
Pagi yang sibuk menyambut Kinanti. Ia sarapan dengan tergesa-gesa, itupun sambil disuapi Lukman. Sementara kedua tangannya sibuk memakai sepatu. Katanya sekitar lima menit lagi, Jack akan segera tiba untuk menjemputnya. Hah, padahal sudah bangun cukup pagi, tetapi tetap saja waktu begitu cepat bergulir.
“Jam berapa sebaiknya Ayah tiba di sana?” Lukman bertanya pada sang putri yang sedang mengikatkan tali sepatu.
“Nanti Kinan kabari ya Ayah. Kemungkinan setelah Kinan lolos menuju babak akhir. Soalnya kata Mr Jack, babak ujian akhir yang harus diikuti untuk penentuan pemenang olimpiade. Do’ain semoga Kinan sampe ke babak itu.”
“Iyaa, pasti Ayah do’ain. Aaa dulu, biar anak Ayah fokus saat jawab pertanyaan.” Lukman berusaha menyuapkan kembali suapan terakhir ke mulut Kinanti. Kinanti membuka mulutnya lebar-lebar dan mengunyah makananya dengan cepat.
Tidak lama, suara klakson mobil terdengar didepan rumah. “Ayah, Kinan udah di jemput.” Kinanti terlonjak kaget.
“Iyaa, minum dulu, Nak.” Lukman menyodorkan gelas Kinanti dan langsung diteguk hingga habis.
“Berangkat ya Ayah, dadah Ayah!” Kinanti memeluk Lukman beberapa saat sebelum kemudian pergi setelah mengucap salam.
"Hati-hati, Nak." Lukman berdiri diambang pintu rumahnya seraya melambaikan tangannya pada sang putri. Lambaian tangannya mengiringi kepergian Kinanti hingga mobil yang membawa putrinya pergi hingga benar-benar tidak terlihat lagi.
“Anak Ayah….” Ucap Lukman seraya mengusap air matanya yang tiba-tiba menetes. Ada rasa haru dan bangga yang menyeruak didalam dadanya.
Ia masih mengingat bagaimana dulu ia menyemangati Kinanti agar bangkit setelah kepergian ibunya. Putrinya itu nyaris putus asa dan selalu berkata, siapa yang menemaninya belajar kalau ibunya tidak ada sementara Lukman sibuk bekerja.
Ucapan Kinanti itu membuat Lukman merasa tertampar. Memainkan dua peran sebagai seorang ayah dan ibu tidaklah mudah. Namun, seiring berjalannya waktu dan Kinanti yang semakin dewasa, gadis cantik itu mulai memahami kondisinya dan semakin dewasa dalam bersikap. Meskipun demikian, rasa cemas dan khawatir yang Lukman rasakan masih tetap sama.
Diperjalanan, Kinanti dan Demian sama-sama merasakan ketegangan menghadapi perlombaan. Semakin jauh mobil ini melaju, semakin terasa saja hawa kompetisi yang yang membuat adrenalinnya berpacu cepat.
“Gimana, kalian udah siap?” tanya Jack yang duduk di samping driver. Ia menoleh Kinanti dan Demian yang duduk di belakang.
“Siyap,” sahut Kinanti seraya mengangguk.
“Ya, aku juga siap.” Demian ikut menimpali.
“Okey, good. Sampai sana, kita ada waktu untuk persiapan sekitar satu jam. Kalian boleh melakukan apapun sebelum masuk kelas test tapi saran saya, jangan belajar. Karena itu hanya akan membuat kalian tambah tegang.” Jack memberi saran.
Kinanti dan Demian kompak mengangguk.
“Berapa siswa yang ikut Olimpiade sekarang?” tanya Demian. Remaja itu terlihat sangat siap.
