Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Pilihan untuk menghadapi masalah


__ADS_3

Sambil menunggu Kinanti yang sedang memasak, Kala dan dua sahabatnya berbincang diteras belakang. Ia memberi makan ikan-ikan Lukman yang seminggu ini tidak terawat. Hanya sesekali saja Kala memberi makan, itupun saat mengambil barang-barang penting untuk Kinanti. Saat ia menebar pakan ke dalam kolam, ikan-ikan langsung sibuk berrebut makanan. Mereka pasti kelaparan.


“Lo jadi temuin anak genk motor?” Riko memulai perbincangan yang selama beberapa hari ini terjeda karena fokus dengan bimbel dan memperhatikan kesehatan Lukman.


“Jadi, preman itu udah makin berani. Dia datang lagi ke sekolah buat malak Frea.” Kala menyahuti dengan santai, tetapi isi kepalanya masih berpikir banyak.


“Duh, kalo bisa sih lo jangan nyari perkara deh Kal. Ngeri gue. Gue takut lo kenapa-napa.” Riko mulai mencemaskan sahabatnya.


“Gue gak nyari perkara, justru gua mau nyelesein perkara.” Kala balas menimpali. Ia menaruh pakan ikan karena sepertinya ikan-ikan itu sudah mulai kenyang.


“Lo sendiri, lo udah ngaku belum sama bokap nyokap lo?” kalimat Kala yang satu itu tertuju pada Demian.


Demian menggeleng. “Gue masih takut.” Akunya seraya tertunduk didepan Kala.


“Terus mau kapan lo ngaku? Ini masalah kan awalnya gara-gara lo sama Frea. Kalau lo gak ngaku, terus bokap nyokap lo gak tau, kalau ada apa-apa si Kala lagi yang disalahin. Padahal dia niatnya mau bantu lo. Jangan diulangi deh kesalahan lo yang dulu. Lo mau hidup lo gak tenang selamanya?” Riko yang begitu geram saat berbicara.


“Iyaa, akan gue coba.” Demian tertunduk pasrah, nyalinya memang tidak sebesar Kala dan hal ini yang membuatnya kerap iri pada saudara tirinya. Namun sepertinya, untuk sekarang ia memang harus segera melakukan hal ini karena ia tidak mau membuat Kala celaka untuk kedua kalinya.


Sore itu, Kala menemui genk motor yang selama ini selalu mengganggunya. Mereka tengah berkumpul dibawah kolong jembatan yang menjadi basecamp mereka sambil menikmati minuman beralkohol dengan dosis rendah.


“Woy ada Kala!” seru salah satu anak genk motor yang mengenali suara motor Kala.


Pimpinan genk motor pun segera beranjak dari tempatnya. Ia tersenyum geram saat melihat Kala yang masih mengenakan helm turun dari motornya. Pikirnya, berani sekali anak ingusan ini datang ke markasnya.


“Woohh, Kalantara datang! Wuhuuu!! Dia mau menyerahkan diri rupanya. Bawa duit berapa lo?!” ketua genk motor itu menyambut Kala dengan arogan.

__ADS_1


Kala hanya tersenyum dan menghampiri ketua geng motor itu. Ia berdiri berhadapan dengan ketua geng motor, dikelilingi anggota geng motor tanpa rasa takut.


“Gue datang bukan buat bikin keributan. Gue mau negosiasi sama lo.” Kala berujar dengan tenang. Tidak ada raut takut sedikit pun diwajahnya.


“Negosiasi? Hahahahaha … negosiasi dia bilang,” timpal ketua geng motor.


“Hhahahahahaa….” Anggotanya ikut menertawakan Kala. Tatapannya begitu mengintimidasi seorang Kalantara yang datang sendirian ditengah-tengah mereka.


Kala tetap dengan sikapnya yang tenang. Ia mengeluarkan beberapa lembar foto dan menaruhnya di atas permukaan tong besar yang mereka jadikan meja untuk menaruh minuman. Beberapa anggota geng motor semangat untuk melihat foto-foto itu dan sepertinya mereka mengenali orang-orang itu.


“Si Dadus bos!” ujar salah satu anggota geng motor yang memberikan foto pimpinan preman itu.


Ketua geng motor itupun mengambil satu foto yang berikan anak buahnya sambil tetap memandangi wajah Kala. Pikirnya ada apa Kala berurusan dengan preman resek yang hobi membuat terror.


Ketua geng motor itu tersenyum, lalu menyeringai pada Kala. Ia berjalan mendekat dan hanya menyisakkan beberapa senti saja jarak diantara mereka.


“Hutang lo aja belum lunas dan sekarang lo mau nyuruh gue melakukan hal lain dengan alasan negosiasi. Lo pikir gue mau?” laki-laki itu berbicara dengan pelan, namun penuh penekanan.


