
“Pulang, nak?” sambut Lukman saat melihat kedatangan Kinanti.
“Iya Ayah. Kinan abis belajar dulu sama Kala, jadi pulangnya agak terlambat. Maaf ya Ayah.” Kinanti bergelayut manja pada ayahnya.
“Ya nggak apa-apa. Kala nya mana?” Lukman melihat keluar jendela untuk mencari Kala. Biasanya remaja itu turun dulu bahkan ikut makan malam.
“Kala langsung pulang ayah. Ada acara sama keluarganya.”
Lukman mengangguk paham. “Mandi dulu, Nak. Nanti kita makan malam sama-sama.”
“Okey Ayah. Kinan ke atas dulu ya.”
“Iya. Ayah tunggu di meja makan.”
Kinanti segera naik ke lantai dua, tempat kamarnya berada. Ia segera mandi agar Lukman tidak menunggunya lama. Hanya sekitar sepuluh menit saja Kinanti berada di kamarnya. Ia segera turun dengan tampilannya yang lebih segar dan wangi.
“Cantik banget anak Ayah. Duduk, Nak.” Lukman menepuk tempat di sampingnya.
“Waah, ini ayah masak sendiri?” Mata Kinanti langsung membola melihat banyaknya makanan yang tersaji di atas meja.
“Iyaa, kerjaan ayah selesai lebih cepat jadi waktu Ayah banyak. Daripada bosen, ya udah Ayah masak. Makan yang banyak ya.” Lukman mendekatkan makanan pada Kinanti.
“Makasih Ayaah... selamat makan.” Kinanti mengambil secentong nasi lalu mengambil lauk dan menaruhnya di atas piring. Lukman terus memandangi putrinya, rasanya menyenangkan melihat Kinanti semangat seperti ini.
“Ayah gak makan?” Kinanti melihat piring Lukman yang masih kosong.
“Boleh gak kalau Ayah minta disuapin Kinan aja?” Lukman mulai merajuk.
“Boleh dong. Aaaa….” Kinanti menyuapkan makanan ke mulut Lukman dan laki-laki paruh baya itu terlihat sangat senang. Matanya sampai berkaca-kaca merasakan cinta dari putrinya. Termasuk saat Kinanti mengusap sisa makanan di sudut bibir Lukman.
“Ayah, suatu hari nanti, Kinan yang akan beliin makanan untuk Ayah. Apapun yang Ayah mau, nanti Ayah tinggal bilang aja. Okey?”
Lukman mengangguk. Matanya kembali berkaca-kaca hingga nyaris meneteskan air mata. Mereka melewati makan malam romantis bersama sebagai anak dan ayah yang saling menyayangi. Andai Kinanti tahu, bahwa mungkin saja usia Lukman tidak sampai di masa itu.
__ADS_1
Setelah makan malam, Lukman mengajak Kinanti untuk menonton televisi. Ia tinggalkan sebentar putrinya yang sedang menonton acara lawakan dan membuatnya tertawa terbahak-bahak. Ia pergi ke kamarnya untuk minum obat dan mengambil sesuatu untuk putrinya.
“Ayah bawa apa?” tanya Kinanti saat melihat Lukman membawakan sebuah kado.
“Hadiah buat Kinan. Ayah harap Kinan suka.” Ucapan lelaki paruh baya ini terdengar penuh harap.
“Waah, namanya kado sih Kinanti pasti suka. Tapi Kinan kan gak lagi ulang tahun, ayah.”
“Ngasih kado kan gak harus lagi ulang tahun aja. Kapanpun bisa. Jadi, bukalah.”
“Okey, Ayah.” Kinanti begitu bersemangat.
Satu per satu selotip dilepas Kinanti. Semakin banyak yang terlepas, ia semakin penasaran dengan isi kado tersebut. Isinya ternyata sebuah kotak.
“Ayah mau bikin Kinan penasaran ya?” Kinanti mengetuk-ngetukkan jarinya di permukaan dus yang polos.
“Segala sesuatu memerlukan usaha dan persiapan. Entah itu kejutan baik atau buruk yang akan Kinan terima, yang jelas Kinan harus belajar menerimanya. Itu yang mau Ayah ajarkan sama Kinan.” Lukman mengusap kepala Kinanti dengan sayang.
“Tapi mana mungkin ayah ngasih kado yang buruk?” dahi Kinanti mengernyit tidak mengerti.
“Iya Ayah. Kinan akan mengingat pesan Ayah.” Kinanti bersandar manja di dada Lukman.
“Anak pinter. Sekarang, bukalah.” Tanpa menunggu lama, kado itu di buka oleh Kinanti. Tentunya dengan bantuan Lukman.
“Ya ampun,” Kinanti menatap tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Sebuah stetoscope, lengkap dengan alat pemeriksaan dasar seorang dokter.