“Untuk MIPA sekitar dua ratus orang. Babak pertama akan ada eliminasi besar-besaran dan hanya menyisakan sepuluh orang saja. sepuluh orang itu nanti akan ikut test kedua, disisakan tiga orang untuk masuk ke sesi stress test atau final. Pemilihan juara satu sampai tiga ditentukan di sana. Jadi hari ini, kita sudah bisa langsung dapat hasil siapa juara olimpiade tahun ini.” Jack menatap Demian dan Kinanti bergantian. Mereka terlihat cukup tegang.
“Semangat dong! Saya dan pihak sekolah tidak pernah mewajibkan siswa kami untuk menang. Tapi kami berharap kalian menunjukkan kemampuan terbaik kalian. Olimpiade ini memang membawa nama baik sekolah tapi feedback positifnya akan kembali ke kalian. Jadi, semangatlah. Karena ini untuk masa depan kalian.” Jack mengepalkan kedua tangannya memberi semangat.
“Iyaa, aku akan bersemangat!” sahut Kinanti dan Demian nyaris bersamaan.
__ADS_1
“Good job! Give me five!” Jack mengulurkan tangannya hendak tos dan Kinanti juga Demian membalasnya bergantian. Jiwa kompetisi benar-benar menyala di mata mereka.
Setengah jam perjalanan menuju tempat lomba ditempuh dengan mudah. Tidak ada kemacetan berarti karena mereka berangkat cukup pagi. Kinanti diberikan ruang persiapan bersama Demian. Tatapan setiap siswa yang mereka temui seolah menunjukkan genderang perang pada sesama siswa yang akan menjadi rival mereka.
“Demi, aku kok tegang banget ya?” Kinanti merasakan jantungnya berdebar sangat kencang dan tangannya dingin.
“Tenanglah, kamu duduk dulu.” Demian menyentuh tangan Kinanti yang basah karena berkeringat. Kinanti memandangi tangannya yang digenggam oleh Demian lalu perlahan berusaha melepaskannya.
“Oh, maaf. Aku gak maksud apa-apa.” Demian sepertinya sadar kalau Kinanti tidak terlalu nyaman.
“Iya.” Kinanti segera memindahkan tangannya ke belakang tubuhnya. Meremas tissue yang sejak tadi ia pegangi. Karena hal itu suasana menjadi kikuk.
Jack yang melihat interaksi dua anak itu tersenyum sendiri. Sepertinya benar yang dikatakan Yudhistira semalam kalau putra sambungnya menyukai Kinanti dan ia diminta mengawasi dua anak itu.
Tidak lama deringan telepon terdengar cukup nyaring. Suara deringan itu berasal dari ponsel Demian. “Sebentar, aku jawab telepon dulu,” pamit Demian.
“Oh ya, silakan.” Kinanti mengangguk, memberi jalan untuk demian lewat. Remaja itu tampak tergesa-gesa, entah siapa yang menghubunginya.
Sambil menunggu Demian, Kinanti berkeliling disekitaran bangunan sekolah yang dijadikan tempat pelaksaaan olimpiade. Sekolah bertaraf internasional ini menjadi tuan rumah pelaksanaan Olimpiade tahun ini. Suasananya sejuk, luas dan bersih. Kinanti memilih duduk-duduk dibangku taman untuk menenangkan dirinya. Memperhatikan siswa lain dari kejauhan, menjadi hiburan tersendiri.
“Nak, udah sampe tempat olimpiadenya?” sebuah pesan diterima Kinanti dari sang ayah.
Kali ini bukan pesan text yang menjadi balasan dari Lukman, melainkan pesan suara. “Kinan yang tenang. Kan Kinan udah belajar dan menyiapkan semuanya secara maksimal. Sekarang saatnya Kinan menunjukkan apa yang Kinan pelajari. Kalah atau menang jangan dijadikan target. Sampai tahap ini aja, Ayah udah sangat bangga. Semangat ya, Nak!” ujar Lukman dengan suara yang menenangkan. Kinanti bisa membayangkan, sang ayah pasti tersenyum setelah mengucapkan kalimatnya ini.
