
Di hari yang mulai merambat gelap, sebuah jendela kamar masih terbuka lebar. Mengalirkan hawa dingin angin malam yang masuk melalui celah kecil dan berongga itu.
Seorang gadis terduduk di kursi kebesarannya, merangkai kata di atas secarik kertas polos yang ia hiasi dengan goresan pena berjenis huruf mirip tipe times new roman. Tulisannya sangat rapi dan mirip dengan tulisan yang diketik di komputer.
Kinanti tengah mengerjakan tugasnya, menulis sebuah essay yang menjadi tugasnya hari ini. Sambil bergumam lirih ia menuliskan setiap kata yang melintas dibenaknya. Beberapa frase ia buat untuk memenuhi satu halaman minimal yang harus ia kumpulkan lusa hari.
“Aaakkhh… tengkukku pegel banget.” Kinanti mengusap lehernya yang mulai pegal karena sedari tadi terus menunduk.
Tenaganya harus ekstra karena masih ada beberapa buku pelajaran bertumpuk di sudut kanan meja untuk ia pelajari sebagai bahan materi olimpiade yang akan ia ikuti bulan depan. Sesekali ia menguap karena rasa kantuk mulai mengganggunya. Ia mengambil satu kompres bayi yang ia tempelkan ke keningnya agar terasa segar.
“Minum dulu deh, biar segeran. Ini mata juga udah mulai sepet.” Kinanti beranjak untuk turun ke lantai bawah, tempat dapurnya berada. Suasana rumah yang hening tanpa ada suara televisi yang menyala membuat Kinanti merasa kesepian.
Ia mengambil segelas air, suara buih air yang menggema di dalam gallon menjadi satu-satunya suara yang ia dengar. Segelas air itu teguk hingga tandas dan berhasil menghapus dahaganya.
Sebelum kembali ke kamar, ia sempatkan untuk menutup gorden rumahnya. Mengintip ke dalam kamar sang ayah yang sepi dan rapi. Ia tersenyum beberapa saat melihat foto dirinya dan Lukman yang terpajang di dinding kamar.
“Aku kok kangen banget ya sama ayah?”
Sambil bersandar di pintu kamar, Kinanti memandangi seisi kamar ini beberapa saat. Padahal baru sehari Lukman pergi dinas luar tapi ia sudah sangat merindukan pria paruh baya itu. Pesan terakhir yang Kinanti terima adalah siang hari tadi, saat ia sedang beristirahat. Lukman mengabari kalau pekerjaannya cukup banyak hari ini. Ia juga akan mematikan ponselnya karena tidak boleh menggunakan ponsel di dalam ruang kerjanya.
Okey, Kinanti paham benar akan hal itu.
Puas memandangi kamar sang ayah, ia mematikan lampu kamar dan ruang utama. Hanya lampu malam yang menyala di sudut ruangan. Pintu kamar Lukman juga ia tutup rapat lantas segera kembali ke kamarnya dengan membawa gelas berisi air yang sudah ia isi ulang.
Di dalam kamar, kinanti merapikan meja belajarnya dan menaruh segelas air di sana. Ia berniat untuk beristirahat sebentar dan menyalakan ponselnya.
“Aku belum ngabarin ayah soal pendaftaran olimpiade, aku kirim foto formulirnya aja akh.” Kinanti berceloteh sendiri lalu mengirimkan foto formulir pendaftaran melalui pesan singkat dengan pesan,
__ADS_1
“Ayah, hari ini Kinan resmi ikut olimpiade. Kinan langsung di kasih nomor urut empat puluh sembilan. Sama dengan umur ayah. Semoga hoki ya ayah, hehehe….”
“Ngomong-ngomong, gimana kerjaan ayah hari ini? Hapenya kok belum aktif? Ayah lembur ya?” ini pesan kedua yang di kirimkan Kinanti.
“Ayah jaga Kesehatan yaaa… banyakin minum. Jangan lupa pake masker biar gak kebanyakan menghirup udara kotor. Kabarin Kinan kalau ayah udah on. Okey ayah?”
“Kinan sayang ayah, sayang bangeett….”
Beberapa baris pesan itu yang Kinanti kirimkan pada Lukman. Gadis muda itu memandangi beberapa saat foto dirinya dengan Lukman, foto saat berada di dalam mobil sebelum berangkat ke Jakarta.
“Ayah adalah pria terhebat dalam hidup Kinan. Sehat selalu dan panjang umur ya ayah,” gumam Kinanti seraya mengusap layar ponselnya.
