
Saat-saat mendebarkan dirasakan Kinanti dan tiga teman prianya. Sudah jam sepuluh malam dan dokter masih belum keluar dari ruang tindakan. Kinanti duduk di tempatnya bersama Kala dan Demian, sementara Riko yang lebih tidak tenang karena terus mengintip ke celah ruangan yang sebenarnya tidak terlihat apapun. Tetapi tetap saja ia merasa penasaran kalau tidak mengintip.
Sesekali remaja itupun menempelkan telinganya di dinding. Seperti cicak putih yang mencoba mencuri dengar apa yang terjadi di dalam. Ia bahkan menahan napasnya agar pendengarannya lebih jelas.
“Ko, lo duduk bisa gak sih? Lo kayak begitu bikin tambah tegang tau gak!” Demian yang merasa terusik dengan tingkah Riko.
“Tar dulu, gue seperti denger suara musik atau apa gitu ya?” Riko tetap bersikukuh menempel di pintu.
"Lo gak usah kayak gitu. Pegel gue liatnya." Kala ikut protes.
"Berisik ya lo pada! Yang nguping gue, yang nempel ke dinding gue, yg matanya jadi juling juga gue, kenapa lo yang repot?" Riko malah balas kesal.
“Astaga!” Belum satu menit ia dikagetkan oleh pintu yang terbuka dan hampir membuatnya terjengkang.
“Mampus!” seru Kala dan Demian bersamaan. Mereka tidak bisa menyembunyikan rasa puasnya melihat Riko hampir jatuh.
Tetapi kemudian wajahnya berubah tegang saat Leon keluar dari pintu itu. “Kinan, masuklah,” ujar pria itu seraya tersenyum pada Kinanti.
Kinanti segera berdiri begitupun Kala. “Satu orang aja ya.” Leon mengacungkan jari telunjuknya yang membuat Kala terpaksa menghentikan langkahnya.
“Tunggu aja, nanti aku kabari,” pinta Kinanti.
Kala mengangguk patuh dan membiarkan Kinanti masuk. Dokter itu memberikan baju khusus berwarna hijau lengkap dengan penutup kepala yang sering disebut nurse cap. Hanya beberapa detik saja Kinanti terlihat sebelum pintu tertutup.
Demian dan Kala menunggu dengan gelisah disamping pintu sementara Riko memilih duduk di bangku.
“Sekarang aja lo berdua yang diem di situ. Emang kompak lo berdua, cocok jadi saudara!” ledek Riko yang membuat Kala dan Demian sama-sama menatapnya dengan tajam.
“Jangan ngambek, liat nih pinggang gue sakit.” Riko meringis sambil menunjuk pinggangnya yang sakit karena terhenyak kaget.
__ADS_1
“Salah sendiri pake nemplok didinding,” ledek Demian sambil menahan senyumnya. Begitupun dengan Kala yang ikut menahan tawanya melihat penderitaan Riko.
“Ketawa aja lo berdua. Mentang-mentang udah baikan, sekarang gue lagi yang dikucilkan.” Riko mengumpati dengan kesal. Demian dan Kala saling menoleh dan dengan cepat tawa itupun hilang.
“Gak ada yang baikan. Gue masih dendam sama dia.” Kala segera membuang muka. Tetapi Demian tidak menimpali, ia sadar kalau ia banyak salah pada Kala.
“Ya terserah lo berdua lah, lo atur baik-baik. Tapi buat sekarang, tolong beliin gue obat gosok atau apa kek buat nih pinggang. Sakit banget anjir!” Riko benar-benar kesakitan. Ia berpegangan pada sandaran kursi panjang dan membelakangi teman-temannya.
“Minta suntik rabies aja sama dokter,” Demian malah meledek.
“Eh si anj udah berani sama gue! Gue gigit nular lo!” Riko tambah kesal dan Demian malah tertawa dalam hati. Tingkah Riko memang cukup untuk mengusir ketegangan mereka.
Di dalam sana, Kinanti sedang menemui Lukman. Laki-laki itu belum sadarkan diri sepenuhnya, tetapi kondisinya sudah lebih baik. Alat bantu napas sudah berpindah ke lubang tracheostomi dan Lukman sudah tidak berontak lagi.
“Efek obat sedatifnya hanya tersisa beberapa persen saja ditubuhnya. Kemungkinan, besok pagi pasien akan sadar. Oksigen pasien sudah kami pindahkan dan pasien kemungkinan akan bisa berbicara walau tidak terdengar jelas. Saat ini pasien masih puasa, kita coba feeding test besok pagi melalui selang makan.” Dokter menyentuh sebuah selang yang terhubung ke hidung Lukman.
“Ya, selang ini akan digunakan selama pasien belum bisa menelan dengan normal. Kita akan melepasnya kalau pasien sudah bisa menelan dengan baik,” terang dokter tersebut.
Kinanti mengangguk paham, ia sudah sedikit membaca tentang kondisi yang Lukman hadapi di jurnal-jurnal kesehatan yang ada didunia maya. Tetapi lebih jelas lagi setelah dokter yang menerangkan.
