
Sesuai rencana, sore ini Kala mengantar Kinanti untuk mengecek hasil pengumumam beasiswa di Yayasan milik Yudhistira. Perjalanan selama kurang lebih dua puluh menit, dilalui dengan penuh debaran. Sepanjang jalan Kinanti berdo’a agar ia bisa mendapatkan hasil yang terbaik. Meski demikian, ia tetap bersiap jika ternyata belum mendapatkan rejeki beasiswa untuk kuliahnya.Seperti yang pernah Lukman katakan, jangan menyerah karena selalu ada jalan lain untuk meraih cita-cita.
Kala melihat dengan jelas kegundahan yang dirasakan Kinanti. Lewat spion motornya, sesekali Kala memperhatikan wajah cantik yang tegang itu. Diusap-usapnya tangan Kinanti yang berada didalam saku jaketnya untuk menenangkan gadis itu.
“It’s okey. Semoga hasilnya baik ya.” Suara Kala masih terdengar jelas ditengah hembusan angin yang kencang.
“Iya, Kal. Kata ayah setiap hal itu sudah ada takdirnya sendiri dan akan selalu memberi kejutan. Aku sebenarnya udah bersiap kok. Seperti apapun kejutan yang akan aku terima, tapi tetep aja aku gugup.” Kinanti mengeratkan pelukannya pada Kala. Ia menyandaran kepalanya di punggung Kala yang bidang dan lebar.
Kala tersenyum kecil, lagi ia menepuk tangan Kinanti dan mengusap kepala gadis manis itu. “Apapun hasilnya, aku pasti dukung yang terbaik buat kamu. Jadi, semangat yaa….” Kala berusaha menyemangati Kinanti.
“Makasih, Kal. Aduuhh, aku deg-degan banget.” Kinanti memejamkan matanya rapat-rapat. Sedari pagi perasaannya tidak menentu, apa mungkin kejutan ini yang membuat Kinanti harus bersiap untuk hal terburuk? Beruntung Kala ada disampingnya sehingga ada teman berbagi.
Kala melajukan motornya dengan kecepatan normal saat memasuki kompleks Yayasan yang sudah ada didepan mata. Pintu gerbangnya masih terbuka karena memang masih ada waktu sekitar satu jam lagi sampai jam kerja berakhir.
“Mau kemana, dek?” petugas keamanan mengacungkan tongkat lalu lintasnya dan meminta Kala berhenti.
Kala menghentikan laju motornya dan menaikan kaca helmnya. Terlihat sorot matanya yang tajam dibingkai alis tebal dan hidungnya yang bangir, menantang. “Saya mau mengecek pengumuman penerima beasiswa. Apa masih bisa, Pak?” tanya Kala.
“Oh, bisa. Nanti kebagian akademik aja. Parkirnya disebelah kanan, khusus untuk motor.” Petugas keamanan itu memberi petunjuk.
“Iya, terima kasih, Pak.” Pamit Kala yang melanjutkan perjalanannya menuju tempat parkir.
“Perasaan kok mukanya familiar yaa, itu anak.” Petugas keamanan bergumam sendiri sambil berusaha mengingat pemilik wajah yang rasanya sering ia lihat. “Pernah ketemu dimana ya?” Laki-laki itu masih berpikir, sambil duduk dipos jaga dan menikmati kopinya yang menjelang dingin.
Di area parkir Kala menghentikan laju motornya. Lihat, gadis itu tampak sangat pucat. Sepertinya sangat tegang. Kala tersenyum kecil menatap sepasang mata yang sedang harap-harap cemas itu. Setelah melepas helm dan menaruhnya diatas motor, Kala meraih tangan Kinanti yang dingin dan basah, lalu menggenggamnya dengan erat.
“Tenang yaa, aku percaya segala hal baik itu akan berpihak sama kamu,” ucap Kala dengan penuh keyakinan. Ia meniupi tangan Kinanti yang dingin, agar menghangat.
“Kalau diginiin aku tambah gugup, Kal. Aku perlu berdamai dulu sama diri sendiri.” Kinanti masih dengan wajahnya yang cemas.