Tanpa Kinanti tahu, saat ini Lukman sedang terbaring di rumah sakit dalam keadaan lemah dan tidak berdaya. Banyak selang dan jarum yang menempel di tubuhnya. Monitor perekam jantung juga menggambarkan kondisi Lukman yang tidak baik-baik saja
Baru beberapa menit lalu Lukman sadarkan diri setelah ia pingsan akibat proses pengobatan kankernya. Kadar hemoglobin dalam darahnya turun drastis. Wajahnya terlihat sangat pucat dengan bibir kering dan mata yang celong.
“Ki… nan… ti….” Suara Lukman terdengar sangat lemah nyaris tidak terdengar.
“Akang mau ketemu putri Akang?” Seno merespon dengan cepat.
Lukman menggeleng perlahan. “Jangan….” Satu kata itu terucap bersamaan dengan nafasnya yang berhembus kasar.
Air matanya menetes perlahan. Ia tidak bisa membayangkan kalau Kinanti melihatnya dalam kondisi seperti ini.
Lukman berpikir kalau ia akan kuat menghadapi pengobatan pertamanya tapi ternyata pengobatan untuk penyakit yang saat ini sedang menggerogoti tubuhnya tidaklah mudah. Sejak siang tadi entah berapa prosedur pengobatan yang ia dapatkan dan membuat tubuhnya lemah.
Ia hanya bisa berharap agar tubuhnya yang sakit ini bisa jauh lebih kuat di banding sel kanker yang sedang berusaha dilumpuhkan.
__ADS_1
“Lalu Akang mau gimana? Akang belum ngabarin anak Akang. Dia pasti cemas.”
Lukman mengangguk pelan dan tangannya menggenggam tangan Seno dengan erat. Ia bisa membayangkan bagaimana tidak tenangnya perasaan putrinya saat ini. Ia tidak yakin kalau ia hanya butuh waktu satu minggu untuk pengobatan penyakitnya.
“Mau saya kirimin pesan, buat anaknya akang? Akang mau ngomong apa? Biar nanti saya ketikin,” tawar Seno.
Lukman mengangguk setuju. Ia meminta Seno mendekat dan mengucapkan beberapa kalimat untuk Seno sampaikan pada putrinya.
“Iyaa, nanti saya bilangin. Akang tunggu sebentar yaa. Saya harus nyalain hape nya di luar. Di sini gak boleh menggunakan hape karena banyak barang elektronik.”
Lukman mengangguk setuju. “Terima kasih.” Suaranya begitu pelan.
“Iya Kang, sama-sama. Akang kayak sama siapa aja, bilang terima kasih terus. Sebentar ya Kang.” Seno menepuk tangan Lukman perlahan lalu pergi meninggalkan Lukman di ruang perawatan.
Lukman berusaha mengatur nafasnya agar lebih teratur. Efek samping dari pengobatan kankernya ternyata sangat luar biasa. Sebelum pingsan Lukman muntah-muntah entah berapa kali. Tubuhnya sangat lemas dan kelelahan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Belum lagi mulutnya yang terasa kering sampai sulit menelan salivanya sendiri. Badannya masih demam dan mual itu belum juga hilang.
Di sebrang sana, Kinanti tengah tersenyum lega saat menerima pesan dari ayahnya.
“Malam Kinanti, gimana kabarnya? Ayah baik-baik aja dan masih di kantor. Kinanti makan yang banyak nya, jangan sampai kurusan kalau nanti ayah pulang. Do’ain ayah agar semuanya cepet selesai dan bisa pulang buat ketemu Kinanti lagi.”
Sebaris pesan panjang itu yang diterima Kinanti. Ia memeluk ponselnya dengan erat, bahagia rasanya karena Lukman mengabarinya kalau ia baik-baik saja.
“Iya ayah, Kinan pasti do’ain ayah biar ayah cepet selesai urusannya. Sayang ayah banyak-banyak,” balas Kinanti.
Beberapa saat ia pandangi pesan dari Lukman. “Ayah tumben manggil aku Kinanti? Biasanya Kinan doang. Tulisannya juga tumben rapi banget, ada tanda bacanya. Biasanya tanpa titik sama koma sampe aku bingung maksud tulisan ayah.” Kinanti bergumam sendiri karena ia merasa kalau tulisan pesan Lukman sedikit berbeda.
Tentu saja karena yang mengirimkan pesan itu adalah Seno, bukanlah Lukman.
__ADS_1
****