Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Di depan mata


__ADS_3

“Mau apa kamu kesini?”


Pertanyaan itu menjadi sambutan tidak menyenangkan yang dilontarkan Yudhistira saat pertama kali melihat kedatangan Kala ke ruangan perawatan.


Tidak terduga, ya sangat tidak terduga mengingat hubungan mereka berdua sangatlah buruk. Di banding hubungan ayah dan anak, hubungan mereka lebih cocok sebagai musuh. Apa lagi hubungan dengan Demian, jauh lebih buruk. Tidak mungkin remaja itu datang untuk menjenguk bukan?


“Tidak ada, hanya mau menjemput Kinanti aja. Tidak perlu merasa terganggu.” Kala menyahuti dengan santai. Ternyata dugaan Yudhistira benar, Kala bukan datang untuk Demian.


“Kinan, ayo kita pulang. Ini sudah malam,” ajak Kala pada Kinanti.


“Kamu kenal sama anak berandal ini?” Belum sempat Kinanti menyahuti Kala, Yudhistira sudah bertanya lebih dulu.


“Iya Om, kami satu kelas.” Kinanti berkata dengan sejujurnya.


“Oh, jadi rupanya kalian satu kelas?” Yudhistira tersenyum sinis pada Kala. Ia menghampiri putranya yang selalu di anggap mengganggu dan mengesalkan.


“Saya pikir yang sekelas sama Demian itu hanya orang-orang cerdas dan berakal, tapi juga ada berandal." Yudhistira menatap Kala dengan sekpresi mengejak.


"Sepertinya, kamu harus mengatur ulang pengelompokan siswa Jack, jangan sampai dua anak cerdas ini terganggu konsentrasi belajarnya oleh satu berandal macam ini.” Yudhistira berujar dengan sarkas.


Kala hanya tersenyum kecil, ucapan Yudhistira memang selalu menyakitkan tapi tidak lantas membuat hatinya tersayat. Hatinya sudah terlalu kebas menerima semua ucapan kasar Yudhistira.


“Seandainya bisa, saya pun tidak mau satu kelas dengan anak kesayangan Anda. Lagi pula, saya tidak pernah menganggap anak Anda ada di hidup saya. Buat saya, dia hanya seekor lalat yang suka hinggap di atas sampah dan membuat semua hal yang di sentuh membusuk dan buruk.” Kalimat Kala tidak kalah sarkas, di tambah senyum tersungging yang sinis membuat Yudhistira mengeram kesal.


“Lancang kamu Kala!” Yudhistira sudah mengangkat tangannya hendak memukul Kala.


“Mas! Tolong berhenti! Ini rumah sakit!” Suara Imelda yang kemudian menghentikan ayunan tangan Yudhistira.


Yudhistira segera tersadar, tangannya mengepal di udara dan ia kibaskan dengan kasar tanpa mengurai kepalanya yang erat.


“Demian sedang sakit. Di sini juga ada Jack dan Kinanti. Apa Mas mau mempertontonkan ketidakharmonisan keluarga kita pada mereka?” Suara Imelda terdengar bergetar, seperti ingin menangis karena sangat malu dengan sikap suaminya.

__ADS_1


Yudhistira tidak menimpali, hanya rahangnya saja yang menggeretak dan matanya yang melotot tajam.


“Kala, tolong, tante minta,”


“Cukup!” Kala mengangkat tangannya pada Imelda. Ia sudah tahu arah pembicaraan wanita perusak keluarganya ini.


“Tanpa di minta, saya akan pergi.” Ucapan Kala terdengar tegas.


“Kinanti, ayo pulang! Jangan mengganggu keharmonisan keluarga bahagia ini,” sindir Kala.


Kinanti segera paham. Ia merasa keberadaannya di sini pun malah akan memperburuk keadaan.


“Demian, aku pulang dulu yaaa, nanti aku main lagi. Om, tante, Mr jack, aku permisi. Maaf sudah merepotkan.” Kinanti mengangguk dengan sopan.


Hanya Jack yang mengangguki ucapan Kinanti, ia paham benar kalau kondisi remaja tersebut pasti serba salah.


Kinanti pun memilih pergi. Ia beranjak mengikuti Kala yang sudah lebih dulu keluar dari ruang itu.


“Kinanti,” panggilan Yudhistira tiba-tiba mengentikan langkahnya.


