Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Teman baru


__ADS_3

“Hidup ini indah dan bermakna jika saja kau tahu jalan mana yang benar. Harapan akan selalu ada dan nyata jika saja kau percaya dan yakin.” Pepatah itu yang saat ini menjadi pegangan bagi Kala.


Belakangan ia melalui hari yang begitu menyenangkan untuk dirinya dan orang-orang disekitarnya. Semua seperti kembali pada posisi semula dan memberi makna tersendiri. Kesedihan didalam hatinya perlahan mulai hilang, berganti dengan kelegaan dalam menjalani hidup bersama Bertha, bahagia melihat Kinanti dan Lukman yang baik-baik saja serta hilangnya label poros kesalahan yang selama ini bertumpu didirinya.


"Hidup tidak sememuakkan itu, Kal." Kalimat itu yang menjadi kuncian dihati Kala.


Hari Kala sudah tidak selalu suram. Di sekolah ia bertemu kembali dengan seorang teman yang beberapa hari ke belakang tidak bersekola, yaitu Kinanti. Tidak hadirnya Kinanti ternyata memberi Kala keinginan untuk berusaha memahami pelajaran dengan mudah tanpa harus merepotkan Kinanti menjelaskan ulang yang telah dijelaskan guru.


Pada dasarnya Kala anak yang cerdas, ia bisa memahami pelajaran dengan mudah. Hanya saja, fokus perhatiannya yang sering kali berubah dan ia menyadari benar akan hal itu. Beruntung ada Kinanti yang selalu mengingatkannya agar fokus pada apa yang mereka pelajari.


Seperti pagi ini, seperti biasa Kala datang ke rumah Kinanti untuk menjemput. Kinanti masih menyiapkan sarapan di atas meja sementara Lukman sedang menikmati udara segar pagi ini bersama ikan-ikannya di teras belakang.


“Ayah udah sarapan?” tanya remaja itu.


Lukman menoleh lantas mengangguk. Ia menaruh kembali pakan ikan yang habis ia tebar. Ikan-ikannya sudah kenyang karena ia beri banyak pakan.


“Syukurlah. Kinan udah selesai bikin sarapan, kita ke meja makan yuk. Ada yang mau Kala ceritain.”  Remaja itu tersenyum kecil. Lukman mengangguk setuju dan Kala segera mendorong kursi roda Lukman ke meja makan.


Mereka bertiga sudah duduk berhadapan. “Ada apa?” suara serak Lukman terdengar penasaran.


Kala mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sesuatu pada Lukman. “Sore ini, Kala mau berangkat ke Singapore untuk festival game. Do’ain Kala ya Ayah, biar Kala bisa menunjukkan potensi Kala di sana.” Remaja itu menatap Lukman penuh harap.


“Festival game?” suara serak Lukman kembali terdengar.

__ADS_1


“Iya Ayah. Jadi waktu itu Kinan nemuin pengumuman kalau ada festival bagi gamer dan pembuat game dari sebuah perusahaan besar di jepang. Mereka mengadakan perlombaan dibeberapa negara, salah satunya di negara tetangga kita. Nah Kinan nyemangatin Kala buat ikutan dan ternyata Kala lolos tahap seleksi awal." Perhatian Kala berbagi dengan Kinanti yang sedang menyimak pembicaraannya.


"Besok adu skillnya, Kala akan mempresentasikan game yang Kala bikin dihadapan para pengembang perusahaan game. Ya kalau game Kala terpilih, lumayan Kala bisa di kontraks eksklusive sama perusahaan-perusahaan besar yang bergerak dibidang gamer. Kala sih gak muluk-muluk untuk menang, yang penting game Kala menarik perhatian mereka. Lumayan juga masukan dan ilmu dari mereka nantinya buat pengembangan game Kala.” Kala menjelaskan dengan detail.


Tiba-tiba saja Lukman mengacungkan ibu jarinya pada Kala. Ia juga tersenyum sambil menepuk bahu remaja itu dengan bangga.


Lukman mengambil bukunya dan menuliskan sesuatu di sana. “Sukses ya. Ayah bangga sama Kala. Menang atau kalah, urusan nanti yang jelas orang-orang tau kalau Kala berpotensi. Tunjukkan usaha yang terbaik yang Kala bisa, Ayah sama Kinan akan mendo’akan dari sini.”