“Ayah yakin, Kinan akan lulus menjadi seorang dokter. Entah itu dengan jalur beasiswa ataupun bukan. Suatu hari, saat Kinan bertemu pasien untuk pertama kalinya, gunakan alat-alat ini. Periksa mereka dengan penuh perasaan. Sembuhkan setiap lukanya, bukan hanya luka fisiknya tapi juga luka mentalnya. Ayah yakin, Kinan akan menjadi dokter yang hebat.” Lukman berujar dengan sepenuh hati.
Kinanti tidak bisa berkata-kata. Ia segera memeluk Lukman dengan erat sambil menangis terisak-isak.
“Hey, kenapa Kinan nangis?” tanya Lukman dengan hati-hati. Susah payah ia menahan air matanya tapi nyatanya air mata Kinanti yang tumpah lebih dulu.
“Kinan takut Ayah. Kinan takut mendengar pesan Ayah. Entah kenapa Kinan merasa kalau Ayah seperti gak mau nemenin Kinan sampe Kinan sukses nanti. Kenapa terlalu banyak persiapan yang sudah Ayah buat padahal Kinan baru memulai langkah Kinan. Kenapa,....”
__ADS_1
“Hey, sayang….” Lukman segera menghentikan celotehan Kinanti yang mulai melantur.
“Bukan itu maksud Ayah Nak. Ayah hanya mau menyemangati Kinan. Ayah ingin Kinan tau, kalau do’a Ayah ada di setiap langkah Kinan. Kamu percaya itu kan, Nak?” air mata Lukman ikut menetes. Dadanya terasa sangat sesak dan rasanya ia ingin menangis sejadinya.
Kinanti masih menangis sesegukan. Ia merasa kalau ucapan Lukman begitu sampai kehatinya yang terdalam.
“Iya, Ayah. Kinan paham,” ucap Kinanti dengan suara yang masih sengau.
Cukup lama ayah dan anak itu saling berangkulan untuk menguatkan satu sama lain. Setelah merasa lebih tenang, Kinanti mencoba stetoscopenya. Ada bagian yang ia pasangkan di telinganya dan bagian ujung ia tempelkan di dada Lukman. Ia mendengarkan detakan jantung Lukman yang sesekali cepat dan sesekali lambat. Ia mencoba membandingkan dengan detakan jantungnya sendiri. Sedikit berbeda.
“Ayah capek ya?” tanya Kinanti kemudian.
“Kok Kinan bisa kepikiran Ayah capek?” Lukman balik bertanya.
“Suara jantung ayah gak konsisten. Kayak orang napas, kadang lega kadang berat. Gitu Ayah.”
“Mungkin karena otot jantung Ayah udah gak sekuat Kinan. Ayah kan udah tua. Jadi wajarlah kalau fungsi organ tubuh Ayah mulai menurun. Cuma mata Ayah aja yang makin nambah ukuran lensanya.” Lukman sengaja berceloteh iseng untuk menggoda Kinanti.
Kinanti tidak menimpali. Ia hanya menatap lekat wajah sang ayah dengan penuh kasih. “Kinan sayang Ayah. Ayah adalah orang tua terbaik yang Kinan punya. Kinan bersyukur lahir dari orang tua sehebat Ayah,” ungkap Kinanti seraya mengusap wajah Lukman yang mulai mengkerut.
Begitu banyak pahatan keriput di wajahnya yang menandakan kalau laki-laki ini sudah tidak muda lagi, perjuangannya sudah cukup membuatnya lelah. Bobot tubuhnya yang turunpun membuat tubuh lelaki ini terlihat renta, ringkih dan tidak segar. Akan tetapi Lukman selalu menyakinkan Kinanti kalau ia baik-baik saja. Ya, Kinanti cukup tahu kalau ia baik-baik saja.
“Ayah juga sayang Kinan. Selalu sayang Kinan dan Ayah percaya kalau kelak Kinan akan menjadi anak yang sukses. Bukan hanya membanggakan Ibu dan Ayah, tapi membanggakan semua orang yang mengenal Kinan.”
“Aamiin, terima kasih Ayah. Kepercayaan dan do’a Ayah adalah hal yang paling Kinan butuhkan di hidup Kinan,” ungkap gadis bermata jernih itu.
Setelah berbincang menguras emosi dengan putrinya, Lukman kembali ke kamarnya. Ia bersandar di pintu kamarnya sambil menangis tersedu-sedu. Ia bahkan tidak tahu berapa lama lagi ia bisa mendampingi Kinanti.
Semesta seperti mendukung rasa sedihnya. Tepatnya saat sebuah pesan masuk ke kotak masuknya.
“Selamat malam Pak Lukman. Izin saya mengingatkan kembali kalau prosedur terapi tahap dua akan dimulai besok. Kami tunggu di ruang perawatan jam sembilan pagi. Semangat selalu ya, Pak.” Begitu isi pesan yang membuat hatinya semakin hancur.
Harapan yang semula muncul, kini padam kembali saat ia sadar kalau ia gagal di prosedur terapinya yang pertama. Kanker itu masih menggerogoti tubuhnya hingga saat ini. Alasan apalagi yang harus ia buat pada putrinya? Mengorbankan Seno lagi kah?
__ADS_1
****