
Kinanti masih terduduk di bangku tunggu keluarga pasien dengan harap-harap cemas. Kedua tangannya yang gemetar dan basah oleh keringat, saling menggenggam erat satu sama lain. Sesekali ia mengepal untuk menguatkan hatinya.
“Kinanti,” sebuah suara panggilan terdengar dari pintu ruangan dokter. Suara itu cukup khas karena semalam Kinanti berbicara banyak dengan dokter muda bernama Leon itu. Lebih tepatnya menerima banyak masukan dari pria bertubuh tinggi itu.
“Ya,” Kinanti segera berdiri tegak. Wajah pucatnya semakin terlihat jelas.
“Masuklah, dokter spesialis mau bicara,” ucap laki-laki itu seraya melambaikan tangannya sebagai bentuk ajakan.
“Oh iya.” Kinanti segera menyadarkan dirinya. Ia mengusap wajahnya yang kuyu dan berjalan cepat, masuk ke ruangan dokter.
Leon segera membukakan pintu lebih lebar untuk gadis cantik itu. “Makasih dok,” Kinanti mengangguk sopan.
“Sama-sama,” sahut Leon yang tersenyum kecil.
“Duduklah,” ucap dokter spesialis dengan wajahnya yang berekspresi lebih baik dibanding saat menjelaskan semalam.
Kinanti segera duduk dan tidak sabar menunggu penjelasan dokter berikutnya.
“Kondisi ayahmu mulai stabil.” Kalimat itu yang pertama didengar oleh Kinanti dan membuat gadis itu menghembuskan napasnya lega.
“Seperti yang kami rencanakan, pasien akan dilakukan tindakan tracheostomi, yaitu sebuah prosedur tindakan dengan melubangi tenggorokannya. Tepatnya di area sebelah sini.” Dokter melingkari gambar penampang tenggorokan Lukman yang berwarna hitam dan putih.
“Kondisi pasien yang tetap sadar, membuat kami tidak bisa memberikan oksigen lewat endotracheal tube, jadi ini dirasa lebih efektif karena dengan tracheostomy pasien bisa tetap belajar menelan dan bernapas seperti biasanya. Walau tetap saja untuk sementara pasien akan dipasang selang makan melalui hidung untuk menghindari tersedak. Kita akan observasi selama satu minggu dan dijadwalkan pasien akan menjalani kembali chemoteraphy setelah kondisinya lebih stabil dari sekarang.”
“Kalau adek setuju, silakan tanda tangani ini. Atau kalau ada yang tidak jelas, silakan bertanya.” Suara dokter spesialis dihadapan Kinanti terdengar lebih ringan, seolah beban rasa bersalah dan kasihannya berkurang pada Kinanti.
“Maaf dok saya mau bertanya, apa tracheostomi itu untuk selamanya? Maksud saya, apa ayah saya akan terus bernapas lewat lubang dilehernya?” Kinanti menyentuh lehernya sendiri, tidak bisa membayangkan bagaimana nanti Lukman dengan kondisi itu.
“Bergantung pada kondisi pasien. Untuk saat ini, cell kanker bapak Lukman, sudah meluas ke tracheanya, bronkusnya juga sudah menunjukkan tanda-tanda kalau dia terkena cell ganas itu. Saya memang tidak bisa menjanjikan banyak untuk kesembuhan pasien, tetapi dengan terapi yang dijalani pasien, serangkaian prosedur ini diharapkan dapat mengoptimalkan usaha kita untuk memperpanjang usia harapan hidup pasien,” terang dokter dengan gamblang.
Kinanti terdiam beberapa saat, ia mencoba memahami kalimat panjang yang didengarnya. Ia harus berpikir jernih, walau kelak Lukman memiliki lubang dilehernya, tetapi paling tidak laki-laki itu tidak lagi kesulitan untuk bernapas.
__ADS_1
“Adek jangan khawatir, pasien dengan tracheostomi ini tetap bisa menjalan aktivitas seperti biasa walau memang terbatas dibanding orang normal. Asalkan kondisi pemberat lainnya, dalam hal ini penyakitnya, kita tanggulangi. Saat dirumahpun bisa tetap dirawat asalkan memperhatikan kebersihan lingkungan pasien.” Tambahan penjelasan dokter seperti obat pelega untuk Kinanti.
“Baik dok, terima kasih penjelasannya.” Gadis itu mengangguk sopan. Ia segera mengambil ballpointnya lalu menandatangani surat pernyataan itu di jam enam belas sore.
“Okey, tetap semangat yaa adeknya. Supaya papahnya juga semangat untuk sembuh. Ingat, selain obat-obatan dan tindakan medis, dukungan keluarga adalah obat paling mujarab untuk pasien.” Dokter itu mengepalkan tangannya untuk menyemangati Kinanti.
“Siap dok, terima kasih sudah mengingatkan.” Gadis itu terangguk dengan penuh kelegaan.
Selesai dengan persetujuan itu, Kinanti keluar lagi dari ruangan dokter dan duduk kembali di tempatnya. Leon mengikuti gadis itu dan duduk disampingnya.
“Aku nanti akan nemenin dokter spesialis saat tindakan. Tindakannya sekitar setengah jam lagi. Pergilah untuk makan atau mengambil udara segar, agar perasaanmu lebih baik. Karena setelah itu kamu bisa menemui ayahmu. Dia juga pasti menunggumu dan membutuhkan dukunganmu. Jadi baiknya, kamu stabilkan emosi dan perasaanmu sebelum nanti menemui ayahmu.” Leon memberikan beberapa masukkan.
Kinanti menoleh laki-laki disampingnya lalu tersenyum. “Terima kasih dok,” ucapnya dengan sungguh.