Tulisan sarat makna itu ditunjukkan Lukman pada Kala. Kala tersenyum haru. Ia beranjak dari tempatnya dan menghampiri Lukman yang berada di sebrangnya. Dipeluknya Lukman dengan erat, sungguh ia merasa kalau dukungan Lukman adalah semangat yang luar biasa untuknya. Meski tidak terikat hubungan darah, nyatanya Lukman begitu menyayanginya.


“Terima kasih Ayah.” Kala berujar dengan penuh rasa haru. Di dunia ini ia hanya memiliki tiga orang pendukung setia yaitu Kinanti, Bertha dan Lukman. Namun, ia merasa kalau ini sudah lebih dari cukup. Keberadaan mereka sudah mewakili jutaan orang yang ada didunia ini.


Lukman hanya teranguk. Ia menepuk-nepuk lengan dan punggung Kala untuk menyemangati remaja ini. Ia tidak tahu sebesar apa arti dukungannya untuk Kala yang jelas remaja ini terlihat sangat bahagia.


Sore itu, Kala berangkat ke Singapore. Kinanti terpaksa tidak ikut dan hanya mengantar sampai Bandara. Remaja itu ditemani oleh Riko yang akan membantu banyak hal disana.


“Iyaaa. Makasih yaa. Besok sore aku pulang kok, jadi jangan terlalu kangen.” Goda Kala sambil mengeratkan pelukannya pada Kinanti. Ia akan sangat merindukan gadis ini.


“Kamu kali yang bakalan kangen sama aku.” Kinanti melepaskan pelukannya dari Kala.


“Hahahahha… cewek emang gengsi yaa bilang kangen duluan.” Kala mencengkram gemas dagu Kinanti hingga bibir gadis itu mengerucut.


“Cuma bentar kali pisahnya juga, udah kayak mau pisah bertahun-tahun aja.” Ledek Riko yang masih berpegangan tangan dengan Emili. Ia tidak ingin melepaskan tangannya dari sang kekasih.

__ADS_1


“Iya itu lo apa? Lebay banget pegangan terus, kayak mau nyebrang jalan aja.” Kala balas meledek.


"Suka-suka gue lah!" Riko tidak mau kalah, ia mengecup tangan Emili yang ia genggam dengan erat.


“Dih si najis! Jadi selinguhan aja bangga!” Kala tidak habis kalimat untuk meledek balik.


"Kal," Kinanti menyikut Kala dan kekasihnya itu hanya terkekeh.


“Udah waktunya check in nih. Para cewek, kita masuk dulu ya. Kalian langsung pulang ke rumah, jangan ngayap dulu. Awal kalau tepe-tepe sama cowok lain.” Pesan Riko sambil menjawil pipi Emili.


“Ya nggak lah. Gue pasti langsung nganterin Kinanti pulang. Udah itu, gue juga mau balik. Mamah nitip beli makanan soalnya nanti malem mau ada tamu.” Emili menyahuti. Ia mulai bisa membaur dengan pertemanan Riko dan ternyata mengenal Kinanti cukup menyenangkan.


“Iyak, hati-hati di jalan. Ketemu lagi besok malem ya ayang.” Timpal Riko sambil mengacak rambut Emili.


“Iyaaa, see you soon darling!” Emili memberi balasan dengan menggemaskan.


“Okeey, daah. Sampe ketemu besok.” Kala juga berpamitan. Tidak lupa ia mengecup kepala Kinanti dan mengusap lengan gadis itu. Lambaian tangan menjadi akhir pertemuan mereka.


“Mau balik sekarang?” tanya Emili setelah Kala dan Riko masuk ke area check in.


“Iya. Tapi kalau kamu buru-buru, aku bisa pulang pake taksi kok,” sahut Kinanti.


“Ngapain pake taksi, orang rumah kita searah. Yuk ah, nanti bokap lo nungguin.” Emili berjalan lebih dulu menuju tempat parkir dan Kinanti menyusulnya. Mereka tidak berlama-lama di Bandara karena Emili paham kalau Kinanti tidak bisa berlama-lama meninggalkan ayahnya. Hal ini juga yang membuat Kinanti urung ikut ke Singapore untuk mendukung Kala. Ia hanya bisa menunggu kabar terbaru dari Kala dan Riko.

__ADS_1


"Goodluck ganteng!"


****


__ADS_2