Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Rahasia


__ADS_3

Suara tawa terdengar nyaring dari bangku penonton di lapangan basket. Ada Frea dan teman-temannya yang sedang bercanda tawa dan membicarakan hal apa pun itu. Pembicaraan khas para gadis, mendominasi pembicaraan mereka.


Cowok ganteng, jalan-jalan ke luar negeri, outfit kekinian dan yang saat ini sedang mereka bicarakan adalah tentang make up.


“Warna lipsticknya harus agak bold dikit dong, biar bibirnya kayak Kylie Jenner,” ucap Frea pada salah satu temannya yang sedang ia dandani.


Gadis ini katanya sedang menaksir seseorang.


“Jangan terlalu tebel dong overlips nya, yang ada nanti gue malah keliatan jontor," protes teman Frea. Ia berusaha melepaskan kepalanya, menjauh dari cengkraman tangan Frea yang kukuh ingin menyelesaikan riasannya.


“Dikit lagi begok. Lo nurut aja sih. Katanya lo mau godain Mr Jack. Selera Mr Jack itu cewek mateng, bukan cewek bertampang bocah kayak lo.” Frea tetap dengan paksaannya pada Emili.


“Iyaaa, lo nurut aja. Kita udah dukung lo sampe tahap ini. Masa lo mau gagal di tengah jalan sih,” komentar satu teman Emili lainnya, yang sedang memainkan rambut Emili menggunakan catokan agar lebih bergelombang.


“Iyaakk, tapi jangan terlalu banyak gelombangnya, nanti gue malah keliatan kayak tante-tante era delapan puluhan lagi,” protes Emili.


“Hahahahaha… terus tar Mr Jack nanya, itu rambut apa sarang tawon, hahahahaha….” Frea tertawa dengan lebar bersama teman-temannya.


“Ck! Brengsek lo semua!” decik Emili pada ketiga temannya. Walau pada akhirnya tetap saja ia pasrah di dandani oleh Frea dan teman-temannya.


Mereka terkekeh nikmat mendengar protesan Emili yang mereka anggap angin lalu.


“Freaa, sstt, liat itu!” seru salah satu teman Frea yang lainnya.


“Apaan?” dengan malas Frea mengikuti arah tunjuk temannya.


“Saingan lo!” timpal temannya yang tersenyum sinis.


“Brengsek! Makin berani aja itu cewek deketin Kala.” Frea meletakkan alat make up nya begitu saja. Moodnya untuk mendandani Emili sudah hilang berganti rasa kesal melihat kedekatan Kala dan Kinanti.


Mereka sedang berjalan berdua melewati lapang basket. Entah apa yang mereka bicarakan yang jelas Kinanti berhasil membuat Kala tersenyum dan sesekali mengacak rambutnya dengan gemas.


Dada Frea mendadak panas dan tidak bisa terima.


“Lo mau biarin mereka berduaan terus menerus? Lama-lama mereka bisa jadian loh dan lo bakalan tersingkir," hasut Emili yang ikut memperhatikan dua sejoli itu.


“Ya nggak lah. Gue udah nyusun rencana buat nyingkirin anak kampung itu. Lo liat aja, tuh bocah bakalan nyesel.” Frea bersidekap dengan penuh keangkuhan.


“Oh ya? Gimana? Kita di ajakin gak?” Emili dan teman-temannya sangat penasaran dengan rencana Frea.


“Kalian tunggu aja lah, gue bakalan nyingkirin cewek itu pake tangan orang lain. Jadi, di mata Kala tangan gue bersih.” Frea memandangi jemari tangannya yang lentik dan dihiasi kutek berwarna merah muda.

__ADS_1


“Kasih tau dong rencana lo, jangan bikin gue penasaran.”


“Iyaaa, kasih tau kita. Kan kita juga mau ikutan gabung buat ngetawain tuh cewek kampung.”


Emili dan teman-temannya mulai merajuk, membuat Frea tersenyum puas.


Tanpa menunggu lama, Frea mengambil ponselnya. Ia berusaha menghubungi seseorang.


“Dimana lo?” tanya Frea pada seseorang di sebrang sana.


“Gue udah punya ide. Lo mau ikutan?” tawar Frea dengan senyum ceria.


“Iya, nanti gue kabarin lo kalau lo udah mulai bisa beraksi.”