“Kamu punya waktu lima menit, setelah itu biarkan pasien istirahat ya. Besok pagi baru ditemui lagi,” pesan dokter itu.
“Baik, dok.” Kinanti mengangguk patuh. Dokter pun pergi lebih dulu bersama Leon. Sementara Kinanti masih duduk ditempatnya sambil memandangi Lukman yang sedang terlelap dbawah pengaruh obat-obatan.
Kinanti memberanikan diri untuk meraih tangan sang ayah. Tangan yang lebih kurus dari sebelumnya. Dikecupnya tangan Lukman dengan lembut dan ia berusaha untuk tidak lagi menangis. Ia ingat pesan Kala, kalau Lukman mungkin saja mendengar rengekan Kinanti walau belum sadarkan diri.
Karena itu, Kinanti menghela napasnya dalam sambil mengeratkan genggaman tangannya pada Lukman, agar ia lebih tegar. Dipandanginya wajah Lukman yang tirus. Hidungnya terlihat begitu tinggi karena pipinya yang mulai kosong tanpa lemak. Dahinya juga terlihat licin dan rambutnya semakin menipis. Kinanti bahkan bisa melihat kalau tulang selangka ayahnya lebih menonjol, menunjukkan kalau laki-laki ini sangat kurusan.
Lukman yang sekarang jauh berbeda dengan Lukman yang dulu begitu bugar dan segar. Lihat juga lubang dilehernya sebagai tempat ia bernapas, masih dikelilingi kasa agar tetap steril sisa tindakan. Hati Kinanti meringis melihat rupa ayah yang ia cintai saat ini. Begitu berat ujian kesehatan yang diterima sang ayah dan ia memilih memikulnya sendirian.
__ADS_1
“Ayah, gimana kabar Ayah hari ini?" Kinanti memulai kalimatnya dengan perasaan berdebar. Ia berusaha tersenyum pada wajah pucat itu.
"Maafin Kinan ya Ayah, karena Kinan sempat merasa kecewa dan marah sama Ayah, padahal beban Ayah sangat berat." Lagi Kinanti mengecup tangan sang ayah. "Kinan tau, Ayah pasti sedang berjuang melawan sakit ditubuh Ayah dan semua itu tidak mudah. Kinan harap, Ayah tetap berjuang menghadapi semuanya. Kita terima sama-sama ujian ini ya Ayah. Ayah jangan khawatir, Kinan akan selalu nemenin Ayah, menjaga Ayah dan merawat Ayah.”
“Ayah harus tau, kalau Ayah gak pernah menjadi beban buat Kinan hanya karena Ayah sakit. Ayah satu-satunya harta paling berharga yang Kinan punya. Apapun yang Ayah rasakan, Ayah berhak mengungkapkannya dan Kinan akan setia menemani Ayah menerima semuanya dan menyemangati Ayah. Seperti yang Kala bilang, kita akan kuat kalau kita sama-sama. Ya Ayah?” Lagi, Kinanti mengeratkan genggamannya pada Lukman. Ia juga menciumi tangan Lukman lalu beranjak untuk mengecup kening sang Ayah.
“Kinan sayang Ayah, akan selalu sayang Ayah bagaimanapun kondisi Ayah.” Beberapa saat Kinanti terdiam, berusaha menghalau rasa sesak didadanya. Ia memejamkan matanya agar air matanya tidak menetes dan rupanya ia berhasil. Ia berhasil untuk tidak menangis dihadapan Lukman.
“Dek, jenguknya boleh dilanjut besok pagi yaa….” Suara lembut seorang perawat menyadarkan Kinanti.
“Oh iya sus.” Kinanti segera beranjak dari tempatnya, menegakkan tubuhnya dan menatap Lukman beberapa saat.
“Ayah, Kinan nunggu didepan yaa… Kinan gak kemana-mana kok. Semangat Ayah, besok pagi kita ketemu lagi ya Ayah. Selamat beristirahat….” Kinanti bersuara dengan ceria. Suara itu yang biasanya disukai Lukman. Dikecupnya pipi Lukman yang tirus.
Perawat yang menunggui Kinanti ikut tersenyum melihat tingkah Kinanti dengan ucapannya yang manis.
“Ayahnya pasti semangat banget buat sembuh, soalnya putrinya sekuat ini,” komentar perawat sambil tersenyum pada Kinanti.
“Aamiin… terima kasih Bu. Saya titip ayah saya ya Bu. Saya ada diluar kok.”
“Iyaa. Kamu juga istirahat yaa. Kondisi pasien stabil kok, jadi jangan khawatir. Bersiap saja untuk bertemu beliau besok pagi.” Perawat itu mengusap bahu Kinanti dengan lembut.
“Terima kasih bu, selamat malam,” pamit Kinanti sebelum beranjak pergi.
“Malam,” perawat itu tersenyum kecil pada gadis muda dihadapannya.
Kinanti segera melepas baju pelindung juga penutup kepalanya. Ia bisa bernapas lega karena akhirnya bisa melihat Lukman dalam kondisi yang lebih baik.
****
__ADS_1