
Kelas menjadi tempat yang akhirnya mempertemukan kembali Kala dan Kinanti. Setelah kecanggungan di rooftop tadi, sekarang mereka harus berusaha bersikap biasa saja. Pelajaran Bahasa Inggris adalah mata pelajaran yang saat ini sedang berlangsung. Seorang guru wanita tengah membacakan sebuah novel berjudul ‘Odyssey’ karya Homeros yang menunjukkan interpretasi berbeda dari para responden tentang 'kisah yang membentuk dunia'.
Siswa menyimak dengan serius cuplikan bagian yang sedang dibacakan untuk nantinya dibuat ikhtisar. Terkecuali Kala, ia lebih asyik memandangi punggung Kinanti yang sedikit membungkuk. Helaian rambut ikal yang menutupi punggung Kinanti, memancing keisengan Kala untuk memainkannya dengan cara melilitkan rambut Kinanti ke ballpointnya.
“Kal,” panggil Kinanti. Remaja yang tengah asyik memintal-mintal rambut Kinanti itu menoleh. Kinanti menggeleng sebagai tanda agar Kala menghentikan kelakuan isengnya.
“Okey!”
Hanya gerakan bibirnya saja yang terbaca setuju. Tapi beberapa saat kemudian ia melanjutkan keisengannya pada rambut Kinanti, hingga sang empunya kesal dan menarik rambutnya berpibdah seluruhnya ke atas bahu tanpa menyisakan satu helapun di punggungnya.
“Mr Kala,” panggil guru Bahasa Ingris.
Kala dan Kinanti kompak terhenyak. Sepertinya guru Bahasa Inggris mereka sadar kalau Kala sedang bermain-main.
“Ya!” tapi Kala langsung sigap, berbeda dengan Kinanti yang langsung menunduk dengan nyali yang menciut.
“Boleh jelaskan kepada kami, apa isi dari novel Odyssey ini?” tanya sang guru.
“Atau mungkin anda mau cerita kesibukan anda selama saya menjelaskan tadi?” imbuhnya seraya menatap Kala dengan tajam.
“Hahahaha….” Beberapa teman Kala menertawakan tingkah bad boy satu ini. Mereka kompak berpikir, tahu apa Kala tentang sebuah novel legendaris.
“Dengan senang hati saya akan menjelaskan ikhtisar novel Odyssey.” Kala berujar dengan penuh percaya diri. Ia tidak suka diremehkan seperti itu.
“Silakan, kami sangat menunggu,” tantang wanita berkaca mata tebal tersebut.
Kala menegakkan tubuhnya sebelum menjawab pertanyaan guru itu. Sang guru sangat yakin kalau Kala tidak menangkap apapun dari yang ia jelaskan tadi.
“Odyssey adalah sebuah kisah yang menanyakan pertanyaan tentang apa artinya menjadi seorang pria, terutama ketika ia telah dilucuti dari konteks yang telah didefinisikan sebelumnya.” Kala memulai kalimatnya dengan berkelas dan serius.
“Okey, silakan lanjutkan?” guru di depan tampak terkejut dengan awalan ikhtisar yang Kala buat.
“Odysseus adalah seorang suami yang jauh dari istrinya, ayah yang merindukan putranya tumbuh besar, pejuang yang perangnya telah berakhir, raja yang jauh dari kerajaannya, pemimpin yang semua pasukannya mati, pezina pemuas hasrat para dewi, dan putra yang ibunya meninggal karena patah hati lantaran dia percaya bahwa dia telah mati.”
“Dia adalah seorang penjelajah, seorang bajak laut, seorang petualang, seorang pengungsi. Semua kesulitan yang umum dihadapi kaum laki-laki hampir dimiliki oleh pria itu,” tegas Kala dengan penuh percaya diri.
Guru Kala sampai tercengang, ia tidak menyangka kalau Kala bisa membuat simpulan yang jelas seperti itu.
“Okey, good job. Tapi lain kali, memperhatikan orang lain saat berbicara di depan, itu sangat penting.” Wanita berusia sekitar empat puluh tahunan itu berujar dengan serius.
Kala tidak menimpali, ia hanya mengangguk. Lantas tersenyum pada Kinanti yang diam-diam memperhatikannya. Kinanti tidak pernah menyangka kalau Kala bisa menjawab pertanyaan yang bahkan tidak Kinanti mengerti maksud pertanyaan itu.
Di kolong meja, Kinanti mengacungkan jempolnya pada Kala, menakjubkan menurutnya. Dan Kala, ia tersenyum senang karena berhasil membuat Kinanti kagum.
