
Di jam istirahat, Kala memilih untuk pergi ke rooftop. Ia perlu penyegaran dan mengenang kebersamaannya dengan Kinanti. Tetapi baru akan membuka pintu, langkahnya terhenti saat ia mendengar suara dua orang sedang berbincang didekat tangga menuju rooftop. Kala terpaksa berhenti dan mencuri dengar.
“Ya lo bantuin gue lah! Gak mungkin gue mintain duit terus sama bokap gue dengan alasan yang gak jelas. Kartu kredit gue aja sekarang diblokir sama bokap gara-gara gue beli ip*one dua tapi barangnya gak ada. Mesti gimana lagi coba gue, Dem?” Kala mengenali suara itu sebagai milik Frea.
Dem? Kala memikirkan nama panggilan itu, apa mungkin maksudnya Demian?
“Ya gue juga gak tau. Preman itu masih ngehubungin gue dan minta duit juga ke gue. Tengah malam coba gue ke ATM buat ngambil duit cash dan mereka udah nungguin di deket pos satpam kompleks. Gimana kalau bokap gue tau? Bisa berabe kan.” Kali ini suara Demian yang terdengar.
Kala memilih menyandarkan tubuhnya di dinding sebelah pintu, sepertinya ada baiknya ia menyimak dulu pembicaraan ini sampai selesai.
“Aturan waktu itu lo gak usah minta bokap lo ngebacking dan ngebebasin mereka, waktu Kinanti laporin mereka ke polisi. Kalau mereka ditangkap kan kita aman.” Demian menatap Frea dengan kesal.
“Aman apanya begok! Lo mau kalau preman itu sampai bilang ke polisi kalau sebenernya gue yang rencanain ini semua? Lo mau gue ikutan dipenjara? Gila lo ya!” Frea mendengkus kesal seraya mengerlingkan matanya dari Demian.
“Ya itu kan lo. Lagian lo yang punya ide, nyuruh preman buat nakut-nakutin Kinanti.” Demian mulai cuci tangan.
“Eh brengsek ya lo! Itu kan biar kita sama-sama untung. Lo keliatan hebat depan Kinanti dan gue bisa dapetin Kala. Lo lupa kalau kita udah sepakat?” Frea benar-benar meradang kesal.
“Jangan mulut lo, jangan sampe yang lain denger!” Demian segera membekap mulut Frea yang lancar berbicara hingga terdengar jelas oleh Kala dan beberapa siswa yang melintas didekat mereka.
Kala tersenyum kecil, lalu dengan santai ia masuk ke ruangan itu.
“Astaga!” Frea terhenyak saat melihat kala yang masuk dengan santai dan melewati mereka.
“Silakan dilanjutkan.” Kala berjalan dengan acuh saja, menaiki satu per satu anak tangga.
“Kal, tunggu! Kamu denger ya?” Frea tampak panik, begitupun Demian.
__ADS_1
Kala tersenyum kecil dan menghentikan langkahnya. “Gelombang suara lo masih antara 20-20.000 Hz, kecoakpun denger.” Berteman dengan Kinanti membuat Kala bisa menjawab pertanyaan dengan ilmiah.
“Kal, aku gak lagi becanda. Kamu denger kan?” Frea semakin panik. Uangnya sudah habis dan orang yang ingin ia jebak malah mendengar semuanya. Entah apa yang harus ia lakukan sekarang.
Kala berbalik lantas tersenyum kecil pada Demian dan Frea. Ia turun satu anak tangga lalu duduk santai disana.
“Gue bukan orang yang suka ngadu, kenapa lo berdua harus panik?” Kala balik bertanya. Ia sengaja melirik Demian yang hobby mengadukannya pada Yudhistira.
“Kaaall, pleaseeee….” Frea semakin panik. Ia menghampiri Kala dan menatapnya dengan sungguh.
“Kenapa memohon sama gue? Urusan gue apa? Lo memohon aja sama bokap kalian berdua. Kekuasaan mereka kan besar, luas, tak terbatas. Mereka bisa melakukan apapun didunia ini tanpa ada yang bisa melarang dan mencegah. Sementara gue, gue siapa? Hah, lo pikir gue siapa?” Kala menimpali dengan penuh ketegasan. Ia tidak mau berurusan dengan para preman lagi.
