
Suara ketukan dipintu pagi itu, membuat Kinanti segera menoleh. Wajahnya langsung ceria dengan senyum yang terkembang.
“Biar Kinan yang buka, Ayah!” serunya. Kinanti menaruh begitu saja spatula yang sedang ia gunakan untuk membolak-balik telur mata sapi yang baru selesai ia goreng. Belum diberi garam dan langsung ia tinggalkan setelah kompor dimatikan. Lukman yang sedang mengolesi roti dengan selaipun tampak terkejut dengan semangat Kinanti yang tinggi untuk membuka pintu.
“Silakan. Kan biasanya juga memang Kinan yang bukain.” Lukman berbicara dengan suara bergumam. Pasti tidak terdengar karena putrinya sudah lebih dulu berlari menuju pintu dan membuka kunci rumah lalu membukakan pintunya lebar-lebar,
Lukman memperhatikan sejenak dua remaja yang langsung saling melempar senyum dan sama-sama terdiam. “Kenapa mereka? Biasanya Kala langsung menyapa dan Kinan langsung ngoceh ngomongin apa aja. Kenapa sekarang dua-duanya malah diem dan saling senyum-senyum?” Lukman bertanya pada hatinya sendiri. Aneh menurutnya, tetapi ia tidak terlalu memikirkan itu. Ia hanya mengendikan bahunya dan kembali fokus pada roti yang sedang diberi selai.
“Hay,” Kala tersenyum sumeringah melihat wajah cantik Kinanti yang menyambutnya didepan pintu.
“Hay, gimana perjalanan, aman?” timpal Kinanti. Suaranya rendah dibalut senyum malu-malu dan wajah yang merona. Pagi ini ia juga memakai bando warna merah muda dengan aksen bunga kecil di sebelah kanan. Manis, sekali.
“Aman dong.” Kala mengusap kepala Kinanti dengan sayang membuat jantung gadis itu berdebar tidak menentu.
“Gimana tidur kamu? Nyenyak?” Kala balas bertanya.
“Nyenyak. Aku sampe gak mimpi apa-apa.” Kinanti menimpali dengan senyum terkembang, lihat tangannya yang saling memilin satu sama lain dan kakinya yang berjinjit-jinjit gemas diatas permukaan lantai.
“Bagus. Itu istirahat yang paling bagus. Kamu bener-bener tidur dengan nyenyak, nanti kamu bisa nambah tinggi.” Kala mengukurkan tangannya di atas kepala Kinanti sambil menatap mata Kinanti yang berbinar.
“Kalian masih ngapain di pintu? Ayo sarapan dulu.” Lukman menyadarkan dua orang yang saling bertatapan penuh cinta.
“Ah, iya Ayah. Pagi Yah,” sapa Kala yang berjalan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
“Pagi, duduklah.” Lukman melirik kursi di sampingnya tempat yang biasa Kala duduki. Kinanti menahan senyumnya mendengar Kala menyapa Lukman dengan panggilan, "Yah," berani sekali pikirnya.
Remaja tampan itu duduk dengan tenang. Lukman bisa mencium wangi parfum Kala yang maskulin juga penampilannya yang segar. Sementara Kinanti senyum-senyum tidak jelas di depan wajan yang sedang mematangkan telur mata sapi buatannya.
“Ini Ayah yang budeg apa emang tadi kalian ngomongnya bisik-bisik?” Lukman bertanya pada dua remaja itu. Ia menggaruk telinganya yang rasanya agak bindeng.
Kinanti menoleh Kala dan matanya membulat seperti memberi isyarat agar jangan sampai salah menjawab. Kala mengangguk paham.
“Memang pelan Ayah. Kan belum sarapan.” Kala memang pandai menjawab pertanyaan semacam ini. Ia juga lebih pandai mengendalikan perasaannya dibanding Kinanti.
“Ya udah, minum aja dulu buat ganjal. Kinanti belum selesai masak. Dia bangun kesiangan pagi ini. Untung gak sampe Ayah gendong ke kamar mandi. Kayaknya dia gak bakal bangun kalau Ayah gak bilang itu Kala udah datang jemput. Tidur terus pasti, sambil melukin boneka tedy bear. Tumben Kinan susah banget dibangunin. Emang capek banget, nak?” Lukman berbicara dengan panjang.