“Okey, kalau gitu apa yang bisa aku bantu?” Kala balik bertanya tanpa melepaskan genggaman tangannya.
“Cukup temenin aku aja. Apapun hasilnya, jangan dulu berkomentar,” pinta Kinanti.
“Okey. Mau cek hasilnya sekarang?”
“Hem,” Kinanti mengangguk yakin.
Sambil tersenyum, Kala mengusap kepala Kinanti dengan sayang. “Semangaaatt Kinan-nya akuuu….” Kala mengepalkan tangannya memberi semangat. Kinanti hanya tersenyum dan mengepalkan tangannya penuh tekad, sebelum masuk ke Yayasan tersebut.
Langkah dua remaja itu terlihat cepat meski tidak tergesa-gesa. Mereka berjalan menuju sebuah ruangan yang tadi diberitahukan oleh petugas keamanan.
“Yang itu deh kayaknya.” Kala menunjuk ruangan yang ada di salah satu sudut.
__ADS_1
Sudah cukup lama ia tidak berkunjung ke kantor ini dan sudah banyak hal yang berubah. Terakhir kali Kala berkunjung ke kantor ini lebih dari satu tahun lalu, sebelum prahara negara api menyerang keluarganya yang utuh dan bahagia. Ia dikenalkan sebagai calon penerus Yayasan Pendidikan ini, tetapi sekarang, tempat ini terlalu asing untuk Kala.
“Iya, betul!” suara Kinanti menyadarkan lamunan Kala selama beberapa detik. Gadis itu segera menuju ruangan tersebut.
“Permisi,” ujar Kinanti di depan pintu yang terbuka.
“Ya, mau ke siapa?” sahut seorang wanita yang sedang merias dirinya karena akan bersiap pulang.
“Saya Kinanti bu, saya mau mengecek pengumuman kelulusan beasiswa saya. Apa bisa, Bu?” Kinanti berbicara dengan sopan.
“Haduuhh, kenapa harus sore begini sih. Nih, sebelah sini, Dek!” Wanita itu menunjuk sisi kiri ruangannya dan meminta Kinanti berputar. Matanya mengerling kesal.
Kinanti segera mengitari ruangan tersebut. Ternyata ada sebuah jendela yang terbuka dan bertuliskan “Layanan Informasi.” Ia duduk disalah satu kursi.
"Mohon maaf ya Bu, saya diberitahu untuk datang setelah jam pelajaran, jadi baru tiba sekarang." Kinanti memberi penjelasan. Wanita itu tidak menanggapinya. Ia mengikat rambutnya tinggi-tinggi dan menyalakan kembali komputernya yang sudah ia matikan.
“Siapa namanya?” Wanita itu bertanya dengan angkuh.
“Kinanti, Bu. Kinanti Amelia,” sahut Kinanti dengan jelas.
“Kok gak ada ya?” Wanita itu balik bertanya.
“Iya, maksudnya tidak ada bagaimana, Bu?” Kinanti mulai cemas.
“Amelia, Bu. Kinanti Amelia, bukan Amalia.” Kinanti memperjelas nama lengkapnya.
“A-me-lya.” Wanita itu mengeja ulang yang sedang ia ketik. “Gak ada tuh, Dek. Adek yakin ikutan program beasiswa?” Wanita itu mulai sinis.
“Iya, Bu. Saya yakin. Saya bahkan sudah menyerahkan jurnal sebagai bentuk test tambahan.” Kinanti mulai gelisah. Apa mungkin ia melakukan kesalahan?
“Coba aku liat,” Kala yang penasaran mengintip dari samping Kinanti.
“Namanya Kinanti Amekala. Coba cek.” Kala malah meledek.
“Kal, ikh!” Kinanti menyikut Kala dengan kesal.
“Ya lagian dia ngetiknya pake Y, harunya pake I. Kinanti Amelia binti bapak Lukman. Bukan Kinanti Amel, Ya!” Kala kesal sendiri.
