Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Pesan Ayang


__ADS_3

Dua orang remaja berlarian sambil berpegangan tangan di bandara yang sedang ramai oleh para calon penumpang juga orang-orang yang sedang mengantar anggota keluarga mereka, seperti halnya Kinanti mengantar Kala untuk berangkat ke Jepang.


Setelah acara perpisahan dengan teman-temannya semalam, Kala dan Kinanti sama-sama bangun kesiangan. Mereka masuk ke area Bandara dan menyerahkan koper yang harus diperiksa.


“Tiket sama passportnya gak lupa kan?” Kinanti mengecek kembali isi tas pungung Kala.


“Nggak yang. Mamah udah nyimpen di dalem tas dari sejak kemarin.” Kala mengingat persis apa yang ibunya siapkan kemarin.


Kinanti tetap mengeceknya dan ia tersenyum lega saat ternyata dua benda penting itu benar-benar ada di tangannya. “Keberangkatan jam delapan lewat lima belas. Empat belas menit lagi, Yang.” Mata Kinanti membulat.


“Iya, sini aku peluk dulu.” Kala langsung memeluk Kinanti yang masih kaget.


“Kamu harus check in sekarang, nanti ketinggalan pesawat. Kamu kan harus langsung ketemu sama dosen pembimbing kamu. Inget, orang Jepang itu disiplinnya tinggi. Kamu gak bisa leha-leha.” Kinanti berpesan dalam pelukan Kala.


“Iyaaa, aku bentar lagi check in. Tapi aku mau denger pesan-pesan kamu dulu. Pesen buat Mas Kala. Kata mamah kamu mau manggil aku kayak gitu kan?” Kala melerai pelukannya dan menjawil hidung Kinanti dengan gemas. Wajah Kinanti yang sedih bercampur rona merah, akan selalu ia rindukan.


“Ish kamu yah, udah beberapa menit lagi mau berangkat masih sempet-sempetnya godain aku.” Kinanti menonjok dada Kala dengan kesal dan remaja itu hanya terkekeh sambil memegangi kepalan tangan Kinanti.


“Hey, pacar!” Kala mencolek dagu Kinanti agar menatapnya lurus ke depan.


“Apa?” Kianti tidak bisa menyembunyikan rona merah di wajahnya.


“Calon bu dokternya aku, jaga diri baik-baik ya. Berjuang untuk test akhirnya. Kabari aku setelah kamu lulus. Jangan lupa charge hp, belajar motornya yang fokus sama Riko. Belajar nyetirnya juga yang rajin, sama Emili. Kasih tau aku kalau SIM nya udah keluar. Terus, belajar taekwondonya juga yang fokus, jangan mikirin aku terus.” Kala memegangi kedua sisi Kepala Kinanti, sedikit mengguncangnya dengan gemas lalu mengecup dahinya.


“Kalau nanti aku pulang. Kita akan balapan. Aku test kemampuan kamu. Jadi tungguin aku di sini. Di titik yang sama.” Kala menambahkan kalimatnya.

__ADS_1


Kinanti mengangguk pasti. “Makan yang banyak di sana. Kamu bakal ketemu sama banyak jenis olahan ikan, jadi gak ada alasan buat nunda makan. Belajarnya juga yang rajin, kirimin aku foto setiap perubahan musim.” Kinanti balas memberi pesan. Ia menepuk-nepuk dada Kala dengan lembut.


“Perlu kirim PAP tiap hari gak?” Kala mencoba menggoda gadis itu.


“Emmm, semua tergantung pada priortas kamu. Kamu yang paling tau gimana caranya menjaga komunikasi kita agar tetap baik.” Kinanti memberi banyak kepercayaan dalam kalimatnya.


Kala mengangguk paham. Ia mengusap wajah Kinanti dan menjawil hidung bangir kekasihnya dengan gemas. Mereka sama-sama tersenyum.


“Delapan menit lagi Kal,” Kinanti menunjukkan jam di tangannya pada Kala.


“Akh sial! Kenapa cepet banget sih.” Kala segera memakai kembali tas punggungnya.


"Aku boleh titip pesen satu hal lagi?" Kinanti mengacungkan jari telunjuknya pada Kala.


