
“Kala! Tunggu Kal!” Kinanti memanggil Kala yang berjalan dengan cepat menaiki anak tangga menuju rooftop. Remaja pria itu terlihat masih sangat kesal atas apa yang terjadi di Kantin.
“Kala, berhenti sebentar.” Setengah berlari, Kinanti menyusul Kala, menaiki anak tangga lebih cepat dari remaja itu lalu berdiri, menghadang Kala. Ia berada di satu anak tangga yang lebih tinggi dari Kala hingga posisi mereka cukup sejajar.
“Kal, aku memanggilmu,” ucap Kinanti setelah langkah Kala berhenti. Napasnya terengah-engah kepayahan.
Kala tidak menimpali, ia membuang muka dari Kinanti. Wajahnya masih merah padam karena kesal. Tangannya bahkan masih mengepal. Kinanti bisa mengerti kalau sahabatnya sedang marah tapi alasan marah Kala menurutnya karena ulah yang ia buat sendiri.
“Apa kita udah bisa bicara? Atau kamu masih perlu waktu?” sorot mata Kinanti menatap Kala dengan lekat. Ia masih tidak habis pikir. Entah apa yang salah hingga membuat Kala begitu meradang saat melihatnya duduk disamping Demian.
“Bicaralah kalau mau bicara. Aku gak mau berdebat lagi.” Kala tetap melihat ke sembarang arah, sesekali menunduk sambil memperhatikan tangannya sendiri yang mengepal kuat.
Bibir merah muda dara cantik itu tersenyum kecil. Tanpa di duga, kedua tangannya menangkup wajah Kala lalu membawanya lurus menatap Kinanti.
“Aku lebih suka berbicara dengan cara seperti ini. Melihat sorot mata satu sama lain.” Ucapannya pelan dan penuh ketenangan.
Kala tidak lantas menimpali, ia hanya menatap lekat sepasang mata bening yang menatapnya dengan penuh perhatian juga sepasang tangan yang terasa hangat menyentuh wajahnya. Deru nafasnya yang semula cepat karena menahan marah yang membuncah, sekarang perlahan berubah pelan. Debaran jantungnya pun mulai terkontrol meski tetap saja berdebar cepat dengan ritme yang berbeda. Seperti pusat kehidupan Kala di rongga dadanya ini paham, kapan ia berdebar untuk Kinanti dan kapan berbebar untuk hal lain.
DUBDUBDUBDUB, begitu bunyi jantung Kala sebelumnya. Lalu sekarang, Dub Dub Dub Dub, kencang namun teratur dan nyaman, tidak membuat rongga dadanya terasa sesak.
“Sudah lebih baik?” Kinanti seperti bisa membaca perbedaan yang dirasakan Kala. Mungkin dari hembusan napas Kala yang sudah tidak menderu penuh amarah seperti tadi. Harus ia akui kalau Ia cukup mengenali setiap perubahan kecil pada Kala.
Kala menggangguk pelan ia memang sudah lebih baik.
“Okey, ayo kita bicara di rooftop.” Kinanti berbalik, ia berjalan lebih dulu di depan Kala. Kala menyusulnya dengan langkah yang lebih pelan sambil memikirkan, bagaimana bisa sentuhan tangan Kinanti membuat jantungnya lebih tenang? Ia juga menyentuh wajahnya yang menghangat. Kekesalannya sedikit berkurang saat ia sadar kalau Kinanti memilih untuk menemaninya.
__ADS_1
Sudah pasti, Kala merasa menang dari Demian yang begitu dibencinya. Ia pun menyusul Kinanti untuk segera sampai di rooftop.
Tiba di rooftop, Kinanti sudah duduk lebih dulu di kursi karetnya. Ada sebuah kotak besar yang ia gunakan sebagai meja dan menaruh makanan di sana. Tangannya yang kecil menyodorkan botol minum pada Kala.
“Thanks,” ucap Kala. Ia segera mengambil botol minuman itu. Ia memang perlu meneguk air yang lebih dingin agar perasaannya membaik.
“Duduklah. Tadi kamu belum makan.” Dengan sudut matanya yang cantik, dara manis itu menunjuk kursi di sebrangnya.
Kala menurut, duduk di hadapan Kinanti. Meneguk lagi minumannya tanpa mengalihkan pandangannya dari gadis yang tengah tersenyum kecil padanya. Setelah merasa lebih lega, botol itu ia taruh di atas kotak yang menjadi mejanya dengan Kinanti.
“Kita gak punya makanan berat, makan ini dulu. Sepulang sekolah, kita cari jajanan yang lebih mengenyangkan okey?” dengar, suara bujukannya membuat Kala luluh.