****
Di kantor tempat Lukman bekerja, tengah erjadi keributan. Saat ini pria paruh baya itu tengah berhadapan dengan HRD yang sedang mengintrogasinya. Hal ini dikarenakan Lukman mengajukan cuti tahunan sejumlah sepuluh hari.
“Kamu mau kemana aja cuti selama sepuluh hari kerja? Itu artinya hampir setengah bulan kamu akan absen dari pekerjaan kamu. Kalau sudah merasa bosan dan tidak terima di pindahkan ke kantor pusat, saya bisa mengirimkan contoh surat penguduran diri buat kamu,” ujar kepala HRD dengan sinis.
__ADS_1
Lukman terhenyak kaget, ia tidak menyangka kalau pemikiran kepala HRD-nya sejauh itu.
“Mohon maaf pak, saya mengambil cuti yang cukup panjang, bukan karena saya bosan atau tidak terima dipindahkan ke kantor pusat. Tapi saya memiliki urusan yang harus saya urus. Lagi pula, selama saya bekerja di perusahaan ini, saya belum pernah mengajukan cuti sekalipun selain cuti wajib yang diberikan prusahaan saat istri saya meninggal. Saya tidak pernah protes di tempatkan di pelosok dan diharuskan berpindah-pindah padahal dalam kontrak kerja, harusnya saya bekerja di lapangan maksimal lima belas tahun saja. Saya tidak pernah protes.”
“Ini tahun ke dua puluh saya bekerja di sini pak. Mohon pengertiannya kali ini saja.” Lukman berusaha menjelaskan.
“Kamu mau coba itung-itungan sama perusahaan ini?!” rupanya HRD itu tidak terima.
“Bukan seperti itu, maksud saya,”
“Apa maksud kamu hah, apa?!” laki-laki itu mencengkram kerah kemeja Lukman dengan kasar. Matanya menyalak menatap Lukman dengan tidak suka.
“Kamu tahu kan kalau pekerjaan kita sedang sangat banyak? Di saat yang lain bekerja keras, kamu malah cuti. Kalau kamu tidak mampu, kenapa gak berhenti saja?!” seru laki-laki itu seraya mendorong tubuh Lukman hingga hampir terjengkang.
Beruntung ada meja yang menahan tubuh Lukman agar tidak ambruk.
Lukman hanya terdiam, ia tidak bisa menimpali. Ia sadar benar kalau perusahaan saat ini sedang sangat sibuk. Tapi ia pun tidak mungkin menunda pengobatannya. Sementara kalau ia jujur ia sedang sakit, mungkin ia akan diberhentikan dari perusahaan ini. Jika ia sampai berhenti, bagaimana ia menghidupi Kinanti dan membayar biaya pengobatannya?
Maka, hanya ini jalan satu-satunya yang bisa Lukman lakukan, yaitu pura-pura mengajukan cuti panjang.
“Kenapa kamu diam? Kamu gak bisa ngomong?!” Kepala HRD itu masih belum puas memaki Lukman. Para staf yang ada di luar ruangannya sampai benar-benar hening, membayangkan posisi Lukman saat ini.
“Ada apa ini?” tanya seorang wanita berpakaian Anggun yang melewati ruang departemen umum.
“Se-selamat pagi nyonya,” sapa para staf saat melihat kedatangan pemilik perusahaan ini yang tidak lain adalah Bertha.
“Pagi. Kenapa gaduh sekali di ruangan bos kalian?” Bertha penasaran dengan kegaduhan yang ia dengar.
“Tidak disetujui? Kenapa?”
"Saya kurang tau, Nyonya."
Bertha yang penasaran, memilih mendekat ke ruangan kepala HRD dan diam-diam menguping pembicaraan dua orang itu.
“Mohon maaf pak, kalau ajuan cuti saya terlalu panjang. Saya juga memahami kalau diperusahaan saat ini sedang sangat sibuk. Tapi sungguh pak, saya memiliki urusan yang harus saya selesaikan. Tidak mungkin juga saya resign dari perusahaan yang sudah mempekerjakan saya selama dua puluh tahun ini. Saya mohon permakluman bapak.” Lukman sampai memohon dan bertekuk lutut di hadapan kepala HRD itu.
“Jangan banyak drama kamu! Kamu ini-“
“Ada apa ini?” tanya Bertha yang tiba-tiba membuka pintu ruangan kepala HRD. Wanita ini sudah sangat gerah mendengar obrolan dua orang di dalam ruangan itu.
“Se-selamat siang nyonya.” Cepat-cepat kepala HRD itu menghampiri Bertha dan hendak menyalaminya.
Tapi Bertha mengabaikannya, ia lebih memilih menghampiri Lukman.
“Bangunlah, Anda tidak perlu bertekuk lutut dihadapan dia,” ujar Bertha pada Lukman.