“Iya, Ayah.” Suara Kinantipun di buat penuh semangat. Setelah itu, kinanti mencengkram ponselnya erat-erat. Sungguh, dukungan Lukman adalah salah satu penyemangatnya. Tidak lama berselang, ponsel Kinanti berdering dan menampilkan nama seseorang.
“Ya, Kal.” Panggilan Kala segera dijawab oleh Kinanti. Sepertinya ia sangat menunggu pesan atau panggilan dari sahabatnya.
“Hey, udah masuk kelas belum?” suara Kala tersengar ringan dan dalam, membuat jantung Kinanti tiba-tiba berdenyut lembut.
“Belum. Ini masih di luar. Bentar lagi kayaknya masuk.” Kinanti melihat jam ditangannya, sekitar lima belas menit lagi.
“Boleh video call?” pinta Kala.
“Ya, boleh.” Dalam beberapa detik panggilan videopun tersambung, menampilkan wajah Kinanti yang bersemu kemerahan.
“Kamu lagi di rooftop?” tanya Kinanti saat melihat Kala yang duduk di atas karpet.
“Iyaa, lagi sarapan. Kamu udah sarapan?” Kala menunjukkan menu sarapannya.
“Udah. Tadi sebelum berangkat.” Kinanti berjalan-jalan disekitar taman membuat Kala bisa melihat suasana yang sejuk dari kamera ponselnya.
__ADS_1
“Kamu lagi dimana itu?”
“Aku lagi di taman sekolah. Biar gak tegang, jadi aku jalan-jalan dulu.”
“Sendirian?” Kala ingin memastikan.
“Iyaa. Demian tadi jawab telepon dan belum kembali. Kalau Mr Jack ada di ruang persiapan.”
“Syukurlah,” ucap Kala menggantung. Ia semangat menyuapkan nasi ke mulutnya.
“Syukur apanya?” Kinanti jadi penasaran.
“Nggak, bukan apa-apa.” Kala hanya tersenyum kecil. Mana mungkin ia mengatakan bersyukur Kinanti tidak sedang bersama Demian. Kalau itu sampai terjadi, akh sepertinya ia akan menyusul sekarang juga.
“Kinanti,” panggil suara milik Jack.
“Ya!” Kinanti segera menyahuti. Ia melihat Jack melambaikan tangan padanya.
“Kal, aku masuk dulu yaa. Udah mau mulai kayaknya.” Kinanti berujar dengan cepat.
“Okey, goodluck yaa. Sukses. Kalau ada yang ragu, inget aku sama ayah. Nanti kamu bisikin.” Kala berusaha menggoda Kinanti agar tidak tegang.
“Bisikin apanya? Jawabannya?”
“Bukan, semangatnya. Mana bisa aku bantuin jawab, belajar aja jarang. Itupun kalau kamu yang ngajarin.” Kala terkekeh di ujung kalimatnya.
“Hahahaha, ada-ada aja kamu. Ya udah, aku masuk dulu ya. Bye Kala.” Kinanti melambaikan tangannya dengan manis.
“Bye Kinan, sukses yaa… SEMANGAT KINAN!!” Kala sampai berteriak untuk menyemangati Kinanti.
“Hahahaha, dasar gila!” Kinanti menggeleng tidak mengerti dengan tingkah Kala.
Selesai bertelepon, Kinanti segera menghampiri Jack. “Demian mana?” tanya Jack.
“Demian? Aku gak bareng Demian, Mr Jack. Tadi dia pamit buat telepon, apa belum kembali?” Kinanti ikut bingung. Melihat kesekelilingnya untuk mencari Demian.
“Ya udah, kamu masuk duluan. Biar saya cari Demian.” Jack menepuk bahu Kinnati dan Kinanti hanya bisa mengangguk patuh.
Demian kemana ya?
****
__ADS_1