Kala tidak menimpali. Ia mengambil biscuit coklat yang ada dihadapannya lalu memakannya.
“Kamu kayak anak kecil. Butiran coklatnya sampe bertaburan di dagu.” Diusapnya dagu Kala dengan lembut, seraya tersenyum membuat debaran jantung Kala kembali tidak menentu. Remaja tampan itu mengalihkan pandangannya dari Kinanti, jantungnya semakin tidak aman karena dara itu tersenyum.
Lima biscuit itu sudah berpindah masuk ke dalam perut Kala. Perutnya yang keroncongan sedikit terganjal. Kinanti tersenyum lega karena pada akhirnya Kala bisa kembali terlihat tenang.
“Dia, mengajakku untuk belajar kelompok karena waktu untuk olimpiade semakin dekat, sekitar empat hari lagi. Jadi kami perlu pemantapan.” Kinanti memilih untuk tidak menyebut nama Demian, menunggu dulu sampai Kala benar-benar tenang.
“Kenapa harus dibicarakan di Kantin? Kantin itu tempat makan bukan tempat membahas pelajaran.” Protesan itu yang di dengar Kinanti berikutnya.
“Ya, aku tau. Hanya saja, mungkin karena kami hanya lebih nyaman saat berbicara tentang pelajaran di manapun, sampai lupa kalau Kantin adalah tempat makan. Terima kasih udah ngingetin, Kal.” Senyuman itu kembali terukir untuk Kala.
“Bisa-bisanya kamu merasa nyaman sama dia. Kamu gak tau aja, seperti apa wajah asli anak brengsek itu!” Kala menunjukkan kembali kekesalannya pada sosok Demian yang selalu berusaha untuk mengambil apapun yang ada didekatnya.
__ADS_1
“Kal, Okey, aku setuju kalau kamu lebih mengenal dia di banding aku. Tapi Kal, aku sama Demian gak punya masalah apapun. Kami baik-baik saja dan pelajaran adalah hal yang penting untuk kami bahas. Bisakah untuk tidak memaksaku agar ikut memusuhi dia?"
"Pandangan aku sama kamu berbeda untuk Demian dan aku menghormati sudut pandang kamu tentang dia. Tapi, tolong hormati juga sudut pandangku terhadap Demian. Aku tidak bisa ikut membenci seseorang tanpa alasan. Dia tidak melakukan kesalahan terhadapku, meski aku tau, dia selalu membuat kamu gak nyaman. Tapi dalam hal ini, bisakah kamu membedakannya?”
Kinanti menatap dengan sungguh remaja yang ada dihadapannya. Ia berharap Kala memahami benar ucapannya.
“Aku memang tidak berhak untuk menyuruh kamu membenci seseorang tanpa alasan. Kesalahan dia memang sama aku dan aku gak seharusnya bawa-bawa kamu di masalah aku sama dia. Tapi sepertinya, kamu harus melihat sendiri anak itu aslinya seperti apa. Aku yakin, lambat laun kamu akan melihat muka asli Demian yang asli. Playing victim. Berhati-hatilah!” Kala mencemaskan dan memberi pesan di waktu yang bersamaan, untuk Kinanti.
“Terima kasih sudah mengingatkanku, aku akan memperhatikan itu.” Hanya itu sahutan Kinanti.
“Bisa kita kembali ke kelas? Sebentar lagi pelajaran Mr Jack dimulai,” ucap Kinanti seraya melihat jam yang melingkar di tangannya.
“Okey, tapi berjanjilah kalau hari ini kamu akan menemaniku mencari jajanan, perutku masih lapar.”
“Okey!” jempol kanan Kinanti teracung setuju pada Kala.
“Yuk kita ke kelas!” gadis itu beranjak lebih dulu seraya menarik tangan Kala. Kala sampai kaget dan kontan berdiri tanpa protes. Jantungnya kembali tersengat arus listrik dari tangan Kinanti dan membuatnya berdenyut geli. Namun sepertinya Kinanti biasa-biasa saja. Ha, ini menyebalkan.
Sebuah deringan telepon terdengar dari dalam saku celana Kala. Remaja itu segera memeriksanya dan ternyata nama yang muncul adalah Yudhistira.
“Turunlah duluan, nanti aku nyusul.” Terpaksa Kala melepaskan tangan Kinanti.
“Okey. Aku tunggu di kelas.” Gadis itu berjalan lebih dulu meninggalkan Kala, sementara Kala masih memantapkan hatinya untuk menjawab panggilan Yudhistira.
Ada apa lagi ini?
__ADS_1
****