Lukman berusaha bangkit. Tubuhnya sudah sangat lemah dan ia memerlukan pertolongan medis dengan segera.
“Terima kasih, Nyonya,” timpal Lukman tanpa berani menatap wajah Bertha. Ia terlalu malu pada pimpinan perusahaan ini karena telah membuat kegaduhan.
__ADS_1
“Jadi, Anda sudah bekerja di perusahaan ini selama dua puluh tahun?” Bertha mengutip ucapan Lukman beberapa saat lalu.
“Sembilan belas tahun lebih sepuluh bulan, Nyonya.” Kepala HRD menyela ucapan Bertha. Dengan cepat Bertha mengangkat tangannya sebagai isyarat agar pria berkumis tebal dan berkepala pelontos itu tidak ikut campur.
“Benar Nyonya, sembilan belas tahun delapan bulan lima belas hari,” aku Lukman yang masih tertunduk.
“Cukup lama ya. Duduklah.” Bertha meminta Lukman untuk duduk di kursi penghadap sementara ia mengibaskan tangannya pada kepala HRD agar menyingkir. Ia mengambil alih kursi kebanggan pria bermata bulat itu.
Tingkahnya mirip Kala bukan? Hahahaha….
“Terima kasih, Nyonya.” Lukman duduk perlahan, kepalanya sudah pusing berputar dan rasanya tubuhnya hampir ambruk. Beruntung wanita ini tiba di waktu yang tepat.
“Di mana saja anda di tempatkan?” Bertha tertarik untuk mengetahui rekam jejak perjalanan karier pria ini. Langka rasanya mendengar ada karyawan yang masih bertahan di perusahaan ini hingga puluhan tahun lamanya.
“Saya ditempatkan di lapangan, titik point sumatera selama tujuh tahun. Lalu di Kalimantan selama empat tahun. Di sulawesi selama dua tahun. Jawa timur selama empat tahun, NTB selama dua tahun, lalu kantor operasional Bandung selama satu tahun dan bulan ini saya resmi pindah ke sini, Nyonya.”
“Anda punya keluarga?”
“Ada, Nyonya. Saya punya seorang putri yang saat ini berusia tujuh belas tahun. Istri saya sudah meninggal beberapa tahun lalu.”
Bertha mengangguk paham. Setelah mendapatkan informasi dari Lukman, wanita ini menoleh kepala HRD.
“Berapa lama Anda bekerja di perusahaan ini?” pria itu yang kali ini diintrogasi oleh Bertha.
“Delapan tahun, Nyonya.” Ia berujar dengan penuh kebanggan.
“Berapa lama kamu menjabat sebagai kepala HRD?”
“Dua tahun, Nyonya.”
“Lalu, berapa banyak orang yang kamu perlakukan seperti bapak ini?” pertanyaan Bertha kali ini benar-benar menukik jantung kepala HRD. Mulutnya tergagap tidak bisa bicara.
Bertha tersenyum kecil. Ia mengambil selembar kertas lalu menuliskan memo di atasnya.
“Pergilah dan temui direktur umum. Berikan surat saya pada beliau dan jangan sekalipun kamu berani membacanya.” Bertha memberi perintah dengan jelas.
“Se-sekarang, Nyonya?” tangan laki-laki bertumbuh tambun itu gemetaran.
“Pikirmu kapan?” sinis Bertha.
“Ba-baik nyonya. Saya akan segera menemui direktur umum. Saya permisi.” Cepat-cepat laki-laki itu pergi meninggalkan Bertha dan Lukman. Ia bergegas menemui Direktur umum.
“Kalau Anda mau cuti, silakan. Pastikan loyalitas saat kembali masuk kerja, sama dengan loyalitas sebelum Anda bertemu dengan kepala HRD tadi,” ucap Bertha dengan penuh kebijaksanaan.
“Tentu Nyonya, terima kasih.” Lukman sampai mengangguk-angguk sopan untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya.
“Saya yang seharusnya berterima kasih karena Anda mau bekerja di perusahaan ini bahkan sejak saya masih belum memikirkan sesulit apa itu bekerja,” tegas Bertha sebelum kemudian ia pergi meninggalkan Lukman di ruangan ini.
Loyalitas Lukman benar-benar membuatnya tersentuh. Ia tidak yakin kalau ada pekerja lain yang memiliki loyalitas dan integritas sebesar yang Lukman miliki.
__ADS_1
Lukman menangis sesegukan tepat sesaat setelah pimpinan perusahaannya pergi. Seno yang melihat Lukman sendirian, segera menghampiri rekannya. Mereka menangis berangkulan untuk menguatkan satu sama lain.
****