
Perdebatan panjang dengan ego dan rasa cemas memang berlangsung alot, tetapi pada akhirnya keinginan Lukman lah yang menjadi pemenangnya. Setelah mendapat izin dari dokter dan melakukan perawatan pada stoma trachea-nya, Kinanti dan Kala mengajak Lukman berliburan akhir pekan ini ke pantai di sekitaran Jakarta. Tempat seperti ini yang ingin Lukman kunjungi bersama dengan dua pasang remaja dan seorang perawat yang senantiasa menemaninya.
Wajah Lukman terlihat berseri sangat bahagia melihat orang-orang terdekatnya mengelilingi dia. Kala yang bermain bola di pantai bersama Riko dan Emili yang sibuk membangun istana pasir sendirian. Sementara ia dan Kinanti berada di tepi pantai menikmati pemandangan indah siang itu.
Angin berhembus pelan, mengusap wajah dengan lembut. Menerbangkan helaian rambut Kinanti yang panjang dan sesekali menutupi wajah cantiknya. Lukman mengusap rambut itu agar wajah cantik putrinya terlihat dengan jelas. Mereka saling menoleh, memberi senyum satu sama lain, lantas membiarkan Kinanti bersandar dibahunya dengan nyaman.
Mata sayu milik sepasang ayah dan anak itu terlihat lebih bersinar. Mereka sudah memutuskan bahwa saat ini mereka hanya akan menikmati waktu-waktu yang indah tanpa ada kesedihan dan kesakitan. Mereka sudah sepakat untuk mengisi waktu mereka dengan banyak canda dan tawa bukan air mata.
Dari tempatnya, Lukman ikut tertawa saat melihat tendangan bola Kala yang mengenai hidung Riko. Remaja itu mengaduh kesakitan dengan banyak pasir yang mengenai wajahnya.
“Hidung gue anjir! Kenceng banget tendangan lo, lo pikir ini lapangan bola beneran?” sambil memegangi hidungnya Riko melakukan protes.
“Akh cengeng lo! Gitu doang ngadu. Itu namanya tendangan tsubatsa.” Kala masih mengingat serial kartun favoritnya dimasa kecil.
Lukman dan Kinanti tertawa kecil melihat tingkah dua sahabat itu. Mereka saling mendorong dan akhirnya jatuh ke air laut yang sedang berombak kecil.
“Ayah jadi inget dulu Kinan juga pernah jatuh gitu ke air laut. Nangis kejer karena airnya ke minum dan rasanya asin.” Dengan suara seraknya Lukman masih berusaha berbicara.
“Hehehehe… iya Ayah. Kinan masih nyimpen fotonya kok, dari ibu. Kinan sih udah inget-inget lupa sama kejadian itu, cuma gara-gara itu dulu ibu cemas banget waktu ada karyawisata SD ke daerah pantai. Katanya takut Kinan nangis kejer.” Kinanti kembali mengenang kejadian terakhir sebelum ibunya meninggal. Baru kali ini nama Riesma masuk lagi dalam obrolan ayah dan anak ini.
__ADS_1
“Iyaa, ibu selalu cemas kalau Kinan main ke daerah pantai. Katanya takut gara-gara kejadian itu Kinan trauma. Tapi ngomong-ngomong, Kinan masih takut gak dengan air laut?” Lukman penasaran untuk bertanya.
“Takut sama air lautnya sih nggak Ayah, cuma males aja sama basah dan badan penuh pasir. Apalagi kalau pasirnya kena rambut. Susah banget bersihinnya. Kinan lebih suka kayak gini, ngeliatin ombak dan air laut dari kejauhan. Kalau dari deket, Kinan ngerasa oleng dan tertarik ke dalam laut.” Kinanti berujar dengan sesungguhnya.
Ia menyandarkan kepalanya di bahu Lukman dan pria paruh baya itu mengusap kepala Kinanti dengan sayang.
“Apa Ayah seneng?” tanya Kinanti seraya menoleh sang ayah yang tampak selalu tersenyum.
