Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Waktu berdua


__ADS_3

Di tepian jalan saat ini Kala dan Kinanti berada. Kinanti tengah memenuhi janjinya untuk mentraktir Kala. Penjual bakso langgannya yang saat ini menyajikan dua mangkuk bakso untuk sepasang remaja itu.


“Gimana, enak?” tanya Kinanti saat Kala sudah menyuapkan satu sendok kuah bakso ke mulutnya.


“Not bad.” Lumayan katanya, tapi dia menyuap dengan cepat. Sepertinya lebih dari sekedar lumayan.


“Okey, nikmati makanannya. Kalau mau nambah, boleh kok.” Hari ini Kinanti sedang cukup royal. Tabungan berjangka miliknya resmi cair hari ini.


“Dua porsi boleh” goda Kala.


“Boleh, tapi harus habis. Jangan sisain makanan, biar dia gak nangis.” Nasihat singkat langsung meluncur dari mulut Kinanti.


Kala hanya tersenyum, ia memang suka mendengar hal-hal yang menurutnya sangat perhatian dari seorang Kinanti. “Punyamu kenapa berwarna begitu? Punyaku pucat.” Setelah habis beberapa sendok, Kala baru memperhatikan perbedaan warna kuah baksonya dengan kuah bakso Kinanti.


“Aku kasih bumbu Kal. Kamu mau nyoba? Tapi ini agak pedes. Cocok sih buat kepala yang lagi puyeng.” Kala yang penasaran, mengambil sesendok kuah bakso milik Kinanti lalu menyuapkannya.


“Akh, pedes!” wajahnya langsung merah. Ia mengipas-ngipasi mulutnya yang terasa pedas dan panas.

__ADS_1


“Kan aku udah bilang kalau ini pedes.” Kinanti terkekeh di ujung kalimatnya. Lucu juga melihat Kala kepedesan seperti ini.


“Punyaku tolong diberi warna tapi jangan terlalu pedas.” Kala memberikan mangkuknya pada Kinanti.


“Kamu pikir ini cat air, pake bilang di kasih warna?” Kinanti tidak habis pikir. Namun tetap saja akhirnya ia memberi saus dan kecap ke mangkuk bakso Kala. Lebih sedikit di banding saat membumbui miliknya, agar tidak terlalu pedas.


“Cobalah.” Mangkuk itu dikembalikan oleh Kinanti.


Kala mencobanya dengan cepat. “Ini enak Kinan, ini sangat enak.” Semangat sekali Kala melahap makanannya. Makanan yang baru ia coba untuk pertama kali.


“Iya!” Kala segera memberikan mangkuknya pada laki-laki yang biasa Kinanti panggil Pakde.


“Okeyy, siap! Silakan dinikmati.” Laki-laki bertubuh tambun itu menambahkan beberapa butir bakso ke mangkuk kala. Kala semakin semangat menikmati makanannya, hingga keringatnya bercucuran antara sedikit pedas dengan kuah yang masih panas. Di tambah dengan air teh hangat, membuat wajahnya memerah bermandikan keringat. Kinanti benar, makanan ini bisa mengusir rasa pusing dikepalanya.


Kinanti mengambil satu tissue dan mengelapkannya ke dahi Kala. Kala hanya tersenyum, ia tidak bisa berkata-kata. Bakso miliknya sangat enak hingga tidak ada jeda panjang antar suapan.


Selesai makan bakso, dua remaja itu kembali ke rooftop. Mereka akan belajar sore ini. Kinanti membuka-buka buku pelajaran dan Kala bersiap mencatat. Layaknya guru dan murid mereka belajar bersama. Kinanti yang menerangkan dan Kala yang menyimak.

__ADS_1


“Hah, harusnya aku gak ngambil jurusan IPA. Semua materinya membuat kepalaku cepat pusing dan perutku cepat lapar,” keluh Kala saat diberi tugas oleh Kinanti untuk menyelesaikan beberapa soal.


“Hahhahaha… jangan menyesali apa yang sudah kamu pilih. Nikmati saja, karena setiap pengalaman itu unik. Ayo sini bukunya, biar aku periksa?”


“Sebentar Kinan, aku belum selesai.” Masih ada empat soal lagi yang belum di kerjakan Kala.


“Okey. Aku kalau gitu browing bentar yaa, mau nyari materi tentang chemotherapy.”


“Memangnya, siapa yang chemoteraphy?” Kala ikut penasaran.


“Om Seno, temennya ayah. Dia sakit kanker dan harus menjalani chemoteraphy. Katanya satu periode chemo sama radiasi udah di lewati minggu lalu. Lusa dia diperiksa lagi untuk menentukan program terapi selanjutnya. Kasian, dia pasti udah capek banget. Untung ayah mau nemenin dia.” Kinanti berceloteh sendiri.


Kala hanya tersenyum lalu mengusap kepala Kinanti dengan sayang. Setelah itu, untuk beberapa saat masing-masing sibuk dengan dunianya sendiri.


Andai Kinanti tahu kalau ia mencemaskan orang yang salah.


****

__ADS_1


__ADS_2