Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Berakhir


__ADS_3

Perjalanan pulang Emili dan Kinanti, beberapa kali tersendat oleh kemacetan. Dua gadis itu berbincang santai untuk saling mengenal satu sama lain.


“Lo suka musik apa?” tanya Emili, berusaha mengusir kebosanan.


“Em, R n B mungkin. Kayakanya cocok dengan suasana sore ini.” Kinanti melihat ke sekelilingnya yang mulai menunjukkan perubahan warna langit menjadi jingga.


“Ide yang bagus. Gue punya playlist baru. Lo pasti suka.” Emili menyalakan pemutar musik yang memperdengarkan suara Bruno Mars. Alunan musiknya yang asyik membuat suasana hangat.


“Enak lagunya,” komentar Kinanti. Ia mendengar juga Emili yang ikut bernyanyi dan ternyata suaranya sangat bagus.


“Apa gue bilang, kayaknya kita suka genre musik yang sama deh." Emili semangat memperbesar volume musiknya.


" Ngomong-ngomong, gimana rasanya pacaran sama Kala? Seru gak?” tiba-tiba saja gadis itu bertanya pada Kinanti. Ia melirik Kinanti yang duduk disampingnya.


“Seru, Kala anak yang baik.” Kinanti menjawab dengan sesungguhnya.


“Udah pernah ciuman?” pertanyaan Emili kali ini terdengar nyeleneh.


Kinanti segera mengatupkan bibirnya dan menoleh ke luar jendela. Pertanyaan Enili terlalu mengagetkan. “Nanyanya yang lain aja.” Membuat wajah gadis itu bersemu kemerahan.


“Hahhaahha… ekspresi lo langsung ngejawab semuanya.” Emili malah tertawa, sepertinya ia berhasil menggoda Kinanti.


“Santai kali. Gue juga udah pernah ciuman sama Riko. Diantara para cowok gue, Riko yang paling hebat ciumannya. Yang tiga kalah.” Gadis itu berujar dengan jumawa.


“Maksud kamu, kamu punya pacar empat?” Kinanti kembali menoleh gadis yang ada disampaingnya. Pengakuannya terlalu mengejutkan.


“Hahhaahha, iya. Kenapa, kaget ya?” Emili menimpali dengan santai.


“Emang Riko gak marah?” Kinanti mengernyitkan dahinya tidak mengerti.


“Yaa, pasti kecewa lah. Riko tau gue nakal, dia juga tau kalau dia cuma selingkuhan gue. Cuma dia gak tau kalau dia selingkuhan gue yang ketiga.” Sambil menyetir Emili berujar dengan santai.


“Astagaa….” Kinanti sampai tidak percaya.

__ADS_1


“Hehehehe, tenang aja. Gue rasa, gue bakal tinggalin tiga cowok gue lainnya. Gue mau fokus sama hubungan gue dan Riko aja. Dia yang paling paham gue dan paling bikin gue bahagia. Sama dia gue banyak ketawa, gak ngebatin juga. Jadi, yaa… sepertinya main-main gue udahan dulu. Gue sayang sama Riko dan gak mau bikin dia sedih lagi.” Emili berujar serius. Ia memutar stirnya enam puluh derajat dan berbelok ke arah jalan menuju rumah Kinanti.


“Pilihan yang bagus Emili. Kita memang harus memprioritaskan hal yang penting buat kita.” Hanya itu komentar Kinanti.


“Iyaaa… gue juga sadar itu. Liat lo sama Kala, gue jadi banyak mikir. Kalau seseorang bisa sangat terpengaruh oleh pasangannya. Buktinya Kala, dia berubah banyak sejak kenal sama lo. Gak berutal, gak suka ribut sama genk motor, gak suka berantem di sekolah dan dia mulai nurut sama guru. Good job Kinanti.” Emili mengapresiasi usaha Kinanti.


“Nggak Emili, Kala berubah bukan karena aku. Tapi karena dasarnya dia memang anak yang baik. Dia sendiri yang pengen berubah menjadi dirinya yang sebenernya dan lebih baik.” Kinanti sedikit menyanggah ucapan Emili.


“Iyaaa, tapi maksud gue, lo ada disaat Kala krisis kepercayaan dan lagi menentukan jati dirinya. Lo membawa pengaruh baik dan gue salut sama lo. Gue, minta maaf ya kalau kemaren-kemaren sempet jahat sama lo. Gue sadar kalau lo tuh emang bisa banget bikin orang iri. Gak tau kenapa.” Emili melirik Kinanti yang tersenyum kecil memandangi jalanan ramai dihadapannya.


“Iyaa, gue juga minta maaf kalau kemaren sempet bikin lo kesel. Gue gak ada maksud bikin iri siapapun.” Kinanti berujar dengan bijak.


“No, lo gak perlu minta maaf. Lo sebenarnya gak salah. Karena iri itu masalah pilihan orang lain terhadap kita. Gue iri karena gue gak punya apa yang lo punya, itu aja. Jadi iri itu masalah gue sama diri gue sendiri sebenernya, bukan sama lo. Hem, gimana sih jelasinnya, ya pokoknya gitulah.” Emili bingung sendiri dengan kalimatnya.


