
“Keluarga bapak Lukman?” suara panggilan terdengar dari arah pintu ruang observasi. Sebelah ruang UGD.
“Iya, saya.” Kinanti segera berdiri dan menaruh makanannya begitu saja.
“Dek, apa ada orang dewasa lainnya?” perawat itu menatap Kinanti dengan khawatir. Sepertinya gadis ini sudah mulai putus asa dan goyah, tidak terlalu tegak berdiri diatas kakinya sendiri.
“Kami hanya memiliki satu sama lain, Bu.” Jawaban Kinanti terdengar menyesakkan.
Perawat itu mengangguk paham penuh empati, menyesal telah bertanya. “Dokter ingin memberikan penjelasan, masuklah.” Perawat itu meraih punggung Kinanti yang membungkuk, mengusapnya perlahan lalu mengajaknya masuk.
“Boleh dengan teman saya juga?” Kinanti menoleh Kala. Gadis itu sangat yakin kalau Kala akan menguatkannya.
“Boleh,”
Kala segera menaruh air minumnya dan menghampiri Kinanti. Mereka saling berpegangan tangan masuk ke ruang dokter, saling menguatkan satu sama lain.
“Selamat malam, silakan duduk.” Sapa dokter yang menyambut Kinanti dengan ramah. Meskipun demikian, tidak mampu menghilangkan suasana mencekam yang menyelimuti hati Kinanti.
Kinanti duduk berhadapan dengan dokter, disampingnya ada Kala yang tidak ia lepaskan genggaman tangannya. Perawat memberikan buku rekam medis pada dokter dan dokter itu membacanya beberapa saat. Menggaruk keningnya yang sebenarnya tidak gatal. Hanya bingung untuk memberi penjelasan pada gadis semuda ini dan entah harus diawali darimana.
“Pak Lukman hanya tinggal dengan kalian?” tanya dokter tersebut.
“Iya dok, saya putrinya. Ayah saya orang tua tunggal.” Kinanti menyahuti dengan suara berat.
__ADS_1
Dokter itu mengagguk paham. Dokter menyalakan alat pembaca hasil rontgen yang ada disampingnya. Penampang kerongkongan Lukman pun langsung terlihat jelas walau hanya ada warna hitam, putih dan abu-abu.
“Saya akan menjelaskan kondisi pak Lukman saat ini. Pasien mengalami tersedak karena ada tumpukan masa disini yang mengakibatkan ia kesulitan menelan makanannya. Pasien juga kesulitan bernapas karena tenggorokanya ikut membengkak."
"Kami sudah memberikan obat-obatan sesuai dosisnya, juga oksigen yang cukup melalui hidung, tapi sepertinya itu tidak terlalu efektif. Saturasi oksigen pasien terus menurun dan pasien semakin gelisah serta sesak nafas.” Dokter menjeda kalimatnya beberapa saat dan menatap Kala dan Kinanti bergantian. Dua pasang mata polos itu mencoba memahami penjelasan dokter sesuai dengan kemampuan mereka.
Mungkin bingung, tetapi lebih dari itu, mereka takut dan cemas.
“Kami berencana melakukan intubasi yaitu pemasangan selang endotracheal melalui mulutnya dan mengalirkan oksigen melalui alat tersebut. Namun, kondisi pasien masih setengah sadar dan beliau selalu berontak. Kemungkinan, kami harus melakukan knock down atau membuat pasien tidak sadar agar pemasangan alat dan pemberian oksigen dapat berjalan dengan baik.” Tatapan dokter itu semakin lekat pada sepasang mata yang saat ini menitikkan air mata. Kinanti memalingkan wajahnya dan mengusap air matanya dengan kasar. Ia pernah membaca seperti apa itu intubasi dan pemahaman awamnya mempersepsikan itu sebagai hal yang mengerikan dan menyakitkan.
“Lalu?” tanyanya dengan suara bergetar. Rasanya ia ingin menutup telinganya atau sebentar saja tuhan membuatnya tuli agar tidak mendengar penjelasan yang membuatnya ikut merasakan sesak seperti yang dirasakan Lukman saat ini.
“Kami memerlukan persetujuan keluarga untuk tindakan ini, karena pasien akan masuk ke dalam kondisi tidak sadarkan diri dan menggantungkan hidupnya pada alat yang terpasang.”
Deg!
“Bera-pa la-ma?” Suara Kinanti terbata-bata. Kekuatannya tidak sebesar itu untuk menahan gejolak takut dan kengerian yang mengisi rongga dadanya.
“Belum bisa kami tentukan. Kami harus menunggu sampai pembengkakan di batang tenggorokan dan kerongkongannya berkurang. Bisa sehari, dua hari atau beberapa hari, bergantung pada kondisi pasien dan responnya terhadap obat-obatan.” Penjelasan dokter menyayat hati seorang anak yang belum siap mendengar sang ayah jatuh pada kondisi terburuk seperti ini.