“Maksudnya gimana? Coba tulis disini.” Wanita itu memberikan selembar kertas sambil mendelik kesal pada Kala.
“Tulis pake huruf capital, Nan. Biar dia baca dengan jelas.” Kala ikut kesal.
“Kalaaa….” Kinanti mencoba menghentikan Kala dan remaja itu hanya mendengkus kesal. Tidak terima Kinanti diperlakukan sinis seperti tadi.
__ADS_1
Kinan menuliskan namanya dengan lengkap. “Ini, bu.” Gadis itu menyerahkan kertas itu pada wanita tersebut. Wanita itu melakukan pencarian dan berdehem sendiri saat ternyata data Kinanti ada. Ia juga mengambil sesuatu dari dalam rak besi disampingnya.
“Hasilnya ada didalem,” ucap wanita itu tanpa menoleh Kinanti sedikitpun.
“Makasih, Bu.” Kinanti menerimanya dengan senang hati. Masa depannya ada di sini.
“Nama lo siapa?” tanya Kala setelah urusan Kinanti selesai. Ia menatap wanita itu dengan kesal.
“Gak sopan kamu! Nih nama saya.” Wanita itu menunjukkan id card-nya pada Kala. Kala hanya tersenyum sinis.
“Kal, kenapa sih. Ayo akh udah, aku udah selesai kok.” Kinanti berusaha membujuk Kala. Ia tidak betah melihat sikap tidak bersahabat antara Kala dengan wanita dihadapannya. Kinanti bisa memaklumi mungkin karena hari sudah sore, mood wanita ini untuk bersikap ramah sudah luntur seperti bedaknya.
“Tunggu, sebentar.” Kala mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan menghubungi seseorang.
“Lagi dimana?” tanya Kala tanpa basa-basi. Entah siapa yang sedang dihubungi oleh remaja ini.
“Hem, kasih gaji terakhir buat staf Yayasan bernama Devia. Besok dia gak perlu berkantor lagi di Yayasan,” ujar Kala dengan penuh ketegasan. Ia menatap dingin wanita bernama Devia itu dengan tajam.
“Heh, apa maksud kamu? Kamu bicara sama siapa?” tanya wanita bernama Devia yang terlihat kaget.
“Dia mau bicara langsung.” Kala masih berbicara dengan orang disebrang sana dan memberikan ponselnya pada wanita tersebut.
“Halo, maaf ini dengan siapa?” tanya Devia.
“Saya Jack. Apa yang kamu lakukan pada tuan Kalantara?” Jack balik bertanya.
“Hah, tuan Kalantara?” Wanita itu seperti disadarkan. Ia menatap Kala penuh selidik. Tangannya langsung gemetar saat mendapat tatapan tajam dari Kala. Remaja muda yang sangat mirip dengan pemilik Yayasan tempat ia bekerja. Sepertinya ia sadar siapa yang ia perlakukan dengan tidak sopan ini.
“Ma-maaf tuan.” Wanita itu segera menunduk penuh sesal pada Kala.
Kala tidak menanggapi, ia hanya mengulurkan tangannya pada wanita itu, memnita ponselnya kembali. Dengan tangan gemetar Devia mengembalikan ponsel dan tidak lama, ponselnya yang berdering dan menampilkan nama Jack. Hah, tamatlah riwayatnya.
Kinanti menatap Kala tidak percaya, bagaimana bisa ia membuat seseorang dipecat dalam waktu hitungan menit.
“Kal,” Kinanti merasa iba pada wanita yang sedang gemetaran saat berbicara dengan Jack.
“Dia udah bersikap gak sopan dan tidak mencerminkan karyawan yang bekerja di Lembaga Pendidikan,” decik Kala yang memilih berlalu pergi dari hadapan wanita itu. Kinanti kebingungan sendiri apa yang harus ia lakukan. Apa yang harus ia katakan untuk menghibur wanita?
“Kinan!” panggilan Kala terdengar tegas.
“I-Iya.” Pada akhirnya Kinanti menyusul Kala dan meninggalkan wanita itu sendirian. Maaf,
*****
__ADS_1