“Hem, bye!” begitu perbincangan singkat antara Frea dengan seseorang.


“Freaaa, lo ngerencanain apa? Kasih tau gue dong.” Emili setengah memaksa.


“Tunggu aja tanggal mainnya, gue bikin kalian ketawa ngakak,” janji Frea tanpa keinginan untuk menjelaskan apapun pada teman-temannya.


****


“Woy!” seru Riko yang tiba-tiba menghadang langkah Kala dan Kinanti. Entah dari mana asal remaja satu ini.


“Dari kantin. Kenapa?” Kala balik bertanya.


“Tumben dari kantin. Biasanya lo berdua suka ngilang. Suka pergi kemana sih lo?” Riko menatap Kinanti dan Kala bergantian. Penuh rasa curiga.


Kala dan Kinanti saling menoleh,


“Perpus,”


“Taman,”


Jawaban mereka tidak kompak.


“Hah, bohong lo berdua!” Riko meninju lengan Kala dengan kesal. Berani-beraninya Kala berbohong padahal ia tidak pandai.


Kinanti dan kala sama-sama menahan senyum. Entah mereka harus memberitahu markas mereka berdua atau tidak.


“Kasih tau gue, atau gue mata-matain lo berdua,” ancam Riko pada dua remaja itu.

__ADS_1


Kala menghembuskan nafasnya kasar, ia menoleh Kinanti seolah meminta bantuan untuk menjawab. Kinanti hanya mengendikkan bahunya acuh, menyerahkan sepenuhnya jawaban pada remaja jangkung ini.


Pada akhirnya, Kala dan kinanti membawa Riko ke markas mereka.


“Wanjaaayyy!!! Gue baru tau kalian berdua punya markas di sini. Wwwuhhhh!! Kereenn!!!" seru Riko saat melihat keadaan rooftop yang sudah di sulap menjadi tempat yang nyaman seperti ini.


Sudah ada kursi, meja belajar, tenda, lampu pijar bahkan kulkas kecil dan PS miliknya pun ada di sini.


“Ini tempat lo berdua melarikan diri?” Riko bertanya dengan penasaran.


Dua remaja itu kompak mengangguk. Riko tersenyum kecil, ia tidak menyangka kalau Kala dan Kinanti sudah sedekat ini. Ia pikir Kala hanya akan main-main pada Kinanti. Siapa sangka mereka cocok.


“Ada wajib kartu member gak nih kalau mau dateng ke sini?” Riko berkeliling di sekitar rooftop. Mencoba masuk ke dalam tenda atau sekedar mencoba duduk di atas kursi.


“Gak ada member card. Tapi lo wajib ngisi ini.” Kala membuka pintu kulkas kecil yang biasa ia jadikan temmpat menyimpan minuman dingin.


“Akh, itu sih gampang.” Riko berdecik enteng.


“Tapi, kalau gue bawa sofa ke sini, boleh gak?” dengar, pikirannya mulai absurd.


“Sekalian aja lo bawa mesin cuci sama meja makan dan kitchen set,” ledek Kala.


“Hahahahaha… ide bagus. Biar gue gak usah balik ke rumah. Males gue di gangguin adek gue melulu terus di suruh-suruh sama kakak perempuan gue.” Remaja itu malah curhat sebagai anak kedua dari tiga bersaudara.


“Ya lo kira-kira aja, ini tenda cuma segede gini. Kalau lo bawa sofa terus ujan, mau gimana?” Kala mencoba mengingatkan.


“Iya juga ya. Akh, kurang gede ini tendanya. Gue beli agak gedean deh. Lo mau nemenin gue beli gak?”


“Nggak, gue harus ke café.”


“Jiiaahh, anak mandiri. Ya udah deh, gue pergi sendiri.” Riko langsung melengos pergi.


“Eh tunggu!” panggil Kala.


“Apaan?”


Kala segera menghampiri Riko lalu merangkul sahabatnya.


“Tempat ini adalah tempat rahasia gue sama Kinan. Kalau lo mau gabung, ya silakan. Tapi tolong jangan kasih tau siapapun,” bisik Kala di telinga Riko.


“Iyaaa, gue kira apaan. Banyak rahasia lo berdua,” ledek Riko sebelum benar-benar pergi meninggalkan dua sejoli itu.

__ADS_1


****


__ADS_2