“Sama-sama. Harus kamu tau kalau saat ini aku tidak sedang berbicara sebagai seorang dokter, tapi sebagai seorang teman. Just call me abang atau kakak. Kak Leon mungkin? Itu akan membuatku terdengar lebih muda dan bersemangat.” Laki-laki itu menambahkan kalimat panjang untuk berusaha akrab dengan Kinanti.
Kinanti mengangguk seraya tersenyum, “Ya, kak Leon,” timpal gadis itu.
“Yaaa, terdengar lebih baik.” Leon tersenyum dengan lega. Senyuman yang membuat seseorang mengepalkan tangannya dari kejauhan.
Kinanti segera menoleh, begitupun dengan Leon. Ada tiga remaja yang menatap Leon dengan tajam. Siapa lagi kalau bukan Kala, Riko dan Demian.
“Kalian?” Kinanti segera berdiri menyambut teman-temannya. Antara senang dan kaget melihat tiga orang ini datang bersamaan.
Mereka berjalan menghampiri Kinanti. Riko sengaja berdiri menyelinap diantara Kinanti dan Leon, membuat dokter muda itu terpaksa menggeser tubuhnya sedikit menjauh dari Kinanti.
“Perkenalkan, saya Riko, temennya Kinanti. Itu Demian, fansboy-nya Kinanti. Dan ini, Kalantara, pacarnya Kinanti. Anda siapa ya?” tanya Riko yang menunjukkan wajah tengilnya.
“Oh, saya Leon. Teman baru Kinanti.” Leon segera mengulurkan tangannya dengan ramah. Walau perasaannya sedikit bergejolak mendengar Riko memperkenalkan dirinya dan teman-temannya. Terutama remaja bermata tajam dan dingin bernama Kalantara itu. Lihat sorot matanya yang lekat seolah ingin mencabik-cabik Leon.
“Oh ya, teman baru.” Riko membalas uluran tangan Riko. “Tapi teman baru, kami para teman lama mau berbincang private dulu sama Kinanti. Boleh tolong leave conversation dulu atau mungkin ‘teman baru’ sedang ada kesibukan lain, silakan dilanjutkan dulu.” Riko memang pandai berkata-kata. Mengimbangi kalimat Leon yang mengatakan , "Just call me abang atau kakak."
__ADS_1
Demian sampai memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan senyum mendengar Riko memanggil laki-laki itu dengan istilah ‘teman baru’.
“Oh tentu. Silakan lanjutkan, kalian perlu memberikan dukungan semangat untuk Kinanti.” Leon terpaksa mengalah untuk saat ini. Ia tidak mau ambil resiko dengan memaksa ada didekat Kinanti sementara sepertinya satu remaja itu sudah menandainya dengan bendera merah yang bisa ia serang kapan saja.
“Saya permisi ya Kinan, nanti kita berbincang lagi,” pamit Leon.
“Iya, terima kasih kak Leon,” sahut Kinanti yang langsung dibalas tatapan tajam oleh ketiga remaja itu.
“Sssttt, dia dokter Kinan. Dokter Leon, lebih sopan manggil gitu. Jangan kakak, itu gak baik.” Riko yang mengingatkan.
“Iya, dokter Leon.” Kinanti kembali mengangguk sopan pada Leon dan Leon hanya membalasnya dengan senyuman sebelum ia pergi.
Kinanti juga melirik Kala, remaja itu sempat menatapnya tajam tetapi beberapa saat kemudian air mukanya kembali berubah hangat. Walaupun cemburu, ia tidak marah pada Kinanti.
“Makasih kalian udah datang ke sini.” Kinanti mencoba mencairkan suasana. Ia tidak pernah menyangka kalau tiga orang ini akan datang bersamaan.
“Iya lah, Kinan. Kita bertiga cemas sama kamu. Apalagi si onoh noh. Jam istitahat dia malah ngilang, diajakin makan gak mau. Kalian bedua makan dulu gih. Kata dokter Leon kan kalian harus menyiapkan diri sebelum ketemu ayahnya Kinanti.” Riko yang memberikan jawaban sekaligus mengingatkan.
Ya, selama di sekolah Kala memang tidak makan dan minum apapun. Ia hanya memikirkan Kinanti sambil melamun di rooftop dan kembali ke kelas tanpa ada rasa semangat. Baru saat bell pulang berbunyi remaja itu terlihat semangat lagi.
“Gue juga tadi belum makan siang.” Demian ikut berbicara. Ia mengusap perutnya yang keroncongan.
“Weit, kita nanti aja bro. Kita kan harus gantian nunggu di sini. Berdua-berdua lah, biar ada temennya.” Riko segera merangkul bahu Demian agar tidak ikut beranjak.
“Oh, ya udah.” Remaja itu terpaksa mengalah. Ia ingat janjinya pada Kala kalau ia tidak akan menggangu Kinanti temasuk saat bersama Kala. Berat memang Dem, tapi penuhi janjimu ya.
“Yuk, kita makan dulu,” ajak Kala seraya mengulurkan tangannya pada Kinanti. Kinanti menoleh tangan Kala, tetapi gadis itu tidak membalasnya.
“Iya,” hanya itu jawaban Kinanti yang memilih berjalan lebih dulu didepan Kala.
Kala menggaruk pelipisnya walau tidak gatal. “Udah sabar dulu, tar juga kalau udah makan mood cewek balik lagi.” Riko mencoba menyemangati sambil menepuk-nepuk bahu Kala.
__ADS_1
Kala tidak menimpali, memang sepertinya saat ini ia dan Kinanti masih perlu waktu untuk lebih memahami satu sama lain.
****