kamu jangan berisik.” Bertha meminta Kala diam.


“Hah, modus!” ledek Kala. “Aduuh aduhhh aduuhh!” Ada hadiah cubitan dari ibunya karena remaja ini meledeknya.

__ADS_1


“Iya Nan, kamu nginep aja. Kamu harus nenangin Mamah. Kalau enggak, nanti aku dicubitin terus.” Kala ikut membujuk Kinanti.


Kinanti terkekeh gemas melihat tingkah ibu dan anak ini. “Iyaa, aku nginep.” Kinanti akhirnya luluh.


“Yyeeaaayy!!!” Bertha terlonjak girang dan langsung memeluk Kinanti dengan erat. Memang seperti ini sosok ibunya yang sebenarnya, bukan wanita murung yang Kala lihat selama satu tahun terakhir. Kala tersenyum lega melihat keriangan di rumah ini. Kinanti telah membawa kembali tawa bertha yang selama ini jarang terdengar.


Keceriaan itu masih terbawa hingga makan malam. Bertha meminta pelayannya memasak makanan yang enak-enak untuk menjamu Kinanti. Satu meja makan itu penuh dengan hidangan makan malam. Kinanti sampai bingung harus makan dengan lauk yang mana. Biasanya hanya ada tiga lauk, paling banyak di meja makannya. Tetapi kali ini sangat melimpah.


“Kinan suka bebek nggak? Bebek ini enak lo, tante pake resep ala Chinese gitu. Cobain deh.” Bertha mendekatkan sepiring besar olahan bebek pada Kinanti.


“Oh iya tante, terima kasih.” Dengan senang hati Kinanti mengambilnya. Ia mencicipinya dan rasanya memang sangat enak.


“Gimana, suka?” Respon Kinant ternyata sangat dinanti oleh Bertha.


“Enak tante, Kinan suka.” Kinanti menjawab sejujurnya.


“Waahh, ternyata selera makan kita sama. Kalau Kala, sukanya makan ikan. Pantangannya, dia gak suka makanan yang berbahan dasar kacang-kacangan seperti tahu dan tempe.” Bertha semangat sekali memberitahu Kinanti makanan kesukaan putranya.


Kinanti langsung menoleh Kala yang terbatuk. Bagaimana bisa Kala tidak menyukai couple kedelai itu padahal di rumahnya Kala selalu lahap makan tahu dan tempe?


“Dia juga gak suka makanan pedes, makanya makan pedes dikit aja langsung batuk. Minum, nak.” Bertha menyodorkan segelas air mineral pada Kala dan membuat Kinanti semakin heran. Karena selama di rumahnya Kala sangat menyukai sambal buatan Lukman walau remaja itu makan sampai berkeringat karena kepedesan. Kala tidak berani menatap Kinanti, karena pasti gadis itu sedang bertanya-tanya.


“Selamat malam,” Sebuah suara tegas dan besar terdengar menyapa tiga orang yang sedang menikmati makan malamnya. Mereka kompak berhenti dan menoleh sosok laki-laki yang tidak lain adalah Yudhistira. Laki-laki itu tersenyum pada ketiga orang yang menatapnya dengan kaget.


“Rupanya kalian sedang makan. Silakan dilanjutkan. Aku akan nunggu di ruang keluarga,” ucap laki-laki itu dengan canggung.


Ketiga orang itu terdiam, saling lirik dan bingung. “Mamah ngundang dia juga?” Kala penasaran.


“Nggak, Mamah gak ngundang dia. Orang kontaknya aja Mamah blokir.” Bertha dengan tegas menimpali. Sudah macam anak muda saja kalau kesal main blokir, hahahaha…


Kala tidak menimpali, selera makannya mendadak hilang. Kalau saja ia tidak ingat ada Kinanti dihadapannya mungkin ia akan pergi meninggalkan meja makan dan keluar rumah yang jauh, ya sangat jauh sampai Yudhistira tidak menemukannya.

__ADS_1


Untuk apa laki-laki datang ke rumah malam-malam begini?


****


__ADS_2