
“Ayah!” Suara Kinanti terdengar serak.
Seperti ditampar oleh sebuah kejutan, tubuh Kinanti terasa lemah dan seluruh sendinya luruh melihat Lukman yang terbaring tidak berdaya dilantai dalam kondisi tidak sadarkan diri. Gadis itu segera menghampiri Lukman, tidak peduli banyaknya pecahan gelas yang terserak di lantai dan ia singkirkan dengan kakinya yang masih mengenakan sepatu.
“Ayah, Ayah!” Kinanti mengguncang tubuh Lukman beberapa kali, tetapi Lukman tidak bergeming.
“Ayah, jawab Kinan Ayah!” Kinanti mulai panik, bulir bening berkumpul disudut matanya yang memerah. Wajahnya yang berubah pucat. Ia masih sangat kaget dan tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya bisa menahan tangis didadanya yang tidak pecah karena keterkejutannya jauh lebih besar. Ia duduk bersimpuh disamping Lukman dan memeriksa kondisi pria paruh baya itu.
“Kinan, aku akan nelpon ambulance, kamu tunggu sebentar,” ujar Kala yang tidak kalah terkejut. Ia berinisiatif menghubungi rumah sakit, tetapi dijam sibuk seperti ini, sulit sekali untuk terhubung. Melihat kondisi Lukman seperti ini, bukan hanya Kinanti yang ketar-ketir melainkan juga Kala.
Kinanti tidak mengiyakan ataupun menyanggah ucapan Kala. Ia lebih memilih memeriksa Lukman semampu yang bisa ia lakukan. Dengan tangannya yang gemetar, ia menyentuhkan punggung tangannya ke hidung Lukman untuk memeriksa hembusan napas Lukman, ternyata tidak ada napas yang berhembus. Dada Kinanti ikut merasakan sesak yang tidak bisa ia jelaskan. Mungkin karena ia sangat panik mendapati Lukman tidak bernapas.
“Nggak, nggak bisa kayak gini! Ayah! Ayah!” lagi Kinanti mengguncang tubuh Lukman, tetapi tetap saja Lukman tidak bergeming.
Cepat-cepat Kinanti beralih memeriksa jantung Lukman, membuka paksa bajunya dan menempelkan telinganya ke dada Lukman untuk mendengarkan detak jantuk Lukman.
Deg!
Ternyata jantung Lukman juga berhenti berdetak.
“Astaga Ayah!” Kinanti semakin panik. Ia menangis sesegukan dengan tangan yang gemetar bingung harus memegang bagian tubuh Lukman yang mana. Kala yang melihat itu tidak kalah panik.
"Brengsek! Kenapa sulit sekali terhubung!" dengus remaja itu yang sudah kalang kabut. Ia mengguyar rambutnya dengan kasar, gelisah menunggu sekali saja panggilan ini terhubung pada rumah sakit manapun.
Kinanti yang tidak bisa menunggu lebih lama. Tanpa berpikir panjang ia segera melakukan apa yang ia pelajari beberapa waktu lalu, yaitu resusitasi jantung.
Ia tumpukkan dua tangannya diatas dada Lukman sambil mengingat urutan apa yang harus ia lakukan. Ia menekan-nekan dada Lukman dengan sekuat tenaga, agar jantungnya terkompresi dan kembali berdetak. Tidak hanya itu, ia juga memberika napas buatan untuk sang ayah walau sambil terisak nyaris putus asa.
“Ayah, bertahan Ayah! Kinan cuma punya Ayah. Jangan tinggalin Kinan.” Kinanti bergumam lirih. Ditengah kepanikannya Kinanti terus mengulang apa yang ia lakukan sebelumnya. Tubuhnya sudah berkeringat karena pada prakteknya ternyata melakukan resusitasi tidak semudah yang tertulis dibuku.
Kala yang sedang menelepon pun tercengang melihat Kinanti yang sedang berjuang sendirian memanggil ayahnya untuk kembali. “Tolong segera ke sini.” Hanya itu yang Kala ucapkan saat panggilan terhubung dengan rumah sakit. Remaja itu membuang ponselnya begitu saja dan memilih membantu Kinanti. Ia biarkan Kinanti memompa jantung Lukman dan Kala memberikan napas buatan.
“Tolong Ayah, tolong.” Air mata Kinanti sudah berjatuhan dan menetes di tubuh Lukman. Ia juga sudah kelelahan melakukan resusitasi, tetapi gadis ini tidak pernah mau menyerah.
“Uhuk!” sampai akhirnya Lukman terbatuk dan memuntahkan air juga obat dari mulutnya.
__ADS_1
“Ayah bernapas!” seru Kinanti yang sedikit lega karena lukman masih merespon.
“Kita langsung bawa ke rumah sakit!” Kala bangkit dengan cepat. Ia mengambil kunci mobil Lukman lalu berjongkok untuk menggendong Lukman di punggungnya.
“Bantu ayah naik ke punggungku, Nan.” Kala berbicara dengan cepat.
Kinanti menurut, dengan susah payah ia mengangkat tubuh lukman dan menaikkannya ke punggung Kala.
“Pegangan Ayah!” ucap Kinanti yang masih diliputi kepanikan. Ia berlari lebih dulu ke mobil dan membukakan pintu untuk Lukman dan Kala.
Kala berlari keluar rumah dengan membawa Lukman dipunggungnya, untuk ia pindahkan ke dalam mobil. Kinanti masik lebih dulu dan terduduk didalam. Ia menjadikan kakinya sebagai bantalan kepala Lukman. Setelah Lukman masuk, Kala segera duduk dibalik kemudi dan melajukan mobil tua Lukman dengan kecepatan tinggi.
