Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Rumah sakit


__ADS_3

Rumah sakit, menjadi satu-satunya tepat yang di tuju Kinanti dan Demian. Gadis cantik itu membawa Demian ke rumah sakit dengan menggunakan sebuah angkot.


Demian nyaris tidak sadarkan diri setelah di hajar habis-habisan oleh empat preman itu. Wajahnya babak belur dengan beberapa luka membiru di bagian wajah dan pelipisnya. Darah segar masih menetes dari hidung dan sudut bibirnya.


Kecemasan Kinanti bertambah saat melihat Demian yang terus memegangi perutnya, sepertinya tendangan preman tadi telah melukai organ dalam Demian.


“Kuat ya Demian, kuat. Kita akan segera sampai di rumah sakit.” Kinanti mencoba menenangkan Demian yang terbaring di atas jok angkot dengan kaki Kinanti sebagai bantalannya.


Kinanti gemetaran melihat Demian yang tidak mengaduh sedikitpun. Apa sesakit itu luka-luka di tubuhnya?


“Gimana ceritanya kok bisa sampe dipukulin neng?” supir angkot yang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sesekali tetap memperhatikan Demian yang sepertinya sangat lemah.


“Tadi dia nolongin saya Pak, pas saya di ganggu preman.” Kinanti jadi teringat bagaimana Demian yang tiba-tiba datang untuk menyelamatkannya.


Antara senang dan sedih karena Demian datang di waktu yang tepat. Senang karena seseorang menyelamatkannya tapi sedih karena Demian yang saat ini terluka.


“Preman jaman sekarang makin berani. Mereka gak segan nyerang korbannya di siang bolong begini,” ungkap sopir angkot.


“Iya Pak.”


“Pak, ini berapa lama lagi ya kita sampe rumah sakit?” Kinanti semakin gelisah. Syal yang ia pakai sudah penuh dnegan darah untuk melap hidung dan mulut Demian.


“Sebentar lagi neng. Sekitar dua ratus meter lagi.”


Kinanti memperhatikan speedometer angkot. Ia memperhitungkan dengan kecepatan seperti ini ia akan sampai kurang dari lima menit lagi.


Benar saja, tidak sampai lima menit, angkot tiba di rumah sakit. Kinanti turun lebih dulu dan meminta bantuan petugas medis. Demian segera di turunkan dari angkot dan dipindahkan ke atas blankar. Beberapa petugas medis langsung membawanya masuk ke ruang IGD.


“Adek daftar dulu sebelah sini.” Seorang security mengarahkan Kinanti.


“Baik, Pak.” Kinanti segera berpindah ke meja pendaftaran pasien.


“Apa ada identitas pasiennya?” tanya petugas pendaftaran.

__ADS_1


“Ada, Bu.” Dengan cepat Kinanti memberikan kartu pelajar milik Demian. Beruntung dompetnya ada pada Kinanti sehingga tidak ada kesulitan untuk mengurus pendaftaran.


“Bu maaf, kami masih pelajar. Saya juga tidak memiliki kontak orang tuanya Demian. Boleh tolong hubungi pihak sekolah agar mengabari orang tuanya?” pinta Kinanti tanpa ragu.


“Tentu, akan kami coba bantu. Terima kasih sudah mengingatkan,” sahut petugas pendaftaran.


“Iya Bu. Sama sekalian saya mau beberapa dokumen ini, bisa ibu bantu?” Kinanti menuliskan beberapa hal di atas kertas.


“Baik, nanti saya mintakan ke dokter. Bagian mana dari tubuh adek yang terluka?”


“Tangan saya dan bahu saya.” Kinanti menggulung sedikit lengan blazernya untuk menunjukkan luka memar akibat pukulan dari preman itu.


“Baik, nanti adek juga ikut diperiksa oleh dokter ya.”


“Baik, Bu.”


Proses pendaftaran untuk Demian dan Kinanti tidak berlangsung lama. Keduanya sama-sama diperiksa di IGD dengan proses pemeriksaan yang berbeda.


“Adek ada wali? Karena visum untuk anak-anak harus di sertai izin wali,” tanya dokter yang memeriksa Kinanti.