“Ya, aku paham.” Kinanti segera menimpali. Ia bisa memahami pikiran Emili yang sebenarnya sederhana. Iri itu pilihan kita sebenarnya, pilihan saat merespon kelebihan orang lain.


“Syukurlah kalau lo paham. Gue harap, setelah ini lo masih mau temenan sama gue.” Emili mengulurkan satu tangannya pada Kinanti.


Dua gadis itu saling melempar senyum dan mengeratkan tangannya yang berjabat berapa saat sampai kemudian mereka mulai menikmati suasana dengan obrolan yang lebih santai dan lebih menyenangkan.


****


Malam ini, Kinanti baru selesai menulis didalam diarynya. Sudah lama ia tidak bercerita diatas lembaran kertas putih itu. Ia juga menempelkan beberapa lebar kertas tulisan Lukman yang tercecer dan menyatukannya dengan diary miliknya.


Sebuah pesan masuk menjeda aktivitas Kinanti. Saat ia lihat ternyata pengirimnya adalah Kala.


“Cantiiikk, lagi apa? Udah makan malem?” Senyuman manis langsung terkembang dibibir Kinanti yang mungil. Cepat-cepat ia membalasnya.


“Baru habis nulis. Udah dong, tadi aku makan malam bareng ayah. Kamu udah makan?” balas Kinanti.


Kala membalasnya dengan sebuah foto jajanan yang ia beli. Ada beberapa menu disana dan terlihat menggiurkan.


“Riko ngajak aku keliling nyari makanan. Eh ketemu sama food street yang enak. Lain waktu, aku akan ngajak kamu ke sini. Kamu pasti suka.” Kala membalas dengan cepat.

__ADS_1


“Iyaakk, enak banget itu kayaknya. Aku sampe ngiler.” Kinanti memberikan balasan.


“Sabar yaa cantik. Nanti kapan-kapan kita ke sini khusus buat jalan-jalan. Aku lagi ngapalin tempat main disini. Jadi kalau ke sini, kita udah tau tempat mana aja yang mau kita tuju. Ngomong-ngomong, ayah lagi ngapain?” Diantara pesan Kala yang menanyakan kabarnya, Kinanti selalu terenyuh setiap kali Kala bertanya kabar Lukman. Ada perasaan yang tidak bisa ia gambarkan melihat perhatian Kala pada sang ayah.


“Tadi ayah lagi istirahat. Ini aku mau ke kamarnya. Mau nginep lagi disana.” Sejak pulang ke rumah Kinanti memang selalu menemani Lukman. Ia akan berbincang dengan sang ayah dan tertidur disofa samping tempat tidur Lukman. Ia tidak mau melewatkan sedikitpun waktu yang bisa ia habiskan bersama sang ayah.


“PAP yaa, aku juga kangen sama ayah.” Lihat, kalimat seperti ini yang selalu membuat Kinanti terharu.


Gadis itu segera turun dan menuju kamar Lukman. “Yaah… ayah udah tidur?” Kinanti mengetuk pelan pintu kamar Lukman lalu membukanya perlahan.


Lukman menggeleng dan tersenyum melihat kedatangan putrinya. Ia menepuk tempat disampingnya agar Kinanti mendekat.


“Kala nanyain Ayah, katanya dia kangen sama Ayah. Kita foto berdua yuk Yah.” Kinanti segera duduk disamping Lukman dan menyandarkan kepalanya dengan manja dibahu Lukman. Mereka sama-sama tersenyum dan mengambil beberapa foto untuk ia kirimkan pada Kala.


“Bilangin, jaga diri baik-baik. Jangan lupa makan.” Kalimat itu yang Lukman pesankan pada Kinanti.


“Okey, Kinan bilangin sama Kala. Tadi sih dia lagi makan malam sama Riko. Tapi makan jajanan gitu, katanya enak. Nih fotonya.” Kinanti menunjukkan foto Kala yang sedang makan.


Lukman mengangguk, ia juga merindukan remaja tampan yang sering mengajaknya berbincang.


“Ngomong-ngomong Ayah lagi nulis apa?” Kinanti melihat ada kertas dan ballpoint ditangan Lukman. Tulisan yang ditulis lukman pun cukup panjang.


Laki-laki paruh baya itu menunjukkan tulisannya pada Kinanti. “Besok, bantu Ayah ngasihin ini ke HRD kantor ya. Ini surat penguduran diri Ayah,” ujar Lukman seraya menelan salivanya kasar.


Kinanti memandangi kertas ditangan Lukman. Tulisannya memang tidak rapi tapi isinya sangat menyentuh.


“Iya Ayah, besok Kinan anterin ke kantor Ayah,” sahut gadis itu.


Dipeluknya Lukman dengan erat dan penuh kasih sayang. Ia tahu ini perpisahan yang sulit bagi Lukman. Ia telah mengabdikan separuh usianya disana dan sekarang harus berpisah karena kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan.


Sementara itu Lukman hanya tersenyum, ia mengecupi pucuk kepala Kinanti. Tidak ada kesedihan yang tergurat diwajahnya karena ia sadar, baktinya sudah berakhir di perusahaan itu. Ia hanya bisa mengucapkan syukur karena tempat kerjanya telah memberinya penghidupan yang layak sehingga ia bisa membiayai kehidupannya bersama Kinanti.


****

__ADS_1


__ADS_2