“Ayah, bertahan Ayah. Kita ke rumah sakit. Ayah akan mendapat pertolongan.” Kinanti menepuk-nepuk wajah Lukman agar laki-laki itu tetap sadar.
Napas Lukman megap-megap, seperti sangat sesak. "Aku harus gimana, Kal?" Kinanti kembali terisak sambil memegangi tangan Lukman yang begitu lemah dan dingin. Kala tidak bisa menimpali karena ia pun kalut. Sambil melajukan mobilnya, sesekali Kala menoleh ke belakang untuk melihat Kinanti dan Lukman. Kinanti begitu khawatir dengan kondisi lukman yang belum sepenuhnya sadar. Ia hanya bisa menangis, menangisi yang ayah yang begitu ia cintai.
“Tolong lebih cepat Kal, kasian Ayah,” ucap lirih gadis itu dengan tersedu-sedu.
"Iya, Nan. Aku berusaha secepat mungkin," timpal Kala yang semakin panik. Keringat dingin bercucuran didahi Kala. Rasanya ia ingin menggulung jalanan agar bisa segera sampai ke rumah sakit terdekat. Lagi, Kala menambah kecepatan mobilnya. Ia menyalakan lampu atret sepanjang jalan sebagai penanda kalau ia sangat terburu-buru. Beberapa kali ia membunyikan klakson pada apa saja yang menghalangi jalannya.
“Ayah saya pingsan, kak!” seru Kala dari jendela. Terlihat sekali wajahnya yang panik.
“Ikuti saya!” seru pemotor itu yang melaju mendahului Kala lalu membuka jalan untuk Kala. Kala dengan lincah mengekori pemotor itu hingga mereka tiba dirumah sakit.
“Segera turunkan!” pemotor itu membuka pintu mobil dengan tergesa-gesa. Beberapa petugas medis menyambut dengan membawakan blankar untuk Lukman dan memindahkan tubuh Lukman ke atas blankar.
“Terima kash banyak kak, terima kasih,” ucap Kinanti dan Kala pada pemotor itu. Entah bagaimana jadinya kalau mereka tidak bertemu dengan orang baik ini.
“Sama-sama. Masuklah, semoga ayah kalian segera sembuh,” timpal pemotor itu seraya menepuk bahu Kala.
Kinanti dan Kala hanya mengangguk. Mereka segera berlari menyusul Lukman yang sudah dibawa masuk ke dalam ruangan UGD.
“Siapa keluarganya?” tanya seorang dokter.
“Saya putrinya.” Kinanti menjawab dengan cepat. Lihat wajahnya yang masih pucat dan panik serta basah oleh air mata. Disaat seperti ini Kinanti sadar kalau ia tidak bisa hanya terdiam lemah sambil merutuki kondisi Ayahnya. Ia harus menjadi anak yang kuat untuk mendampingi Lukman melewati masa yang sulit ini.
__ADS_1
“Bagaimana kondisi pasien saat ditemukan?” tanya dokter itu sambil memeriksa kondisi jantung dan lapang paru Lukman dengan stetoscopenya, lalu memasangkan oksigen dihidung Lukman.
“Saya menemukan ayah saya pingsan dilantai. Beliau sepertinya habis minum obat,” urai Kinanti.
“Obat apa?”
“Obat ini, dok.” Kinanti menyerahkan beberapa butir obat yang ia masukkan kedalam sakunya. Dokter mengambil obat itu dan mengamatinya.
“Tolong cek ke farmasi, obat apa ini.” Dokter memberikan perintah pada salah seorang perawat.
“Baik, dok.” Perawat itu segera membawa obat Lukman untuk memeriksakannya.
“Dok, apa ayah saya baik-baik saja?” Kinanti masih khawatir walau Lukman sudah terlihat menggerakkan kepalanya perlahan.
“Kita sedang mencoba menolongnya. Siapa yang melakukan resusitasi?” Dokter balik bertanya.
“Saya dok. Apa saya melakukan kesalahan?” Kinanti memegangi tangannya sendiri yang masih gemetaran dan basah karena keringat.
“Tidak, kamu melakukan hal yang tepat. Obat tadi sepertinya menyumbat jalan napas ayah kamu dan dengan resusitasi kamu berhasil mengeluarkannya. Kami akan memeriksa kondisi pasien lebih lanjut, sekarang tunggulah diluar,” ucap Dokter itu.
“Baik, Dok. Tolong selamatkan ayah saya.” Kinanti memohon dengan sungguh. Ia melihat Lukman sangat gelisah, tetapi tidak bisa membuka matanya.
“Tentu, kami akan berusaha semaksimal mungkin,” tegas Dokter tersebut.
“Terima kaish, Dok.” Kinanti mengangguk paham. Ia sempatkan menggenggam tangan Lukman beberapa saat sebelum akhirnya ia meninggalkan Lukman bersama para medis yang sedang memberinya pertolongan.
“Ayah harus bertahan, untuk Kinan. Kinan sangat membutuhkan ayah,” gumam gadis itu dengan langkah gontai keluar dari ruang UGD.
“Gimana Ayah?” ada Kala yang menyambut Kinanti dengan harap-harap cemas.
Kinanti tidak lantas menimpali. Ia duduk dibangku tunggu depan UGD dengan pikiran yang masih linglung.
“Katanya ayah kesedak, saat mau minum obat. Emangnya ayah sakit apa sampai harus minum obat?” hanya gumaman kecil yang keluar dari mulut kecil Kinanti.
Kala tidak menimpali, ia lebih memilih memeluk Kinanti dengan erat untuk menenangkan gadis itu. Kinanti memejamkan matanya beberapa saat sambil menyandarkan kepalanya didada Kala. Sungguh, ia memang butuh tempat untuk bersandar.
__ADS_1
****