
Kinanti berlari dengan gembira sesaat setelah turun dari angkot. Ia membawa sebuah paperbag yang berisi makanan yang ia beli dalam perjalanan pulang dari sekolah.
“Ayah… ayah…” Kinanti mencari-cari Lukman. Ia ingin segera memberikan makanan itu pada sang Ayah. Makanan yang ia beli dengan uang hadiah olimpiade.
Suasana rumah sepi padahal pintu tidak terkunci. Di rumahnya yang tidak terlalu besar ini, Kinanti masih belum menemukan Lukman. Ia menaruh terlebih dahulu makanan yang ia beli di atas meja juga tas sekolahnya yang berat dan sering membuatnya merasa tubuhnya semakin membungkuk. Ia mencari ke teras belakang tidak ada, tempat biasanya Lukman berdiam diri.
“Yaah….” Kinanti mengetuk pintu kamar Lukman cukup keras lalu menempelkan telinganya dipintu. Lihat wajahnya yang begitu tidak sabaran.
“Iya Nak, sebenatar. Ayah habis mandi.” Suara Lukman terdengar dari dalam kamar.
“Iya Ayah.” Kinanti tersenyum girang. Ia segera pergi ke dapur untuk mengambil mangkuk, sendok, garpu dan gelas. Ia sengaja membuka makanan itu di meja yang menghadap televisi, karena ia ingin bersantai di sana.
“Ada apa, kok anak ayah heboh banget pulang sekolah?” Lukman keluar dari kamarnya dan masih sarungan. Kinanti melihat jam di dinding, sudah jam lima sore.
“Udah selesai ya, WFH nya, Ayah udah sarungan,” komentar Kinanti saat melihat Lukman yang terlihat segar sore ini.
“Udah dong, Ayah juga udah mandi.” Lukman memamerkan penampilannya yang sudah bersih dan wangi.
“Sini yah, duduk sini. Kinan beli batagor yang sama kayak di Bandung. Katanya enak banget. Tadi aja yang ngantri banyakan. Sampe pake nomor antrian segala.” Kinanti bercerita dengan seru.
“Waahh, kayaknya enak tuh. Ayah jadi penasaran pengen nnyoba.” Lukman segera duduk disamping Kinanti. “Ngomong-ngomong Kala mana, kok gak ikut ke sini?” mulailah yang dicari sekarang adalah Kala.
“Kala gak ikut, ada urusan. Jadi dia langsung caw aja.” Kinanti berbicara tanpa menatap Lukman karena sebenarnya ia sedang berbohong.
__ADS_1
Ya, Kinanti memang berbohong karena sebenarnya sejak kejadian tidak terduga di sekolah itu, ia memilih menghindari Kala. Saat Kala memanggilnya pun Kinanti memilih langsung berlari dan bersembunyi. Termasuk saat jam pulang, lima menit sebelum bell ia sudah memesan ojek online supaya tidak perlu pulang di antar Kala.
Saat mengantri di pedagang batagor, Kala sempat mengiriminya pesan, “Nan, kamu dimana? Udah pulang?” Hah, pertanyaan Kala membuat Kinanti makin gelisah. Setiap hal yang berhubungan dengan Kala, selalu membuat jantungnya berdebar tidak menentu.
“Kamu marah? Kok ngehindar terus dari aku?” Kala mengirimkan pesan kedua. Kinanti sungguh dilemma karena ia tidak pernah bersikap seperti ini pada Kala, hanya keadaan saat ini membuatnya tidak berani bertemu Kala. Kenapa Kala bisa sesantai itu dan Kinanti segundah ini? Apa remaja laki-laki dan perempuan memang memiliki sudut pandang yang berbeda tentang pubertas? Entahlah.
“Kok ngelamun? Ayah udah gak sabar ini… Kinan buka plastik bumbunya lama amat.” Protesan Lukman membuat Kinanti tersadar.
“Hehehe, maaf Ayah. Ini udah kok.” Kinanti segera menuangkan bumbu batagor ke dalam mangkuk. Lukman suka batagor kering dengan saus kacang sementara Kinanti suka batagor kuah dan diberi banyak daun bawang.