“Kaaalll, please… aku ngerasa cuma kamu yang bisa bantuin aku sama Demi.” Frea benar-benar memohon, ia memegangi lengan Kala dengan tangannya yang dingin dan basah. Sepertinya ia benar-benar ketar-ketir.
“Maksud lo bantuin gimana? Lo mau gue berantem sama mereka?” Kala balik bertanya.
Kala menatap Frea beberapa saat, juga Demian. Remaja itu gengsinya setinggi langit, tidak akan mau memohon seperti Frea.
“Tolong gue kalau lo memang bisa bantu gue. Gue juga akan ngelakuin apapun buat lo.” Hah, rupanya Demian juga menyerah. Setelah dipukuli habis-habisan sepertinya otaknya mulai bisa berpikir dengan benar.
Kala berdecik kecil seraya terkekeh. Wajahnya sampai merah menahan tawa yang ia tutupi dengan kepalan tangannya.
“Kalian berdua kenapa sih bisa kompak bikin masalah? Terus kenapa juga sok-sokan mojokin gue sebagai bad boy kalau ternyata kalian bisa lebih culas dari gue? Lo tau gak kalau kalian gak cuma bahayain diri kalian berdua, tapi juga Kinanti?!” ucapan Kala pelan, tetapi penuh penekanan, membuat dua orang itu hanya bisa menunduk.
“Hah! Brengsek emang!” Kala berdiri dan menendang pegangan tangga yang terbuat dari besi. Frea sampai terhenyak karena kaget. Kala mengusap wajahnya dengan kasar dan memandangi satu per satu wajah yang ketakutan itu.
“Gue akan coba bantu lo berdua, tapi gue ada dua syarat.” Kala mencoba memberikan penawaran.
__ADS_1
“Apa? Apa Kal? Aku pasti penuhin.” Frea menjawab dengan cepat.
“Lo?” Kala bertanya pada Demian.
Demian tampak berpikir, “Ya, gue akan penuhin asal lo berhasil nyingkirin mereka.” Ternyata remaja itu juga menyanggupinya.
“Okey!” Kala berdiri dengan tegak.
“Syarat yang pertama, kalian berdua gak boleh ngusik Kinanti lagi dan semua hal yang berhubungan dengan Kinanti, termasuk gue. Karena gue pacarnya.” Gaya Kala agak lain kali ini, sedikit jumawa.
Frea mengerucutkan bibirnya kesal, tetapi tidak protes. Begitupun dengan Demian yang hanya membuang muka.
“Kedua, lo harus ngakuin ini sama orang tua kalian berdua.” Untuk syarat yang ini, Kala menyampaikannya dengan penuh kesungguhan.
“Tapi Kal,” Frea segera menimpali.
“Take it or leave it. Terserah kalian berdua. Gue gak akan maksa.” Kala berujar dengan santai. Ia berbalik meninggalkan Frea dan Demian, memberi mereka waktu untuk berpikir.
“Iya, gue bersedia.” Demian yang menjawab lebih dulu sebelum Kala pergi dari hadapan mereka.
Kala tersenyum kecil, akhirnya si tukang lapor itu akan mengakui perbuatannya sendiri pada Yudhistira. Ia ingin melihat bagaimana reaksi Yudhistira saat mendengar pengakuan Demian. Masih sebagai anak kebanggaan kah?
“Iya, aku juga bersedia, Kal.” Takut-takut Frea menyetujuinya. Walau konsekuensinya ia tidak bisa mendekati Kala dan mengganggu Kinanti lagi, tetapi paling tidak hidupnya akan damai.
Kala hanya tersenyum kecil dan meneruskan langkahnya menuju rooftop, ia perlu berpikir banyak. Harus ia akui kalau ia pun merasakan ketakutan akan kegagalan menghadapi preman itu. Tetapi, ia lebih tidak mau kalau Demian dan Frea masih menggangu Kinanti dimasa yang sulit ini.
Ya, hanya itu alasan Kala.
__ADS_1
****