
Kala sudah tampil segar dan berpakaian rapi. Memakai pomade lalu mengacak sedikit rambutnya agar tidak terllau kelimis. Tidak lupa ia memakai jaket kulit kesayangannya. Setelah semuanya siap, ia segera keluar kamar.
“Pagi, Den. Aden mau bawa bekal lagi?” seorang pelayan yang terbiasa mengurus Kala sejak kecil, menyambutnya di depan pintu.
“Iya. Hari ini kalian masak apa?” Kala berjalan di depan pelayan yang mengikutinya turun menuju ruang makan.
“Cah brokoli dan tumis daging seperti yang Aden minta semalam.”
“Ya udah, bungkuskan dengan porsi seperti kemarin.”
“Baik, Den.” Pelayan itu segera pergi ke dapur sementara Kala menghampiri Bertha yang menunggunya di meja makan. Wanita itu sedang bertelepon.
“Pagi, Mah.” Sapa Kala seraya mengecup pucuk kepala Bertha. Bertha hanya membalasanya dengan tepukan di tangan Kala yang berada di bahunya.
Kala duduk di samping Bertha yang sepertinya sedang bertelepon serius.
“Ya sudah, kamu pastiin dulu profil perusahaan asing itu. Saya gak mau mereka cuma ngasih harapan dengan menawarkan harga tinggi tapi ternyata cuma buat bikin harga perusahaan kita terlihat berat dimata calon pembeli lainnya. Ujung-ujungnya dia gak jadi beli. Rumit lagi nanti urusannya.” Kalimat itu yang terdengar oleh Kala. Sepertinya Bertha masih membicarakan masalah jual beli perusahaannya.
“Iya, kabari saya secepatnya. Saya ke kantor agak siang, karena harus ke suatu tempat dulu. Ya, terima kasih.” Tandas Bertha seraya mengakhiri panggilannya. Ia menghembuskan napasnya kasar seolah baru saja melepas beban berat dipundaknya.
“Mamah kayaknya sibuk banget pagi ini.” Kala penasaran dengan kesibukan ibunya.
“Iya, Nak. Semalem ada perusahaan asing yang mau beli perusahaan kita dengan harga yang sangat tinggi. Ya mamah sih seneng aja, tapi penawaran dia terlalu tinggi. Mamah malah jadi khawatir kalau dia mau mainin harga.” Bertha dengan kecemasannya tersendiri.
Kala mengangguk paham. “Emang Mamah udah yakin banget mau jual perusahaan itu?” Kala kembali bertanya.
Bertha tidak lantas menjawab. Ia menaruh ponselnya lalu menatap Kala dengan penuh perhatian.
__ADS_1
“Kal, sebelum Mamah dan papah memutuskan untuk berpisah, Mamah pernah bertanya apa alasan papah bermain-main dengan wanita lain. Dia bilang, karena Mamah terlalu sibuk, sehingga dia kehilangan perhatian Mamah.” Bertha tersenyum kelu.
“Saat itu Mamah berpikir, papah terlalu egois karena hanya memikirkan diri sendiri. Padahal pilihan Mamah untuk berkarirpun sebelumnya atas persetujuan papah kamu."
"Memang fokus Mamah jadi lebih besar ke perusahaan setelah kepergian opa kamu, Mamah diharuskan mengelola perusahaan itu sendiri. Mamah mulai sadar, kalau ternyata waktu Mamah habis di kantor. Mamah juga menomorduakan Oma yang sekarang butuh perhatian Mamah. Juga sering melewatkan tumbuh kembang kamu.” Bertha mengusap kepala Kala dengan sayang.
“Sepertinya, semua kondisi ini terjadi karena Mamah memang gak bisa menyeimbangkan waktu Mamah. Maka, Mamah rasa keputusan Mamah udah bulat. Mamah gak bisa meneruskan perusahaan ini sendirian. Terkecuali, kelak kamu mau meneruskannya. Mamah akan serahkan perusahaan ini sementara untuk dikelola oleh manajemen, sampai menunggu anak Mamah ini siap mengelolanya sendiri.” Bertha menatap Kala dengan sungguh, membuat remaja ini merasa seperti bola panas berpindah ke tangannya.
Kala termenung, sesungguhnya ia tidak pernah memikirkan apa ia mau atau tidak meneruskan perusahaan peninggalan kakeknya. Karena selama ini ia tidak pernah berfokus pada hal tersebut. Ia terlalu menikmati masa mudanya yang penuh gelora dan tanpa beban. Lalu saat masalah dikeluarganya muncul, ia sibuk memikirkan kekecewaannya, tetapi ternyata banyak hal lain yang harus ia pikirkan. Benar adanya saat kita dewasa maka tuntutan terhadap diri kita akan semakin banyak dan Kala mulai merasakan itu.