Saat membumbui makanannya, tanpa sengaja Lukman melihat bill makanan yang dibeli Kinanti.
“Tumben Kinan beli makanan mahal gini? Emang masih punya uang? Ini kan udah pertengahan bulan,” tanya Lukman.
“Ini buat Ayah.” Kinanti memberikan amplop itu pada Lukman.
“Apa ini?” Lukman memandangi amplop itu dengan tidak mengerti.
“Hehehehe, ini sedikit hadiah buat Ayah. Karena Ayah adalah support system terbaik Kinan setiap saat,” terang Kinanti dengan senyum yang mengembang.
Lukman membuka amplop itu yang ternyata isinya adalah uang tunai dalam jumlah besar. “Kinan, kenapa Kinan ngasih uang ke Ayah? Ini kan uang hasil kerja keras Kinan.” Mata Lukman sampai berkaca-kaca karena terharu.
“Ayaah, tolong jangan ditolak. Sesekali Kinan juga pengen ngasih sama Ayah. Selama ini kan Kinan terus yang minta uang ke Ayah. Walaupun tidak banyak, Kinan pengen ngasih sama Ayah. Ayah boleh beli apapun yang Ayah mau. Kinan juga mau beli sesuatu yang Kinan mau."
__ADS_1
"Terus Kinan juga udah booking tempat buat kita liburan akhir pekan ini. Di pantai gitu Ayah. Udah lama kita gak ke pantai. Anggap aja ini sebagai self reward buat kita, boleh kan Ayah?” tanya Kinanti dengan mata penuh binar.
Lukman tidak menimpali, ia langsung memeluk Kinanti dengan erat. Ia menangis haru dipelukan putrinya. Kinanti sampai kaget, karena tidak biasanya Lukman mudah menitikkan air mata. Biasanya justru Lukman lah yang menjadi penyemangatnya dan menguatkan Kinanti.
“Ayah sangat bangga sama Kinan. Kinan putri terbaik Ayah.” Lukman sempatkan untuk mengusap kepala Kinanti dan mengecup pucuk kepala putrinya dengan sayang. Ia menatap lekat sepasang mata yang berbinar penuh kasih.
“Iya Ayah, makasih banyak. Ayah juga Ayah terbaik Kinan. Malah Kinan pikir sekarang itu Kala yang jadi anak terbaik Ayah, soalnya yang selalu Ayah tanyain itu Kala, bukan Kinan,” cicit Kinanti seraya mengusap air mata dipipi Lukman.
“Kamu ada-ada aja. Ayah memang sayang juga sama Kala, tapi posisi Kinan gak akan tergantikan dengan apapun dan siapapun,” tutur Lukman seraya menjawil hidung Kinanti yang bangir.
Rencananya ia akan menceritakan kondisi kesehatannya hari ini pada Kinanti. Tapi ia tidak tega melihat kebahagiaan Kinanti berubah jadi air mata. Terlebih saat ini juga tidak ada Kala yang bisa menguatkan putrinya yang mungkin akan merasa sangat bersedih.
“Hehehhe… Kinan sempet iri loh yah sama Kala. Soalnya Ayah perhatian banget sama Kala.” Kinanti menyuapkan satu sendok batagor pada Lukman.
Lukman tidak menimpali ia hanya tersenyum kecil seraya memandangi Kinanti. Dikunyahnya batagor yang sudah ada dimulut itu hingga habis.
“Enak?” tanya Kinanti. Lukman mengangguk pasti.
“Ayah harap, Kinan akan selalu berteman sama Kala. Cuma Kala yang Ayah percaya buat nemenin Kinan. Kalau berantem jangan lama-lama, kalau ada yang salah dibicarakan. Kala anak yang baik dan pasti bisa menjaga Kinan dengan baik,” pesan Lukman, tanpa melepaskan pandangannya dari sepasang mata bening yang menyejukkan hatinya.
Kinanti tersenyu kelu, ia seperti tersindir dengan ucapan sang ayah karena seharian ini Kinanti mengabaikan Kala yang terus berusaha memperbaiki keadaan. Keadaan yang canggung karena perasaan yang mulai mereka sadari.
***
__ADS_1