“Ya,” Lukman mengangguk pasti. “Terima kasih ya, akhirnya Ayah ngerasain liburan sama anak Ayah.” Laki-laki itu tersenyum bahagia. Binar matanya ikut berbicara dan itu membuat Kinanti merasa tenang. Dipeluknya Lukman dengan erat dari samping lantas mengecup pipinya. Lukman hanya terkekeh dengan suara tawanya yang khas.
“Harusnya dulu Ayah gak terlalu sibuk bekerja. Harusnya dulu Ayah meluangkan banyak waktu untuk bersama-sama Kinan menikmati moment seperti ini. Moment yang membuat kita bisa tertawa bahagia dan akan selalu kkita kenang sebagai hal berharga yang pernah kita punya.” Beberapa kalimat panjang itu diucapkan Lukman sambil menatap deburan ombak dengan nanar.
“Ayaahh, Kinan menikmati kok setiap waktu Kinan sama Ayah. Saat kita makan bersama di meja makan dan menertawakan masakan Kinan yang gak enak, saat kita nonton acara lawakan di tv yang bikin kita ketawa sampe nangis, moment saat Ayah nganter Kinan ke sekolah, moment saat Kinan liat Ayah pulang kerja dan masih banyak moment lain yang berharga buat Kinan dan gak harus berupa moment liburan bersama. Asalkan sama Ayah, dimanapun Kinan bahagia.” Kinanti melingkarkan tangannya di lengan Lukman yang sudah tidak sekokoh dulu.
Tidak lama berselang, Kala dan Riko menghampiri Kinanti dan Lukman. Setengah tubuh mereka basah dengan air laut dan kotor dengan pasir. Kulit mereka juga jadi lebih gelap. Emili yang sibuk melawan angin yang ingin menerbangkan topi lebarnyapun segera ikut menepi.
“Mereka pasti udah laper. Kinan cek dulu pesanan makanannya ya Ayah.” Kinanti beranjak sambil mengusap lengan Lukman sebelum ia pergi untuk mengecek persiapan makan siang.
“Iya, Nak.” Lukman mengiyakan. Ia menunggu Riko mendekat sementara Kala menyusul Kinanti.
__ADS_1
“Mau kemana?” tanya Kala saat berada di belakang Kinanti.
“Mau ngecek makan siang. Kita gelar di Gazebo aja kali ya?” timpal Kinanti sambil mengusap sisa pasir di pipi Kala.
“Iya, biar sambil nikmati pemandangan. Makanan ayah udah disiapin?” Kala ikut menemani Kinanti masuk ke salah satu resto tempat mereka memesan makan siang.
“Lagi disiapin sama suster.”
“Okey!”
Mereka masuk ke dalam resto dan meminta makan siang untuk dihidangkan sekarang di Gazebo tepi pantai. Setelah itu mereka kembali ke pantai. Kala memegangi tanan Kinanti yang ada disampingnya dan menggenggamnya dengan erat.
“Ayah kayaknya seneng banget.” Kala memulai kembali perbincangan.
“Iya, dari tadi Ayah ketawa terus. Aku juga seneng liatnya,” timpal Kinanti sambil memandangi Lukman dari kejauhan. Pria itu sedang ditemani oleh Riko dan entah memperbincangkan apa yang jelas Emili juga ikut tertawa. Riko memang pandai menghidupkan suasana.
“Kamu sendiri, seneng gak?” Kala menatap Kinanti dari samping. Memandangi hidung bagir dan sepasang bibir yang terlihat menarik saat dilihat dari samping. Pipinya yang kemerahan dan matanya yang berbinar, terlihat semakin menyempurnakan penampilannya yang cantik khas wanita indonesia.
“Seneng lah. Jarang-jarang kan kita ngabisin waktu kayak gini.” Ada hembusan napas lega yang terdengar dari mulut gadis itu.
__ADS_1
“Syukurlah.” Kala mengecup tangan Kinanti dan kembali menggenggam tangan itu dengan erat. Langkah mereka sama-sama terhenti dan memandangi beberapa saat deburan ombak yang berkejaran lalu pecah di tepi pantai. Hanya bersisa buihnya saja yang ditinggalkan. Riakan air laut terlihat sangat menyilaukan mata, membuat mata keduanya sedikit memincing. Beberapa saat mereka terdiam dengan perasaan masing-masing. Perasaan tidak ingin berpisah dengan rasa bahagia ini.
****