“Mamah gak maksa Kala untuk membuat pilihan sekarang. Kalau Kala perlu waktu, Mamah akan memberikannya. Tapi, untuk masalah pindah keluar negeri, keputusan Mamah udah bulat. Mamah mau memulai hidup yang baru disana bersama Oma dan entah sampai kapan.” Bertha seperti paham pada apa yang dipikirkan putranya.
Hingga saat ini, pertanyaan Bertha belum bisa dijawab oleh Kala. Sambil membawa Kinanti di atas boncengannya, Kala terlihat berpikir banyak. Motor yang ia lajukan pun tidak secepat biasanya. Pikirannya masih tentang pembicaraan ia dengan Bertha pagi tadi dan Kinanti melihat gelagat itu.
“Kamu baik-baik aja, Kal?” tanya Kinanti yang menatap Kala dari kaca spion. Saat ini mereka sedang mengantri di lampu merah terakhir sebelum sekolah mereka.
“Kalau kamu perlu teman bicara, aku akan menyediakan waktuku seluang mungkin buat kamu. Tapi untuk saat ini, fokuslah.” Kinanti berusaha mengingatkan. Ia melihat tatapan Kala yang kosong dan itu membuat Kinanti cemas.
Kala hanya mengangguk. Saat lampu berubah hijau, ia segera melajukan motornya menuju sekolah karena ada banyak hal yang ingin ia ceritakan pada Kinanti.
****
Dimulai dari menunjukkan game buatannya pada Kinanti, membuat gadis itu tersenyum haru penuh kebanggan pada sahabatnya.
“Wah, ini keren Kal. Kamu hebat!” Kinanti mengacungkan dua jempolnya untuk Kala. Ia juga memeluk Kala dengan erat, membuat jantung remaja tampan itu seperti meledak tiba-tiba. Wajahnya bersemu kemerahan dengan suhu tubuh yang meningkat. Gerah.
Kala hanya tersenyum kecil. Ia membawa laptopnya dan menaruhnya diatas meja kecil milik mereka. “Kemarilah, coba mainkan sebelum bell masuk.” Kala memanggil Kinanti untuk mendekat.
__ADS_1
“Okey!” Kinanti menimpali dengan semangat. Jam istirahat sekitar setengah jam dan ini cukup untuk menguji coba games buatan Kala.
Kinanti duduk di depan Kala yang seolah memeluknya dari belakang.
“Ini peraturannya. Games ini adalah games petualangan dengan system level. Setiap level dia harus mengumpulkan target koin tertentu. Kalau di tengah permainan tokoh gamesnya terbunuh atau gagal melakukan misi, dia bisa recharge energi dengan menjawab pertanyaan seputar pengetahuan umum.”
“Untuk daftar pertanyaannya terkoneksi langsung dengan website pembelajaran daring yang aku buat terpisah. Nanti aku perlu bantuan kamu untuk update pertanyaan di sana. Tapi sebelum itu, kamu cobalah dulu. Nyaman atau tidaknya games ini dari segi visualisasi dan petualangannya,” urai Kala dengan gamblang.
“Waahh, jadi aku orang pertama yang nyoba game ini ya?” Kinanti merasa terhormat dengan kesempatan yang diberikan Kala.
“Ya. Cobalah. Ini tombol-tombol yang bisa kamu gunakan selama permainan.” Kala menepuk bahu Kinanti untuk menyemangati.
Kinanti pun memulai permainan dari level paling bawah. Sesekali ia berseru girang saat berhasil memecahkan misi di level satu. “Jangan seneng dulu, ini baru level satu,” ledek Kala.
“Dih ngeselin! Liat aja, aku bisa habisin semua level.” Kinanti berujar dengan penuh percaya diri.
“Cobalah, aku udah bikin dua ribu enam ratus level dengan berbagai macam tantangan.” Kala tidak kalah percaya diri.
“Apa?!” Kinanti menatap Kala dengan penuh keterkejutan.
Kala tidak menjawab. Ia menangkup wajah Kinanti dengan kedua tangannya lalu mengalihkan wajah cantik itu agar menatap layar laptopnya.
“Aku mau liat, seberapa banyak level yang bisa kamu pecahkan dalam waktu sepuluh menit,” tantang Kala.
“Siapa takut!” Kinanti memang suka tantangan.
Gadis itu melanjutkan perminannya sementara Kala menyalakan stopwatch di samping Kinanti. Gadis itu sibuk sendiri dengan permainannya sementara Kala hanya memperhatikan berbagai macam perubahan ekspresi Kinanti. Lucu pikirnya. Entah sampai kapan ia akan melihat wajah cantik ini dengan berbagai macam ekspresi.
__ADS_1
****