Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Pagi yang baru


__ADS_3

Pagi yang baru bagi Demian saat ia memutuskan untuk kembali ke sekolah. Suasana yang masih tetap sama, sejuk dan menyegarkan. Demian berjalan di trotoar yang biasa digunakan para siswa berjalan kaki. Pohon pucuk merah meneduhi jalannan yang ia tapaki dengan perasaan gembira.


Beberapa gadis tersenyum senang melihat kedatangan kembali Demian ke sekolah. Mereka saling berbisik satu sama lain dan Demian acuh saja, hal itu sudah biasa ia alami. Yaitu mendapatkan perhatian dari para siswi yang mengidolakannya.


Sedikit berlari agar bisa cepat sampai dikelas. Saat sampai pintu masuk, yang ia perhatikan pertama kali adalah kursi Kinanti. Ia melihat jam ditangannya, sudah jam tujuh.


“Tumben dia belum dateng?” Demian bergumam sendiri. Ia berjalan dengan tenang masuk ke dalam kelas.


“Pagi Demi….” Sapa Emili yang sudah lebih dulu tiba dikelas. Ia sedang berbincang dengan selingkuhannya, Riko. Ralat, dia tidak suka menyebut Riko selingkuhan, katanya anak cabang saja.


“Pagi,” Demian tersenyum kelu.


“Apa kabar lo bro? Udah sehatan?” Riko mengampiri Demian yang sedang menaruh tas di kursinya. Riko duduk bersandar pada meja yang lain.


“Ya, udah lebih baik. Ngomong-ngomong Kinanti mana, kok belum dateng?” Remaja itu masih tetap mencari Kinanti.


“Mungkin bentar lagi. Tapi iya ya, ini udah siang.” Riko ikut melihat jam ditangannya.


“Kalau Kala belum dateng, ya dia juga gak akan dateng duluan. Secara baru beberapa hari jadian, udah pasti kemana-mana maunya berdua. Nempel terooossss kayak perangko.” Emili ikut menimpali. Ia menghampiri Riko dan menaruh tangannya dibahu Riko.


“Iya kan, yang?” imbuhnya seraya tersenyum kecil.


“Iyaaa… lagi anget-angetnya. Mana mau jauhan.” Riko menimpali walau dengan perasaan tidak nyaman.


“Maksudnya gimana?” Demian pura-pura tidak mengerti.


“Biar gue jelasin.“ Emili berdiri dengan tegak dihadapan Demian, siap berbicara.

__ADS_1


“Gue aja yang ngomong yang,” Riko menahannya, ia takut Emili salah berbicara.


“Dih apaan sih. Kenapa harus kamu yang ngomong? Orang intinya sama, Kala sama Kinanti udah jadian. Lo sih libur sekolahnya kelamaan. Untung gak lupa jalan juga.” Ujar Emili dengan enteng sambil meninju dada Demian.


Demian langsung terdiam, dadanya sakit sekali, tetapi bukan karena tinjuan Emili, melainkan karena kabar yang baru ia dengar.


“Eehh, kalau ngomong suka gak liat sikon. Duduk gih, gue mau ngomong berdua dulu sama Demi.” Riko segera membekap mulut Emili, tetapi gadis itu malah mengambil tangan Riko lalu menciumnya.


“Nanti istirahat mojok yaa….” Sempat-sempatnya gadis itu tersenyum kecil dan mengedipkan matanya pada Riko, ia tidak tahu kalau akibat ucapannya ada yang dadanya bergemuruh hebat.


“Iya, udah sana.” Riko sedikit mendorong Emili menjauh. Gadis itupun berjalan dengan santai menuju bangkunya.


“Enak juga punya selingkuhan sekelas,” gumamnya sambil duduk dan tetap memandangi Riko dari kejauhan.


“Jadi Dem, maksud Emili itu.”


“Iya,” Riko tertunduk lemah. Tidak tega melihat perubahan raut wajah Demian yang sendu.


“Sejak kapan?” Meski hatinya retak, Demian tetap bertanya. Padahal ia sangat senang saat Yudhistira mengatakan kalau Kinanti menanyakan kabarnya. Tetapi ternyata gadis itu sudah menjadi milik orang lain. Pertanyaannya hanya kekhawatiran sebagai teman sekelas.


“Gue gak tau persis kapan, cuma beberapa hari lalu Kala ngomong langsung dikantin kalau dia sama Kinanti udah resmi pacaran.” Riko terpaksa mengatakan apa adanya.


Demian terlihat membuang napasnya kesal, tangannya juga mengepal.


“Itu anaknya,” ucap Riko saat melihat Kala datang. “Tapi Kinantinya mana?” ia ikut celingukan karena biasanya Kala dan Kinanti paket lengkap. Malah ada Frea yang berjalan dibelakangnya bersama dua sahabatnya yang lain. Suasana kelaspun langsung berisik.


“Pagi bro, Kinanti mana?” Riko menyapa Kala, ia menyambutnya dengan tos tangan dan Kala membalasnya.

__ADS_1


Kala melirik Demian sedikit dan memilih segera duduk dikursinya. “Dia di rumah sakit, bokapnya lagi sakit.” Jawaban Kala terdengar lesu.


“Oh ya, sakit apa?” Riko pun langsung berpindah duduk dihadapan Kala. Ia memerlukan jawaban lebih banyak.


“Diagnosa dokter, sumbatan jalan napas dan sekarang belum sadar. Alat bantu napasnya juga dipasang lewat mulut.” Kala menjelaskan sepengetahuannya saja.


“Ohh, kayak om gue dulu. Lo inget gak Dem?” Riko sengaja bertanya pada Demian agar remaja itu ikut bergabung berbincang.


“Iya, gue inget.” Demian menjawab sekenanya.


Kala menoleh Demian yang sepertinya sudah baik-baik saja. “Apa kabar lo?” remaja itu bertanya. Riko langsung menahan senyumnya mendengar Kala bertanya kabar pada Demian. Suatu hal yang sangat langka.


“Gak kurang satu apapun.” Demian balas menoleh Kala dan mereka bertatapan untuk beberapa saat.


“Bagus. Kalau gitu lo harus siap denger, kalau Kinanti sekarang cewek gue. Jadi gak perlu kerja keras lagi ngasih perhatian berlebih sama dia.” Rupanya kalimat itu yang sebenarnya ingin Kala sampaikan.


“Astaga…” Riko hanya bisa mengusap wajahnya kasar. Strategi Kala memang tidak terbaca. Bertanya kabar hanya untuk memastikan kalau Demian siap mendengar kabar buruk itu.


Demian tidak menyahuti, ia hanya tersenyum kecil lalu memilih pergi dari kelas.


“Puas banget lo ngomong gitu sama Demian.” Protes Riko seraya meninju lengan Kala.


“Ya, mesti diberi paham biar dia gak buang-buang waktu.” Jawab Kala apa adanya. Ia tidak mau membuka peluang untuk siapapun mendekati Kinanti. Entah itu Demian atau laki-laki bernama Leon yang bertemu Kinanti di rumah sakit.


“Sadis lo emang. Bisa nangis dipojokan tuh si Demi.” Lagi Riko berkomentar, Kala hanya tersenyum, bukan urusannya pikirnya.


***

__ADS_1


__ADS_2