Ia masih menyeringai pada Kala dan menepuk pipi Kala beberapa kali.


“Kalau yang lo maksud adalah hutang kematian mantan ketua geng lo, udah gue bilang kalau dia meninggal karena dia ngelanggar aturan main, bukan gara-gara gue. Dia yang ngehadangin motornya ke arah gue saat gue melaju kencang dan hampir sampe finish. Dia yang sebenanrnya curang dan mana mungkin gue harus membayar kebodohan seseorang?” Kala berbicara dengan tenang namun penuh penekanan.


“Brengsek!” laki-laki itu langsung mencengkram kerah jaket Kala dan mengangkat kepalnya ke udara hendak memukul wajah Kala, tidak terima dengan ucapan Kala. Tetapi Kala tidak bergeming, ia bahkan tidak berkedip sedikitpun oleh tatapan intimidasi laki-laki yang ada dihadapannya.


“Gentle! Akui itu sebagai kesalahan ketua kalian. Jangan ngerengek kayak banci yang mencari pembenaran.” Lagi Kala berbicara dengan penuh ketenangan. Tidak hanya itu, Kala juga mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan tayangan video rekaman dari kamera yang terpasang distang motornya satu tahun lalu.

__ADS_1


Ia memutar video itu, video saat tiba-tiba ketua geng motor yang tengah dibawah pengaruh obat-obatan itu menghalangi lajurnya, dengan sengaja berhenti dihadapan Kala. Kala yang sedang melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, gagal mengendalikan kendaraannya hingga menabrak ketua genk itu yang kemudian jatuh terpental dengan jarak yang cukup jauh. Laki-laki itu tewas ditempat dengan berlumuran darah.


Cengkraman tangan laki-laki itu mulai melemah seiring dengan berakhirnya atraksi maut yang terjadi antara Kala dan ketuanya terdahulu.


“Gue bisa aja memotong video ini dan menyerahkan ke pihak kepolisian sebagai bukti kalau ketua genk lo yang mencoba nyelakain gue. Dengan begitu, bokap gue gak perlu ngasih uang tebusan dan uang duka sampai lima miliar ke pihak keluarga temen lo yang terus mojokin gue. Tapi itu gak gue lakuin. Karena gue sadar, dengan gue nerima tantangan dia buat balapan, gue menjadi bagian dari kemalangan ini. Dan gue masih menghormati kepergian temen lo itu. Gue juga ikut berduka buat keluarganya.”


“Kalau sekarang lo masih nuntut atas kepergian dia, bagian mana yang mau lo tuntut? Usaha bodoh dia yang memilih menghadang gue dan sama aja dengan bunuh diri? Apa itu fair?” Kala balik bertanya.


Laki-laki itu benar-benar melepaskan cengkraman tangannya dari Kala. Ia baru sadar kalau ternyata bos mereka yang melakukan kesalahan hingga kehilangan nyawanya.


“Negosiasi apa yang mau lo tawarin sama gue?” laki-laki itu mulai melunak. Sepertinya penjelasan Kala cukup menghantam mental dan hatinya.


“Kendaliin preman itu dan jangan genganggu lagi siapapun apalagi sampai mengganggu temen-temen gue. Kalau lo gagal, gue bisa bikin lo semua membusuk dipenjara. Kalau berhasil, gue akan ngembaliin sesuatu milik ketua genk lo.” Kala mulai memberikan penawaran.


Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jaketnya. Sebuah kunci motor yang ia tunjukkan pada pria itu. Dari gantungannya yang merupakan miniatur ukiran Charlie chaplin, laki-laki ini tahu kunci siapa yang Kala tunjukkan.


Tangan laki-laki itu segera terangkat dan hendak mengambil kunci ditangan Kala, tetapi dengan cepat Kala mengibaskannya.


“Motor ketua genk lo ada di tangan gue. Gue bakalan kasihin ini setelah lo bisa ngendaliin anak buah lo supaya gak berulah lagi. Gimana, apa cukup adil?” tanya Kala dengan penuh ketegasan. Ia menatap laki-laki yang tidak lebih tinggi darinya itu dengan tatapan yang dingin dan tajam.


Laki-laki itu tersenyum kecil, seperti habis melihat seseorang hadis dihadapannya. “Nanti malam lo anterin motor itu. Lo bakal liat kalau gue bisa menuhin janji gue buat ngamanin cecurut itu.” Laki-laki dihadapan Kala berujar dengan penuh kesungguhan.


Kala hanya tersenyum kecut. Ia tidak lagi menimpali dan pergi begitu saja dari hadapan laki-laki itu. Satu langkah yang sudah dibuatnya sudah berhasil menghentikan masalah besar ini untuk sementara waktu.


***

__ADS_1


__ADS_2