Kinanti tertunduk lesu, ia terisak, tetapi lagi ia berusaha untuk tegar.
“Sebenarnya, tenggorokannya bengkak karena apa, dok? Apa ayah saya salah makan? Saya rasa ayah saya tidak punya alergi.” Kinanti masih belum mengerti sepenuhnya alasan Lukman berada pada kondisi seperti ini. Karena tadi pagi kondisinya baik-baik saja dan tidak mengeluhkan apapun. Lukman bahkan menggodanya sebelum Kinanti berangkat sekolah dan menyuruhnya jangan pulang terlambat karena sang ayah ingin berbicara banyak dengannya.
__ADS_1
“Karena pasien menunda terapinya.” Jawaban dokter terdengar menggantung bagi Kinanti.
“Terapi?” Kinanti mengernyitkan dahinya sambil menatap dokter itu dengan tidak mengerti.
“Ya. Sudah berapa kali pasien menjalani chemoterapi?” Dokter itu balik bertanya.
“Chemoterapy?” Kinanti semakin tidak mengerti, begitupun dengan dokter yang tampak tidak mengerti dengan keterkejutan Kinanti. Bukankah gadis ini putrinya? Mungkin itu pikiran yang ada dibenak dokter
“Empat belas kali, kemarin harusnya beliau chemo untuk yang kelima belas kali, tapi beliau menolak untuk pergi.” Kala yang menjawab. Sepertinya ini sudah saatnya ia untuk jujur karena tidak ada lagi yang bisa ia sembunyikan. Dokter memerlukan informasi ini.
Mendengar jawaban itu, Kinanti melepaskan genggaman tangannya dari Kala. Tangannya terkulai lemas. Ia masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut sahabatnya. Bagaimana mungkin Kala lebih tahu kondisi Lukman dibanding dirinya? Bagaimana bisa Kala dan Lukman menyembunyikan rahasia dibelakang Kinanti? Apa aja yang dua orang ini rahasiakan darinya?
Kinanti menoleh Kala dengan tidak habis pikir. Ia merasa telah benar-benar dibohongi. Bagaimana bisa Kala tega menyembunyikan sesuatu yang penting darinya? Apa yang Kala tahu dan ia tidak tahu? Kenapa dan kenapa, hanya kata tanya itu yang bergaung dikepalanya.
“Kondisi itu yang memperberat pasien. Seharusnya pasien melakukan terapi sesuai jadwal." Dokter menyesalkan akan hal itu.
Kala terdiam, ia tahu persis kalau Kinanti sedang menatapnya dengan penuh tanya dan kecewa. Ia tidak berani menoleh, melainkan hanya memperhatikan ucapan dokter yang terjeda cukup lama karena berusaha merangkai kalimat yang lebih baik untuk sepasang remaja ini.
"Setelah oksigennya terpenuhi dn stabil, kami menyarankan untuk melakukan tindakan trakeostomi yaitu prosedur yang dilakukan dengan cara melubangi leher dan memasang alat khusus langsung ke batang tenggorokan agar pasien tidak ketergangan pada alat. Kami ….” Barisan kalimat berikutnya tidak Kinanti simak dengan benar. Semua kalimat dokter mendengung lalu menguap begitu saja ditelinganya. Yang ia tahu selama ini ia telah dibohongi oleh lukman dan Kala. Itu sungguh menyedihkan untuknya.
“Silakan tanda tangani surat ini jika adeknya setuju atau surat yang ini kalau adeknya tidak setuju.” Seperti mendorong Kinanti ke sebuah persimpangan yang gelap, Dokter menyerahkan dua lembar surat berbeda yang ia taruh berdampingan.
Mata Kinanti yang basah membaca kalimat judul diatas surat pernyataan itu. Tulian capital bercetak tebal itu samar berbayang. Terlihat kalau satu surat persetujuan dan satu lagi surat penolakan tindakan. Tanpa berpikir panjang, tangan gemetar Kinanti segera mengambil ballpoint dan membubuhkan tanda tangan diatas surat persetujuan tindakan. Ia tidak ingin memikirkan hal lain selain melihat ayahnya sembuh.
__ADS_1
Setelah membubuhkan tanda tangan disurat persetujuan itu, Kinanti beranjak lebih dulu. Ia berbalik pergi meninggalkan Kala dan dokter. Langkahnya terlihat gontai dan sempat tersandung. Kala segera menyusulnya dan berusaha memegangi tangan Kinanti, tetapi gadis itu mengibaskannya. Ia bisa berjalan sendiri tanpa bantuan Kala. Sungguh ia kuat dan tidak memerlukan Kala lagi.
****