“Hehehehe… iya Ayah. Kinan kecapean.” Kinanti tersipu malu. Tentu saja tidurnya sangat nyenyak karea semalam ia tidak bisa tidur. Senyum-senyum sendiri memikirkan Kala yang menari-nari didalam pikirannya.
“Oh ya? Emang dia mau ikut olimpiade lari juga?” Lukman segera menoleh Kala dan menanggapi ucapan Kala dengan serius.
“Maksud Kala lari-lari secara virtual. Dipikiran Kala.” Kala memelankan suara diujung kalimatnya sambil tersenyum simpul. Ia menunjukkan senyumnya yang manis pada Kinanti. Gadis itu tersipu malu saat mendengar candaan Kala.
“Hah, apa?” sepertinya Lukman tidak mendengar dengan jelas gumaman Kala atau mungkin sekarang giliran Lukman yang pura-pura begok.
“Kala aneh, gak usah didengerin Ayah.” Kinanti yang menjawab rasa penasaran Lukman. Ia menaruh sepiring telur di atas meja makan untuk mereka nikmati sama-sama.
“Ya terserahlah. Yang jelas ayo sarapan dulu. Ayah rotinya dikasih mayonnaise dan telur. Kala mau sama apa?” Lukman mendekatkan makanan miliknya dan Kinanti.
__ADS_1
“Sama Kinan,” sahut Kala mencandai Kinanti. Mata Kinanti langsung membulat dengan mulut yang menggembung menahan senyum. Lihat saja wajahnya yang bersemu kemerahan.
“Oh, kalau Kinan mintanya roti pake selai strawberry, nih.” Lukman menanggapinya dengan serius. ia menaruh setangkup roti yang persis dengan milik Kinanti diatas piring Kala.
Gita cinta Lukman memang sudah terlalu lama berlalu, jadi sulit menangkap sinyal-sinyal candaan manis dua sejoli ini.
Mereka mulai menikmati sarapan mereka dengan perasaan berdebar. Saat ada selai yang tersisa disudut bibir Kinanti, tangan panjang Kala yang mengusapnya dan Lukman urung mengagkat tangannya. Pikirnya, tumben Kala mau mengusap sisa selai di sudut bibir Kinan, biasanya remaja itu hanya meledek putrinya dan bilang kalau Kinanti mirip vampir yang baru menghisap darah. Belum lagi putrinya di ledek seperti bocah lima tahun yang makannya belepotan. Pagi ini Kala berbeda, terlalu manis menurut Lukman.
Sarapan sudah usai. Kinanti merapikan alat makan bekas pakai dan Lukman mengajak Kala berpindah ke teras untuk berbincang.
Kala memperhatikan Lukman yang meneguk tehnya dengan nikmat. Wajahnya juga terlihat sangat segar. Tidak terlihat sama sekali kalau laki-laki itu sedang sakit.
“Yah, multivitamin udah coba diminum?” Kala berusaha mencairkan suasana. Terlalu tegang duduk berdua dengan ayah kekasihnya.
“Ya, udah Ayah minum. Rasanya cukup menyegarkan. Otot-otot tubuh gak kaku lagi. Bangun tidur juga badan ayah jadi seger. Makasih ya,” Lukman menepuk bahu Kala dengan penuh syukur.
“Sama-sama, Yah. Kala seneng dengernya. Pokoknya Ayah harus semangat untuk berjuang melawan cell nakal ditubuh Ayah.” Kala begitu semangat menyemangati Lukman.
“Iya lah. Tapi, ngomong-ngomong, nanti sore kamu mampir sini ya. Ayah mau kamu nemenin Ayah ngobrol sama Kinan.” Kali ini Lukman menatap Kala dengan penuh harap. Ia tersenyum tipis walau terlihat jelas laki-laki itu gundah.
“Iya, nanti sore Kala mampir sini.” Kala menyanggupi. Ia sudah berjanji untuk menjaga Kinanti dalam kondisi apapun.
Lukman mengangguk pelan dan kembali menyeruput teh manis buatan Kinanti. Rasanya enak dan menyegarkan. Ia sedang berusaha mengumpulkan keberanian dan ketenangan untuk mengatakan semuanya pada Kinanti.
__ADS_1
*****