“Baik. Tapi nanti hasil visumnya agar disampaikan ke orang tua adek ya.” Dokter akhirnya setuju.


"Baik dok."


Sebenarnya ia pun kagum pada sosok gadis muda ini. Ia begitu cerdas menyusun apa yang harus ia lakukan. Walau wajahnya terlihat masih ketakutan tapi ia tetap berusaha terlihat tenang.


Tentu saja, Kinanti sudah sering menghadapi masalahnya seorang diri. Kalau ia bertingkah manja, siapa yang akan melindunginya kalau bukan dirinya sendiri?


Benar adanya bahwa terkadang seseorang di dewasakan bukan oleh usia tapi oleh pengalaman dan kesulitan yang pernah ia hadapi.


Kinanti melakukan pemeriksaan di ruang UGD. Ia hanya terpisah satu ruangan dengan Demian. Temannya itu sedang diobati luka-lukanya dan dilakukan pemeriksaan pada organ dalam tubuhnya, khawatir ada sesuatu hal yang buruk.


Pemeriksaan untuk Kinanti berjalan sekitar setengah jam. Ia mengecek kondisi Demian ke ruang pemeriksaan.

__ADS_1


“Pasien sudah selesai dilakukan pemeriksaan dan pengobatan. Pasien akan segera kami pindahkan ke ruang perawatan agar bisa beristirahat,” terang seorang dokter yang menangani Demian.


“Baik, terima kasih dok.”


Demian di pindahkan ke ruang perawatan, menurut dokter yang memeriksanya, Demian akan dibiarkan beristirahat di ruang perawatan. Di tangan kirinya sudah terpasang infusan dan luka-luka di tubuhnya pun sudah di obati.


Kinanti terduduk beberapa saat di samping ranjang Demian. Ia memandangi temannya yang sedang tertidur karena pengaruh obat.


Ia merasa sangat bersalah karena menempatkan Demian dalam kondisi seperti ini. Andai saja Demian tidak datang, mungkin remaja ini tidak akan terluka.


“Maafin aku Demian,” ucap Kinanti penuh sesal. Ia memandangi wajah Demian yang dipenuhi luka dan plester di sudut bibir dan pelipisnya.


Demian tidak menimpali, sepertinya remaja itu benar-benar tertidur.


Kinanti membiarkan Demian beristirahat beberapa saat. Setelah Demian sadar, ia berjanji kalau ia akan berterima kasih pada remaja itu. Setelah merasa cukup, Ia memilih menunggu di luar bersama beberapa kertas yang ia pandangi dalam genggamannya.


Setengah jam berlalu, keluarga Demian masih belum juga datang. Kinanti memutuskan untuk menghampiri perawat yang bertugas di nurse station.


“Permisi Bu, apa pihak sekolah kami sudah dihubungi?” Kinanti memberanikan diri untuk bertanya, karena sampai saat ini belum ada keluarga Demian yang datang.


“Sudah Dek, keluarganya dalam perjalanan menuju rumah sakit. Mereka baru pulang dari luar kota.”


“Oh, iya. Tapi Bu, boleh saya minta tolong untuk menjaga teman saya sebentar? Saya harus keluar dulu, ada yang harus saya urus.”


“Boleh. Pasien memang sedang kami monitor dan sedang dibiarkan beristirahat. Kalau adek ada urusan, boleh silakan. Kami akan menjaganya dengan baik.”


“Makasih Bu. Ini nomor handphone saya ya Bu, kalau ada sesuatu tolong segera kabari saya.”


Kinanti memberikan secarik kertas yang berisi nomor handphonenya.


“Baik. Adek tenanglah, tidak akan terjadi apa-apa. Kondisi pasien juga sudah stabil. Jadi sebaiknya adek juga memperhatikan kondisi adek. Jangan sampe adek malah ikut sakit.” Perawat itu menatap Kinanti dengan khawatir.


“Terima kasih Bu, atas perhatiannya. Saya permisi dulu,” pamit Kinanti yang diangguki oleh perawat tersebut.

__ADS_1


****


__ADS_2