"Katakan,"


"Sesampainya di Jepang dan pikiran kamu lebih tenang, luangin waktu kamu untuk menghubungi Papah kamu. Selagi beliau masih ada, coba untuk perbaiki hubungan. Aku tau itu tidak mudah, tapi setiap orang pernah berbuat salah Kal, dan berhak meminta maaf. Pilihan memaafkan sekarang ada di kamu. Kamu mau hati kamu lega atau tidak, itu juga ada di kamu. Aku mengingatkan karena aku sudah pernah kehilangan seorang ayah. Sesalku lebih besar setelah beliau tiada." Kinanti berujar dengan sungguh.


Kala tersenyum kecil, "Aku akan mencobanya." Laki-laki itu tertunduk lesu.


Perlahan Kinanti berjinjit dan mencium pipi Kala. “Hati-hati di jalan ya, kabari aku setelah kamu sampai,” pesan Kinanti.


“Okey, bye!” Kala mengusap kepala Kinanti dan sedikit mengacak rambut kekasih hatinya. Kinanti tidak protes karena entah kapan lagi Kala akan menggodanya seperti ini. Remaja itu berjalan mundur beberapa saat, tetapi tiba-tiba berlari lagi menghampiri hanya untuk sekedar mengecup bibir Kinanti. “I Love you!” ucapnya dengan penuh kesungguhan.


Kinanti sampai tercengang mendapat serangan yang tiba-tiba dari Kala. Ia mematung di tempatnya sambil menutupi bibirnya yang tadi di kecup Kala. Matanya melihat ke sekelilingnya, beberapa orang memperhatikannya dan wajah Kinanti langsung memerah.

__ADS_1


Sementara sang pelaku melanjutkan langkahnya sambil melambaikan tangannya pada Kinanti. Berulang kali bad boy itu mengacungkan tangannya memberi tanda hati pada Kinanti.


“I LOVE YOU!!!” teriaknya saat ia masuk ke pintu check in.


“Astaga!” Kinanti menepuk jidatnya sendiri melihat tingkah Kala. Ia balas melambaikan tangannya pada Kala yang semakin lama semakin menjauh dan menghilang di pintu masuk sana berbaur dengan penumpang lainnya.


Setelah Kala pergi, Kinanti termenung sendirian. Ia tersenyum kecil merasakan jantungnya yang berdebar kencang saat mengingat semangat Kala yang begitu menggebu. Tidak ada alasan untuknya menahan kepergian Kala.


Gadis itu segera berlari ke jendela bandara dan berdiam diri di sana. Kata Emili, dari jendela ini Kinanti akan melihat pesawat yang akan membawa Kala pergi. Hatinya gusar menunggu detik-detik keberangkatan Kala. Dan setelah beberapa menit, satu pesawat terlihat lepas landas. Terbang dengan sudut tiga puluh derajat dan semakin lama semakin tinggi.


“See you soon Kal, I Love you.” Kinanti balas melambaikan tangannya pada pesawat yang membawa Kala. Ia berharap Kala sampai dengan selamat.


“Mana Kala?” tanya Riko yang baru tiba dan langsung menghampiri Kinanti.


Kinanti segera berbalik, melihat wajah Riko yang merah karena berlari. Emili bahkan masih terengah-engah. “Barusan aja pesawatnya berangkat.” Jawaban Kinanti terdengar enteng.


“Sial, dia gak nugguin gue.” Riko mengeram kesal dan Kinanti hanya tersenyum.


“Lo baik-baik aja?” tanya Emili dengan cemas.


“Ya,” Kinanti menjawab dengan tenang.


“Syukurlah. Gak usah sedih ya, tar nyampe sana juga dia pasti langsung ngehubungin lo.” Emili mengusap bahu Kinanti dan memeluknya sejenak.


“Iya, dia udah janji kok sama gue.” Kinanti mengiyakan hal itu.

__ADS_1


Tiga remaja itu meninggalkan jendela bandara dan memilih pulang. Kala sudah memantapkan hati untuk menjemput mimpinya, maka sekarang adalah tugas tiga remaja ini untuk melakukan hal yang sama.


****


__ADS_2