“Jangan terlalu dekat dengan anak itu. Dia membawa pengaruh buruk.” Yudhistira memperingatkan. Ia merasa apa yang terjadi pada Demian, mungkin ada hubungannya dengan tingkah berandal Kala.


Kinanti terdiam beberapa saat, ia yakin kalau Kala pun mendengar ucapan Yudhistira karena langkahnya ikut berhenti.


“Terima kasih Om sudah mengingatkan. Tapi, saya tidak pernah pilih-pilih teman. Terlebih seorang Kala, dia teman yang baik untuk saya.” Sahutan Kinanti terdengar tegas dan membuat Kala tersentuh.


“Saya permisi Om, selamat malam.” Kinanti kembali mengangguk sopan sebelum pergi. Setelah itu ia berbalik, menyusul Kala yang sudah berjalan di depannya.


“Mereka benar-benar berteman?” Yudhistira bertanya pada Jack.


“Benar Tuan, mereka berteman dan cukup dekat. Setelah berteman dengan Kinanti, Kala menunjukkan progress yang sangat baik. Saya rasa, gadis itu membawa pengaruh baik untuk Kala,” terang Jack dengan sesungguhnya.

__ADS_1


Yudhistira tidak merespon apa pun selain hembusan nafasnya yang terdengar kasar.


“Kinanti juga dekat denganku Pah, tolong jangan bersikap kasar dan keras sama dia.” Demian ikut berbicara, membuat Yudhistira menoleh. Bukan pada Demian melainkan pada Imelda.


Wanita itu hanya mengangguk, membuat Yudhistira merasa berdiri di dua sisi yang berbeda. Sisi mana yang akan ia pilih?


*****


“Kala, Kal! Tunggu!” panggil Kinanti pada remaja yang berjalan cepat di depannya.


Ia kesulitan mengimbangi langkah Kala yang panjang dan cepat itu.


“Kaalaa, tolong tunggu sebentar. Aduuhh!” Kinanti sampai tersandung dan hampir jatuh gara-gara ingin menyusul Kala.


Barulah langkah Kala terhenti dan menoleh pada Kinanti. Ia melihat Kinanti berjongkok sambil meringis kesakitan dan mengusap-usap betisnya yang sakit karena tersandung kursi tunggu pasien. Tulang betisnya sampai membiru.


Kalau sudah seperti ini, Kala jadi tidak tega. Ia berjalan mundur menghampiri Kinanti, lalu berjongkok.


“Naiklah!” ia menepuk bahunya sendiri, sebagai isyarat agar Kinanti naik ke punggungnya.


“Gak mau, aku malu nanti di liatin orang. Tunggu aja sebentar lagi sampai sakitnya hilang. Aku bisa kok jalan sendiri!” tolak Kinanti.


Tapi Kala tidak suka dengan penolakan. Ia malah berbalik lalu menggendong Kinanti dengan kedua tangannya.


“Astaga, Kala!” Kinanti sampai kaget dengan tingkah Kala yang tiba-tiba. Tangannya refleks melingkar di leher Kala karena takut jatuh.


Kala seperti tidak peduli dengan keterkejutan Kinanti, ia melanjutkan langkahnya tanpa memperdulikan Kinanti yang menatapnya bingung.


Melihat wajah Kala yang dingin, Kinanti tahu persis kalau laki-laki ini sedang berusaha menutupi rasa sedihnya tapi tidak bisa berhenti peduli pada Kinanti. Ini kali pertama Kinanti melihat pertengkaran seorang anak dengan ayahnya tanpa satu sebab yang jelas. Hatinya ikut merasa sedih dan sakit. Apalagi Kala yang sudah mengalami kondisi ini dalam sekian lama. Bukankah hatinya sudah pasti hancur?


Kinanti benar-benar tidak bisa membayangkan rasa sedih dan sakit Kala saat ini. Pada akhirnya, Kinanti memilih tidak lagi berbicara. Ia mengusap dada Kala dengan lembut, sangat lembut seolah sedang berusaha menenangkan laki-laki muda ini lalu menyandarkan kepalanya dan membenamkan wajahnya di dada bidang Kala.

__ADS_1


Kala tahu persis Kinanti sedang mencoba menghiburnya, hatinya tersenyum kecil. Ia menganggap Kinanti sedang memeluknya untuk menenangkannya dan sungguh ini sangat membantu untuk mengurai rasa marah didadanya.


****


__ADS_2